
Brak...
Pintu kamar Tyas dibuka dengan kasar oleh Muti. Tyas terkesiap melihat kedatangan Mamanya dengan tiba-tiba.
"Apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?" Tanya Muti seraya berjalan cepat ke arah Tyas.
Muti menarik tangan Tyas dengan kasar. Dan menarik sebuah ponsel yang diberikan oleh Nina.
"Handphone siapa ini?"
Tyas menggeleng tak mau menjawab, saat ini dadanya bergemuruh hebat, takut jika Muti tau apa yang dilakukannya lewat handphone itu.
Tak mendapat jawaban dari Tyas, Muti mengecek sendiri handphone yang baru dirampasnya.
"Oh, jadi ini milik anaknya wanita si*lan itu," ucap Muti seraya menyeringaikan senyum pada Tyas.
Handphone milik Satya dimasukkan ke dalam tas. Lalu kini matanya menatap tajam ke arah Tyas.
"Pantas saja tadi kau berani mulai melawan. Ternyata kau sudah mendapat bala bantuan dari Nina. Tapi tidak sekarang dan seterusnya. Kau tahu? Ibu kesayanganmu itu sudah kuhabiskan dengan tanganku sendiri," Muti mengeluarkan pisau yang masih tersisa noda darah Nina dan menunjukkannya pada Tyas.
"Lihat, Tyas. Ada noda kenang-kenangan dari wanita terkasihmu itu di sini. Dan sekarang sampai kapan pun tidak akan ada yang menemukannya kecuali tubuh itu telah membusuk dan tercium baunya. Itu pun jika ada yang tahu. Dan malam ini adalah giliran papamu."
Puas memberi trauma pada Tyas, Muti keluar dari kamar putrinya dan mengunci kamarnya dari luar.
Ambisi yang ada pada diri Muti membuatnya buta hati dan lupa diri. Demi harta dia rela menjadi sosok monster dan menghabisi nyawa orang yang tak bersalah. Bahkan tidak peduli jika yang dihabisinya adalah darah dagingnya sendiri.
"Bu Nina, Bu. Benarkah kau sudah dibunuh mama," batin Tyas, lehernya tercekat menahan tangis. Tubuhnya gemetar setelah melihat sosok monster yang tak lain adalah mamanya sendiri.
Nina merunduk ringkih memeluk lututnya sendiri. Ia menangis menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Nina.
"Maafkan Tyas, Bu. Karena Tyas dekat dengan ibu, ibu jadi sasaran mama," batin Tyas dalam tangisnya.
Tyas terbayang masa-masa bersama Nina. Dengan Nina, Tyas merasa memiliki seorang ibu, berbeda dengan bersama mamanya sendiri yang cenderung seperti tak menganggapnya ada dan sekarang semakin parah.
Malam menjelang, tak ingin larut dalam kesedihan, kini Tyas sudah berada di depan jendela kamarnya.
"Aku harus segera menyelamatkan papa. Sebej*t apapun dia. Dia tak pernah mau menyakitiku apalagi sampai membunuh. Mulai sekarang wanita itu bukan mamaku lagi," batin Tyas penuh tekat.
Tyas segera membuka jendela kamarnya.
"Wanita bodoh, jika ingin mengurungku kenapa kau lupakan jalan keluar satu ini," gumam Tyas pelan.
Iya buru-buru lari menjauhi rumah neneknya, sebelumnya ia juga tak lupa menutup jendela kamarnya kembali.
Dengan sisa uang yang dia punya. Tyas menyetop tukang ojek dan minta diantar ke rumah papanya.
Sampai di depan rumah papanya Tyas segera lari dan mengetuk gerbang hingga keluarlah seorang satpam.
"Dek, Tyas. Kenapa ngos-ngosan begitu?"
"Pak, papa di mana, Pak?"
__ADS_1
"Oh, Pak Bagas belum ada pulang, Dek."
Tyas masuk dan meminta semua penjaga di rumahnya memperketat penjagaan.
"Memangnya kenapa, Dek?"
"Aduh, panjang ceritanya, Pak. Nyawa Papa sedang dalam incaran seseorang."
"Memangnya siapa yang mengincar Pak Bagas, Dek?"
"Mama, dia menyuruh orang untuk mencelakai papa agar dia tetap mendapatkan warisan karena belum resmi bercerai dari papa."
"Astaghfirullah, ga nyangka sama ibu. Ya sudah. Biar Bapak bilang sama teman-teman. Adik di sini saja sama Bapak. Siapa tahu orang itu incar kamu juga."
Tyas mengangguk, sebagian sekuriti menjaga di area belakang dan samping rumah.
Hanya Pak Jamal yang menjaga depan sekaligus menemani Tyas.
"Kenapa bisa bu Muti seperti itu, Dek?"
"Itu karena sedari awal dia menjerat papa menikah dengannya karena uang, sampai papa rela meninggalkan bu Nina."
"Jadi kamu sudah mengenal bu Nina."
"Bahkan sangat dekat, Pak. Tapi dia sudah dibunuh oleh mama," jawab Tyas lirih.
"Hah? Kenapa ga lapor polisi, Dek?"
"Ya, kamu benar, Dek. Melapor tindak pidana harus ada bukti dan saksi. Tidak bisa melaporkan begitu saja. Kamu yang tenang dan berdoa semoga rencana bu Muti gagal."
"Pasti, Pak."
"Tapi kamu tahu darimana bapak dalam bahaya?"
"Sebelum mama pulang entah dari mana. Yang jelas sebelum dia membunuh bu Nina, bu Nina sempat mengatakan jika malam ini papa dalam incaran lewat pesan chat dan bu Nina akan mengurusnya. Tapi setelah itu tak bisa lagi kudapat kabarnya karena sepertinya memang benar dia sudah mati oleh mama."
"Bukti chat itu bisa dijadikan bukti, Dek."
"Harusnya, Pak. Tapi handphonenya diambil mama."
Tyas terdiam. Pak Jamal hanya melihatnya nanar. Orang tua yang paling lama bekerja di rumah itu merasa iba dengan apa yang dialami anak majikannya.
"Pak, boleh Tyas pinjam ponselnya. Tyas harus tau papa di mana sekarang."
"Oh, pakai lah, Dek," segera Pak Jamal mengeluarkan ponselnya dan memberikan nomornya pada Tyas.
Tuuuttt....
Tyas menunggu panggilan diangkat, sampai akhirnya kata 'memanggil' di layar handphone berubah menjadi durasi detik panggilan.
"Halo, papa. Ini Tyas, Pa."
__ADS_1
"Tyas, kenapa pakai nomor pak Jamal? Kamu di rumah?"
"Iya, Papa dimana sekarang?"
"Papa lagi di jalan, sudah mau dekat rumah. Di kebon mahoni lah ini. Kamu kenapa, Tyas? sepertinya resah sekali."
"Mama, pa. Mama mau mem-"
"Aaaaaa."
Braak... Tiiiiiin...
"Pa, papa? Papa? Halo, pa?"
Tyas terus memanggil papanya. Kini air matanya berurai tanpa diperintah. Tampak wajahnya panik dan pucat.
"Dek, kenapa?" Tanya Pak Jamal khawatir.
"Papa gak jawab lagi, Pak. Tapi panggilan belum dimatikan. Tyas mendengar suara keras dan ada jeritan papa di sana. Klakson mobilnya juga tak kunjung berhenti."
"Ya Allah, astaghfirullah. Kita harus segera ke sana, Dik."
"Iya, Pak. Ayo, papa di daerah kebon mahoni."
"Waduh, itu jalanan memang sepi. Ayo kita ke sana. Bapak keluarin motor dulu."
Buru-buru Pak Jamal mengambil motornya di bagasi.
"Mau kemana Bang Jamal?"
"Mau ke Mahoni. Kamu jaga depan dulu ya, tadi dengar pak Bagas ada di sana. Sepertinya dia kecelakaan."
"Ya Allah. Ya sudah, Bang. Biar aku jaga depan."
Pak Jamal lekas mengendarai motornya dan meminta Tyas segera naik dan menuju lokasi akhir Tyas menghubungi Bagas.
Sampai di tempat jalanan gelap dan sepi, tak ada apapun sampai mata Pak Jamal dan Tyas menangkap sebuah mobil ringsek bagian samping kanan depan di pinggir jalan sedikit menengah.
"Pak, itu mobil papa."
"Iya, Dek. Iya."
Tyas dan Pak Jamal buru-buru turun dan melihat kondisi Bagas yang kepalanya sudah berlumuran darah, tubuh bagian kanannya terjepit bodi mobil dan sudah tak sadarkan diri.
"Papa, Papa. Bangun, Pa. Paaa," jerit Tyas meronta-ronta berusaha membuka pintu mobil yang masih terkunci dari dalam.
Kebetulan ada pengendara lain yang lewat, Pak Jamal segera menyetopnya dan meminta bantuan, tak lupa Pak Jamal juga menelepon polisi.
Daerah Mahoni yang tidak ada warganya kecuali setengah kilo meter lagi ke arah rumah Bagas baru ada pemukiman penduduk. Kanan dan kiri jalan adalah pohon Mahoni yang tumbuh tinggi tersusun rapi.
Lambat laun dari arah pemukiman ada beberapa warga yang datang setelah beberapa orang dari mereka mendengar suara klakson yang tak kunjung berhenti.
__ADS_1
Sambil menunggu kedatangan polisi orang-orang mulai berusaha mengeluarkan Bagas dari dalam mobil dengan merusak kaca mobilnya. Tyas risau melihat keadaan Papanya terus-menerus ditenangkan oleh Pak Jamal.