
Wiiiiuuuuu.... Wiiiiiuuuuuu
Riuh suara sirine ambulan mengiringi kedatangan jenazah Bagas di rumahnya setelah sebelumnya dibawa ke rumah sakit.
"Papa, maafin Tyas, Pa," ucap Tyas yang tak berhenti menangis.
Beberapa tetangga mulai membantu petugas ambulan mengeluarkan jenazah Bagas ke dalam rumah.
" Mas, Mas Bagas. Ya ampun, Mas. Apa yang terjadi," teriak Muti yang baru datang.
Tyas yang melihat kedatangan Muti langsung jaga jarak. Dia tidak ingin tertangkap dan dikurung lagi. Terlebih dia masih ingat bahwa setelah kematian Nina dan Bagas maka incaran selanjutnya adalah dirinya sendiri.
Tyas melihat Muti yang sedang berlakon dengan hati-hati, dirinya begitu awas dengan gerak-gerik Muti yang tidak dapat ditebak.
Malam sudah hampir pagi, Tyas ketiduran di sisi Bagas dalam keadaan duduk.
"Tyas, bersihkan dirimu, Nak. Sebentar lagi orang-orang akan datang kembali untuk melayat sebelum Bapak dimakamkan," ucap ART yang sudah lama bekerja di rumah Bagas.
"Iya, Bi. Tyas masih ngantuk. Tyas segera cuci muka dulu. Gak mau mandi. Dingin."
"Ya sudah, gak apa-apa. Biar Bibi yang di sini."
"Makasih, Bi. Oh iya. Ngomong-ngomong mama kemana?" Tanya Tyas celingukan mencari keberadaan Muti.
"Kayaknya ada di kamar, Nak."
"Oh, ya sudah, Bi. Tyas ke kamar dulu."
Tyas berjalan cepat menuju kamarnya. Sebelumnya ia melihat pintu kamar papanya sedikit terbuka. Karena penasaran Tyas berniat mengintip untuk memastikan benarkah Muti ada di dalam.
Melalui celah pintu Tyas melihat Muti sedang menunggu teleponnya diangkat seseorang sambil berjalan mondar-mandir ke arah jendela kamar.
"Halo, pokoknya rencananya jangan sampai gagal. Setelah pemakaman selesai segera habisi Tyas seperti Bagas kemarin. Buat semua seolah alami kecelakaan."
Tyas menahan nafas, matanya melebar tak percaya bahwa setelah ini dia akan dibunuh oleh orang lain atas perintah ibunya.
Buru-buru Tyas pergi ke kamarnya lalu menutup pintunya.
Sedangkan Muti menyeringaikan senyum senang setelah mematikan panggilan telepon dengan orang suruhannya.
"Setelah Tyas mati, maka laki-laki cecunguk ini yang akan ku habisin dengan tanganku sendiri. Dan setelah ini tidak ada lagi yang menghalangiku dalam menguasai harta Bagas. Tidak punya anak sama sekali lebih menenangkan daripada mempunyai mereka yang hadirnya merepotkan."
__ADS_1
Muti memakai selendang hitam yang diselempangkan di lehernya saja. Kemudian berjalan ke depan bersiap menemui para pelayat.
"Muti, di mana Tyas, dia ada di sini kan?" Tanya Asih yang baru datang.
"Ada, paling di kamarnya," jawab Muti menanggapi ucapan ibunya yang baru datang.
Asih mengelus dadanya lega. Ternyata cucunya itu tidak kabur kemana-mana melainkan ke rumah orang tuanya sendiri.
Sebelumnya dia merasa was-was jika Muti membunuh Tyas. Sejahat-jahat perangai Asih, ia tidak ingin melihat Muti membunuh anaknya sendiri.
Di tempat lain. Dikediaman Nina, Wati dan beberapa tetangga lain masih terheran-heran atas penemuan sepeda motornya di jalan kebon tetapi dirinya tidak ada. Malah ditemukan supir yang sudah meninggal di dalam mobil.
"Sebenarnya Nina kemana ya, Wat?"
"Gak tau aku, masak iya dia diculik sih?"
"Jangan-jangan dia yang ngebunuh supir taksi itu?"
"Ngawur kamu. Kak Nina mah orangnya baik. Aku tau dia."
"Jadi kemana ya dia?"
"Itu lah, aku juga bingung dia kemana. Semoga baik-baik saja."
Wati sendiri begitu kehilangan akan kepergian Nina yang sudah seperti saudara perempuannya sendiri. Bagaimana tidak, Nina tidak pernah bilang tidak saat Wati membutuhkan pertolongannya.
Dia terdiam, ingin mencari namun tak tahu mau cari kemana.
Kembali ke kediaman Bagas. Kini jenazah sudah siap dibawa ke pemakaman. Muti berdiri tepat di belakang Tyas yang melihat petugas ambulan memasukkan kembali Bagas yang sudah berada di dalam keranda ke dalam ambulan.
"Tyas kamu sama nenek dan Mama, ya," ucap Asih sebelum mereka benar-benar berangkat mengiringi jenazah Bagas ke pemakaman.
"Gak nek, Tyas mau sama pak Jamal saja," jawab Tyas lirih. Wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis. Kini orang-orang yang selama ini melindunginya pergi tiba-tiba karena ulah mamanya sendiri.
"Sudah, Bu. Jangan di paksa. Kita berdua naik mobil. Sudah lama aku tak membawa mobilku sendiri," sela Muti datar. Wajahnya tak menunjukkan rasa sedih seperti awal datang menemui jenazah Bagas yang baru diturunkan dari ambulan.
Ambulan mulai berjalan dengan suara sirinenya yang terdengar nyaring. Beberapa warga sekitar juga ikut mengiri jenazah Bagas menuju pemakaman.
"Gimana ini, Pak. Umurku sudah tak lama lagi. Sebenarnya tak masalah juga bagiku. Tapi aku ga rela melihat monster itu menguasai harta papa seenaknya. Warisan papa utuh milikku, kan? Mama tidak lagi berhak dengan harta itu kecuali aku mati."
Pak Jamal yang fokus menyetir tampak iba melihat majikan kecilnya. Dia ingin membantu tapi tidak tahu dengan cara apa.
__ADS_1
Setelah belasan menit kemudian akhirnya rombongan sampai ke pemakaman setempat.
Segera acara profesi pemakaman dilakukan. Acara berlangsung dengan khidmat sampai selesai dan orang-orang mulai pergi satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Bagas.
Muti dan Asih celingukan karena menyadari tidak ada kehadiran Tyas lagi di antara mereka. Dengan tergopoh-gopoh Pak Jamal menjumpai mereka berdua yang baru mau melangkah meninggalkan kuburan Bagas.
"Maaf, Bu. Dek Tyas hilang. Saya ga tau dia di mana. Saya kira dia masih di sini."
"Hilang? Hilang bagaimana? Bukannya dia sedari tadi ada di dekat kamu, Pak?"
"I ii iya, Bu. Tapi kan saya tadi ikut menurunkan jenazah Pak Bagas. Jadi saya kira dek Tyas ada di bagian belakang karena terlalu bersedih atau ke mobil duluan," jelas Pak Jamal hati-hati, takut kalau tiba-tiba saja Muti marah dan mengamuk.
"Ck, dasar penjaga ga becus."
"Terus gimana ini, Mut?"
"Sebentar, Bu. Biar aku telepon orang yang di rumah."
Muti mengeluarkan handphonenya dan menunggu panggilannya diangkat oleh ART.
"Halo, Tyas ada di rumah tidak?"
"Hah, jadi dia belum kembali juga?"
Tut...
Telepon dimatikan begitu saja. Muti menggenggam handphonenya erat dan menatap tajam ke arah Pak Jamal yang menunduk karena tahu dirinya ditatap dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Aku ga mau tau, cari dia sampai dapat. Ngurus anak satu aja ga becus," kesal Muti melenggang pergi melewati Pak Jamal yang sedang ketakutan.
Pak Jamal balik arah melihat kepergian Muti bersama ibunya menuju luar pemakaman.
"Mau cari kemana, gampang sekali mengatakan orang tidak becus. Padahal dia lebih tak becus menjadi orang tua. S*al aku dapat majikan seperti dia," gumam Pak Jamal seraya menyusul Muti keluar pemakaman.
Sampai di mobilnya Muti tak langsung menghidupkan mesinnya melainkan sedang mengetikkan sesuatu di layar handphonenya.
"Kamu kirim pesan ke siapa, Mut?"
"Ga ada, Bu. Minta tolong teman saja siapa tahu ada yang lihat Tyas. Anak itu selalu saja merepotkan," jawab Muti berbohong.
"Ibu harap kamu tidak merencanakan sesuatu padanya," jawab Asih penuh penekanan.
__ADS_1
Muti hanya menganggap santai ucapan ibunya. Dia bahkan tidak peduli.
"Anak itu harus segera ketemu, hidup atau mati. Karena untuk mengambil warisan dari Bagas aku butuh dia," batinnya seraya menghidupkan mesin mobil.