
Boy menangguk lemah. Tatapannya kosong ke depan. Sebenarnya dia berat jika kelompok yang sudah dia bentuk baru setahun sudah tumbang, namun mengingat mereka idak punya markas lagi, sudah kehilangan banyak anggota juga tidak mempunyai deking siapa pun lebih baik menyerah saja.
"Aku sudah pikirkan semua ini, lu bilang sama anak-anak Deadman sudah bubar. Terserah mereka mau bagaimana."
"Oke, sepertinya aku akan ikut lu, kita gabung ke Road Devil saja."
Sambil mengobrol Riko mengotak-atik handphonenya, dia memberi tahu seluruh anggota digrup bahwa Deadman bubar detik itu juga.
Melihat informasi yang diberikan Riko, banyak diantara remaja yang masih sekolah merasa senang dan lega, mereka merasa kapok dan tidak mau lagi menjadi komplotan begal setelah melihat sadisnya kematian teman-teman mereka beberapa waktu lalu.
Di rumah, sepulang sekolah adiknya Boy yang bernama Tyas masih kepikiran dengan kakaknya yang katanya akan menghabisi seseorang. Pikiran polosnya mengarah pada hal pembunuhan, padahal memang benar.
Dia ingin sekali mengadu pada mamanya, namun dia takut dimarahi oleh kakaknya.
"Nanti kalau kak Alvin masuk penjara gimana? Gimana kalau dia balik dibunuh, aku ga punya kakak lagi dong?" Batin Tyas.
Kakaknya tidak ada di rumah, memang jarang sekali dia di rumah, sedangkan papanya kerja dan mamanya sering keluar tak jelas kemana.
Hingga waktu malam tiba, semua orang sudah berkumpul di rumah kecuali Alvin. Biasanya saat makan malam dia di rumah sebelum akhirnya ngeluyur entah kemana lagi.
"Lihat, Ma. Anak sulungmu semakin lama semakin ngelunjak. Dia sangat berbeda dengan Satya anakku dari Nina," ucap Bagas yang ternyata mantan suami Nina.
Bagas tidak tahu jika anaknya Satya sudah meninggal karena ulah anggota dari Alvin, anaknya sendiri.
"Kok kamu jadi banding-bandingin Alvin dengan Satya, salah kamu sendiri dulu lebih banyak menghabiskan waktu sama mereka daripada kami."
"Bukannya kamu sendiri yang bilang asal diberi uang maka semua akan beres. Lihat Satya, dia cerdas dan sholeh. Tidak seperti Alvin kelayapan ga jelas, ga ngerti cari kerja dan membangkang. Didikan apa sih yang kau berikan padanya? Apa jangan-jangan kau lebih sibuk dengan teman-teman sosialitamu?"
Melihat cekcok orang tuanya, Tyas ketakutan, tidak biasanya mereka bertengkar saat makan.
"Kamu nyalahin aku? Apa jangan-jangan justru kau kangen sama mantan istrimu?"
"Terus menyalahi siapa? Kamu kan ibunya aku sudah menyingkirkan istri pertamaku demi kau yang awalnya hanya selingkuhanku, katanya kau akan membuktikan kalau kau lebih baik dari Nina, mana?"
Muti terdiam, dia jengkel rayuannya yang sedulu-dulu dibuatnya untuk menyingkirkan Nina sekarang menjadi boomerang baginya.
__ADS_1
Mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Nina sebenarnya hanya dalam pelayanan ranjang saja, bukan dalam mengurus dan mendidik anak.
Dia merasa geram suaminya membandingkan wanita yang entah kemana itu dengan dirinya. Namun beberapa saat kemudian ia tidak kembali ambil pusing, karena diam-diam selama ini dia sudah bermain lagi dengan pria lain.
Muti meninggalkan meja makan, meninggalkan Tyas dan Bagas.
"Tyas, jangan kau contoh Mama dan kakakmu. Jangan membuat Papa tambah pusing atau Papa tinggalkan kalian semua dan mencari Mama Nina lalu kembali bersamanya," jelas Bagas walaupun dia tak yakin jika Nina dan Satya akan menerimanya kembali.
Kini setelah beberapa bulan berpisah dengan Satya dan Nina, Bagas mulai merasa kehilangan, Nina dan Muti sangat berbeda, setelah kemauan Muti terpenuhi dia bukan semakin baik namun semakin manja dan malas.
Berbeda dengan Nina saat menjadi istrinya, dia sangat telaten dan penuh pelayanan juga kelembutan. Tidak banyak permintaan juga sangat perhatian.
Tyas terdiam, dia tidak berani membantah ucapan Papanya.
Tidak lama Bagas juga bangkit dan meninggalkan Tyas seorang diri.
"Jadi ternyata aku anak seorang pelakor," batinnya menahan sesak.
Dia belum bisa terima dengan kenyataan pahit yang baru diterimanya.
"Tyas," panggil Muti.
Tyas langsung melihat mamanya sendu, dia kecewa dengan kedua orang tuanya.
Tyas sampai di kamar, dan menutup pintunya, namun saat dia hendak menutup, pintu itu terbuka dan masuklah Muti ke dalam kamar Tyas.
"Maafkan Mama kamu sudah mendengar semuanya di meja makan."
"Kenapa Mama lebih milih jadi pelakor, aku malu jadi anak seorang wanita jahat Ma. Apa kata orang-orang kalau mereka tahu, aku yang ga bersalah pasti ikutan dibully."
"Maafkan Mama sayang, Mama dan Papa saling mencintai, kami juga menikah tapi tante Nina saja yang tidak terima dengan kehadiran kita. Kamu tolong mengerti ya."
"Ga, aku benci Mama."
Tyas marah pada Muti, mereka tidak tahu kalau Alvin alias Boy sedang dalam bahaya sekarang, hal itulah yang tidak membuatnya pulang saat makan malam.
__ADS_1
Di sebuah kursi, Boy duduk terikat dengan mulut dibekap. Dia baru sadar dari pingsannya.
Yang diingatnya ada seseorang minta tolong padanya untuk memperbaiki mobilnya saat dia hendak jalan pulang, tetapi saat baru ingin melihat keadaan mesin mobil kepala bagian belakangnya dipukul sehingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Eeeeng, eeeeng," Boy mengerang, mulutnya di sumpal, dia ingin merenggangkan otot-otot tubuhnya namun sayangnya tubuhnya terikat kuat oleh lilitan tali rape.
Dia kebingungan bagaimana dia bisa terikat, dia meyakini bahwa orang yang meminta tolong padanya hanyalah modus.
"Alvin, kamu sudah sadar?" Ucap seseorang yang menggunakan masker.
Alvin melihat siapa yang datang dan berusaha mengenalinya, dia yakin pasti dialah orang yang selama ini menerornya dan membuat masalah pada kelompoknya.
"Siapa wanita ini," batinnya.
"Aku sudah mengalah untuk pergi dari hidup kalian bersama saudaramu yang satu ayah denganmu. Namun kenapa kalian membunuhnya, hah?"
Sosok wanita itu membuka maskernya, kini terlihat jelas bahwa Wanita di depannya adalah Nina, mantan istri Papanya.
"Satya, anakku yang sebaya adikmu Tyas harus mati mengenaskan karena ulah orang-orangmu, bagaimana rasanya diambang kehancuran Alvin?" Nina menatap tajam wajah Alvin yang juga menatapnya.
"Ga, ga bisa. Kau juga harus mati sama mengenaskannya seperti anakku, aku ingin setiap orang tua kalian merasakan bagaimana sakitnya kehilangan anak dengan tragis."
"Gara-gara orang-orangmu aku hidup sendiri sekarang, dua bulan aku perhatikan kalian, dan tiba saat yang tepat aku bisa membuat anggotamu banyak yang mati dalam satu waktu."
Boy merasa ngeri, dia ketakutan sekarang, dia tidak siap tubuhnya harus terpotong dan meregang nyawa karena kehabisan darah.
Orang yang selama ini dicari justru malah menangkapnya.
Dendam Nina dua kali lipat setelah mengetahui Alvin adalah ketua dari geng motor yang membunuh Satya, saudara satu ayahnya sendiri.
"Seorang j*l*ng seperti ibumu melahirkan seorang penjahat. Waw, fantastis. Aku akan memberi kejutan pada kalian satu keluarga."
Boy menggeleng, dia tidak ingin Nina menyentuh mamanya ataupun sampai menyakitinya.
Boy tidak tahu dan menyesali jika Satya malah menjadi korban anggotanya, dia sangat tahu Nina siapa, wanita yang mahir ilmu beladiri karena sempat membuka kursus latihan dulu di rumah yang sekarang di tempati mama juga adiknya.
__ADS_1
Satu hal lagi yang Boy tidak tahu dari Nina, bahwa dirinya adalah seorang penembak jitu karena masa gadisnya sering mengikuti pelatihan hingga mempunyai sertifikat kepemilikan senjata api secara resmi.