Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Boy diteror


__ADS_3

Semua anggota masih terdiam dengan kemarahan Boy, kini mereka mendapat tugas berat mencari sosok misterius yang tidak diketahui sama sekali ciri-cirinya oleh mereka.


Dalam diri mereka masing-masing menyimpan rasa takut, tentu saja mereka tidak ingin bernasib serupa seperti Jo.


"Sebelum pada pergi mencari kita urus dulu tubuh, Jo," pinta Riko.


"Urus bagaimana? Antarkan saja diam-diam ke depan rumahnya sebelum pagi."


"Terus sayatan di perutnya? Apa kau mau orang-orang mencarimu karena ada namamu di situ?"


"Aaah."


Craaatt... Craaatttt...


Dengan dua kali sayatan Boy membuat tulisan di perut Jo tak terlihat, justru kini isi perutnya yang hampir keluar dibuat Boy.


Boy melemparkan pisau yang baru digunakan ke lantai. Para anggota merasa ngeri melihat tubuh Jo yang semakin mengenaskan.


Mereka sering membunuh orang dengan memberi luka yang mirip tetapi tak sempat melihat seperti apa kondisi korbannya mereka sudah pergi, itu sebabnya mereka merasa ngeri melihat Jo dan luka di perutnya.


"Sudah, kalian bawa dia, kita tinggalkan markas sementara, dalam seminggu ini jangan ada yang kemari sebelum ada kabar dariku. Nanti kita saling tukar kabar lewat grup saja."


Semua menurut dan mulai meninggalkan tempat, dua orang berboncengan membawa jasad Jo.


"Bro, aku takut nih. Kalau kita ketemu orang itu terus bernasib sama seperti bang Jo gimana, mana aku serem lagi kita yang bawa dia."


"Udah, diem aja lu. Aku udah tegang ni bawa motor, rasanya uda ga mau lagi gabung dengan Deadman."


"Berani lu, bisa-bisa dicegat bang Boy dihabisi lu di jalan."


"Makanya itu, kita cari aman saja, aku berharap geng kita dibubarkan. Aku masih sayang nyawa."


Disepanjang jalan mereka terus bercerita mengenai keluhan dan ketakutan mereka hingga sampai di dekat rumah Jo mereka berhenti.


Mereka sengaja tidak membawa motor sampai depan rumah Jo agar tidak ketahuan karena suara motor mereka.


Sambil menggotong tubuh Jo mereka buru-buru berjalan dan meletakkan tubuh Jo di depan pintu rumahnya.


Kemudian dengan cepat mereka kembali ke pinggir jalan mengambil motor kemudian menaikinya dan kembali pulang.


Di rumahnya Boy masih berfikir siapa orang yang sudah menerornya. Selama ini dia merasa tak mempunyai musuh nyata. Semua orang terkesan baik padanya karena Keroyalannya.


Ting...


Handphone Boy berbunyi, menandakan ada pesan chat masuk. Dilihatnya tertera nomor baru.


[Alvin, Bagas pasti bangga padamu jika mengetahui apa yang kau lakukan selama ini. Kau mengetuai kelompok Deadman, pasti suatu kebanggaan sendiri bukan.]

__ADS_1


Boy terkejut, tidak ada yang tahu nama aslinya selain keluarganya. Dan diantara keluarganya tidak ada yang tahu kalau dia terlibat geng motor bahkan mengetuainya.


Boy langsung menekan icon panggilan, dia ingin tahu siapa orang yang telah menerornya.


"Halo, siapa kau sebenarnya?" Ucap Boy geram.


Yang ditelepon tak menjawab, hanya diam tanpa suara sedikitpun membuat Boy semakin geram.


"Kau dengar ya sialan, pasti aku akan menemukanmu dan menghabisimu, kau tunggu saja, bedebah," amuk Boy.


Tanpa sadar di depan kamar, adiknya baru saja lewat habis dari dapur, dia terkejut mendengar kakak laki-lakinya mengucapkan kalimat yang dianggapnya mengerikan dan menakutkan.


"Apa yang terjadi dengan kak Alvin, siapa yang ingin dihabisinya?" batin adik Boy kebingungan. Namun dia sendiri takut menanyakan langsung pada kakaknya.


Sementara itu, di desa Bambusa ibunya Jo histeris melihat Jo sudah tergeletak dengan perut tersayat-sayat.


Para tetangga berhamburan keluar melihat apa yang terjadi.


"Ya ampun, Bu. Jo kenapa?"


"Ga tau, aku ga tau tiba-tiba buka pintu dia sudah ada di sini."


Warga kembali geger, belum lama ada kejadian kini sudah ada kejadian lagi.


"Lapor polisi saja Bu,"


"Tidak perlu, aku yakin ini pasti korban begal. Aku mau anakku langsung dikuburkan saja," ucap Ibunya Jo dalam tangisnya.


"Kak Nina, Kak?" Panggil Wati di depan rumah Nina yang tertutup rapat.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamu'alaikum, kak Nina?"


Setelah beberapa kali memanggil akhirnya pintu dibuka. Nina membuka pintu dengan kondisi wajah yang sembab, tampak sekali dia baru bangun tidur.


"Ada apa, Wati?"


"Kak, ayo melayat. Ada warga yang jadi korban begal lagi."


"Siapa, Wat?"


"Anaknya orang depan. Aku tunggu di rumah ya kak. Nanti susul aja."


"Yauda, nanti aku ke rumahmu ya."


Wati mengiyakan ucapan Nina, kemudian dia kembali ke rumahnya. Sedangkan Nina, dia mulai bergegas bersiap-siap karena tidak ingin Wati menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Wati dan Nina akhirnya berjalan bersama menuju kediaman Jo, sampai di sana mereka mendengar orang-orang banyak yang berbisik ngeri menceritakan keadaan jasad Jo.


"Ngeri kali ya kak, Nin. Korban begal ga pernah ga ada yang kena sayatan."


"Yah, begitulah mereka. Melawan ataupun tidak sama saja. Membunuh orang sudah jadi bagian dari mereka untuk bersenang-senang," jawab Nina tertegun. Ia teringat Satya, anak yang seharusnya menemaninya sekarang.


"Berarti desa kita belum aman."


"Memang belum,"


Akhirnya tiba saatnya Jo akan diberangkatkan ke pemakaman, Wati dan Nina memilih tidak ikut.


"Wat, kamu masih mau di sini atau langsung pulang?"


"Aku masih mau di sini dulu, kak Nina. Aku penasaran, mau dengar langsung dari cerita Ibunya Jo."


"Kalau begitu aku duluan ya. Aku masih ngantuk."


"Ya sudah kak, maaf ya kamu pulang sendiri."


"Ga apa-apa, jangan dipikirin."


Nina pun pulang duluan, berjalan bergabung bersama-sama dengan rombongan yang satu arah dengan gang rumahnya.


"Wat, Si Nina uda ga stress lagi ya kayaknya, semenjak kejadian banyak begal yang terbunuh tiba-tiba dia uda ga pernah terlihat lagi malam-malam di depan tugu."


"Kayaknya gitu, Bu. Syukurlah, mungkin dia sudah ikhlas dengan kematian anaknya."


Malam menjelang, di markas Deadman tampak sepi, tidak ada seorang pun anggota yang datang ke sana.


Seseorang mendekati markas itu, pintunya tidak dikunci, ia menelusuri setiap ruangan, ada satu ruangan khusus yang dimasuki orang misterius, ia melihat banyak sepeda motor berjajar rapi, sepertinya hasil dari membegal.


Orang itu kemudian kembali ke ruang utama, dia melihat sebuah lemari, kemudian membukanya.


Ditemukan buku yang pernah dibuka Jo sebelum pergi menjalankan tugas sebagai mata-mata.


Ternyata, setelah dilihat lagi, buku itu tidak berisi data korban, tetapi juga data musuh geng motor lain dan juga teman mereka sesama geng motor dengan nama yang berbeda.


"Bagus, ini akan mempermudahkan ku," gumam Si Sosok misterius.


Disimpannya buku itu ke jaket kulit yang dipakainya, kemudian dia kembali memeriksa lemari yang berisikan stok miras.


Sementara itu, Boy berusaha menghubungi nomor yang tidak dikenal yang sudah menerornya, dia meminta bantuan Riko dan juga yang lainnya untuk mencari tahu siapa Si Pemilik nomor.


Kring.... Kring... Kring...


Handphone Boy berdering menimbulkan bunyi berisik dihampir subuh hari, dia yang Baru tidur sebentar mengangkat telepon yang ternyata dari Riko.

__ADS_1


"Boy, markas kita," ucap Riko dari sebrang telepon penuh penekanan.


"Hah, ya. Kenapa dengan markas?"


__ADS_2