Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.

Tumbal Jalanan Geng Motor Meresahkan.
Kepergok


__ADS_3

"Tyas, ini dari bu Nina, dia juga memberikan handphone ini untukmu," ucap Rudi pada Tyas.


Rudi baru saja datang dan memberi amanah dari Nina berupa surat balasan dan sebuah handphone milik Satya dulu.


Tyas merasa senang, akhirnya dia mendapat bantuan.


"Bu Nina, aku adalah anak dari seorang wanita yang telah merebut suamimu, tapi kenapa kau baik padaku, kau orang baik, bu," batin Tyas bersyukur.


"Aku akan menggunakan handphone ini sesuai arahan kamu, bu," gumam Tyas.


Waktu pulang sekolah tiba, Tyas langsung pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, seperti biasa Tyas selalu saja mendapat pekerjaan rumah dari neneknya.


"Tyas, kenapa abis makan kamu ga cuci piring?"


"Aku capek, Nek. Aku mau istirahat dulu. Aku baru pulang sekolah."


"Mulai malas kamu ya, Tyas. Nanti kalau mamamu pulang Nenek aduin kamu ke mamamu."


"Aduin aja, aku bilang kan nanti, bukan ga mau."


"Sudah terbiasa dimanjain papamu kamu, makanya malas. Kamu kira di sini sama seperti di sana."


"Diam Nek, mending aku dimanjain soal kerjaan. Daripada Mama malah jadi pelakor, Nenek didik mama gimana sih?"


"Kecil-kecil sudah berani ngatain orang tua, mau jadi apa kamu, hah?"


Asih menjewer telinga Tyas sehingga membuat remaja itu kesakitan.


"Sakit, Nek. Lepas," ronta Tyas.


"Aduh, anak kurang ajar. Awas kamu ya, mamamu pulang, habis kamu," ancam Asih setelah jewerannya di telinga Tyas terlepas setelah mendapat cubitan dari Tyas.


Tyas tidak peduli dengan ancaman Asih, dia segera menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


Dia mengeluarkan handphone yang diberikan oleh Nina.


[Bu, terima kasih ya, mau nolongin Tyas.]


Tidak ada balasan dari pesan chat yang dikirim Tyas ke Nina.


"Palingan bu Nina sedang sibuk menjahit. Aku harus segera mengabari papa," gumam Tyas.


[Papa, ini Tyas. Tolong Tyas pa, mama hampir membunuh Tyas kemarin pakai pisau. Dia mengancam Tyas akan membunuh kita dan bu Nina. Tyas terpaksa ikut dengan mama karena ga mau kalian kenapa-kenapa. Handphone Tyas dipegang mama. Beruntung bu Nina bersedia meminjamkan handphone untuk Tyas.]


Pesan belum terbaca, membuat Tyas menghela nafas. Dua orang yang dihubunginya memang sama-sama sibuk saat siang hari.


Tyas yang masih rebahan membuka gallery di handphone itu.

__ADS_1


"Kayaknya ini handphone milik anaknya bu Nina dulu, sebagian besar foto-fotonya dan ada fotonya dengan bu Nina juga. Ganteng juga orangnya, wajahnya sendu menenangkan. Tampak sekali kalau dia memang orang baik. Pasti bu Nina sedih sekali waktu kehilangannya," batin Tyas memuji Satya.


Fokus melihat-lihat isi gallery, Tyas mendengar mamanya sudah pulang dan terdengar berbincang dengan Asih.


"Pasti mengadu lah itu," gumam Tyas.


"Tyas, buka pintunya. Sudah Mama bilang jangan pernah kunci pintu kamarmu."


"Sebentar."


Tyas segera membukakan pintu, dia sudah menyembunyikan handphonenya di saku celananya yang longgar.


"Kenapa kamu kurang ajar sama, Nenek?"


"Nenek duluan yang cari gara-gara, Ma. Aku baru pulang uda disuruh-suruh."


"Makanya kamu bujuk tuh papa kamu supaya kasih ART ke kita kalau kamu ga mau disuruh-suruh."


"Ga ah, mana mungkin papa mau. Pasti dia bakalan suruh aku ikut dengannya sekalian."


"Ya kamu pandai-pandailah bicara sama papamu."


"Sudahlah, Ma. Sebaiknya Mama berubah selagi ada umur."


Plak...


Tanpa mendapat jawaban dari ucapannya, Tyas malah mendapat tamparan.


"Kenapa, Ma? Mama mau bilang akan segera bunuh papa dan bu Nina serta diriku lagi, iya?"


Bak sedang kesurupan Muti mencekik leher Tyas, dan menatap tajam ke arah anaknya.


"Jadi kau benar-benar menginginkannya, hah?"


"Ss sakit, Ma. Lepaskan cek cekik kan Mama."


"Muti, kamu sudah gila, hei. Lepaskan Tyas," bentak Asih yang tadinya ingin melihat Tyas dimarahi Muti malah menemukan Muti sedang mencekik Tyas.


Muti melepas cekikannya setelah tangannya dipukul-pukul oleh Asih.


"Kau akan jadi orang terakhir setelah aku membereskan Nina dan papamu.".


"Kamu ngomong apa, Muti. Maksudmu apa? Kamu jangan nekat."


"Sudahlah, Bu. Ini juga demi Ibu."


Muti melengos pergi, sedangkan Tyas masih memegangi lehernya yang kesakitan.

__ADS_1


"Sebenarnya mamamu kenapa bisa sampai mencekikmu, Tyas?"


"Selain melahirkan seorang pelakor. Kau juga melahirkan seorang pembunuh, Nek. Keluar. Aku mau sendiri. Aku benci kalian."


"Kamu tuh seharusnya berterima kasih karena Nenek sudah menolongmu. Kalau tidak kamu sudah mati."


"Biar aja aku mati. Nenek bisa membanggakan prestasi Mama."


Pusing melihat anak cucunya yang selalu saja berkonflik Asih memilih keluar tanpa sepatah katapun lagi.


Dia sendiri masih syok melihat Muti yang kesetanan.


"Hampir saja ada pembunuhan di rumahku. Itu anak tadi terus kemana lagi tuh," batin Asih mempertanyakan kepergian Muti.


Muti sudah berada di jalan dengan menstop taksi lewat secara random.


Dia yang baru saja bertemu dengan dua temannya kini berencana akan ke suatu tempat untuk berjumpa dengan seseorang.


"Anak sialan. Aku akan benar-benar membunuh papamu, Tyas. Kau tinggal menunggu kabar kematian papamu saja. Setelah itu Nina. Wanita sialan itu juga harus mati," batin Muti dengan emosi yang menggebu-gebu.


Muti berhenti di pasar. Diam-diam dia sudah mengatur perjumpaan dengan seorang preman pasar yang dimintai tolong olehnya untuk melancarkan aksi pembunuhan yang sudah direncanakannya.


Muti berpikir dengan membayar orang, dia tidak perlu mengotori tangannya sendiri.


"Ini untuk DP nya dulu. Setelah berhasil sisanya akan kubayar."


"Siap bos, malam ini juga akan ku laksanakan."


"Kita sudah selesai. Segeralah pergi, aku tidak ingin ada orang yang melihat kita."


Preman itu langsung pergi menyusuri lorong pasar yang sepi yang sebagian lapak yang terbuka banyak belum diisi pedagang karena belum ada yang menyewa tempat di lorong itu.


"Setelah berhasil, aku yang akan menghabisimu dengan tanganku sendiri. Aku tidak bodoh, pasti kau akan terus memerasku nantinya," ucap Muti seorang diri.


Dia kembali berjalan menyusuri lorong menuju keramaian pasar yang tengah melakukan aktivitas jual beli.


"Apa kabar, Muti."


Langkah Muti terhenti saat dia baru melewati beberapa lapak kosong dari arah belakang malah mendengar seseorang yang menyebut namanya.


Muti langsung balik badan ke belakang, dia melebarkan matanya saat tahu yang memanggilnya adalah Nina.


"Jadi, ada yang sedang merencanakan pembunuhan, toh," ucap Nina sambil menunjukkan layar handphonenya yang memutarkan rekaman video Muti dengan preman pasar. Bahkan suara mereka sangat jelas terdengar.


Tanpa berkata apapun Muti langsung mengulurkan tangannya hendak merebut handphone Nina. Pikirannya kacau saat rencana jahatnya diketahui oleh orang lain dan orang itu juga adalah orang yang dia benci.


Dengan cepat Nina langsung menepis tangan Muti sehingga Muti gagal mengambil handphone Nina.

__ADS_1


"Oh, jadi kau ingin menggagalkan rencanaku, hah? Atau kau masih menyukai mantan suamimu itu?"


"Tentu tidak. Masalahnya bukannya kau akan membunuhku juga? Sepertinya video itu akan menjadi bukti yang cukup untuk memenjarakanmu dalam waktu yang lama. Walau dalam video itu kau masih merencanakan pembunuhan pada Bagas terlebih dahulu sebelum padaku dan anakmu sendiri."


__ADS_2