Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Penggeladahan


__ADS_3

Tyas tersurut mundur melihat Mamanya yang terus melangkah maju memegang pisau yang di arahkan kepadanya.


"Apa yang kau tangisi, Tyas? apa kau terharu melihat Mamamu yang akhirnya peduli denganmu? Iya, Tyas? Mama akan membantumu agar kau cepat mati sesuai keinginanmu."


Tyas tidak menjawab, air matanya sudah merembes membasahi kedua pipinya yang mulus.


"Jangan takut, setelah kau mati Papa dan ibu Ninamu yang selalu kau sanjung itu akan menyusul. Kalian akan hidup bahagia di alam sana. Dan setelah itu warisan papamu semuanya akan jatuh ke tangan Mama."


"Jangan, Ma. jangan lakuin itu.Jangan kotori tangan Mama dengan mencelakai orang-orang yang ga bersalah."


"Kalian semua bersalah! kau yang pembangkang, papamu yang telah menceraikan Mama, juga Nina yang telah merebutmu dari Mama."


"Ma, Tyas mohon, Ma. Mama mau Tyas gimana? ikut Mama? ya udah, Tyas ikut Mama. Tapi Mama jauhkan pisau itu ya, Ma."


"Kenapa harus dengan cara begini baru kau mau nurut dengan Mama, Tyas. Hem?"


Tyas memejamkan matanya, dirinya terlihat pasrah saat sudah terpojok di dinding kamar. sedangkan pisau yang sedari tadi diacungkan padanya mata pisau itu akhirnya sudah menempel di bawah dagunya.


"Baik, Mama beri satu kesempatan. Jangan coba-coba bertingkah dan mencoba kabur. Atau Mama akan lakukan semua yang Mama katakan tadi."


Muti melengos pergi dari kamar tanpa mengunci pintunya. Tyas yang tertinggal di dalam kamar masih membeku di tempat dia berdiri dan masih menyisakan tangis dengan isakan.


Tyas syok dengan perlakuan Mamanya yang hampir menghilangkan nyawanya jika saja dia tidak memohon pada Muti. Masih dengan tubuh gemetaran dia mendekati ranjang dan mencoba menenangkan dirinya yang akan menjalani hari-harinya di bawah tekanan sang Mama demi nyawa dirinya, Bagas dan juga nyawa Nina.


Waktu bergulir dengan cepat. Di kediamannya Nina yang tampak sibuk menjahit teralihkan aktivitasnya dengan suara deringan handphone.


"Halo."


"Halo, Nina. Ini bu Dian. Ibu mau kasih tahu kamu, sekarang di depan rumah orang tua kamu ada dua orang polisi menanyakan kepemilikan rumah. Karena kamu anaknya kamu disuruh ke sini. Tapi jika tidak bisa maka polisi ini yang akan ke sana, katanya begitu."


"Ya sudah, Bu. Biar Nina yang ke sana."


Nina lekas memutus panggilan teleponnya dan segera menutup kios jahitnya. Dalam benaknya dia menebak-nebak kenapa dirinya dicari-cari?


setelah menempuh perjalanan selama belasan menit dengan motornya akhirnya Nina sampai di rumah orang tuanya.


Sudah ada beberapa tetangga yang berkumpul karena penasaran. Dirinya yang tidak tenang tetap berusaha memasang wajah biasa saja di depan semua orang.


"Maaf, ada apa ya bapak-bapak ini cari saya?"


"Ibu pemilik rumah?"

__ADS_1


"Iya, saya yang mewarisi rumah ini tapi tidak tinggal di sini, Pak."


"Jadi begini, Bu. Kami mendapatkan tugas untuk memeriksa seluruh mobil bewarna putih di wilayah kita yang salah satu pemilik mobil itu beralamat tepat di rumah Ibu ini. Apakah benar mobil itu ada?"


"Ada, Pak. Itu mobil milik Papa saya."


"Bisa kami memeriksanya?"


"Silahkan, Pak. Biar saya buka gerbangnya."


Nina mulai membuka kunci gerbang dan setelah itu terlihatlah halaman rumah dan mobil putih yang terparkir apik di samping halaman rumah yang seluruhnya berkeramik hitam.


"bisa kami lihat kelengkapan surat-suratnya dan izinkan kami juga memeriksa bagian dalam mobil."


"Baik, sebentar, Pak. Akan saya ambilkan."


Nina masuk ke dalam rumah dan mengambil apa yang diperlukan, dirinya sudah sangat was-was dan berharap semoga polisi itu tidak mencurigai dirinya. Saat sudah mengambil surat kelengkapan dan kunci mobil dia langsung keluar rumah. Dilihatnya salah satu polisi itu sedang memeriksa bagian bawah mobil hingga masuk ke dalam kolongnya.


"Langsung buka saja mobilnya, Bu."


"Iya, Pak."


Dengan sekali tekan mobil mengeluarkan bunyi dan sudah bisa dibuka.


"Apakah beberapa hari sebelum ini Ibu ada keluar dengan mobil ini?"


"Tidak, Pak. Terakhir kali saya pakai mobil minggu lalu saat akan membeli kebutuhan buat kios jahit saya dan kebutuhan dapur saya."


"Dari jam berapa ke jam berapa, Ibu?"


"Dari jam delapan sampai kira-kira setengah sebelas pagi lah, Pak."


polisi mengangguk dan mencatat sesuatu di buku kecil yang dibawanya.


Polisi yang selesai melihat kelengkapan surat langsung membuka pintu mobil dan mulai memeriksa mobil bagian dalam.


Dengan teliti kedua polisi itu memeriksa mobil, hingga akhirnya salah satu polisi menemukan sebuah pistol di dalam laci dashboard dengan peluru yang penuh. Dengan segera polisi itu mengambil pistol dan menghampiri Nina.


"Apa senjata api ini milik, Ibu?"


"Iya, itu milik saya, Pak."

__ADS_1


"Sejak kapan Ibu memiliki benda ini?"


"Sedari saya masih gadis, saat lulus dari pelatihan menembak."


"Apa anda memiliki surat kepemilikan senjata ini?"


"Pasti punya, Pak. Jika tidak saya tidak akan memiliki senjata ini. Akan saya ambil sertifikat asli kepemilikan senjata dan sertifikat lulus pelatihan."


"Kalau begitu sekalian izinkan kami untuk memeriksa rumah Ibu sebelum pergi."


"Baik, bapak-bapak sekalian silahkan langsung masuk saja."


Kedua polisi segera masuk, sedangkan Nina mengambil dua sertifikat asli yang diminta.


Akhirnya setelah hampir setengah jam memeriksa polisi kembali menghampiri Nina yang menunggu di depan dengan dua sertifikat di tangannya.


"Ini yang Bapak minta."


Dengan teliti polisi itu memeriksa keaslian sertifikat dan kemudian mengembalikannya lagi pada Nina.


"Pemeriksaan sudah selesai. Terima kasih atas kerja samanya dan maaf telah mengganggu waktunya."


"Sama-sama, Pak."


"Kalau begitu kami izin pergi."


Polisi akhirnya meninggalkan rumah orang tua Nina dan Nina membereskan surat-surat mobil juga sertifikat dengan menyimpannya kembali ke tempatnya semula.


"Untung aku selalu langsung membereskan semuanya saat selesai dengan mereka," batin Nina lega saat lolos dari kecurigaan polisi.


Selesai menyimpan semuanya Nina segera keluar, dan mengunci pintu rumah. Masih sempat dilihatnya kedua polisi itu masih mengobrol dengan beberapa ibu-ibu dan langsung pergi saat Nina hendak mengeluarkan motornya dan menggembok kembali pintu gerbang.


"Sudah selesai, Nin?"


"Sudah, Bu. Tadi polisi-polisi itu ngomong apa?"


"Cuma tanyain kamu, minggu ini ada keluar tidak naik mobil."


"Oh, itu," ucap Nina resah. Bagaimana pun dirinya merasa tidak aman sekarang. Bisa saja suatu hari nanti polisi akan mengetahui bahwa selama ini dia lah yang mereka cari.


"Alhamdulillah, Nin. Pemeriksaan di rumahmu aman. Rumah kamu yang diperiksa kita-kita yang deg-degan," ceplos salah seorang ibu-ibu.

__ADS_1


Nina hanya menanggapi dengan senyuman lalu undur diri karena harus segera menyelesaikan pekerjaan menjahitnya.


"Seandainya aku tertangkap, setidaknya aku lega sudah membunuh sekelompok orang-orang yang telah membunuh anakku," batin Nina terus melajukan motornya menuju rumahnya.


__ADS_2