Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Nina Vs Baron


__ADS_3

Nina sebenarnya ingin melawan orang yang menodongnya yang ternyata orang itu adalah Baron, namun dia urung menyerang dan memilih diam karena mendengar suara ketukan pintu disertai Tyas yang memanggil namanya.


Sedangkan Baron melihat diamnya Nina mengira jika Nina sedang ketakutan sekarang.


Wajah Baron menyeringai seolah mengejek Nina yang ketakutan, dia ikut diam dan tidak langsung menyerang, dalam hatinya dia ingin sedikit bermain-main dengan Nina.


Merasa tidak ada orang Tyas dan Bagas memutuskan untuk pulang.


Di dalam Nina berjalan mundur menghindari Baron yang berusaha mendekatinya.


Dengan langkah pasti dan hati-hati pandangannya tidak lepas memperhatikan gerak-gerik Baron.


Suara deru mobil mulai menjauh dari rumah Nina, mendengar hal itu membuat Nina lega dan lebih leluasa menyerang Baron tanpa dicurigai siapa pun.


Ting...


Pisau terjatuh hanya dengan sekali tangkisan tangan, Baron yang tidak siap terkejut dan merasa dirinya telah ceroboh.


Dengan cepat Nina mengambil senjata satu-satunya yang dibawa baron.


Pisau itu sekarang sudah berpindah tangan. Membuat Baron yang tadinya merasa yakin akan menguasai Nina menjadi kelimpungan.


"Kenapa tegang, takut?" Ucap Nina meledek.


"S*alan, kau hanya beruntung sedang memegang pisau itu."


"Aku tak pernah mengenalmu juga tak pernah mengusik hidupmu, untuk apa kau datang kemari?" Selidik Nina.


"Tentu saja untuk membalaskan dendamku pada kedua temanku yang kau bunuh. Pasti kau pelakunya, kau orang terakhir yang bertemu mereka bukan? Hahaha, dengan kepiawaian ku dengan mudah aku menemukanmu," ucap Baron merasa cerdik, berpura-pura menjadi keluarga korban dan meminta polisi menjelaskan hasil penulusuran penyelidikan sehingga mendapatkan Nina sebagai orang yang menyelematkan Bagas. Kemudian mengatakan pada polisi akan turut membantu mereka mengetahui siapa pembunuh Ferdi maupun Andi.


Baron juga lega identitasnya sebagai komplotan begal juga tidak diketahui polisi karena pesan-pesan chat mereka langsung mereka hapus setiap kali telah selesai merencanakan aksi.


"Oh, jadi kalau begitu pasti kau termasuk komplotan begal itu juga, kan?"


Baron terkesiap, dia tidak menyangka ada orang yang mengetahui dirinya seorang penjahat yang begitu diburon selain kepada kelima anggotanya saja yang kini hanya tinggal tiga karena Ferdi dan Andi sudah mati.


"Oh, itu artinya kau yang selama ini meneror penjahat jalanan seperti kami, termasuk para bocah-bocah kunyuk itu?"


"Tentu saja, karena mereka telah membunuh anakku, dan aku tidak akan memberi ampun lagi pada pelaku begal atau pun geng motor termasuk pada dirimu."


"Wau, aku takut. Hiyaaaaat."


Bugh...


Baron terjatuh tertimpa kursi makan yang tadinya akan dipergunakan olehnya untuk menyerang Nina yang memegang pisau miliknya.

__ADS_1


Dengan instingnya yang tajam Nina langsung menendang kursi itu dan malah mengenai wajah Baron dan membuatnya terjatuh.


"Hanya itu kemampuanmu?" Ejek Nina.


Baron menatap Nina tajam, namun dalam hatinya dia tidak menyangka bahwa Nina wanita yang sulit dilumpuhkan.


"Pantas dia selalu lolos dan bisa meneror para begal atau pun geng motor," batin Baron secara tidak langsung telah memuji Nina.


Nina mendekati Baron dan berdiri di atas kursi yang menimpanya. Hal itu membuat Baron menjerit kesakitan.


"Aaaaa, sialan. Turun kau bodoh. Aaaaak."


Mendengar Baron terlalu berisik membuat Nina sedikit panik. Dia langsung turun dari kursi kemudian menendang kepala Baron sehingga membuat Baron pingsan.


"Merepotkan saja. Kenapa kau harus datang ke rumah ku," gumam Nina seraya mengambil kursi makannya kembali dan meletakkannya ke tempatnya semula.


Nina langsung membereskan tubuh Baron dengan mengikatnya, tak lupa menyumpal mulutnya sebelum diikatnya juga.


Beralih pada Bagas dan Tyas, mereka masih dalam perjalanan.


"Kira-kira kemana Bu Nina ya kok ga ada di rumah."


"Kalau itu ga tau, Pa. mungkin besok saja aku pulang sekolah mau main ke sana, boleh kan?"


"Tentu boleh, Papa tidak melarang kamu bersama orang baik. Besok biar Papa jemput kamu setelah pulang kerja."


"Iya, kamu jangan pulang sebelum Papa jemput."


"Oke. Oh iya, Pa. Apa Papa masih menyukai bu Nina?"


"Hah? Eeeng, sepertinya begitu. Papa salah telah membuangnya demi Mamamu yang tak beres."


"Kau juga sama tak beresnya, Pa," jawab Tyas dalam hati.


Akhirnya mereka sampai ke rumah, dilihatnya ada seorang wanita sedang teriak-teriak dan berusaha diusir oleh sekuritinya.


Bagas yang melihat hal itu langsung turun untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Ada apa ini, Pak. Siapa dia?" Tanya Bagas.


Wanita itu menatap tajam ke arah Bagas membuat yang ditatap merasa bingung.


"Mana istri kamu yang jal*ng itu, hah?"


"Saya sudah tidak punya istri lagi, kamu kalau mau cari dia jangan di sini."

__ADS_1


"Saya istrinya mendiang Ferdi yang telah berselingkuh dengan istrimu. Gara-gara dia suami saya mati demi mendapatkan dia. Mana dia?"


"Wanita gila, dia sudah saya ceraikan, cari saja dia kemana pun dan jangan buat keributan di sini atau saya laporkan kamu ke polisi."


Mendengar kata polisi membuat wanita itu terdiam, dengan ekonominya yang pas-pasan dan berbanding jauh dengan Bagas membuatnya tidak ingin mengambil resiko.


Dengan menghentakkan satu kakinya dia pergi meninggalkan depan rumah Bagas. Wanita yang malang, penampilannya sungguh acak-acakan. Kehilangan suami membuatnya menjanda dan otomatis menjadi tulang punggung keluarga.


Tyas melihat kepergian wanita itu, dia menatap punggungnya yang semakin menjauh.


"Tyas, masuk."


Mendengar perintah Papanya, Tyas tersadar dan berbalik badan dan langsung masuk ke rumah.


Tyas merasa jika semua laki-laki di dunia ini tidak dapat dipercaya, kasihan wanita-wanita yang baik seperti Bu Nina ataupun ibu-ibu yang baru saja pergi dari rumahnya.


"Kenapa bu Nina dulu tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan hal itu pada Papa, ya?" ucapnya dalam hati.


Hari telah berganti, di hari yang lumayan mendung membuat Tyas malas bangun sehingga harus dibangunkan.


Dengan malas Tyas bersiap-siap pergi sekolah. Setelah sarapan dengan Papanya mereka berdua berangkat ke tujuan masing-masing.


Sampai di sekolah, setelah turun dari mobil Tyas langsung menuju gerbang untuk masuk ke lingkungan sekolah.


Namun belum lagi masuk seseorang menarik tangannya.


"Ikut Mama,"


Muti menarik tangan Tyas dengan paksa sehingga membuat Tyas mengikuti langkahnya.


"Aku harus sekolah, Ma."


"Kamu harus pindah sekolah dan ikut Mama. Kamu harus nurut atau Mama bakalan pakai cara kasar ke kamu."


"Aku semakin benci sama Mama. Kau Mama yang jahat, pelakor, tukang selingkuh."


Muti sebenarnya geram dengan kata-kata Tyas, namun demi keberhasilan misinya dia tetap diam dan tak membalas sepatah kata pun ucapan Tyas hingga sampailah mereka ke dalam taksi online.


Di dalam taksi Tyas dan Muti saling diam. Sebenarnya dia sudah tahu tujuan mamanya memaksa dirinya untuk terus ikut bersamanya hanyalah untuk memanfaatkan dirinya saja.


"Lihat saja, Ma. Aku bukan anak SD lagi ya ga tau jalan pulang. Aku bisa kabur kapan pun aku mau dan bilang ke Papa agar dia lebih bisa membereskan dirimu dan tidak menggangguku lagi. Enak saja nyuruh pindah disaat sudah mau ujian semester," batin Tyas dengan memperlihatkan wajah yang suntuk.


Sebenarnya secara tidak sengaja, Nina yang sedang menemani Wati ke pasar melihat Tyas dengan Muti lewat dan terlihatlah wajah mereka yang saling tidak bersahabat walau sekilas.


Dirasa itu bukan urusannya membuatnya tak ambil pusing.

__ADS_1


Kini dia tengah sibuk dengan Baron yang akan dipermainkan dulu olehnya sebelum memulangkannya ke rumah keluarganya.


__ADS_2