
Bugh...
Sekali pukulan di kepala, Dedi langsung pingsan.
Nina cepat-cepat meminggirkan motor Dedi juga mobilnya. Kini Nina menggotong tubuh Dedi yang pingsan ke semak-semak dan menyandarkannya ke sebuah pohon.
Nina memeriksa saku Dedi untuk mencari handphonenya.
"Dapat," gumam Nina.
Handphone Dedi berpola, namun memiliki opsi kedua yaitu menggunakan finger. Dengan mencoba menempelkan satu persatu jari Dedi akhirnya Nina berhasil membuka kunci handphone Dedi dan segera mengurus agar tidak berkunci lagi.
Selagi menunggu Dedi sadar, Nina mengotak atik handphone Dedi, dia memeriksa WhatsApp miliknya dan menemukan grup Road Devil. Kemudian dia membuka media sosial Facebook milik Dedi dan membuat Nina dan Dedi saling berteman di Facebook. Hal itu sengaja dilakukan Nina untuk melancarkan aksinya.
Setelah beberapa saat akhirnya Dedi terbangun, dengan kepala yang masih pusing, dia melihat ke sekitar yang remang karena pantulan cahaya lampu jalan.
"Jangan coba-coba lari atau ku tembak kepalamu," ancam Nina.
"A ampun, aku ga ngapa-ngapain, lepasin aku. Biarin aku pulang."
"Hanya ada dua pilihan Dedi, Mati atau masuk penjara?"
Dedi tidak menjawab, tentu dia tidak ingin keduanya dan hanya menggeleng pelan. Dia juga terkejut mengetahui orang misterius di depannya mengetahui namanya.
"Kalau tidak ada jawaban sama dengan kau memilih mati."
"Enggak, jangan-jangan. Aku masih mau hidup," jawab Dedi dengan suara yang bergetar.
Nina membuka handphone Dedi dan membuka kamera, lalu mengklik video. Kemudian mulai merekam dan mengarahkan kamera ke wajah Dedi dengan lampu flash yang menyilaukan matanya.
"Jawab, apakah kamu termasuk anggota geng motor yang lewat beberapa hari lalu di desa Bambusa?"
"I iiya,"
"Bagus, dan apakah penembakan panah beracun pada salah satu seorang remaja di sekitar sana itu ulah kalian?"
"I iiya, semuanya benar."
"Dan memang benar kalau panah beracun itu sengaja ditembakkan ke pemuda itu karena kau tak suka dengannya?"
"Bukan, bukan aku?"
"Jawab yang jujur Dedi, ingat kesepakatan kita di awal."
"I iya, aku ga suka sama dia."
"Apa yang membuatmu ga suka sama dia?"
"Karena dia dekat-dekat dengan perempuan yang aku sukai."
Nina menyeringaikan senyum, dia kemudian menyelesaikan rekaman kemudian menyebarkannya ke seluruh media sosial Dedi melalui handphone Dedi juga.
"Pergi, jika dalam satu menit kita berjumpa lagi di jalan aku akan menabrakmu di jalan itu juga seperti apa yang kulakukan dengan teman-temanmu kemarin.
__ADS_1
Dengan cepat Dedi langsung ke jalan dan menaiki motornya, dia bahkan tidak sadar handphonenya sedang dipegang Nina karena lampu flash handphone yang mengarah ke matanya membuatnya silau dan tidak sadar jika yang dipegang Nina adalah handphonenya.
Nina hanya memandangi kepergian Dedi dengan datar kemudian dia kembali masuk ke mobilnya dan menonaktifkan handphone Dedi. Kini dia membuka media sosialnya sendiri dan membagikan video yang baru saja di uploadnya melalui akun Dedi.
Dedi menangis di atas motor, tubuhnya masih gemetaran karena takut mati saat berhadapan dengan Nina.
Kini Dedi datang ke markas, semua orang yang di markas memandangnya kebingungan.
" Ded, lu kenapa upload video lu ngakuin semuanya saat kita nyerang teman sekelasmu? Gila lu ya."
"Maaf, aku terpaksa. Aku diancam akan ditembak jika tidak mengaku. Orang yang kemarin nabrak kita dan musuh menyandra ku tadi waktu aku dalam perjalanan kemari"
"Hah?"
"Kok bisa?"
"Aku diikutin dan ditabrak dari belakang olehnya."
"Ga aman, kita ga aman. Nyesel aku nunjukkan diri di depan umum. Pasti setelah kamu kita semua akan mendapat giliran masing-masing," ucap Darma.
"Terus gimana, Bang?"
"Lebih baik bubar, kita pulang dulu. Nanti aku pikirkan. Dan kau Dedi, hapus video itu sekarang."
Dedi mengangguk dan merogoh sakunya, namun tak kunjung ditemukan.
"S*al, bang. Handphoneku diambil orang itu kayaknya."
Mereka menurut, mereka semua membubarkan diri. Termasuk Dedi, dirinya bingung harus bagaimana, jika mau kabur, harus kabur kemana. Cepat atau lambat dia merasakan kalau polisi akan mencarinya.
Pagi telah tiba. Jam enam pagi Nina mengetuk pintu rumah Wati.
"Wati, Anto. Assalamu'alaikum."
"Eh, ada apa Kak, tumben pagi-pagi kemari."
"Wat, lihat ini," Nina menunjukkan video yang sudah viral di media sosial tentang Dedi.
"Ya Allah, Pak, Bapaaaak," jerit Wati memanggil suaminya.
"Ada apa toh, Bu. Pagi-pagi kok teriak-teriak."
"Lihat ini, Pak. Lihat," Wati memberikan handphone Nina dan menunjukkan video Dedi.
"Kurang ajar, ayo Bu, kita kesana sekarang. Pasti anak itu juga belum pergi sekolah."
"Ayo, Pak. Ibu ikut."
"Ini Kak Nina handphonenya, makasih ya."
"Sama-sama, Wat."
Anto mengeluarkan motornya dan gegas menyuruh Wati naik, dengan kecepatan lumayan cepat mereka menuju rumah Dedi.
__ADS_1
"Ga kasih ampun Bapak, Bu. Dia mesti diberi pelajaran. Kalau seandainya kemarin anak kita ga langsung dibawa ke klinik kita sudah ga punya anak lagi, Bu."
"Iya, Pak. Ibu juga penasaran itu anak wajahnya gimana, tadi dihandphone remang-remang."
"Ganteng, Bu. Tapi ya bandel. Gayanya petantang-petenteng, ga suka Bapak lihatnya."
Setelah beberapa menit kemudian mereka sampai, anak-anak sekolah mulai berdatangan walaupun belum ramai.
"Dedi, keluar kamu Dedi. Dedi," dengan kasar Anto menggedor rumah Dedi sehingga memancing perhatian orang-orang sekitar khususnya para siswa yang mau pergi sekolah.
"Yang sopan kalau datang ke rumah orang, kalau pintu kami rusak gimana?" Ucap Ibunya Dedi yang sepertinya sudah lupa dengan Anto.
"Mana anak kamu? Dia dalang dari terkenanya panah beracun di tangan anak saya. Untung anak saya masih selamat, kalau mati gimana?"
"Oh, jadi kamu yang kemarin. Ga ada bukti ya kamu nuduh-nuduh anak saya. Lama-lama kamu yang saya laporkan ke polisi."
"Bu kasih tahu, Bu," ucap Anto emosi.
Wati langsung mengeluarkan handphonenya dan membuka media sosialnya dan menstalking akun Nina yang ada video Dedi.
"Ini, Pak."
Dengan cepat Anto mengambil handphone dari tangan Wati dan memberikannya pada Ibunya Dedi.
"Itu, lihat baik-baik."
"Ada apa ini sih, pagi-pagi sudah ribut di rumah orang,"
"Pak, lihat ini, anak kita Pak."
Para tetangga pada celingukan penasaran dengan apa yang terjadi. Diantara mereka saling berbisik menebak-nebak persoalan.
Tidak lama, suara sirine mobil polisi mendekat, Anto dan Wati merasa heran, padahal mereka belum melapor tapi polisi sudah datang, sedangkan orang tua Dedi ketakutan dan tidak siap anak mereka ditangkap.
Dedi yang berada di dalam kamar terlihat pasrah, dia takut jika melarikan diri malah kena tembak.
Ternyata, banyak yang mengetag akun polisi setempat mengenai video Dedi, dan sebagian netizen adalah teman Dedi dan ada yang memberitahu alamat rumahnya. Sehingga mempermudah pihak kepolisian menuju alamat tersangka.
Dengan gagah dua orang polisi turun, warga semakin dibuat penasaran.
"Itu buat masalah apa sih, kok sampai ada polisi?"
"Entah, aku pun ga tau. Nanti aja kita nanyanya sama suami istri itu. Aku pun penasaran."
Setelah memberikan maksud tujuan tanpa izin lagi polisi langsung masuk ke dalam rumah Dedi dan menangkap Dedi yang tidak kunjung keluar dari kamar. Dengan wajah datar Dedi diboyong ke mobil dengan kedua tangan diborgol ke belakang.
"Dedi, kok bisa, Nak?" rintih Ibunya Dedi yang menahan kecewa atas tindakan anaknya yang tidak diketahui selama ini.
"Sudah, Bu. Jangan nangis-nangis, kita susul dia. Siapa tahu bisa kita tebus."
Mendengar kata tebus, Anto langsung menarik tangan Wati dan menuju motor mereka, beberapa warga sekitar berusaha menanyai mereka namun mereka hanya menanggapi dengan senyuman dan pergi tanpa pamit.
"Ga bisa, Bu. Anak itu jangan sampai ditebus. Bapak ga terima, harus di penjara. Enak saja. Kita harus ikut juga ke kantor polisi. Ga ada damai pokoknya."
__ADS_1