
Muti merasa geram saat melihat Tyas turun dari angkutan umum tepat di depan gang rumah Nina.
Mau tidak mau dia ikut turun dan membayar taksi online yang sudah mengantarnya.
Tanpa disadari Tyas, Muti mengikuti dirinya di belakangnya dengan jarak beberapa meter saja.
Sampai di dekat rumah Nina, Muti berhenti sejenak berniat mengintip terlebih dahulu aktivitas mereka. Dada Muti terasa panas melihat Tyas dan Nina begitu akrab dan hangat. Tidak seperti saat bersama dirinya yang bawaannya melawan dan memberontak.
Dengan langkah lebar dan berapi-api, Muti mendekati Tyas dan Nina yang tampak berbincang.
"Bagus ya, pasti sudah kamu cuci otak anakku, iya kan?" Omel Muti dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Mama ngapain sih, datang-datang kok ngamuk, tapi sadar sih, Mama kan memang sudah ga punya malu lagi," celetuk Tyas membuat Muti melebarkan sorot matanya seolah-olah ingin keluar dari tempatnya.
Nina yang melihat perlawanan Nina pada Ibunya juga tak menyangka jika Tyas bisa seprontal itu pada ibu kandungnya sendiri.
"Kamu jangan sampai Mama tampar di sini ya Tyas, pasti dia kan yang mengajari kamu semakin kurang ajar sama Mama?" Tunjuk Muti pada Nina yang selalu saja jadi sasarannya.
"Tampar aja, Ma. Biar makin dilihat orang tuh kalau Mama memang ga becus jadi Ibu. Lagian Mama ngapain ke sini. Kalau mau buat keributan awas viral loh, Ma," ledek Tyas yang membuat Muti semakin jengkel.
Wati yang mendengar sedikit keributan di depan rumahnya segera keluar membuka pintu dan tampaklah jika tetangganya sedang kedatangan tamu.
Melihat Wati keluar dari rumahnya, Muti terdiam, ia lebih menjaga sikapnya agar tidak dicemooh oleh orang-orang sekitar yang sepertinya mulai terusik dengan adu mulut Tyas dan dirinya.
"Mama ke sini ingin jemput kamu, kamu ga kangen sama Mama?"
"Enggak," jawab Tyas seraya menggeleng.
Muti menghela nafas, ia sudah kehilangan kesabaran sejak tadi.
"Pulang, Tyas. Ikut Mama, yah?"
"Aku bilang enggak ya enggak, Ma. Lagian ikut Mama juga aku pasti bakalan ga diurusin, kalau tetap maksa aku bakalan bunuh diri sekalian biar aku tidak ikut dengan Mama atau pun dengan papa."
Seketika Nina menghentikan aktivitasnya, sedangkan Wati menutup mulutnya karena tak percaya teman anaknya itu berucap nekat, dia bahkan menebak-nebak ada masalah apa ia dengan ibunya.
__ADS_1
Muti bungkam, dia semakin bingung bagaimana harus menghadapi Tyas yang tidak pernah mau menurut lagi padanya akhir-akhir ini. Tujuannya kembali membujuk Tyas untuk ikut dengannya karena memang keuangannya semakin menipis, dia sudah mencoba menjajakan dirinya lagi namun orang-orang malah meminta harga yang murah membuatnya malas.
"Tyas, ga boleh ngomong gitu," ucap Nina mencoba menenangkan. Mendengar Nina bersuara wajah Muti langsung kembali sinis.
"Habisnya gimana, Bu. Aku hidup jika orang-orang tau status orang tuaku juga pasti aku bakalan dibully atau bahkan tidak ada yang mau denganku saat besar nanti karena dia," tunjuk Tyas pada Muti.
"Cukup, Tyas. Cukup, kau telah membuat kesabaran Mama telah habis. Jadi kau ingin mati? Matilah, semoga doamu itu cepat terkabul," ucap Muti melengos pergi.
Muti menyerah, dia belum resmi bercerai dengan Bagas karena belum duduk di bangku sidang karena memang belum tanggalnya, hanya surat undangan sidang saja yang masih dipegangnya.
Kini Muti tersenyum jahat, dia sudah tidak memikirkan hati nurani lagi, dia berjalan cepat keluar gang.
Di rumah Nina, Tyas menangis sesenggukan. Air matanya pecah begitu saja saat mamanya pergi menjauh dari rumah Nina.
"Lihatlah, begitu kah bicara seorang Ibu? Bagaimana aku mau tinggal sama dia, huuu."
Nina mendekati Tyas, kemudian merangkul Bahunya dan mengelus lengan Tyas. Dia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Tyas, sebagai anak, siapa yang tidak terluka jika orang tuanya berkata buruk dan kasar pada anaknya sendiri.
"Sabar, Tyas. Dan kamu seharusnya tidak berbicara kasar pada Mama juga. Mungkin mama hanya terbawa emosi."
"Apa begitu emosinya seorang ibu, mengatakan hal buruk?"
Nina menggeleng, dan tetap membiarkan Tyas menangis sampai dirinya tenang sendiri.
Dalam dekapan Nina, tangis Tyas semakin menjadi, dia berpikir seharusnya Muti yang melakukan hal itu padanya, bukannya Nina.
"Beruntung ya, Bu. Anaknya Ibu dulu, pasti dia dapat kasih sayang penuh dari Ibu dan yang terpenting bukan anak dari seorang Pe-"
"Tyas, sudah. Jangan bahas lagi atau kamu akan semakin terpuruk," sela Nina yang tidak ingin Wati mengetahui identitas mamanya Tyas yang sebenarnya.
***
Di kantor polisi, dua orang polisi sedang berbincang-bincang.
"Belakangan kawanan begal dan geng motor dengan mudah kita tangkap, tapi sulit sekali mengetahui siapa pelaku yang berhasil mempermudah pekerjaan kita walaupun harus kita hukum karena tindakannya yang sudah membunuh beberapa orang."
__ADS_1
"Kau benar, apalagi saat aku ingat dengan peristiwa geng motor Deadman yang konvoi tapi kecelakaan di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan. Pelakunya seperti lebih dari satu. Dan kita tak mendapatkan jejak apapun dari sana."
"Benar, dan saat kita menginterogasi Dedi dalang dari serangan panah beracun itu dia diancam dengan senjata Api oleh seorang wanita tapi ga tahu wajahnya seperti apa, dan memakai mobil putih. Sayangnya dia tidak tahu jenis mobil itu apa dan plat nomornya."
"Terlalu banyak mobil bewarna putih di kota ini, gimana kita menyelidikinya?"
"Pasti akan diatur komandan, nanti."
"Tetapi geng motor atau para begal tetap saja susah untuk diberantas, mereka seakan tak ngerti kapok atas apa yang sudah terjadi dengan orang-orang seperti mereka yang mati ataupun yang sudah kita amankan."
"Itu akan menjadi tugas tim pemburu bandit. Kita fokus saja dengan kasus orang misterius itu."
Ternyata selama ini Nina dalam buronan namun dirinya tidak sadar, yang terpenting baginya, jika melihat komplotan penjahat jalanan akan dihadapinya karena selalu teringat dengan Satya dan tidak terima dengan kematiannya. Entah kapan dia tertangkap, dan akankah bisa tertangkap?
Keesokan harinya, sepulang sekolah baru keluar gerbang Tyas langsung ditarik oleh Muti dan langsung dibawa masuk ke dalam taksi. Dia tidak peduli dengan pandangan para siswa-siswi yang memperhatikan mereka berdua.
Sampai di dalam taksi, Muti mendorong tubuh Tyas dengan kasar, lalu ia segera menyusul masuk dan menutup pintu mobil.
"Jalan, Pak," perintah Muti pada Sopir.
"Ma, Mama apa-apaan sih, Ma. Kan aku sudah bilang, aku ga mau ikut Mama."
"Diam, Diam kamu!" Hardik Muti dengan suara menggelegar sehingga membuat Tyas maupun Sopir terkejut, Tyas sampai mengendikkan kedua bahunya sangking terkejutnya, dia tidak menyangka Mamanya bisa semarah itu. Selama ini Tyas mengira Mamanya begitu mudah dilawan, tapi saat ini kemarahan begitu lekat di wajah Muti, membuat Tyas terdiam tidak berani berbicara lagi.
Sopir yang melirik dari kaca spion melihat dua penumpang yang dibawanya, kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan.
Sampai di rumah neneknya Tyas, Tyas turun dengan cara ditarik oleh Muti.
"Ma, sakit."
Seolah tak mendengar apapun, Muti terus saja menarik tubuh Tyas sampai ke dalam rumah.
Sopir yang melihat itu bingung, namun tidak berani ikut campur dan langsung pergi, dia berharap tidak terdengar berita mengerikan tentang ibu dan anak yang berasal dari rumah itu.
Kondisi rumah sangat sepi karena sedang tidak ada orang. Tyas di dorong ke dalam kamar, lalu kemudian Muti mengeluarkan pisau dapur dari tas kecil yang sedari tadi disandangnya.
__ADS_1
"Mm Ma, Ma. Mama jangan bercanda, Ma," ucap Tyas terbata, dia ketakutan melihat mamanya mengeluarkan pisau.
"Bukannya semalam kau bilang ingin mati? Biar aku bantu Tyas," ucap Muti dengan senyum yang dianggap menyeramkan oleh Tyas.