Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Di bawah tekanan


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


"Permisi."


Tok... Tok... Tok...


Kedua kalinya Bagas mengetuk pintu rumah ibunya Muti. Bagas tetap menunggu hingga pintu dibuka.


"Nak, Bagas. Masuk," ucap Asih Si Pemilik rumah yang akhirnya membukakan pintu.


"Terima kasih, Bu. Saya ingin bertemu Tyas anak saya."


"Iya, dia ada di kamarnya. Biar saya panggilkan."


Bagas mengangguk dan menunggu di ruang tamu. Bagas tidak terima jika Tyas malah ikut dengan Muti.


Muti mengetahui calon mantan suaminya datang gegas memperingatkan Tyas di kamarnya.


"Ingat Tyas, ancaman Mama tidak main-main. Temui Papamu dan jangan mau ikut dengannya."


Tyas hanya diam menanggapi ucapan Muti, mendapati tekanan mengerikan dari Sang Mama membuatnya lesu menjalani hidup namun harus berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang kecuali mamanya.


Muti dan Tyas berjalan ke ruang tamu beriringan. Muti mencoba bersikap baik pada Bagas dengan harapan Bagas tidak jadi menceraikannya.


"Mas, kamu datang mau lihat anak kita?"


"Iya, hanya ingin lihat Tyas, bukan kamu."


Mendengar penolakan mentah-mentah dari Bagas membuat Muti menyipitkan matanya dan langsung menunjukkan perubahan ekspresi wajah.


"S!alan, kau memang tidak ingin aku kembali ke pelukanmu. Tapi setidaknya, aku akan memanfaatkan Tyas sebagai ladang uangku."


Tyas sudah duduk tidak jauh dari Bagas, sedangkan Muti duduk di sebelah Tyas.


"Bisa kamu tinggalkan kami berdua, aku hanya ingin bicara dengan Tyas, tidak turut denganmu."


"Memangnya serahasia apa sih percakapan kalian? Ini rumah orang tuaku, Mas. Aturan bukan kamu yang pegang."


Bagas mendengus melihat kepongahan Muti, mau tidak mau dia harus mengobrol ditemani Muti.


"Tyas, apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Kamu beneran ga mau ikut Papa?"


"Benar, Pa. Tyas mau ikut Mama saja."


Jawaban Tyas membuat Muti tersenyum puas, sedangkan Bagas dia malah mengernyitkan dahinya. Jawaban Tyas terlihat datar, tidak seperti Tyas yang biasanya.

__ADS_1


"Tyas, apa kamu baik-baik saja. Atau Mamamu mengancammu?"


"Tyas baik-baik saja, Pa. Cuma lagi ga enak badan saja. Akhir-akhir ini tugas sekolah menumpuk untuk mempersiapkan ujian praktek."


"Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit."


"Ga usah, Pa. Tyas sudah minum obat kok. Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan Tyas mau ke kamar lagi. Mau istirahat."


Tyas langsung bangkit dan meninggalkan kedua orang tuanya, Tyas ingin sekali mengatakan semuanya pada Bagas. Namun dia tidak punya keberanian dan bukti.


"Awas jika aku tahu kau mengambil Tyas dengan cara yang licik."


"Licik bagaimana, kau sudah dengar sendiri tadi," ucap Muti dengan santainya.


Bagas yang tak ingin berlama-lama langsung berdiri dan pergi tanpa permisi.


Muti menyeringaikan senyumnya mengantar kepergian Bagas.


"Loh, Bagasnya mana, Mut?" Tanya Asih yang datang membawakan minuman untuk tamunya.


"Tuh, baru mau pergi."


"Kok cepat sekali? Baru ditinggal ke dapur sebentar."


Muti menatap Ibunya dan menaikkan kedua bahunya kemudian langsung ngeloyor masuk ke dalam meninggalkan Asih yang kebingungan.


"Tidak mungkin tiba-tiba saja Tyas mau ikut dengan Muti tanpa alasan. Sial, kenapa juga Muti tidak mau pergi dan meninggalkan kami bicara berdua. Pasti Muti sudah melakukan sesuatu pada Tyas. Tunggu kau Tyas. Aku sudah cukup kehilangan kedua anak laki-lakiku yang sudah kubesarkan dengan nafkahku. Enak saja kau yang tak becus jadi Ibu ingin mengambil Tyas seenaknya. Akan kucari penyebab perubahan Tyas," tekad Bagas.


Kini Bagas tidak langsung kembali ke rumah, seperti biasa sifat liarnya menuntunnya ke arah tempat hiburan malam.


Sedangkan di rumah neneknya Tyas tidak bisa tidur. Dia habis dimarahi Mamanya tidak lama setelah Bagas pergi.


"Anak bodoh, tidak bisakah kau bersikap biasa aja. Aku benci lihat melihat sikap tertekanmu itu."


Plak...


Satu tamparan dari Muti mendarat di pipi Tyas.


Tyas yang biasanya melawan kini hanya diam menahan sakit. Asih yang mengetahui cucunya sedang diomeli anaknya tidak peduli dengan kegaduhan diantara mereka berdua.


Dikala terjaga Tyas sedang berfikir bagaimana caranya kabur tetapi tidak membuat Bagas dan Nina dalam bahaya.


Malam berganti pagi, dengan tidak bersemangat Tyas sudah bersiap pergi sekolah. Dirinya sangat lelah karena dipaksa bangun lebih awal oleh Asih untuk membantunya membuat sarapan dan beberes rumah. Hal yang tak biasa dilakukannya. Bukan pekerjaan itu yang membuat Tyas begitu lelah, tetapi omelan dan kesinisan sang Nenek yang membuatnya lelah batin.


"Ingat, Tyas. Mama ga main-main dengan kata-kata Mama. Bertingkanglah. Maka kau akan segera mendengar kabar Papamu dan Nina hanya tingga nama setelah itu akan menyusul dirimu," ucap Muti mengingatkan ancamannya sebelum dia pergi ke sekolah.

__ADS_1


Tyas mendengus, dia muak dengan sifat Muti yang terlalu berambisi dengan kepentingannya sendiri. Tidak memikirkan bagaimana sakit hati dan kecewanya Tyas sekarang.


Sampai di sekolah, Tyas yang biasanya lumayan cerewet lebih banyak diam. Tanpa sengaja dirinya memandang Rudi yang sedang ngobrol dengan teman sebangkunya.


"Apa aku minta tolong Rudi aja, ya. Rumah dia kan dekat dengan bu Nina. Selama handphoneku dikuasai Mama. Aku tak bisa bebas memberi kabar," batin Tyas.


Waktu istirahat sekolah tiba, para siswa dan siswi tampak riuh keluar kelas, dan sebagian tetap ada yang di depan kelas.


"Rud," panggil Tyas sebelum Rudi keluar dari kelas mereka.


"Ada apa, Yas?"


"Aku mau minta tolong sama kamu."


"Minta tolong apa?"


"Ini, tolong berikan surat ini pada bu Nina, ya. Dan pastikan dia yang nerima dan membacanya."


Rudi mengambil sebuah surat yang hanya dilipat menjadi empat bagian dari lembaran buku tulis yang diambil bagian tengahnya.


"Oh, iya. Nanti langsung kuberikan. Ini aja, kan?"


"Iya, jangan hilang ya, Rud. Dan jangan hubungi aku sama sekali lewat handphone soalnya handphone lagi di konter, masih diperbaiki."


"Iya."


Tyas mengangguk, dia berharap dengan mengadukan semuanya Tyas bisa selamat dan bebas dari Mamanya.


Singkat cerita waktu pulang sekolah tiba, sebelum benar-benar berpisah Tyas mengingatkan kembali pada Rudi mengenai surat yang telah ditulisnya untuk Nina.


"Iya, Tyas. Surat itu aman di kantongku. Aku duluan ya."


Tyas pun lega, akhirnya dia membiarkan Rudi pulang duluan, sedangkan dirinya dengan langkah malas keluar gerbang sekolah.


Muti sudah menunggunya dan mengantarkannya pulang, dia senang Tyas yang biasanya melawan akhirnya menurut dengannya.


"Jika sedari awal kau menurut, kau tidak akan tertekan seperti itu, Tyas."


Tyas diam, dia malas menanggapi Mamanya. Dendam sedang membara di dadanya. Suatu saat dia akan membalas perlakuan Mamanya entah dengan cara apapun.


Sampai di rumah, Muti membiarkan Tyas masuk sedangkan dia pergi entah kemana.


"Yas, kamu kalau mau makan nanti sekalian cucikan semua piring kotor di wastafel, ya. Di sini ga ada pembantu, kamu yang paling muda maka kamu yang harus rajin. Kecuali kamu minta jasa ART pada Papamu kalau kamu ga mau lelah-lelah di sini," ucap Asih.


Tyas tidak menanggapi sepatah katapun ucapan neneknya itu dan terus masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Pantas saja Mama begitu, turunan dari nenek rupanya. Suka memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Ga apa-apa, suatu hari aku balas kalian berdua. " batin Tyas yang tanpa sadar dia telah mengepalkan kedua jari-jari tangannya.


__ADS_2