
Di rumahnya, Nina baru saja membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kini matanya tertegun menatap langit-langit kamar. Sekali lagi, hari ini dia telah membunuh seseorang, orang yang dibunuhnya kali ini adalah seorang lelaki paruh baya yang sedang mencari angin di depan rumahnya sendiri.
Dialah pak Munir, seorang pengadah yang identitasnya diketahui olehnya dari buku catatan milik Deadman.
"Setidaknya, dengan matinya pria itu para begal bingung harus menjual hasil begal motornya kemana. Aku memang tidak bisa menjamin kejahatan jalanan bisa berhenti dan pengadah pasti bakalan terus ada. Setidaknya aku sudah mengurangi kelompok meresahkan seperti mereka."
Pagi menjelang, kini kediaman Darma mulai dipadati warga yang hendak melayat mengurus jenazah Bapaknya.
Polisi dan beberapa wartawan datang untuk meminta keterangan.
"Kayaknya memang anggota begal sedang di teror, Mbak. Bayangkan saja, beberapa waktu lalu kasus tewasnya banyak anggota begal yang sedang konvoi terjadi, terus tidak lama kebakaran markas mereka, setelah itu terungkapnya siapa saja identitas kelompok geng motor itu. Sekarang pengadah yang selalu menampung motong curian pula tidak luput menjadi sasaran teror," terang salah seorang warga yang sedang dimintai keterangan oleh seorang wartawan.
Bagi masyarakat, ada untungnya pemberantasan begal oleh seseorang yang tidak mereka ketahui siapa orangnya itu, mereka merasa aman dan kini para pembegal pula yang merasa ketakutan.
"Bos, Wak Munir mati dibunuh. Gimana ini?" Ucap salah satu anak buah Baron.
"Ya biar saja. Jangan ketakutan seperti para bocah-bocah itu, kita pasti bisa hadapi si kepar*at itu. Kita sedikit, hanya enam orang, tapi kita tidak suka beri ampun," jelas Baron sombong.
"Lagian kita tidak setiap waktu beraksi, intinya sekarang jangan kasih ampun dan jangan sampai lengah saja," sambung Baron lagi.
Kini para anggotanya sedang berkumpul di rumahnya. Istrinya sering jengkel jika teman-temannya Baron sudah datang. Selalu lama dan merepotkan karena harus membuatkan ini dan itu sesuai permintaan suaminya untuk mereka.
Dia lebih senang jika Baron dan teman-temannya berada di pos ronda saja.
Tiga hari setelah kematian Alvin, Bagas semakin cuek dengan Muti, dia hanya perhatian pada Tyas saja. Bagas muak dengan perangai Muti yang tidak pernah berubah dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Pa, aku minta duit. Hari ini aku mau arisan."
Bagas diam, dia tidak menggubris ucapan Muti.
"Mas, kamu dengar ga sih?"
"Duit, duit, duit. Duit terus yang kamu minta. Anakmu nih perhatikan, keuanganmu sekarang aku jatah, tidak ada lagi foya-foya. Kalau ga suka, pergi," tegas Bagas penuh penekanan.
Muti ingin membantah, namun mendengar kata-kata ancaman dia berpikir kembali. Bagas mempercepat sarapannya kemudian segera berangkat kerja.
"S*alan. Kok jadi makin pelit sih tuh orang," gerutu Muti sepeninggalan Bagas yang pergi kerja sekaligus mengantar Tyas ke sekolah.
Muti mengambil handphonenya kemudian meletakkan benda pipih itu ke telinga kanannya, kini dia sedang mencoba menelepon seseorang.
__ADS_1
"Halo?"
"Sayang, ketemuan yuk. Bete nih," ucap Muti manja pada seseorang di seberang telepon.
"Ayo sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Kita ke hotel dulu tapi ya?"
Muti mendengus pelan, sebenarnya dia malas berurusan ranjang sekarang, tapi karena butuh uang maka diiyakan saja ajakannya itu.
"Iya ga apa-apa sayang, kamu atur saja. Nanti kita ketemuan yah, aku siap-siap dulu."
"Oke, sayang. Aku atur hotelnya dulu."
Muti bersiap-siap, tidak mendapat uang dari suaminya sendiri dia beralih pada lelaki lain.
Pertemuan di atur, dengan mobilnya Muti mendatangi sebuah hotel dan bertemu di lobi.
"Hai sayang, kamu datang juga, hahaha?"
"Mas Ferdi kok ngetawain aku, sih."
"Eh, jangan merajuk gitu dong, Mas senang aja jumpa kamu. Ayo, mas uda ga tahan nih."
Dengan senyuman palsu, Muti mengiyakan ajakan Ferdi, selingkuhannya baru-baru ini.
"Ya tinggalin aja dia sayang, hidup bersamaku."
"Ga bisa, sayang. Tyas anakku bagaimana?"
"Ya sudah, kita bisa hidup bersama."
"Tapi Tyas sangat dekat dengan suamiku," jawab Muti beralasan, dia hanya tidak ingin serius dengan Ferdi.
Berbeda dengan Ferdi yang sudah terkadung cinta pada Muti. Karena keluhan Muti mengenai suaminya pada Ferdi barusan membuat Ferdi berfikir jahat, sebuah pikiran yang tidak disadari oleh Muti.
Sore menjelang, sehabis ashar Nina menutup kios jahitnya, dia tampak sangat terburu-buru.
"Kak Nina, mau kemana kok buru-buru?"
"Mau ke toko kain, ini ada bahan yang kurang tapi tanggung kalau ga dikerjain. Sekalian buat stok jugalah. Jadi malam nanti aku ga mau buka dulu, Wat."
"Oh, aku kira mau kemana. Hati-hati kak, pulang jangan malam-malam."
__ADS_1
"Iya, iya. Makasih Wat, uda perhatiin aku. Kalau kemalaman aku bisa singgah ke rumah orang tuaku."
Seusai mengobrol, Nina segera menyiapkan motornya kemudian melaju ke pasar membeli stok kain, benang, juga beberapa peralatan jahit menjahit lainnya.
Benar saja, hari sudah hampir maghrib dia masih di pasar, baru rampung menyelesaikan belanjaannya.
Dia segera keluar dari parkiran dengan motornya dan lekas pulang ke rumah.
Jalanan tampak sepi, kendaraan hanya sedikit yang lewat.
"Ampun, ampun Bang, ambil aja. Jangan apa-apakan kami," ucap seseorang terdengar ketakutan dan gemetar.
Seketika Nina melihat ke sumber suara, di daerah sunyi yang hampir dekat dengan desanya dia melihat dua orang sedang di todong dengan pisau yang sangat tajam.
Tiiiin.... Tiiiiin.... Tiiiiin....
Nina membuat keributan dengan klakson motornya, dua pembegal itu kaget dan langsung melarikan diri, tidak jelas siapa mereka tapi plat motor juga motor apa yang dinaikinya terekam jelas oleh penglihatan Nina.
Kedua orang yang ditolongnya masih bergetar ketakutan, mereka menangis sejadi-jadinya, sedangkan motor mereka selamat karena dijatuhkan begitu saja.
"Sudah lekas pulang, ini juga maghrib-maghrib kenapa belum pada sampai ke rumah, mana masih pakai seragam sekolah, kalian pacaran, ya?" tuduh Nina melihat sepasang muda-mudi di depannya yang sedari tadi memakai masker di wajahnya.
"Ma makasih, Bu, huuuu," tangis anak laki-laki yang masih gemetaran memegang motornya.
Nina menghela nafas kasar, nampak sekali remaja tanggung itu masih syok dan masih sangat takut.
"Ini jadi pelajaran buat kalian, Dek. Makanya kalau sudah waktunya pulang itu ya pulang, ayo biar Ibu antar, kamu yang cewek biar Ibu bonceng saja."
Anak lelaki itu menyeka air matanya dan mulai menstarter motornya, dengan kecepatan sedang dia menuju rumahnya. Ditemani oleh Nina yang benar-benar menemaninya sampai rumah.
"Terima kasih, Bu. Jangan bilang orang tua saya, Bu. Saya takut dimarahi," ucap anak laki-laki itu memelas.
"Ya sudah, lain kali kamu ingat itu. Jangan sok-sok pulang malam kalau ga punya nyali."
Nina melajukan motornya sebelum orang tua si pemuda keluar.
Nina lalu kemudian meminggirkan motornya di pinggir jalan lalu menghadap ke anak perempuan yang diboncengnya.
"Dek, rumah kamu mana?"
Karena merasa pengap, anak perempuan itu membuka masker wajahnya untuk menjawab pertanyaan Nina.
__ADS_1
"Tyas?"