
"Nanti jam tujuh pagi ini lu datang aja, buruan pokoknya," ucap Riko membuat Boy tidak puas karena diberi informasi hanya setengah-setengah.
"Memang kenapa markas kita? Lu bisa ngomong langsung sekarang kan?"
Dari seberang telepon terdengar Riko mendengus, Boy masih menunggu Riko melanjutkan bicaranya.
"Markas kita terbakar, dan sudah dikerumuni banyak orang, polisi dan pemadam kebakaran sudah sampai, aku setengah jam yang lalu dikasih tahu oleh anggota kita yang rumahnya tidak jauh dari markas."
"Terus bagaimana?"
"Semua ludes Boy, tapi seluruh sepeda motor Aman, seluruh motor tiba-tiba sudah ada di halaman. Aku yakin pasti orang yang baru-baru ini meneror kita pelakunya."
Boy mengeluarkan banyak umpatan dengan kata-kata kotor, dia kesal setengah mati karena sudah tidak mempunyai markas lagi, dia tidak mungkin membuat markas di tengah-tengah pemukiman penduduk.
Sedangkan di lokasi markas, api yang membakar bangunan sudah padam, seluruh bangunan terbakar habis, hanya menyisakan puing-puing yang sebagian sudah dilalap api.
"Wah, ini motor siapa aja ya, ada belasan loh. Masa ga ada pemiliknya sama sekali," ucap salah seorang warga.
Setelah api berhasil dipadamkan, polisi menemukan banyak senjata tajam di salah satu lantai bangunan, sehingga mereka dapat langsung menyimpulkan bahwa lokasi kebakaran tersebut adalah sarang begal.
"Eh, aku tahu ini motor siapa, ini motor keponakanku yang sekarang lagi kritis di rumah sakit karena dibegal," seru seorang ibu-ibu yang melihat salah satu motor yang dikenalnya.
"Ibu pasti itu motor milik kerabat Ibu?" Tanya seorang polisi.
"Saya masih hapal platnya, Pak. Saya yakin itu motor keponakan saya."
"Berarti benar dugaan kami, bangunan itu sarang begal, kami juga baru menemukan beberapa jenis senjata tajam yang biasa dibawa oleh komplotan begal," terang polisi.
Warga yang melihat masih takjub dan terheran-heran, bagaimana bisa bangunan terbakar namun menyisakan sepeda motor di halaman.
__ADS_1
Mereka juga tidak menduga bangunan yang selama ini kosong ternyata merupakan sarangnya orang-orang jahat yang selalu meresahkan masyarakat setempat.
"Aku yakin, ini pasti bangunannya sengaja dibakar, kalau tidak orang bodoh mana yang meletakkan banyak motor di halaman, iya kan?"
"Bener Pak, tapi siapa pun orangnya, pasti ada niat baik dia, dia masih memikirkan motor-motor korban begal."
Riko yang sudah berada di lokasi kejadian mendengar jelas apa saja yang dibicarakan warga dan polisi. Bahkan dirinya tidak luput ikut ditanya oleh polisi perihal terbakarnya markas mereka.
Hari semakin terang, masuk dua mobil pick up yang digunakan untuk membawa seluruh motor ke kantor polisi.
"Baik bapak-bapak dan ibu-ibu. Kami akan tetap menyelidiki kasus ini. Dan seluruh motor ini akan kami bawa sebagai barang bukti. Bagi yang merasa motornya ada di sini bisa datang ke kantor polisi dengan membawa bukti surat-surat kendaraan terutama BPKB lalu akan kami proses sehingga motor bisa kalian bawa pulang kembali."
Terlihat Boy baru datang, dia tidak begitu menjadi bahan perhatian orang-orang karena sedari tadi ada saja yang baru datang untuk melihat kejadian.
Boy langsung mendekati Riko, kemudian dia menyaksikan sendiri motor hasil membegal yang dilakukan anggotanya akan dibawa.
Boy mengumpat dalam hati, dia merasa geram karena kehilangan uang masuk, padahal motor-motor itu akan diserahkan ke pengadah minggu depan sesuai perjanjian sudah disepakati.
Dia puas melihat musuhnya sesama geng motor sedang menerima kekacauan dan dipastikan bakal bubar.
"Hahaha, dengan hancurnya mereka aku bakalan tidak punya saingan, lagian mereka para bocil tidak seharusnya bermain-main dengan kejahatan," racaunya bahagia, Baron adalah ketua geng motor dari pihak musuh, namun anggotanya rata-rata bukan remaja tanggung melainkan para pria dewasa beda dengan anggota Boy yang lebih banyak merekrut anak-anak remaja tanggung dan hanya beberapa yang berumur dewasa.
"Tanpa susah payah kita tidak perlu capek-capek menyingkirkan mereka bos, kemarin anggota mereka banyak yang mati, sekarang markas mereka terbakar, hahaha?"
"Ya, kau benar. Sepertinya musuh mereka tidak hanya kita."
"Biar saja, aku tak peduli siapa yang menumbangkan mereka, yang terpenting penguasa jalanan sepi hanya tinggal kita satu-satunya."
"Bukannya kita masih punya satu musuh lagi bos?"
__ADS_1
"Tidak masalah, musuh satu lagi tidak jauh beda dengan kelompok yang sekarang, berisikan para bocah-bocah bodoh."
Musuh yang dimaksud Baron adalah teman-temannya Boy yang juga mempunyai anggota remaja-remaja tanggung yang sedang mencari jati diri mereka.
Para geng motor berlomba-lomba siapa cepat dia dapat dalam aksi membegal, satu kesalahan yang tidak boleh mereka lakukan, yaitu melukai sesama geng motor karena hal itu akan memicu peperangan diantara mereka.
Kabar terbakarnya markas geng motor yang dikenal dengan sebutan para pembegal pun sampai ke desa Bambusa.
"Lama-lama kok aku penasaran ya, siapa coba orang yang berani ngerusuhi para pembegal? Apa ga takut ketahuan, gitu. Seharusnya jika sudah tau ada sarang begal langsung dilaporkan ke kantor polisi aja," ceplos salah satu ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung.
"Yah, Bu. Kalau dilapor polisi takutnya cuma dikurung doang, apa lagi kita lihat kemarin orang mereka yang bermatian di jalan rata-rata masih anak dibawah umur, pastilah hukumannya tak membuat efek jera. Aku senang dengan orang itu, apa yang dilakukannya membuat semua pelaku kejahatan jalanan jadi ketar-ketir," sambung Nina.
"Iya sih, tuh anak-anak tanggung orang tuanya gimana ya, kok bisa anaknya di biarin keluyuran malam bawa motor."
"Tandai saja bu, jika anak-anak kalian sering pulang malam tapi selamat bisa jadi mereka bagian dari geng motor. Karena kalau manusia normal pasti sama takutnya dengan warga yang lain, tidak berani keluar malam kalau tidak mendadak sekali," jelas Nina lagi.
Nina yang baru bicara langsung pamit pulang duluan karena sudah selesai berbelanja.
"Kok Bu Nina banyak tau tentang begal atau geng motor ya? Apa jangan-jangan dia pelaku pemberantasan begal-begal kemarin itu?"
"Kayaknya ga mungkin deh, Bu. Memangnya dia punya keahlian apa coba? Pasti yang memberantas para begal itu punya banyak keahlian. Kalau bu Nina setahu saya cuma tukang jahit doang."
Kembali pada Boy, dia sudah merasa putus asa, kini dia sedang berada di rumah Riko.
"Apa kita bubarin aja geng motor ini ya, Bro? Aku mau gabung dengan Road Devil aja. Ga sanggup aku kalau terus-terusan dapat masalah gini."
"Iya sih, tuh orang juga ga diketahui sama sekali siapa. Tapi siapapun aku ingin menghabisinya."
"Sama Bro, tapi ga tahu dia sendiri atau tidak. Suatu saat pasti ketemu."
__ADS_1
"Jadi, lu uda yakin Deadman mau dibubarin?"