
Nina semakin dekat dengan bibir pintu, pikirannya tengah berfikir siapa yang sudah masuk ke rumahnya. Karena dia ingat betul jika dia sudah menutup semua pintu di rumahnya sebelum pergi.
Sedangkan ketiga anggota Baron masih ada di balik pintu, mereka berdiskusi dadakan untuk menyerang Nina dan menginterogasinya.
Bugh...
Tiba-tiba perut Nina ditendang oleh Edo, Nina yang tidak siap terjatuh dan memegangi perutnya menahan sakit, padahal baru saja dia ingin melongokkan wajahnya ke arah luar pintu belakang.
"Siapa kau?"
"Dimana bang Baron?"
Bukan menjawab Nina malah menyeringaikan senyuman membuat Edo bingung dengan ekspresi Nina.
"Heh, jangan main-main, mana bang Baron?"
Nina kini kembali berdiri sehingga mereka berdua saling berhadapan sekarang. Edo mengambil langkah sigap berjaga-jaga jika saja Nina menyerangnya tiba-tiba.
Bugh....
Benar saja, dengan sekali tinju Nina mampu membuat hidung Edo mengeluarkan darah segar dari kedua lubangnya.
Edo kecolongan, dia kesakitan karena hidungnya terasa patah, mengira bahwa Nina akan menyerang kepalanya namun ia salah dugaan.
"Aduh, itu si Edo diapain, gawat. Jangan-jangan benar kalau dia yang uda ngebunuh Ferdi dan Andi, gimana nasib bang Baron sekarang?" Ucap Rizal cemas, dia masih bersembunyi dengan Rizal di balik tembok tepat di sebelah pintu belakang.
"Kau benar, Zal. Kalau dia perempuan normal pasti bakalan teriak, tapi ini tidak."
Di dalam Nina masih melihat Edo yang kesakitan, dia tidak bergeming sama sekali.
Edo yang yang geram mengeluarkan pisau yang diselipkannya di pinggang.
Nina tertawa kecil melihat Edo mengeluarkan senjata tajam itu.
"Perempuan gila."
Edo dengan cepat mengarahkan pisau ke bagian perut Nina, namun dengan sigap Nina menangkis serangannya dan memelintir tangan kanannya sehingga membuat Edo kesakitan lagi.
"Aaaak, sakit. Lepas," ucap Edo sedikit berteriak.
"Tidak mengapa, keraskan lagi suaramu dengan begitu tanpa perlu membuang suaraku kau sudah membantuku memanggil warga."
Bugh.... Bugh...
Dua kali hantaman mengenai kepala bagian belakang Nina karena posisinya yang membelakangi pintu belakang rumahnya membuat Rizal dan Danu mudah menyerang Nina yang tidak disadari keberadaannya oleh Nina.
Nina tampak oyong, dengan spontan dia melepas pelintirannya dan memegangi kepalanya, dia langsung membalik badan dan melihat dua orang lagi telah masuk ke dalam rumahnya.
Bugh...
Danu memukul sekali lagi kepala Nina bagian samping hingga akhirnya Nina pun tak sadarkan diri.
"Bro, lu ga apa-apa?" Tanya Rizal pada Edo.
"Ga apa-apa apanya, nih hidungku patah dibuat perempuan s*alan ini. Kalian berdua juga lama banget masuknya."
"Ya kami juga kan nunggu momen yang pas. Maaf lah kalau telat."
"Terus dia kita apakan?"
"Kita bawa saja, kita ikat dan setelah sadar kita tanyai dimana keberadaan bang Baron."
__ADS_1
"Memangnya uda pasti dia tahu?"
"Ga jelas sih, tapi saat kutanyai dia malah nyeringai kayak setan," ucap Edo sambil memegangi tangannya yang kena plintir.
"Sudah ayo, jangan lama-lama. Keburu kepergok orang."
Akhirnya dengan cepat mereka bertiga menggotong tubuh Nina yang pingsan dan dibawa ke tempat mereka menyembunyikan motor mereka setelah itu dibawa pergi.
"Kita bawa kemana dia?"
"Ke tempat ditemukannya jasad Ferdi aja."
"Gila lu, kalau ada setannya gimana?"
"Halah, pembunuh tapi takut setan, gimana sih. Jadi kalau tidak di sana dimana? Mau di rumahmu?"
Danu yang ditanyai Edo terdiam dan akhirnya menurut. Sampai di tempat, suasana di sekitar bangunan begitu gelap dan terlihat menyeramkan, garis polisi belum terlepas mengelilingi bagian depan rumah.
Hanya cahaya kedua motor yang membantu penerangan mereka.
"Ayo, untung tali tidak pernah kukeluarkan dari jok motorku jadi kita tidak perlu susah-susah lagi cari tali," ucap Rizal.
"Bagus, ayo sebelum dia sadar. Ribet juga kalau dia sudah sadar, perempuan ini bisa bela diri," ucap Edo memperingatkan.
Pagi telah tiba, mentari telah mengeluarkan cahayanya dengan sempurna dan setiap orang telah memulai kesibukannya masing-masing.
"Kak Nina, Kak."
Seseorang telah memanggil nama Nina beberapa kali, membuat Wati ikut keluar kenapa Kak Nina tetangganya itu tidak kunjung keluar. Biasanya dia sudah siapan dan membuka kiosnya.
"Eh, kamu rupanya, Tin. Cari kak Nina?" Sapa Wati pada seseorang yang ternyata masih tetangganya juga.
"Baju apa emangnya?"
"Baju sekolah anakku, baju pramukanya, sekalian pasang nama juga sih."
"Baju aja?"
"Iya, tapi kemana ya kak Nina?"
"Aku ga tau, cak bentar, mana tahu dia masih nyuci di belakang, siapa tahu sesekali kak Nina kesiangan kan kita ga tahu. Biar aku panggilkan dari belakang ya. Oh ya nama anakmu siapa?"
"Rian Syahputra."
"Ya sudah bentar, ya."
Titin mengangguk kemudian melihat kepergian Wati menuju belakang rumah Nina. Sampai di belakang Wati melihat pintu belakang terbuka lebar.
"Kak Nina, Kak," panggil Wati.
Bak rumahnya sendiri Wati main masuk saja ke dalam rumah Nina. Di kamar mandi tidak ada orang, di ruang depan dia melihat motor Nina ada, menandakan Nina ke warung mungkin pikirnya.
Terbilang lancang Wati masuk ke kios jahit Nina yang menyatu dengan rumahnya. Mencari pakaian pramuka yang dimaksud Titin.
"Nah ketemu, nanti tinggal bilang kak Nina saja. Toh aku ga ambil apa-apa kok."
Nina langsung keluar dari pintu belakang dan menemui Titin.
"Tin, ini kan?"
"Hah, iya."
__ADS_1
Titin mengambil baju anaknya dan memeriksa pakaian itu dengan detail.
"Alhamdulillah, rapi jahitannya. Berapa ini, mana kak Nina?"
"Bawa aja lah dulu, aku juga ga tau kak Nina kemana. Ke warung mungkin. Aku lihat motornya ada di ruang tamu."
"Ya sudah, siang atau sore nanti aku balik lagi."
Wati mengangguk, kemudian mereka berdua berpisah.
Beralih pada Baron, kondisinya semakin lemah, dia kesakitan lapar dan haus, juga bau. Bau karena harus buang air kecil di tempat.
Nina tak kunjung datang melihatnya karena tengah disekap oleh ketiga anggotanya.
Nina sudah sadar dari pingsannya. Hari sudah mulai siang, dia cukup lama tidak sadarkan diri.
Kondisinya sudah terikat di salah satu tiang bangunan.
"Akhirnya bangun juga kau,"
Plak....
Edo menampar pipi Nina Sekuat-kuatnya, sengaja dia menampar Nina saat sadar agar Nina dapat merasakan rasa sakitnya.
"Hei, jangan buat dia pingsan lagi."
"Katakan di mana bang Baron?"
Nina tidak menjawab, matanya menatap tajam Edo yang baru saja menamparnya.
"Jawab, dimana?"
Rambut Nina dijambak kuat oleh Danu membuatnya meringis kesakitan.
"Mau kalian tanya seribu kali pun aku tidak tahu dia di mana. Dia itu siapa?"
"Jangan pura-pura," sentak Danu yang sebenarnya tidak tahu jika Nina jujur atau tidak.
"Ya kalau memang ga tahu gimana. Percuma kalian culik aku, Baron itu siapa, wajahnya gimana. Bukannya kalian ingin merampok rumahku kenapa malah membawaku ke sini?"
Danu, Edo, dan Rizal saling berpandangan, mereka tampak bingung. Saling memberi kode mempertanyakan apakah Nina jujur atau tidak.
"Terakhir kali bang Baron bertemu kami dia bilang mau ke rumahmu. Setelah itu tidak lagi terdengar kabarnya."
"Ya mana aku tahu, sekarang kan musim begal, siapa yang tahu teman kalian itu dibegal."
Ketiganya terdiam, apa yang dikatakan Nina bisa saja benar. Pelaku begal tidak hanya mereka saja. Dimana pun daerahnya pasti yang namanya begal selalu ada di zaman sekarang ini.
Edo, Danu, dan Rizal berkumpul sedikit menjauhi Nina.
"Gimana nih, bisa jadi perempuan itu bener," bisik Danu pada kedua temannya.
"Terus gimana, sudah kadung kita bawa ke sini. Ga mungkin di lepas."
"Jadi, apa mau kita habisi saja?"
"Tidak ada pilihan lain."
Mereka bertiga sepakat untuk membunuh Nina, Edo mengeluarkan pisaunya dan kini berjalan mendekati Nina.
Nina yang melihat hal itu tampak cemas, jantungnya mendegub tidak karuan. Ingin menyerang tidak bisa karena tangan dan kakinya terikat. Hanya mulutnya saja yang dibiarkan terbuka. Sedangkan Edo semakin dekat dengannya.
__ADS_1