
Cahaya terang memenuhi ruangan, terasa aman dan nyaman. Namun suasananya sangat sunyi.
Bagas yang baru tersadar mengedipkan mata beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya.
"Ah, aw."
Bagas merasa kebas di tangan kirinya yang sudah terpasang selang infus.
"Aku selamat, syukurlah aku selamat," ucap Bagas penuh syukur.
Sejurus kemudian dia teringat kejadian sebelum sampai di rumah sakit dan pasrah jika dirinya harus mati.
Saat dirinya memang sengaja ditipu oleh seseorang yang sudah merencanakan kejahatan untuknya.
Orang yang sengaja menabrakkan dirinya ke mobilnya sebagai alasan untuk membawa Bagas ke tempat sepi berkedok membawanya ke tukang urut.
"Mas, memang benar ini jalannya, kok sepertinya terlalu blusukan ya?"
"Iya, Mas. Bentar lagi sampai. Kalau sudah kelihatan rumah kecil berhenti di depan situ dan bantu aku masuk ke dalam."
Dengan polosnya Bagas mengiyakan saja ajakan orang itu. Hingga sampailah mereka di tempat yang dimaksud.
Sebuah rumah kecil yang tak berpenghuni dan bahkan sebagian bangunannya sudah lapuk dan terlihat berantakan di bagian luarnya.
"Yakin ini rumahnya, Mas?"
"Aduh, sudah Mas, jangan banyak tanya. Bantu aku masuk."
Bagas pun segera memapah orang itu masuk ke dalam.
"Permisi," teriak Bagas seraya berjalan menuju pintu. Dalam hatinya dia tak yakin kalau rumah itu ada penghuninya.
Tok... Tok... Tok...
Klek...
Pintu dibuka, dan terlihatlah sosok laki-laki yang ditaksir usianya sebaya dengan Bagas.
Bugh....
Tanpa aba-aba laki-laki itu memukul perut Bagas sekuat tenaganya membuat Bagas yang tak siap langsung kesakitan sambil memegangi perutnya.
Gelak tawa terdengar dari dua orang yang berhasil menjebaknya.
Kini Bagas baru sadar kalau dirinya ternyata sudah dijebak, orang yang ditolongnya tidaklah terkilir sama sekali melainkan hanya pura-pura, kini dia sudah melihat orang itu menggunakan kakinya dengan normal.
"Siapa kalian? Apa salahku, aku tidak pernah punya urusan dengan kalian?" Tanya Bagas menahan sisa rasa sakit di perutnya.
Bugh... Bugh...
"Lu harus mati, agar aku bisa miliki Muti seutuhnya."
__ADS_1
Bagas terkesiap mendengar nama istrinya disebut-sebut.
Tubuhnya ambruk karena kakinya ditendang. Dua lawan satu, membuatnya kalah telak.
Bugh...
Satu tendangan di kepalanya membuatnya oyong dan seketika tak sadarkan diri hingga saat terbangun Bagas sudah berada di rumah sakit.
Klek..
Pintu kamar dibuka suster yang masuk untuk memeriksa keadaan Bagas.
"Sudah sadar, Pak?"
"Sudah, Sus. Sus, saya mau tanya, siapa orang yang sudah mengantarkan saya kemari?"
"Loh, Mbak yang tadi bukannya istri Bapak?"
"Mbak yang mana, Sus. Saya ga ingat apa-apa."
"Ada Pak, orangnya cantik."
Bagas terdiam, dia penasaran siapa wanita yang dimaksud Suster.
Klek...
"Mas, ya ampun Mas, aku khawatir banget sama kamu. Kamu kok bisa ada di sini sih?" Ucap Muti yang tiba-tiba datang bersama Tyas, anak mereka yang tinggal satu-satunya.
Bagas hanya diam saja, dia menunggu Suster keluar dari kamarnya.
Muti yang ditanya terkejut dan dadanya seketika langsung berdesir.
"Eng, laki-laki mana, Mas. Aku tidak pernah berhubungan pada siapa pun, kamu jangan ngada-ngada deh."
"Kau ingat ya, aku ada di sini karena laki-laki itu akan menghabisiku dan bisa memilikimu seutuhnya. Setelah aku sembuh kita bercerai. Aku tak sudi menyentuh istri yang tidak setia."
"Apa, Mas? Kamu ga bisa seenaknya menceraikan aku. Ingat dengan Tyas, kamu jangan egois. Bicara setia, kamu sendiri juga bukan orang yang setia," omel Muti tak mau kalah.
"Tapi aku tak pernah menyentuh fisik siapa pun. Gara-gara selingkuhan kamu aku hampir mati. Aku ceraikan kamu, pergi dengan laki-laki pembunuh itu dan jangan ganggu hidupku lagi," ucap Bagas sangat emosi, bahkan dia tak sudi menatap wajah Muti.
"Oke, aku pergi. Kamu juga berubah sekarang, aku akan bawa Tyas."
Dengan cepat Muti menarik tangan Tyas, dan membawanya keluar meninggalkan Bagas.
"Lepas, Ma. Aku ga mau ikut Mama."
"Tyas, bisa ga sih kamu jangan ngebantah Mama terus?"
"Makanya jadi orang yang benar, Ma."
"Jangan kurang ajar kamu, ya. Ikut Mama sekarang."
__ADS_1
Tanpa peduli rengekan Tyas yang minta di lepas Muti terus menarik tangannya hingga ke mobil.
Waktu sudah hampir jam sepuluh malam, banyak rumah yang sudah menutup pintu menandakan penghuninya sudah beristirahat tidur atau sekedar istirahat yang lain.
Nina baru sampai di rumahnya, sedari pagi karena tak sengaja melihat Bagas lewat dengan mengendarai motor dan terlihat membonceng seseorang diam-diam Nina mengikuti mereka.
Bukan tanpa alasan Nina mau mengikuti mereka, tetapi karena Nina melihat motor yang dikendarai Bagas adalah motor yang dipakai oleh pembegal saat hampir membegal Tyas dan temannya.
Platnya sudah berganti, tapi dia masih tanda stiker robot yang ada di body motor dekat ban belakang.
"Masa iya sih, Bagas termasuk komplotan begal dan kemarin tega membegal anaknya sendiri," batin Nina saat itu.
Karena tidak ingin ketahuan, Nina mengambil jarak agak jauh agar tidak tampak di kaca spion motor kalau dia sedang mengikuti mereka.
Dia sempat kehilangan jejak di jalanan sepi sampai dia mendengar suara teriakan Bagas yang kesakitan. Disaat itu juga dia turun dari motornya dan memilih berjalan dan berlari mengikuti sumber suara.
Nina sempat melihat bagaimana Bagas dihajar hingga tak sadarkan diri. Hingga salah satu diantara mereka mengeluarkan sebuah pisau dan siap ditusukkan ke tubuh Bagas.
"Hei," teriak Nina, dia tidak akan sanggup melihat orang yang tak bersalah dibunuh seenaknya seperti itu apalagi disaat Bagas dalam keadaan tidak berdaya, bukan lawan yang seimbang.
Ferdi terkejut, begitu juga dengan temannya. Sehingga mau tidak mau mereka mendekati Nina dan hendak mencelakai Nina juga.
Dengan ilmu bela diri yang dikuasainya, mudah saja bagi Nina melumpuhkan kedua orang itu hingga tumbang.
Tanpa ampun Nina juga menghabisi nyawa keduanya dengan sekali tusukan pisau kepunyaan Ferdi.
"Walau pun aku belum pernah melihatnya, tapi aku yakin. Kalian komplotan begal pasti sudah pernah membunuh korban kalian," ucap Nina sambil menarik kembali pisau dari dada Ferdi lalu menyimpan pisau itu dengan menyelipkannya di pinggangnya.
Dia segera menolong Bagas dan membawanya ke rumah sakit sampai Bagas di masukkan ke kamar rawat setelah sebelumnya berada di UGD.
Setelah itu dia memakai handphone Bagas untuk menelepon Muti dengan berpura-pura menjadi suster di rumah sakit agar dia segera datang melihat Bagas.
"Hari yang melelahkan," ucap Nina setelah baru saja membersihkan dirinya di kamar mandi.
Kini dia membaringkan tubuhnya di ranjang lalu tidak lama langsung tertidur.
Pagi menjelang, setelah beberes rumah dan memasak Nina segera membuka kios jahitnya, usaha yang dimulai dari sebuah hobi karena melihat ibunya dulu yang pandai menjahit membuat Nina mengikuti jejak ibunya.
"Kak Nina, semalam kemana aja seharian ga ada di rumah?" Sapa Wati.
"Eh, iya Wat. Ada acara keluarga. Makanya ga di rumah seharian," jawab Nina berbohong.
"Oh, yauda aku mau ke warung dulu, Kak."
"Iya, iya. Titip bawang bombai dua ya, Wat."
"Oke, itu aja?"
"Iya."
Setelah kepergian Wati, Nina langsung melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Bu Nina," panggil seseorang yang membuat Nina langsung melihat orang yang memanggilnya.
"Tyas, kamu ngapain ke sini lagi?" Tanya Nina heran melihat Tyas yang masih memakai seragam sekolah malah berdiri di depan rumahnya.