Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Menyerang kelompok tawuran


__ADS_3

Seketika Bagas terdiam, tanpa kata dia balik menuju mobilnya kemudian melajukannya menjauh dari rumah Nina.


Di dalam mobil tampak Tyas melambaikan tangannya ke arah Nina, dan Nina hanya menanggapinya dengan senyuman.


Hal itu dilihat Bagas dari kaca spion mobilnya.


"Memang beneran bu Nina ga ada ngomong apa-apa?" Tanya Bagas.


"Ga ada, kami hanya melakukan pembicaraan biasa saja."


"Terus kenapa kamu diamkan Papa saat makan malam tadi?"


"Ya habis bu Nina diam ya aku diam, kalau tuan rumah ga nyaman masa kita berulah."


Bagas tidak berkata apa-apa lagi, kini dia fokus menyetir.


Jam sembilan malam, Nina menutup kios jahitnya dan esok hari akan kembali dibukanya.


Tidak hanya menutup kios, Nina juga menutup seluruh pintu rumahnya kemudian mengunci pintu depan dari luar.


Iya mengendarai motor menuju rumah orang tuanya untuk mengambil mobil.


Tetangga sekitar sudah biasa melihat Nina datang naik motor dan pergi kembali dengan mobil. Dan yang membuat Nina aman adalah tetangganya tidak terlalu kepo dengan urusannya.


Nina melajukan mobilnya ke sebuah tempat, kini dia sedang mengintai rumah seseorang. Dan rumah orang itu adalah rumah Dedi, temannya Rudi dan Tyas.


Satu jam mengintai, tidak ada hasil.


"Sepertinya aku kemalaman, bisa saja anak itu keluar saat maghrib," gumam Nina seraya melajukan mobilnya kembali.


dengan kecepatan sedang dia membelah jalanan yang sunyi, cukup sunyi karena orang banyak malas keluar karena takut dibegal atau kena sasaran tawuran dari anggota geng motor.


Jika dulu musim maling dari rumah ke rumah, sekarang sudah tidak jamannya lagi. Bila dulu banyak maling mati diamuk masa sekarang tidak berlaku pada begal yang kejahatannya terkesan dilindungi.


Hanya mereka yang boleh membunuh sedangkan korbannya akan dikenakan sanksi jika melakukan hal yang sama.


Hal itu yang membuat Nina bertindak seorang diri mengatasi penjahat jalanan, setelah kehilangan anak, jiwa Nina dikuasai oleh dendam pada para pelaku geng motor ataupun begal, dia tidak terima mereka bebas berkuasa dan ditakuti.


"Serang, serang. Jangan kasih ampun mereka."


"Matikan."


Suara-suara sadis terdengar oleh Nina dari dalam mobil, di depannya para remaja sedang melakukan aksi tauran.


Melihat ke arah rumah warga, dari cahaya lampunya Nina menangkap siluet beberapa warga sedang mengintip tetapi tidak mau keluar.


"Anak-anak sampah, baiklah. Biar adil, aku akan menyelesaikan semuanya."

__ADS_1


Brum, brum. Bruuuuuum....


Dengan memundurkan mobilnya terlebih dahulu kemudian Nina tancap gas menabrak pasukan tawuran yang menghalangi jalannya.


Suara teriakan kesakitan terdengar dari sekelompok anak remaja itu, sebagian diantara mereka ada yang tertabrak hingga terlindas ban mobil Nina.


Dari arah rumah warga juga terdengar teriakan suara wanita yang memandang ngeri aksi Nina.


Beberapa pasukan tauran yang selamat dan berada di motor langsung mengejar mobil Nina.


"Woi, anj*ng, berhenti lu, s*tan."


Ciiiit.....


Nina menghentikan mobilnya saat empat sepeda motor menghadang jalannya, sebenarnya bisa saja Nina menabrak mereka, tetapi dia lebih memilih turun.


Dengan sebuah pistol dan masker diwajahnya, kini Nina turun dan berdiri di depan mobilnya.


"Wei, wei, bawa pistol we, lari. Cari aman."


"Paling pistol mainan."


Dor....


Duaaaarrr...


Satu tembakan tepat di tangki bahan bakar salah satu pemotor berhasil Nina lepaskan.


Ketiga motor yang lain langsung kocar-kacir menjauh dengan kecepatan tinggi, sedangkan teriakan dua orang remaja yang terbakar Nina biarkan begitu saja dan pergi meninggalkan mereka.


Keesokan harinya, berita atas kelakuan Nina menjadi heboh. Wartawan dan polisi berada di lokasi tempat Nina melindas kelompok tawuran, dan satunya berada di lokasi tempat Nina menembakkan motor yang tempatnya sedikit jauh dari pemukiman.


"Wah, saya memang sempat mengintip, Pak. Mereka anak-anak remaja itu tauran, rupanya dari arah sana, datang mobil langsung menabrak mereka. Hih, ngeri banget. Lihat korbannya ada yang terlindas sampai meninggal. Ada yang patah tulang," terang salah satu warga yang dimintai keterangan oleh polisi.


"Bagaimana dengan dua mayat yang terbakar di ujung jalan sana, Pak?"


"Kalau itu saya ga tau, Pak. Taunya hanya kejadian tabrakan itu saja."


Warga ramai mendatangi lokasi kejadian membuat jalan sedikit macet karena beberapa pengemudi melajukan kendaraannya pelan-pelan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Kak, Kak Wati. Hih ngeri banget loh," seru Wati yang baru saja mengantar Rudi ke sekolah.


"Ngeri kenapa Wat?"


"Tadi di jalan mau ke arah sekolah Rudi ada kejadian kak. Banyak anak-anak sebaya-sebaya Rudi atau yang tuaan dikit lah, terlindas mobil katanya."


"Ada yang meninggal badannya utuh ada pula yang kepalanya hancur. Pening aku lihat kayak gitu, Kak. Otomatis ga selera makan ini."

__ADS_1


"Aih, ngeri banget Wat, kok bisa ya?" Tanya Nina pura-pura tidak tahu.


"Katanya orang itu mau tawuran, tiba-tiba dilindas mobil lewat."


"Kok bisa mobil itu menabrak mereka?"


"Entah, ga tau motifnya apa, yang jelas kapok situ. Siapa tau abis dilindas mobil ga ada yang berani lagi tawuran. Buat resah saja."


"Semoga saja begitu, Wat. Makanya kubilang sama kamu, perhatikan Rudi. Jangan kasih dia keluar malam. Aku tuh juga sayang sama dia. Jangan sampailah dia ikut-ikut kelompok geng motor atau begal."


"Amit-amit, Kak. Enggak lah, gak ku kasih dia keluar malam-malam, paling di sekitar gang sini aja."


Sementara itu, di sebuah markas geng motor Road Devil. Darma sebagai ketua geng motor sangat resah.


Darma sudah tahu beberapa anggotanya ada yang mati dan terluka ditabrak mobil, dan dua orang mati terbakar.


"Siapa orang itu? Kenapa kalian tidak menghindar waktu mobil itu lewat?"


"Gimana mau menghindar, bang. Dia lewat tiba-tiba sudah kencang sekali. Pas kami hadang malah ngeluarin pistol. Kami ga tau dia siapa, dia pakai hoodie dan menutup kepalanya, jadi ga jelas tuh orang cewek atau cowok."


"Bang, apa jangan-jangan dia orang yang sama yang menyerang anggota Deadman?"


"Ah, ga tau lah aku. Kita ga aman. Jangan ada konvoi dulu. Jangan ada penyerangan dulu, takutnya kita memang sedang diintai."


"Siap, bang."


"Kita kumpul aja di sini dulu. Ga usah kemana-mana."


Malam menjelang, tepat setelah maghrib Nina sudah kembali mengintai rumah Dedi. Benar saja, Dedi keluar mengendarai motor, dengan pasti Nina mengikutinya.


Sampai di tempat sepi dan jarang rumah penduduk Nina menabrak Dedi dengan mobilnya sehingga membuat Dedi terjatuh.


Dengan cepat Nina turun.


"Aduh, Dek. Maaf, kamu ga apa-apa?"


"Tol*l lu, orang kaya kok g*blok. Ya sakit lah."


Mendengar kata-kata kasar dari Dedi, Nina gemas ingin menjahit bibir Dedi.


Melihat penampilan Nina dan mobilnya, Dedi tersadar, dia yang memang salah satu anggota Road Devil langsung tegang. Dia ingat teman-temannya kemarin banyak yang mati akibat ulah orang misterius di depannya.


Melihat Dedi menyadari sesuatu Nina memegang tangan Dedi agar dia tidak kabur.


"Lepas, tolooooong," Dedi berteriak kencang. Berharap ada orang yang mau menolongnya.


"Sekali lagi berteriak kau mati," ucap Nina mengeluarkan pistolnya.

__ADS_1


Dedi semakin menegang, wajahnya yang tampan tampak pucat.


Sedangkan Nina menyeringai puas telah menaklukkan Dedi dengan mudah.


__ADS_2