
Muti dan Bagas masih marahan, mereka diam-diaman, bahkan Bagas memutuskan tidur di kamar kosong.
Sedangkan Muti mencoba menelepon Alvin, gara-gara dia tidak pulang waktu makan malam Bagas menyalahinya dan menganggapnya tak becus jadi ibu.
"Mana lagi nih anak, susah banget kalau dihubungi. Padahal punya kerjaan juga enggak," gerutu Muti yang terus berusaha menelepon Alvin.
Panggilan berdering, namun tak kunjung diangkat, membuat Muti naik jengkel dan akhirnya memutuskan untuk tidak menghubungi Alvin lagi.
"Biar sajalah situ, palingan nanti pulang sendiri. Biasanya juga gitu."
Kini Muti tertegun, suaminya marah padanya karena ketidak becusannya mendidik anak, dirinya sendiri mengakui hal itu karena memang selalu ART yang sedari dulu lebih banyak mengurus mereka sejak kecil, sedangkan Muti hanya membantu melihat-lihat saja.
Kini pula Tyas kecewa pada dirinya yang mengetahui bahwa ibunya seorang pelakor yang telah berhasil mencampakkan istri pertama Bagas.
Muti bingung, kini dia sedang berfikir bagaimana agar Tyas mau diajak bicara lagi padanya.
Muti keluar kamar dan menuju kamar Tyas yang ternyata masih belum tidur.
Tyas yang melihat kedatangan Muti mendengus kesal.
"Kamu tidak suka Mama masuk ke kamarmu?"
"Biasakan ketuk pintu, Ma. Aku ga suka kalau Mama main masuk aja ke kamarku," jawabnya jutek.
"Kamu masih marah sama Mama?"
Tyas terdiam, dia malas membicarakan masalah Mamanya lagi sekarang. Mau dibicarakan bagaimanapun semua sudah kadung terjadi, tidak akan dapat mengubah takdirnya kalau dia adalah anak seorang pelakor.
"Mama boleh pinjam handphone kamu gak? Mama bingung dari tadi coba telepon kakak kamu tapi ga diangkat-angkat. Coba pakai nomor kamu, siapa tahu diangkat."
Mendengar kakaknya tidak bisa dihubungi dada Tyas berdesir. Dia teringat saat tidak sengaja mendengar kakaknya sedang marah di kamarnya dan mengatakan akan menghabisi seseorang.
Tanpa berlama-lama Tyas langsung memberikan handphonenya ke Mamanya.
Dengan senyum termanis Muti mengambil handphone Tyas dari tangannya kemudian mencoba menghubungi Alvin kembali.
Tyas melihat Mamanya serius, dia juga menunggu kakaknya itu mengangkat telepon dari Mamanya.
"Ck, ngapain sih kakakmu. Tinggal angkat doang susah amat."
Dengan kesal Muti mengembalikan handphone Tyas kepadanya. Kini Muti malah melihat ekspresi Tyas yang tidak biasa.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Tyas? Ga biasanya wajahmu kayak gitu?"
Tyas yang ditanya langsung terlihat kikuk. Dia bingung mau jawab apa, terlalu takut jika mengatakan yang sebenarnya.
"Ga apa-apa, Ma. Cuma penasaran aja. Kak Alvin kemana?"
"Nah iya sama, Mama juga gemas lihat kakakmu, gara-gara dia Mama diomelin papa kamu."
Tyas tak menggubris ucapan Muti, dia masih merajuk pada Mamanya yang seolah tak merasa bersalah sama sekali karena telah menghancurkan rumah tangga orang lain.
Pagi menjelang, waktu hampir menunjukkan pukul tujuh pagi, Bagas sudah bersiap-siap akan berangkat kerja.
"Permisi Pak Bagas, di depan ada paket. Katanya buat Bapak dan sekeluarga," ucap security rumah.
"Paket dari siapa, Pak?" Tanya Muti penasaran.
"Dari orang spesial katanya, itu paketnya sudah ada di pos."
Muti dan Bagas saling berpandangan dan sama-sama memasang wajah heran.
"Ya sudah, bawa ke sini saja," perintah Bagas pada sekuritinya.
"Dari siapa, ya?" Gumam bagas.
Tak berapa lama dua orang security datang menggotong sebuah paket yang jika dilihat dari luar mirip mesin cuci.
"Langung dibuka saja, Pak. Saya penasaran apa sih isinya," ucap Muti tak sabar.
"Memangnya ga ada alamat pengirimnya, Pak?"
"Ga ada, Pak Bagas."
Dengan gesit seorang security membuka bungkusan paket, saat plastik hitam terbuka tampaklah sebuah kotak mesin cuci.
"Mesin cuci? Coba langsung dibuka lagi, Pak."
"Siap, Bu."
Kotak mesin cuci terbuka, namun bukan mesin cuci yang di dapat Sang Security malah tersulut mundur.
"Astaghfirullah."
__ADS_1
"Ada apa sih," ucap Muti yang penasaran dan langsung melihat ke dalam kotak.
"Aaaaaaa, aaaaaaa Alviiiiiin. Papa anakku, Paaaaa."
Muti histeris melihat Alvin bersimbah darah di dalam kotak mesin cuci dengan posisi duduk membungkuk. Beberapa luka sayatan terdapat pada tubuhnya juga di bagian kepalanya.
Luka itu persis seperti luka yang diterima Satya saat menjadi korban begal.
Bagas dan yang lainnya kaget melihat Alvin dalam keadaan mengenaskan, bahkan nyawanya sudah tidak tertolong lagi.
Mereka langsung heboh dan mengeluarkan jasad Alvin dari dalam kotak.
"Ini pembunuhan, aku akan segera lapor polisi," ucap Bagas masih syok.
Sedangkan di jalan, Nina di dalam mobil peninggalan orang tuanya merasa tenang karena sudah mengantarkan jasad Alvin langsung ke rumahnya.
Dia membuka maskernya, dia teringat akan wajah ketakutan Alvin saat akan dibunuhnya tadi malam.
"Maafkan aku Alvin, salahkan dirimu sendiri mengapa harus menjadi bagian dari komplotan jalanan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berbalas dendam pada setiap pelaku begal atau geng motor yang sudah merenggut nyawa orang seenaknya, agar keluarga mereka merasakan sakit yang kurasakan kehilangan sosok keluarga dengan tragis juga agar menjadi efek jera untuk orang-orang sepertimu, sok hebat tapi sebenarnya hanyalah pengecut," ucap Nina sebelum akhirnya dia membuat Boy alias Alvin menjadi tak bernyawa.
Sampai di rumah orang tuanya dia langsung memasukkan mobil ke bagasi lalu segera mengatur plat mobilnya yang sudah dimanipulasi olehnya.
Sengaja saat pindah dia tidak ingin tinggal di rumah orang tuanya yang sudah meninggal karena tidak ingin sering-sering berjumpa dengan mantan suaminya beserta keluarganya yang telah disembunyikan selama ini sebelum akhirnya ditunjukkannya juga dihadapan dirinya dan akhirnya malah menyingkirkannya juga Satya. Dia tidak ingin Satya menyimpan luka melihat ayahnya lebih sayang terhadap kedua anak Muti daripada dirinya.
Cepat-cepat Nina mengambil motornya kembali dan segera pulang ke rumahnya di desa Bambusa.
Kabar kematian Alvin menyebar dengan cepat, Riko memberi kabar kepada seluruh anggota Deadman agar beberapa bisa hadir melayat ke rumahnya walau hanya perwakilan saja.
"Waduh, Bro. Padahal Deadman udah bubar kan ya, kok bang Boy malah terbunuh sih. Aku takut nih, nanti malah kita korban selanjutnya gimana?" Ucap salah seorang mantan anggota Deadman pada temannya yang juga sesama anggota di kantin sekolah. Mereka mengobrol dengan berbisik-bisik.
"Udah, jangan takut. Kita di rumah aja. Ga usah keluar-keluar. Siapa tau melihat kita ga ikut-ikutan lagi membuat kita aman."
"Semoga aja lu bener ya, Bro. Aku beneren takut soalnya. Aku tobat ikut-ikut geng motor."
"Sama."
Sedangkan dikediaman Bagas, warga sekitar mulai berdatangan untuk melayat. Masyarakat mulai mempertanyakan penyebab kematian Alvin yang mendadak. Namun pihak keluarga memilih bungkam.
Sampai pada akhirnya beberapa anggota kepolisian datang ke rumah bagas.
"Loh, kok ada polisi, kayaknya meninggalnya ga beres ini?" Ceplos salah satu warga pada temannya dengan berbisik-bisik.
__ADS_1
"Ya kayaknya gitu, kalau ga ngapain ada polisi, iya kan?"