
"Woi."
Seseorang menghentikan langkah Edo yang sudah berada di depan Nina.
Spontan ke empat orang yang berada di dalam bangunan kosong melihat ke sumber suara.
Seorang laki-laki paruh baya mengenakan pakaian lumayan lusuh dan sebuah caping di atas kepalanya. Ia juga memegang sebuah celurit berukuran sedang, tampak sisa-sisa rumput masih menempel di badan celurit itu. Dia adalah seorang perumput yang waktu lalu menemukan jasad Ferdi dan Andi.
"Waduh, Do. Gimana ini?" Tanya Rizal terlihat tegang.
"Kepalang tanggung, kita habisi dia dulu baru kita urus perempuan itu."
Sang Bapak terkejut dirinya akan di keroyok namun ia tak gentar dan memegangi celuritnya lebih erat lagi, celurit yang lebih besar dari pisau yang dipegang Edo.
Melihat ketiga musuhnya teralihkan oleh sang Bapak yang dirasa sudah menyelamatkan nyawanya.
Nina gegas mengeluarkan pisau dari cincin yang selalu dikenakannya di jari manis tangan kirinya. Walau pisau itu terlalu kecil bahkan seperti serpihan kayu patah namun ketajamannya mampu merusak tali yang mengikatnya membuat tali rusak dan ikatan melonggar.
Kelonggaran tali dimanfaatkan Nina dengan segera, dengan mudah ikatan di tangannya sudah terlepas, kemudian dia membuka ikatan di kakinya.
Kini seluruh ikatan di tubuh Nina terlepas, dia melihat Bapak paruh Baya itu seperti kebingungan karena takut di serang Edo yang membawa pisau juga kedua temannya yang berusaha menjangkau tubuhnya.
Ketiga penjahat itu tak gentar biarpun mereka melihat calon korbannya bersenjata.
Nina yang terlepas tidak disadari oleh mereka yang fokus menyerang Perumput itu. Dengan Geram Nina berjalan ke arah Edo dan menendangnya hingga tersungkur.
"Langsung ambil pisaunya, Pak," ucap Nina dengan keras pada Bapak perumput.
Rizal dan Danu terkejut melihat Nina terlepas, kesempatan itu tidak dibuang begitu saja oleh Nina, dia langsung meninju Rizal dan menendang Danu yang ada di belakangnya karena posisinya tengah berhadapan dengan Rizal.
"Kurang ajar," ucap Rizal yang masih belum menyerah dan hendak kembali menyerang Nina.
Dengan ilmu bela dirinya Nina berhasil melumpuhkan ketiganya, bahkan tidak berpengaruh pada Edo yang membawa senjata.
Sebenarnya Nina gemas ingin membunuh ketiganya, namun adanya orang lain selain mereka berempat membuatnya menahan diri.
"Ayo, Pak. Kita ikat mereka dengan tali itu," ucap Nina yang langsung dituruti si Bapak.
Kini Edo, Rizal, dan Danu terikat dengan badan remuk redam babak belur dihajar Nina.
"Kamu di sini saja, Bapak panggil warga dan polisi. Kamu jaga mereka biar ga kabur."
"Iya, Pak."
Si Bapak langsung pergi meninggalkan rumah kosong.
__ADS_1
Kini mereka kembali berempat. Nina menatap mereka dengan tajam, satu persatu wajah mereka diludahi olehnya.
"Kalian beruntung karena ada pria itu, padahal aku ingin sekali membunuh kalian."
"Apa, membunuh kami? Kalau laki-laki s*alan itu tidak datang kau yang sudah mati," jawab Edo setengah meringis.
Plak....
Nina menampar Edo, membuat Edo terdiam tak ingin menerima pukulan lagi.
Nina menyandarkan punggungnya di dinding menghadap sekawanan penjahat sambil menunggu Bapak yang menolongnya kembali.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai orang-orang yang penasaran dan segera masuk ke rumah kosong.
"Oh, ini orangnya. Jangan-jangan penemuan dua mayat itu kalian yang membunuhnya ya, hah?"
Bugh...
Salah satu warga ada yang memukul Rizal, Danu, maupun Edo secara bergantian.
"Sudah-sudah, nanti kalau ketiganya mati malah kita yang kena masalah."
Nina yang ada di kerumunan menepi minggir, dia menunggu di depan rumah sekaligus menghirup udara segar karena di dalam bau debu.
"Saya kira kamu mau pergi, Mbak."
"Eh, enggak Pak. Di dalam pengap banyak orang dan banyak debu."
"Oh, gimana ceritanya kamu bisa di situ Neng?"
"Saya diculik, Pak. Mereka marah salah satu temannya saya hajar saat masuk ke rumah saya. Saya kira hanya satu orang yang masuk rumah saya rupanya temannya ada yang menunggu di luar. Saya dibuat pingsan dan saat sadar sudah ada di bangunan ini. Oh, iya. Terima kasih Bapak sudah menyelamatkan saya."
"Saya ga ngelakuin apa-apa, Mbak. Sejatinya Allah yang menyelamatkan Mbaknya. Orang tadi saya juga kebingungan saat di keroyok. Saya mau acungkan celurit takutnya saya yang di penjara. Kasihan anak istri saya kalau saya masuk penjara."
Nina tersenyum, merasakan bahwa laki-laki di depannya adalah pria yang bertanggung jawab. Tidak seperti mantan suaminya yang doyan selingkuh.
"Bagaimana Bapak bisa tahu kami ada di dalam tadi?"
"Ya karena Bapak tadi mau merumput di belakang rumah ini, rumput di belakang masih banyak dan segar-segar untuk makan kambing. Tapi kok samar-samar dari dalam rumah Bapak kayak ada lihat motor, Mbak. Pas Bapak masuk rupanya benar kalau itu memang motor dan terus masuk ke depan ada kalian."
"Sebaiknya bangunan ini di robohkan saja, Pak. Daripada dijadikan sarang penjahat."
"Iya, kamu benar. Ini juga dulunya rumah jaga. Tapi karena lahan ini tidak ditanami lagi ya tidak ada yang tinggal. Tapi dengar-dengar katanya bakalan ada acara tanam seribu pohon. Tapi ga tau kapan."
Mereka terus berbincang ringan hingga mobil polisi datang, dua orang polisi turun dan langsung membawa tiga sekawan yang sudah babak belur. Turut juga Nina dan Si Bapak sebagai saksi dan korban untuk dimintai keterangan.
__ADS_1
Sore menjelang, di belakang rumahnya Wati menyapu halaman sekaligus membakar sampah-sampah daun kering yang gugur dari pohon mangga miliknya.
Tidak sengaja dia melihat pintu rumah Nina masih terbuka.
"Heran, kak Nina kemana ya? Kok bisa pergi ga bawa motor dan pintu belakang kok ga di tutup," batin Nina.
Nina mendekati rumah Nina dan menutup pintunya. Kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali.
Nina yang baru selesai dimintai keterangan kini memilih naik angkutan umum untuk balik ke rumahnya. Banyak jahitan pakaian yang tertunda penyelesaiannya karena dirinya yang diculik.
Sampai di depan gang dia turun dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan jalan kaki.
Brak...
Baru berjalan sebentar suara kecelakaan terdengar nyaring di telinganya diiringi gerombolan sepeda motor seolah sedang konvoi.
Nina balik arah dan melihat siapa yang kecelakaan, orang-orang sekitar berusaha menyelamatkannya takut terlindas para pesepeda motor yang lewat.
"Aduh sakit, tanganku."
Nina tidak sabar ingin melihat siapa korbannya, dia tidak asing dengan suara itu. Dengan cepat dia membelah kerumunan yang hanya beberapa orang.
"Rudi, ya ampun. Kok bisa jatuh?"
"Bu, sakit Bu," keluh Rudi yang kelihatan pucat.
Nina yang melihat panah kecil di tangannya langsung mencabutnya.
"Pak segera bawa ke klinik. Ini panah beracun. Lekas, kasihan dia."
Seseorang yang rumahnya tepat di lokasi kejadian menawarkan diri mengantarkan Rudi.
Rudi langsung dibawa sedangkan Nina akan menyusulnya.
"Rudiiiii, Rudiiii, mana anakku?" Teriak Wati yang berlari-lari dari depan gang rumahnya.
Melihat itu Nina langsung mendekati Wati dan memeluknya.
"Sabar, Wat. Anakmu baru saja dibawa ke klinik. Mudah-mudahan ga apa-apa."
"Kok bisa dia kecelakaan, Kak? Gimana lukanya? Aku dikasih tahu Titin lewat telepon langsung lari ke mari. Bapaknya belum pulang kerja," dengan berurai air mata Wati menangis tersedu-sedu, dadanya tercekat ingin melihat anaknya namun sudah dibawa.
Nina yang melihat Wati khawatir merasa tak tega, dia tahu betul bagaimana perasaan Wati sekarang.
"Sudah Wat, doakan saja anakmu. Kita susul Rudi ke klinik sekarang."
__ADS_1