Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Ke rumah Dedi


__ADS_3

"Rudi, gimana keadaan kamu?" Tanya Wati khawatir.


"Dik Rudi sudah tidak apa-apa, syukurnya lekas dibawa kesini, tadi sudah dikasih penawarnya. Paling tinggal lemasnya saja. Kita kasih infus satu botol saja, ya. Baru setelah itu Dik Rudi boleh pulang."


"Alhamdulillah, ya Allah. Makasih Dokter. Saya sampai jantungan lihat anak saya kecelakaan."


"Hal yang wajar Ibu," ucap Dokter seraya berlalu pergi dan membiarkan Nina dan Wati melihat Rudi yang masih ditunggui oleh Bapak-Bapak yang mengantarnya tadi.


"Pak, terima kasih banyak sudah antar anak saya."


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya balik dulu."


"Pak, ini diterima ya. Buat ongkos. Kan Bapak naik motor anak saya kemari," ucap Wati menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.


"Eh, iya. Makasih Bu."


Wati tersenyum pada orang yang telah menolong anaknya, lalu melihat Rudi yang juga melihatnya.


"Kok bisa, Rud?" Tanya Wati sambil mengusap-usap rambut anaknya lembut.


"Rudi ga tau, Bu. Pulang dari rumah teman pas sudah mau sampai gang tiba-tiba tangan sakit kayak ada yang nyucuk. Sakit banget Bu, makanya Rudi sampai jatuh."


"Maaf, Nak Rudi. Apa sebelumnya kamu punya masalah di sekolahmu? Dengan teman misalnya. Ibu yakin pasti salah satu anak-anak konvoi tadi yang membuatmu celaka. Rata-rata sepertinya usia mereka sama sepertimu," ucap Nina penuh selidik.


Rudi terdiam, wajahnya tampak berfikir.


"Terbukalah, Nak. Ga apa-apa. Ibu ga bakal marah sama kamu," ucap Wati meyakinkan.


"Rudi ga ada masalah di sekolah, Bu. Tapi kalau sama teman memang ada."


"Kenapa? Kamu ganggu mereka?"


"Bukan, Bu. Rudi dekat dengan satu teman wanita Rudi, dan ada teman ya ga suka. Kami tidak pacaran, Bu. Cuma cewek itu suka aja dekat-dekat Rudi."


"Kamu tahu di mana rumahnya temanmu yang ga suka sama kamu itu?"


"Tahu, Bu. Tidak jauh dari sekolah."


"Siapa namanya?"


"Dedi, Bu."


"Ya sudah, kamu tenang saja, nanti biar Ibu yang akan menjumpai teman kamu itu, ibu sempat melihat gerombolan bocah tengik itu lewat, jika dia salah satunya kita akan tuntut dia," ucap Nina penuh penekanan.


"Kakak ga bisa sendiri kalau mau ke sana, Kak. Nanti biar di temani sama Bapaknya Rudi saja."


"Ya sudah, gimana baiknya saja, Wat. Yang penting masalahnya jelas."

__ADS_1


"Nak, apa yang namanya Dedi itu nakal di sekolah?"


"Lumayan, Bu. Tapi wajahnya memang ganteng."


"Ganteng kalau kelakuannya meresahkan bagus dirusak saja wajahnya," ucap Nina dengan entengnya.


Wati yang mendengar racauan Nina sedikit terkejut, tapi masih berfikir positif kalau mungkin Nina hanya terbawa emosi saja.


Orang yang ditunggu tiba, Anto suami Wati datang ke klinik melihat keadaan Rudi.


Wati menceritakan kronologi kejadian dengan detail pada suaminya mengenai anak mereka.


Sedangkan Nina hanya duduk saja tertegun memandangi Rudi, atas kebaikan Wati sebagai tetangga yang begitu peduli, juga sikap Rudi yang santun sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.


Hati Nina bergemuruh hebat, rasanya sudah tidak sabar ingin segera berjumpa dengan anak yang bernama Dedi itu.


Dia tidak terima melihat anak-anak baik menjadi korban para orang-orang pengecut seperti komplotan geng motor maupun para Begal.


"Ya sudah, setelah maghrib nanti Bapak sama Kak Nina ke sana. Kalau memang gara-gara anak itu Rudi jadi begini Bapak ga akan kasih damai biarpun dia anak di bawah umur, kalau tidak di kasih efek jera, orang-orang seperti mereka akan terus ngelunjak."


"Iya, Pak. Kenapa kejahatan jalanan seolah tak ada habisnya, ya."


"Yang terpenting kita berdoa saja semoga dijauhkan dari orang-orang seperti mereka, Bu."


Waktu maghrib telah lewat, Nina dan Anto berpamitan pada Wati. Dengan mengendarai motor masing-masing mereka mencari anak yang bernama Dedi di dekat sekolah Rudi.


Sampai di daerah sekolah Nina tertegun, sekolahnya sama dengan sekolah Tyas, namun Nina tidak terlalu memikirkannya, dia fokus menunggu Anto menanyai warga perihal dimana rumah anak yang bernama Dedi.


"Katanya yang paling ujung itu, Kak. Cat warna hijau."


Nina mengangguk dan mengikuti Anto dari belakang, kini mereka berdua sampai di rumah yang dimaksud.


"Assalamu'alaikum, permisi," ucap Anto seraya mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," ucap Sang Pemilik rumah.


Pintu terbuka dan terlihatlah wajah seorang wanita yang merasa heran menatap kehadiran Nina dan Anto yang asing baginya.


"Apakah Ibu ini Ibunya Dedi?" Tanya Anto meyakinkan dirinya.


"Iya, saya Ibunya. Ada apa ya?" Jawab wanita itu.


"Ada hal yang ingin kami bicarakan, Bu."

__ADS_1


"Oh, iya silahkan. Masuk."


Ibunya Dedi mempersilahkan Nina dan Anto duduk di ruang tamu, kemudian dia memanggil suaminya juga anaknya.


"Nah, kan percis. Saya melihat anak ini tadi sore di depan gang. Dia sempat menggeber-geber motornya," ucap Nina menatap tajam wajah Dedi.


"Memangnya kenapa ya Pak, Bu?" Tanya Ibunya Dedi yang bingung.


Dengan jelas tanpa mengurangi dan melebihkan Anto menjelaskan semuanya apa yang terjadi dengan anaknya.


"Tunggu dulu, tapi apa ada bukti kalau anak saya yang melempar panah beracun itu?"


"Memang tidak ada bukti, Bu. Tapi saya yakin kalau anak Ibu salah satu anggota geng motor yang lewat tadi sore."


"Apa itu benar, Dedi. Kamu terlibat geng motor?"


"Ah, enggak Pak. Kebetulan pas aku lewat mereka juga lewat namanya sama-sama di jalan jadi gimana?" Jawab Dedi datar, tapi tingkahnya petantang-petenteng mencirikan memang benar apa yang dikatakan Rudi jika dia anak yang bandal.


"Tuh, dengar sendiri anak saya bilang apa. Kalau tidak ada bukti jangan sembarangan menuduh, Pak, Bu."


"Baik, tapi jika ketahuan dia termasuk geng motor itu dan merencanakan kejahatan dengan anak saya, saya pastikan tidak akan ada jalur damai."


"Kami, permisi," ucap Nina yang malas berlama-lama di rumah Dedi.


Nina dan Anto akhirnya balik, Anto pulang ke rumahnya karena Rudi sudah dibawa pulang karena infusnya telah dilepas.


Sedangkan Nina, dia teringat Baron masih ada di rumah orang tuanya dan memutuskan untuk ke sana.


Sampai di tempat Nina langsung menemui Baron yang semakin lemah.


Dengan menahan bau pesing dia memeriksa keadaan Baron yang masih bernafas walau kepayahan.


Bahkan sekedar untuk membuka mata pun ia tak sanggup. Baron menyadari kehadiran Nina, namun sudah pasrah karena kondisinya yang memang tidak bisa apa-apa lagi.


"Kau sepertinya sedang kritis ya, Baron. Ya sudah. Kamu pulang saja, akan ku antar kau ke rumahmu setelah kuhilangkan rasa sakitmu."


Sreeet...


Dengan sekali goresan pisau di lehernya, Baron mengejang dan langsung mati.


"Rasanya tak adil jika luka ini hanya satu goresan."


Sreeet.... Sreeet.... Sreeet...


Nina kembali memberikan sayatan di beberapa bagian tubuh Baron.


Darah mengalir deras di lantai gudang, setelah puas Nina memasukkan jasad Baron ke dalam plastik hitam yang besar. Itu dilakukan agar bau pesing yang berasal dari Baron tidak tercium lagi.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan gudang, Nina meletakkan Baron ke dalam mobil, bermodal KTP milik Baron yang ditemukan Nina di dompet dalam sakunya dia membawa Baron ke rumahnya waktu dini hari setelah memastikan bahwa tidak seorang pun yang melihatnya.


"Beres, kini aku punya tugas baru yang harus ku selesaikan," ucap Nina sambil menyetir mobil menuju rumah orang tuanya kembali.


__ADS_2