
Kini Alvin sudah dimakamkan, seluruh keluarga balik ke rumah dengan masih menyisihkan duka.
Muti menahan malu karena warga tidak berhenti menceritakan dirinya yang tidak becus jadi ibu juga sekarang dirinya sudah dicap pelakor oleh beberapa ibu-ibu di daerahnya.
"Puas kamu Muti, istri tak becus. Apa saja kerjamu di rumah hingga anak jadi ketua begal pun kau tak tau, sibuk dengan urusanmu sendiri yang tidak ada penting-pentingnya sama sekali dengan urusan anak," omel Bagas saat mereka baru pulang dari makam.
"Bagas, kamu jangan nyalahin anak saya terus-terusan dong, mengurus anak kan tanggung jawab kalian berdua, kenapa sepenuhnya kamu berikan pada Muti," protes Ibu mertua Bagas.
"Saya sudah bekerja menafkahi mereka, malam saya selalu menyempatkan waktu untuk bertemu mereka namun Alvin jarang sekali di rumah. Saya lagi yang salah?" Kini Bagas mulai mengeluarkan nada tinggi, dia tidak peduli masih ada sanak saudara serta beberapa tetangga yang masih berkumpul di rumahnya.
Muti yang dimarahi hanya bisa menangis dan diam, dia sendiri masih tidak menyangka kalau anaknya adalah ketua para begal.
Bagas melengos pergi meninggalkan keramaian di ruang tengah menuju kamarnya lalu mengunci pintu kamar.
Kini Bagas merasa telah salah memilih wanita dan membuang Nina yang bagus menjadi seorang istri juga ibu. Rasa rindu seakan menggebu dihari kematian putra pertamanya hasil hubungan gelap Bagas dengan Muti selama ini sebelum lahirnya Satya yang ternyata lahir setelah tujuh tahun pernikahan mereka.
"Bu, gimana nih. Kalau Bagas terus-terusan marah padaku bisa-bisa aku diceraikan dia. Aku malu, Bu," rengek Muti pada Ibunya.
"Tidak, enak saja. Dia tidak bisa menelantarkan Tyas. Apalagi Tyas anak perempuan."
"Lagian salah Mama sendiri, sudah begini baru nangis-nangis, selama ini Mama juga ga begitu peduli dengan kami, yang mengurus kami kan, Bibi," ucap Tyas jutek. Anak itu seakan tak ada rasa kasihannya sama sekali dengan Muti.
Di tempat Nina, dia yang sedang sibuk menyiapkan jahitan di datangi Wati. Tetangga yang sudah sangat akrab dengannya.
"Kak Nina, uda dengar kabar belum. Aduh, aku baru sempat main ke sini abis maghrib, hehehe."
"Kabar apa, Wat?"
"Ih, itu loh. Banyak anak-anak ditangkap polisi karena ikut-ikut geng motor. Kayaknya kampung kita semakin aman karena para geng motor sudah tertangkap, Kak."
"Syukurlah kalau begitu. Semoga ga ada korban lagi," harap Nina tak yakin.
"Kak, rupanya Si Jo itu pun termasuk anggota begal juga loh. Iih, ga nyangka lah aku."
"Kan aku sudah pernah bilang, di situasi mencekam seperti saat waktu yang lalu anak-anak keluar malam dan pulang dini hari bahkan hampir pagi tapi tidak apa-apa mereka patut dicurigai."
"Ih, iya ya Kak. Betul lah itu. Sekarang tergantung orang tuanya aja gimana. Maunya anak-anak itu ga usah lah di kasih motor dulu."
__ADS_1
"Ya begitulah, Wat. Kau jaga baik-baik anakmu si Rudi itu. Lihat teman-temannya juga pergaulannya."
"Pastilah, Kak. Mana mau aku anakku jadi penjahat."
Nina hanya tersenyum menanggapi Wati yang heboh, sesekali Wati ikut membantu Nina memasang mata kancing sekalian mengobrol.
Di tempat lain, di suatu rumah tampak seorang pemuda sedang berfikir karena baru saja diberi kabar kehancuran Deadman yang masing-masing anggotanya sedang di buron polisi.
"Bang, gimana nih. Deadman sudah tumbang, gimana kalau setelah itu justru giliran kita?" Ucap Randi kebingungan pada ketua geng motor dari Road Devil.
"Tenang lah, buktinya sampai sekarang kita aman-aman saja kan? Itu pasti karena mereka ceroboh. Lagian kita ga pernah membegal. Kita cuma konvoi sama kalau ada yang berani macam-macam sama kelompok kita baru kita kasih pelajaran," terang Darma selaku ketua geng.
Road Devil tidak sama dengan Deadman yang suka membunuh orang secara membabi buta. Komunitas mereka hanya sekedar kumpul, dan konvoi biasa. Paling hanya balap liar di jam-jam tertentu saat jalanan sudah sepi. Itu sebabnya markas mereka pun tidak tersembunyi justru di tengah-tengah rumah warga.
Hanya saja, jika ada salah seorang pemuda berani mengusik mereka, baru mereka akan melakukan penyerangan secara beramai-ramai biarpun yang dilawan hanya satu orang.
Sama saja meresahkan bukan?
"Sudah, jangan terlalu dikhawatir kan. Sekarang cari aman dulu saja. Jangan terpancing emosi sehingga membuat kita menurunkan pasukan. Oke?"
Mereka bersenang-senang dengan menghidupkan musik melalui loudspeaker agak besar, hal itu sudah biasa mereka lakukan, jika dimarahi warga mereka tinggal mengecilkan volumenya saja.
Hari semakin larut, anggota perlahan mulai membubarkan diri sampai akhirnya Darma juga akan pulang.
Jam dua pagi dia berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari markas mereka.
Saat sudah mau sampai di depan rumahnya, dari kejauhan dia melibat bapaknya sedang duduk tertunduk di teras.
"Bapak kebiasaan, tidur bukannya di dalam malah di luar. Memangnya ga banyak nyamuk apa?"
Kini Darma sudah sampai di depan rumahnya, dia yang tadinya biasa saja melihat Bapaknya kini dirinya justru terkejut.
Yang dilihatnya Bapaknya bukan tertidur melainkan sudah meninggal dengan panah menusuk di bagian jantungnya hingga baju di sekitar tusukan panah dipenuhi oleh darah.
"Bapaaaaakk, Bapaaaak. Ibuuu Bapak, Bu."
Tanpa menyentuh Bapaknya Darma panik dan terus memanggil ibunya. Mendengar kehebohan anaknya ibunya Darma segera keluar rumah.
__ADS_1
"Ealah, Bapaaaak. Kenapa Bapakmu, Darma?"
Darma yang ditanya hanya menggeleng, dia sendiri syok dan tidak tahu apa yang terjadi.
"Toloooooong..... Tolooooooong..."
Akhirnya teriakan minta tolong diteriakkan oleh Ibunya Darma.
Tetangga mulai berdatangan karena terkejut di tengah malam mendengar suara minta tolong.
"Pak, Bu. Suami saya dipanah orang. Ga tau siapa, saya keluar sudah begini," jelas Ibunya Darma sambil terus menangis.
"Innalillahi wa inna illaihi roji'un," ucap para tetangga serentak.
"Lihat, ada kertas di batang anak panahnya," seru salah seorang warga.
Warga yang paling dekat dengan Bapaknya Darma langsung mengambil gulungan kertas itu dan membuka isinya yang berupa pesan tertulis.
"Baca yang kuat, Pak. Biar kita dengar. Ini sudah termasuk teror," teriak seorang warga yang ingin tahu apa isi tulisan itu.
[Satu nyawamu tidak sebanding dengan nyawa para pemilik motor yang kau beli motornya dari para pelaku begal.]
"Ya ampun, jadi Wak Munir ini pengadah?"
"Saya kurang tahu kalau itu, Pak. Yang saya tahu showroom suami saya barang halal semua."
Darma yang syok masih tak bisa berkata apapun. Baru saja masalah teror mereka bahas di markas, sekarang Bapaknya menjadi korban karena merupakan seorang pengadah.
"Wah, tapi bisa jadi iya, Bu. Soalnya motor yang dijual suami Ibu terkenal murah dan tanpa BPKB,"
"Yang saya tahu motor-motor itu di dapat dari orang kepepet saja, Pak."
Ibunya Darma yang terus dilontarkan berbagai pertanyaan pun merasa tersinggung, dia sendiri memang tidak tahu menahu mengenai usaha suaminya. Yang dia tahu suaminya memang memiliki showroom kecil-kecilan saja. Menjual motor-motor bekas.
Bahkan Darma sendiri baru tahu jika Bapaknya ternyata seorang pengadah, dia ketakutan, karena si peneror itu yang dia tahu tidak pernah salah terhadap korbannya.
"Aku ga salah apa-apa, ga mungkin juga kelompok kami ikutan diganggu olehnya," batin Darma yang mulai dirundung kekhawatiran.
__ADS_1