
Hawa pengap meresap dalam tubuhku, mata yang terpejam mulai terganggu dengan terangnya cahaya mentari yang masuk dari celah-celah fentilasi kamar.
Aku kesiangan tertidur di rumah orang tuaku.
Dengan cepat aku bangkit dan langsung menyusun tempat tidur serapi mungkin.
Setelah itu mandi dan berganti pakaian lalu segera pulang ke rumah.
"Dari mama Kak Nin, kok baru nampak," sapa Wati yang tengah menjemur pakaian di samping rumah.
"Nginap di rumah saudara, kemarin sempat mampir. Oh iya, gimana keadaan Rudi setelah dibawa pulang?"
"Alhamdulillah semakin membaik, Kak. Tapi belum ku kasih sekolah dulu, nanti katanya teman-teman sekolahnya akan menjenguk."
"Oh, begitu. Syukurlah."
Aku berjalan hendak masuk ke rumahku, segera ku keluarkan kunci pintu.
"Oh, ya. Kemarin Titin ada ambil baju anaknya Kak. Maaf ya aku lancang masuk, tapi belum dibayar. Kubilang langsung sama Kakak aja nanti, abis aku ga tahu kemarin Kakak kemana aja, mana pintu belakang ga ketutup lagi."
"Oh, itu. Iya, ga apa-apa. Aku ke rumah saudara Wat, dijemput. Sangking buru-burunya ga ingat pintu belakang. Soalnya saudaraku ini mau ada acara, jadi rada heboh dikit."
"Oh, pantesan. Aku kira kemana."
Nina segera masuk dan membuka kios jahit kemudian melanjutkan pekerjaan jahitan pakaian yang harus diselesaikannya.
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, pukul tiga sore mata Nina terfokus pada segerombolan para remaja tanggung yang memakai seragam sekolah menuju rumah Wati.
"Itu pasti teman-temannya Rudi yang dikatakan Wati tadi pagi," gumam Nina.
"Bu Nina," sapa salah seorang dari segerombolan para remaja itu yang membuat Nina spontan melihat ke arahnya.
"Eh, Tyas. Apa kabar. Jadi kamu temannya Rudi juga?"
"Tyas baik, Bu. Alhamdulillah. Iya, tapi baru tahu rumahnya di sini. Berarti selama ini dia tetanggaan sama Ibu. Kok enggak nampak ya pas aku kemarin ke sini hampir sepanjang hari."
__ADS_1
"Namanya tidak dipertemukan ya gimana."
"Ya sudah, Tyas ke rumah Rudi dulu ya, Bu."
"Iya, silahkan."
Nina kembali sendirian dengan pekerjaannya, dia sempat melihat memperhatikan teman-temannya Rudi satu persatu walau tak semua terjangkau pandangannya, termasuk Tyas yang tidak diketahuinya ada dalam rombongan itu. Dia terfokus mencari keberadaan Dedi, namun tidak terlihat sama sekali.
Sekitar satu jam kemudian terdengar riuh suara berpamitan dari arah rumah Wati, dan Nina melihat bahwa teman-teman Rudi bergerak pulang, sebagian ada yang berjalan kaki ke depan gang, dan beberapa ada yang naik motor.
"Bu Nina, Tyas di sini, ya," ucap Tyas yang tiba-tiba muncul di dekat Nina.
"Boleh, tapi nanti kamu pulangnya apa ga kesorean?"
"Enggak, Papa katanya mau jemput aku."
Nina mendengus, kemudian tersenyum simpul pada Tyas yang langsung dibalas olehnya.
"Oh ya, Tyas. Ibu dengar katanya Rudi didekati cewek terus ada teman cowoknya yang ga suka. Kamu kira-kira tahu tidak siapa teman ceweknya Rudi itu?"
"Rudi sendiri yang bilang, Ibu penasaran saja."
"Iya ya, Bu. Ehehehe, sebenarnya Tyas yang dekat dengan Rudi Bu, dia cerdas, di sekolah pintar, dan tidak banyak tingkah. Tyas tertarik sama dia karena sifatnya itu, tapi memang ada teman yang lain ga suka Rudi karena Tyas dekati dia, namanya Dedi, orangnya memang tampan tapi bandel. Tyas ga suka sama dia. Suka buat masalah di sekolah. Dia juga ga ikut tadi ke rumah Rudi"
Nina menghela nafas kasar, mendengar penjelasan Tyas.
"Bu, jangan bilang sama Ibunya Rudi ya kalau aku cewek itu. Aku malu, Bu."
"Ibu bukan tipe pengadu, Tyas. Sebaiknya kamu fokus belajar saja buat masa depanmu, jangan coba-coba pacaran dulu kalau kamu ga mau rusak," Nina mengingatkan Tyas penuh penekanan.
Tyas mengangguk, kini malah dia terdiam cukup lama.
"Kenapa Tyas?"
"Rasanya Tyas pengen tinggal di sini, Bu. Tapi pasti Ibu ga izinin, kan?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Sepertinya beberapa waktu tak bertemu kamu mengalami hari yang berat."
"Memang, Bu. Aku sempat dibawa lari sama mama ke rumah nenek, dipaksa pindah sekolah. Aku tahu mama melakukan itu supaya tetap bisa menguras harta papa dengan adanya aku bersamanya, tapi aku ga mau, bukan karena hal itu saja, nenek cerewet dan anak-anak nenek yang lain suka sinis sama aku, aku ga nyaman, sampai akhirnya aku telepon papa dan memintanya menjemputku. Ikut papa juga tak membuatku nyaman, dia lebih sering tidak di rumah walau pulang yang dicari aku duluan, tetap saja aku merasa kesepian. Aku juga benci papa, kalau Ibu diajak balik sama papa bagus tidak usah deh, Bu."
Mendengar keluhan Tyas, Nina mengerutkan dahinya. Baru kali ini dia mendapati seorang anak yang membenci kedua orang tuanya sendiri, padahal sudah hidup berkecukupan.
"Apa yang membuatmu benci dengan papamu, bukannya selama ini dia sudah memberikan apapun yang kamu mau?"
"Waktu Papa di rumah sakit, papa menceraikan mama karena tahu mama selingkuh dan selingkuhan mama hampir saja membunuh papa, mama pergi dan membawaku bertemu dengan dua orang temannya yang aku ga tau siapa namanya. Kami di tempat karoke, karena malas aku membaringkan tubuhku di sofa dan memejamkan mataku walau sebenarnya pikiranku tak tenang, aku ingin pergi dari situ tapi ga bisa. Mama tiba-tiba mau ke toilet, tinggallah kami bertiga, dikira mereka aku tertidur, mereka berdua duduk tepat di sebelahku dan ngobrol, intinya mereka menertawakan penderitaan mama lalu sempat membahas papa yang sudah pernah tidur dengan mereka, aku jijik Bu. Aku tetap pura-pura tidur, lagi pula suara musik lumayan kuat, dikira mereka aku tidak dengar apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya aku dibangunkan untuk pulang."
"Jadikan semua pelajaran Tyas, kamu tahukan sakitnya gimana jika kita mempunyai laki-laki yang tidak bertanggung jawab? Mulai sekarang kamu harus belajar untuk tidak mudah menyukai laki-laki, mereka banyak yang hanya baik diawal saja. Dan jangan pula jadi perempuan gampangan dan perusak kebahagiaan orang lain."
"Iya, Bu. Kemarin juga sempat ada wanita yang marah-marah cari mama karena suaminya selingkuh dengan mama. Dia nangis-nangis tak terima, apa Ibu dulu juga begitu saat papa meninggalkan Ibu?"
"Sama sekali tidak, Tyas. Untuk apa? Tanpa papamu Ibu bisa berdiri sendiri. Biasanya jika wanita seperti itu saat tahu suaminya berkhianat mereka adalah wanita yang biasa menggantungkan hidup sepenuhnya pada si Suami hingga akhirnya saat dicampakkan mereka bingung harus berbuat apa, ingin bekerja tidak memiliki skill apapun misalnya."
Tyas manggut-manggut, kini dia mengingat mamanya sendiri yang bersikeras tidak ingin diceraikan oleh papanya karena Tyas sadar mamanya tidak memiliki keahlian apapun selain menggoda dan merusak.
Tyas berada di rumah Nina sampai hampir menjelang maghrib. Nina sudah menutup kiosnya, lalu mereka berdua masuk.
Tin... Tin...
Suara klakson mobil terdengar dari arah depan, baik Nina maupun Tyas sudah dapat menebak siapa yang datang.
Bagas keluar dari mobilnya, kedatangannya disambut biasa saja oleh Nina meskipun Bagas membawakan makanan kesukaan Nina, namun Nina hanya cuek saja, namun tetap menerima makanan itu sebagai bentuk menghargai.
Bagas dan Tyas makan malam di rumah Nina, Bagas berkali-kali mencoba berbasa-basi pada Nina, namun Nina tetap cuek membuat Bagas membeku, bahkan Tyas anaknya juga seolah tak peduli padanya.
Makan malam selesai, merasa kehadirannya memang tidak diinginkan ia langsung pamit pulang pada Nina.
"Tyas, masuk ke dalam mobil duluan. Ada yang mau Papa bicarakan sama Bu Nina," titah Bagas.
Tyas menurut, kini Nina menunggu hal apa yang akan dibicarakan Bagas.
"Baiklah Nina, maaf jika kehadiranku mengusik ketenanganmu, tapi aku mohon jangan pernah pengaruhi Tyas untuk bersikap acuh padaku seperti tadi," ucap Bagas dengan nada suara yang dipelankan.
__ADS_1
"Jangan berfikir buruk tentangku, sekalipun aku tidak pernah mempengaruhi Tyas untuk bersifat tidak baik padamu maupun pada mamanya. Jangan hakimi aku. Langsung kau tanyakan saja pada anakmu mengapa dia bersikap seperti itu."