Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Nina Vs Muti


__ADS_3

Dugh...


Muti menjatuhkan diri, dia memohon agar Ninanya tak mengadukannya ke kantor polisi. Baginya saat sudah berhadapan dengan Nina lebih baik merendahkan diri saja. Karena dia sedikit tidaknya tahu mantan istri pertama Bagas ahli dalam ilmu bela diri.


"Please, Nin. Aku akan membatalkan rencana itu. Tapi jangan laporkan aku ke polisi."


"Apa aku akan semudah itu percaya sama kamu? Anakmu saja sanggup akan kau bunuh apa lagi aku, bukan begitu?"


Muti terkesiap, dia tidak menyangka jika Nina mengetahui perbuatannya pada Tyas, padahal selama ini gerak gerik Tyas tak luput dari pengawasannya kecuali saat di sekolah.


"Kenapa? Kaget?" ucap Nina lagi dengan nada yang meledek.


Muti memejamkan matanya ke bawah. Dia geram dengan Nina yang tak henti menghinanya.


"Kau memang licik. Tapi bodoh."


"Cukup, Nina. Cukup penghinaanmu itu padaku. Aku tidak akan begini jika kau tak merebut perhatian Tyas dariku."


"Begitukah? Aku tak pernah berpikiran merebut Tyas darimu. Namun dia sendiri yang datang padaku. Dia butuh perhatianmu namun kau selalu sibuk menjal*ng. Ibu macam apa dirimu?"


Muti yang sudah sejak tadi berdiri menatap tajam ke arah Nina. Nina melakukan hal yang sama. Mereka bersitatap beberapa saat sampai seseorang lewat buru-buru menuju kamar mandi yang ada di pojok belakang.


"Sampai ketemu di kantor polisi, Muti," ucap Nina melenggang pergi dengan wajah datarnya.


Muti mengepalkan tangan seiring kepergian Nina. Dalam hatinya ada rasa benci dan dendam menjadi satu.


Nina sampai di parkiran dan langsung mengambil motornya. Pertemuannya dengan Muti diawali dengan ketidak sengajaan.


Karena penasaran untuk apa seorang Muti yang bergaya hedon ke pasar tradisional seperti ini jika tidak ada sesuatu.


Tidak disangka kekepoannya itu menyelamatkannya dari rencana jahat perempuan yang telah merebut suaminya itu.


Nina melajukan motornya dengan kecepatan sedang ke arah rumahnya. Kini pikirannya tertuju pada Tyas.


"Anak itu harus segara dibebaskan. Aku tahu aku tak bisa ikut campur dengan urusan ibu dan anak itu. Tapi jika sudah menyangkut nyawa Tyas, aku harus bertindak."


Nina sudah menganggap Tyas sebagai anaknya sendiri meskipun tidak bisa membiarkan hidup serumah. Itu karena Tyas masih memiliki orang tua.


Nina dengan senang hati menampung Tyas. Baginya Tyas adalah obat setelah kehilangan Satya. Itu sebabnya Nina tak pernah keberatan jika Tyas sering datang ke rumahnya.


Nina kembali fokus mengendarai, kini dirinya sudah hampir dekat gang rumahnya.

__ADS_1


Jalan yang sepi, jalan yang pernah dijadikan oleh Nina untuk membalaskan dendamnya akan kepergian Satya dengan membentangkan kawat berduri di sana untuk menjebak geng motor yang diketuai oleh Alvin, kakak tiri Satya sendiri.


Jalanan sepi yang hanya dilewati beberapa orang saja saat siang hari. Ramainya hanya saat pagi dan sore saja. Dijam-jam orang pergi dan pulang kerja.


Bruuuuumm...


Brak...


"Aaaaa," Nina menjerit terjatuh dari motornya yang kini menimpa separuh bagian paha sampai ke ujung kaki setelah sebuah mobil dari arah belakang menabraknya dengan kecepatan tinggi.


Mobil berhenti sesaat tak jauh dari depan Nina, hanya berjarak beberapa meter saja.


Bruum...


Mobil berjalan mundur dan sengaja melindas motor Nina sehingga Nina juga ikut tertimpa.


"Eeeengg.. Eek," lagi Nina mengerang kesakitan namun tak sekuat saat dia menjerit.


Seseorang yang mengemudikan mobil tersenyum melihat Nina yang tak berdaya. Dia adalah Muti.


Muti tahu jika Nina masih hidup. Karena yang dilindas hanya tubuh bagian bawah bukan bagian atas dimana banyak organ intim yang dapat dengan mudah menghilangkan nyawanya.


"Kau harus mati di tanganku sekarang juga, Nina."


Muti menyeret tubuh Nina yang lumayan berat ke arah kebon kosong menjauhi jalan dan meninggalkan motor Nina tergeletak begitu saja.


Nina mengerang menahan sakit, ia tak tahu apa yang akan dilakukan Muti padanya.


Setelah membawa Nina lumayan jauh masuk ke dalam kebon dengan ilalang yang cukup tinggi Muti berhenti.


Dia mengambil nafas, kelelahan setelah menyeret tubuh Nina.


Bugh...


"menyusahkan, saja," kesal Muti menendang kepala Nina.


Nina semakin menguatkan erangannya. Dia ingin membalas. Namun berdiri saja rasanya tidak sanggup. Dirasa kakinya sangat sakit. Antara terkilir atau patah. Padahal posisi kaki telungkup saat dilindas Muti sebelumnya.


"Kita ketemu lagi, Nina. Kau pikir kau sudah hebat, hah?" Ucap Muti merasa menang. Kini dia menjambak rambut panjang Nina lalu memaksa mendongakkan wajah Nina agar bisa melihat Muti yang menatap sinis ke arahnya.


Muti menelentangkan tubuh Nina yang sebelumnya dalam posisi telungkup. Kini terlihat jelas Nina yang sedikit luka di pipinya karena terbentur aspal.

__ADS_1


"Mau apa kau, hah? Membunuhku?" Ucap Nina lirih. Walaupun menahan sakit dia tidak ingin terlihat lemah di depan Muti.


"Jangan sombong kau, Nina. Kau memang akan segera mati. Aku muak denganmu. Sedari awal kau lah penghalang dari seluruh rencanaku. Tapi sebelum kau mati aku akan mengucapkan terima kasih telah membunuh Ferdi. Aku tak perlu repot memikirkan cara agar bebas darinya."


Nina resah, namun dia hanya pasrah. Dilihatnya Muti mengeluarkan pisau dapur dari dalam tasnya.


"Kau lihat ini Nina. Matilah kau sekarang."


"Aaaghhh...,"


Nina menahan sekuat tenaga disisa-sisa tenaganya yang semakin melemah. Pisau itu akan menusuk jantungnya namun di tahan oleh Nina dengan memegang kedua tangan Muti yang sama kuatnya.


Seolah sedang kerasukan Muti terus berusaha menusuk dada Nina.


Bugh..


"Aaaaa.."


Nina memberikan sebuah bogem mentah ke hidung Muti secepat kilat sehingga membuat Muti terpental dan pisau terbuah jauh ke atas.


Fokus dengan jatuhnya Muti ke samping tubuh Nina. Nina tiba memperhatikan pisau yang mulai mendarat ke arahnya.


Sreett...


"Aak.."


Nina tercekat tatkala pisau menyayat bagian samping lehernya. Melihat musuhnya terluka Muti menyunggingkan senyum.


Nina meringis menahan laju darah yang terus keluar dengan tangannya.


"Mampus. Matilah kau tanpa seorang pun yang mengetahui dirimu ada di sini," ucap Muti segera mengambil pisaunya dan berlari pergi.


Melihat Nina bersimbah darah dia yakin kalau Nina akan segera mati. Sengaja Muti tak melukainya lagi agar Nina mati tersiksa.


Muti terus berjalan menuju jalanan aspal. Saat sudah mau dekat dilihatnya banyak warga yang melihat kecelakaan akibat rencana kotornya.


Muti cepat-cepat sembunyi dibalik pohon. Dia tak ingin ada salah satu warga yang melihatnya datang dari arah pohon dan semak-semak. Dia tak ingin dicurigai.


Kerumunan terdengar semakin ramai. Tidak ingin mengambil resiko Muti berjongkok dan mengendap-endap mengambil jalur lain hingga akhirnya ia berhasil keluar dari kebon dan membaur dengan kerumunan warga yang heran dengan kecelakaan antara mobil dan sepeda motor namun tak ditemukan siapa pemilik sepeda motor.


"Sudah, tunggu saja polisi yang sudah dihubungi tadi," ucap salah seorang warga.

__ADS_1


Mendengar kata polisi Muti mulai menjauh dan pergi dari kerumunan. Ia tak ingin ikut diinterogasi dengan polisi walaupun hal itu belum pasti terjadi.


__ADS_2