
Hari semakin sore, Muti masih menunggu informasi dari orang suruhannya dan juga dari pak Jamal.
"Kamu sih sama anak terlalu keras, coba kamu sedikit lebih lembut pasti Tyas ga bakal kabur-kaburan."
"Bu, bisa diam ga sih. Aku pernah selembut sutra saat membujuknya. Namun apa, dia semakin melawan. Kalau ibu tidak bisa membantuku lebih baik diam," ucap Muti emosi.
Asih yang diperlakukan tidak baik terdiam kesal. Dan meninggalkan Muti sendirian di kamarnya.
Drrrt... Drrtt...
Dering telepon mengalihkan perhatian Muti. Dia segera mengangkat telepon dari orang suruhannya.
"Ga dapat juga? Jadi kerjamu dari tadi ngapain saja? Terus cari sampai dapat. Hidup atau mati aku tak peduli. Yang penting temukan anak itu."
Muti segera mematikan panggilan telepon. Kini langkahnya lebar berjalan ke luar.
"Apa pak Jamal sudah kembali?" Tanya Muti pada salah satu sekuriti lain di rumah Bagas.
"Belum, Bu."
Tin... Tin...
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian mereka. Terlihatlah pak Jamal yang baru pulang dan segera memarkirkan mobil di bagasi.
"Gimana? Dapat?"
"Tidak, Bu. Saya sudah cari kemana-mana tapi ga nemu. Nomor teleponnya juga ga aktif.
"Ngapain kamu telepon dia. Handphonenya ada di saya," jawab Muti kesal.
"M--maaf, Bu. Saya ga tahu kalau handphone dek Tyas ada sama Ibu."
"Ck, merepotkan saja."
Muti menuju mobil, dan segera mengemudikannya keluar rumah.
Asih yang melihat Muti pergi langsung menghampiri Pak Jamal.
"Mau kemana si Muti, Pak?"
"Ga tahu, Bu. Ibu ga ada bilang, tapi dia pergi dengan keadaan kesal."
Di dalam mobil, Muti tak henti-hentinya menampilkan wajah ketatnya. Kini dia menuju ke rumah Nina yang ada di desa Bambusa.
Sampai di tempat kedatangannya dilihat oleh Rudi yang kebetulan baru selesai mencuci motor.
__ADS_1
"Maaf, Dek. Apa Tyas ada kemari?" Tanyanya sopan walau sebenarnya hatinya menahan amarah.
"Tyas? Dia tidak ada kemari, Bu. Selain waktu saya sakit itu."
"Kamu pernah dekat dengannya, kan? Masa ga tahu sih dia kemana? Biasanya memang ke rumah tukang jahit itu, tapi rumahnya sepi."
"Maf tapi saya memang ga tau, Bu."
"Ya sudah lah, terima kasih."
"Iya, Bu. Sama-sama."
Muti balik badan, kini dia menatap rumah Nina yang tampak sepi. terlukis senyuman jahat di bibirnya.
Sesaat kemudian dia kembali ke mobilnya dan pergi.
"Siapa tadi, Rud?" Tanya Wati yang baru keluar karena baru selesai cuci piring.
"Ibunya Tyas, Bu. Cari Tyas."
"Emangnya dia kemana? Bukannya tadi pagi kalian baru melayat ke rumah orang tuanya?"
"Ga tahu, Bu. Tadi sih waktu kami melayat dia memang ada di sana. Sekarang ga tau."
"Aduh, kok ada-ada saja, ya. Kemarin Bude Nina hilang, sekarang Tyas pula ikut hilang. Apa mereka sedang bersama?"
Di sisi lain. Kini Muti sudah berada di jalan tempat dia menabrak Nina dan melihat ke arah kebon.
"Pasti tubuhnya sudah mulai membusuk sekarang," batin Muti mendengus. Tidak lama kemudian dia melanjutkan perjalanannya.
Malam menjelang, tidak ada tanda-tanda Tyas ketemu. Satu rumah yang ada di rumah Bagas menjadi sasaran amuk Muti.
"Kamu itu jangan menyalahkan orang yang tak bersalah, Mut. Dia pergi sendiri, bukan disembunyikan oleh mereka," ucap Asih kesal melihat anaknya terus-terusan membuat keributan di dalam rumah.
"Tapi kalau sampai anak itu ga ketemu bagaimana bisa aku ambil warisan Bagas, Bu? Ibu mikir ke sana ga sih? Kuasa hukum Bagas pasti perlu tahu Tyas masih hidup atau tidak. Kalau tidak sampai kapan pun harta itu tidak akan bisa aku ambil."
"Sssttt, kecilkan suaramu. Masih ada orang tahlil di depan," jawab Asih memperingatkan.
Muti membuang muka, dan menghela nafas kasar.
"Ga usah pusing-pusing, besok kita laporkan saja ke polisi. Biar polisi yang cari. Ngapain dibikin ribet sih. Dari tadi siang bising terus kamu itu."
Asih melengos pergi dari ruang tengah menuju ruang depan membiarkan Muti yang masih duduk dengan wajah kusutnya yang tak berkesudahan.
Hari berganti, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi dan Muti sudah berada di kantor polisi ditemani Asih melaporkan kehilangan Tyas.
__ADS_1
"Baik, Ibu, laporan kami terima. Secepatnya kami akan mencari anak Ibu dan segeralah tunggu kabar dari kami."
"Terima kasih Pak Polisi. Semoga anak saya segera ketemu," ucap Muti berpura-pura khawatir.
Asih dan Muti segera meninggalkan kantor polisi, kini ban mobil mulai menggelinding melindasi jalanan yang akan dilaluinya.
"Semoga anak itu baik-baik saja," ucap Asih mengisi kehampaan di dalam mobil.
"Ya kalau ga ketemu berarti kerja polisi-polisi itu yang ga becus."
"Bukan apa-apa ya, Mut. Ibu malah takut kalau dia diculik."
"Mana mungkin diculik. Pasti dia kabur. Tapi aku ga tahu dia kabur kemana sekarang."
"Apa semalam kamu sudah lihat ke rumah mantan istrinya Bagas yang pertama?"
"Tidak mungkin dia ada di rumah Nina sedangkan Nina sudah kuhabisi."
"Hah? Habisi, maksudnya?" Spontan Asih terkesiap mendengar ucapan Muti yang keceplosan.
Muti menahan nafasnya beberapa detik sambil terus mengemudi. Dia merasa bodoh tidak hati-hati dalam berbicara.
"Ya aku habisi dia dengan mulutku agar dia tak dekat-dekat lagi dengan Tyas," jawab Tyas dengan terus menatap jalanan untuk menutupi kegugupannya.
Asih menghela nafas lega, dan mengelus dadanya beberapa kali.
"Bagaimana pun dirimu, jangan sampai kau mengotori tanganmu sendiri, Mut."
"Ngotori apa sih? Memangnya dia kuapain? Bu."
"Ibu hanya memperingatkan saja," jawab Asih datar, pikirannya mengingat bagaimana Muti pernah mencekik Tyas di rumahnya.
"Aku anak Ibu, jangan pikirkan yang tidak-tidak tentang aku, Bu. Sejahat-jahatnya aku dengan Tyas, tapi dia sekarang masih hidup, kan ? Tapi entah lagi sembunyi kemana aja dia sekarang."
Asih terdiam. Dadanya kembali berdebar, ada rasa khawatir dan curiga terhadap Muti. Apalagi Asih melihat jika Muti belakangan ini emosinya sering meledak-ledak begitu saja.
Mobil sampai di depan rumah. Segera sekuriti membukakan gerbang untuk Muti. Tidak lama mobil masuk begitu saja menuju garasi saat gerbang terbuka lebar.
Dua orang sekuriti yang menjaga gerbang melihat mobil Bagas yang dikendarai Muti berhenti di garasi dan tidak lama kemudian turunlah dua orang wanita ibu dan anak yang membuat hati mereka resah.
"Semoga dek Tyas dalam keadaan baik-baik saja namun tak ditemukan wanita jahat itu. Agar warisan pak Bagas tidak dikuasai olehnya," ucap Pak Jamal melihat majikannya memasuki rumah.
Yusuf yang mendengar penuturan pak Jamal spontan melihat ke arah ketua keamanan di rumah tempat mereka bekerja.
"Kenapa Abang bisa bilang gitu?"
__ADS_1
"Ya, kita sama-sama tahu, bu Muti bukan seorang ibu yang baik dan dek Tyas sendiri juga ga mau dengan ibunya sendiri, kan?"
Ucap Pak Jamal hati-hati agar tidak keceplosan.