
"Makasih ya, Kak. Uda mau temani aku ke pasar," ucap Wati setelah mereka baru sampai rumah.
"Iya Wat, toh aku juga sekalian beli bahan yang sudah mau habis."
"Ya sudah, aku balik dulu, Kak."
"Iya."
Wati berjalan ke rumahnya, begitu juga dengan Nina yang masuk meletakkan belanjaannya di meja ruang tamu kemudian keluar lagi setelah mengunci rumahnya.
Dia melajukan motornya ke rumah orang tuanya, tempat dimana ia menyembunyikan Baron saat tengah malam kemarin.
"Eh, Nina. Sering banget sekarang bolak-balik ke rumah orang tuamu. Kenapa ga tinggal di sini aja sekalian. Orang barang-barangnya juga lengkap kok," ucap salah satu tetangga lamanya.
"Iya, Bu. Belum saatnya saja. Saya cuma mau bersih-bersih sebentar kok."
"Oh, gitu."
Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya Nina masuk ke dalam rumah masa kecilnya.
Dia langsung menuju gudang dan melihat Baron yang lemas dan pucat dalam kondisi terikat.
Baron yang melihat pintu gudang terbuka merasa ketakutan. Dia ingin langsung dibunuh saja daripada harus disiksa terlebih dahulu.
"Hai, aku datang bawa sesuatu untukmu," ucap Nina dengan menunjukkan satu buah lemon berukuran besar.
"Luka-luka sayatanmu masih basah, kan? Ini untuk mengeringkannya."
Tanpa rasa kasihan Nina membelah lemon menjadi dua bagian kemudian memerasnya di wajah baron yang sudah disayatnya dengan luka sayatan yang tidak terlalu dalam.
Baron kesakitan, dia ingin berteriak namun mulutnya ditutup. Dia menggelinjang, menggeliat persis seperti cacing di siram air garam.
Dalam hatinya Baron mengutuk perbuatan Nina. Dia ingin membalas namun tak berdaya. Ikatan yang dibuat Nina begitu kuat, dia bahkan merasa aliran darahnya berjalan sangat lambat.
"Tahanlah sedikit Baron, lukamu akan cepat mengering jika perasan air lemon itu mengalir sempurna pada semua lukamu. Anggap saja ini sebagai penebus rasa sakit seluruh korban-korbanmu."
Sedangkan di rumahnya, istri Baron merasa bingung karena suaminya tak kunjung pulang.
"Kemana sih, kok malah makin menjadi. Biasa pulang malam ini ga pulang sama sekali," ucap istri Baron.
Kini istri Baron berjalan ke rumah-rumah teman dekatnya dan menanyakan apakah mereka mengetahui Baron ada dimana.
"Apa Kak, dari semalam bang Baron belum pulang? Wah, aku ga tau. Udah coba ditelepon belum?"
"Sudah, tapi ga aktif nomornya, kalau ga ngapain aku sampai sini cari-cari dia."
__ADS_1
"Aku beneran ga tau Kak, kemarin siang sempat cerita-cerita, tapi setelah itu dia kemana aku ga tau."
"Ya sudahlah, aku mau cari ke tempat yang lain dulu."
Istri Baron pun pergi, kini orang yang baru saja ditanyai merasa heran. Kemana perginya ketua mereka. Sehingga ia pun menghubungi kedua rekannya untuk berkumpul siang nanti.
Siang yang dinanti tiba, Danu, Edo, dan Rizal berkumpul di rumah Edo yang sedang tidak ada orang di rumahnya selain dirinya.
"Kenapa bang Baron belum balik juga? Apa benar jika wanita itu yang telah membunuh Ferdi dan Andi dan sekarang bang Baron-"
"Heh, kita belum tahu pasti, bagaimana kalau kita selidiki saja rumah wanita itu, kan bang Baron sudah kasih tahu kita alamatnya sebelum dia pergi."
"Setuju, kita cari bang Baron ke rumah wanita itu dan kalau tidak ada berarti memang dia tidak ada di sana."
"Oke, aku setuju. Tengah malam nanti kita diam-diam harus masuk ke rumah wanita itu."
Setelah melakukan kesepakatan mereka kembali bubar dan menjalankan aktivitas masing-masing.
Beralih pada Nina, puas bermain-main dengan Baron dia kembali ke rumahnya di desa Bambusa.
"Loh, dari mana, Kak?"
"Antar tempahan baju, Wat."
"Oh, pantes ga buka kios."
Nina membuka kios jahitnya dan menyelesaikan pekerjaan jahitan yang belum selesai.
Sampai hari memasuki waktu sore sebuah mobil masuk ke halaman rumah Nina.
Melihat mobil itu membuat Nina mengerutkan dahinya, dia tahu betul bahwa itu adalah mobilnya Bagas.
"Assalamu'alaikum, Nina. Apa kabar."
"Wa'alaikumussalam," jawab Nina datar dan masih melanjutkan jahitnya. Ia tidak sekalipun memandang Bagas.
"Aku ke sini mau jemput Tyas dan sekaligus ingin melihat Satya. Aku sangat merindukan anak kita," ucap Bagas lagi antusias.
"Keduanya tidak ada."
"Maksudnya? Mereka berdua sedang pergi?"
Nina mendengus dan menghentikan pekerjaannya. Kini dilihatnya Bagas dengan tatapan yang tajam seolah ada kebencian di sana.
"Apa aku salah bicara?"
__ADS_1
"Tyas sedang tidak ada di sini, dan Satya. Anak yang kau cari sudah lama meninggal."
"Hah, a a apa? Meninggal? Kenapa kamu tidak mengabariku?"
"Mengabarimu? Setelah kau dan selingkuhanmu mengusirku dan Satya apa kau masih peduli dengan kami? Sekarang untuk apa kau ke sini, jangan pernah merasa karena aku dan Tyas dekat karena aku ingin kembali padamu, sama sekali tidak Bagas."
Bagas terdiam, hatinya masih terkejut mendengar kabar kalau Satya sudah meninggal, entah apa penyebabnya dia tak tahu.
"Oke, maaf. Di mana kuburannya?"
"Tidak perlu kau ke sana. Dia tidak perlu di datangi orang tua sepertimu. Pergi, aku tak sudi melihatmu menginjakkan kakimu di rumahku."
Tanpa kata Bagas pergi meninggalkan rumah Nina.
"Satya, benarkah kamu sudah meninggal? Terakhir kita bertemu ayah mengusirmu dan ibumu, momen yang jahat, Nak. Sekarang ayah ingin berbaikan padamu juga ibumu tapi kenapa harus mendengar kabar kematianmu," batin Bagas menangis pilu.
Matanya mengembun menatap jalanan, dia tidak menyalahkan Nina yang sudah mengusirnya. Kini dia mengemudikan mobilnya menuju pemakaman setempat setelah sebelumnya bertanya pada salah satu tetangga Nina.
Sampai di pemakaman Bagas langsung bertemu pada juru kunci makam dan bertanya di mana makam Satya hingga akhirnya tahulah ia dimana Satya telah dikuburkan.
Percaya tidak percaya, dengan tangan gemetar dia memegang pusara yang bertuliskan nama anaknya yang juga tersemat nama dirinya di sana.
"Kamu anak baik, Satya. Kenapa begitu cepat pergi. Ayah datang, Nak. Maaf telah membuat luka di hatimu juga hati ibumu. Maafkan Ayah yang baru sempat datang, sungguh ayah tidak tahu kau sudah tiada."
Bagas menangis, memori tentang Satya kembali memenuhi isi kepalanya, Satya anak yang aktif, cerdas, juga penurut. Berbanding terbalik dengan mendiang anaknya Alvin.
Hari sudah menjelang maghrib. Nina bersiap menutup kios jahitnya setelah itu makan malam.
Setiap kali makan di meja makan, hatinya merasa sedih mengingat Satya, putra tunggalnya.
Usai makan, Nina tidak lagi membuka kios jahitnya yang biasa dibuka kembali hingga pukul sembilan malam. Dia akan kembali menemui Baron lagi.
Sampailah di tengah malam, diam-diam dan dengan langkah hati-hati, Edo, Danu, dan Rizal menyelinap masuk ke rumah Nina dengan membobol pintu belakang.
"Cari di setiap ruangan, kalau tidak ada kita langsung pergi. Jangan sampai kita ketahuan," bisik Danu kepada kedua temannya.
Edo dan Rizal mengangguk dan mulai berpencar. Memasuki setiap ruangan, tidak sampai setengah jam mereka kembali berkumpul di dapur.
"Di rumah ini tidak ada orang. Bang Baron juga ga ada. Dimana wanita itu?"
Tiba-tiba suara sepeda motor terdengar dari arah depan rumah, membuat mereka kelimpungan dan langsung keluar dari pintu belakang.
Nina masuk sekaligus dengan motornya, lalu mengunci pintu rumahnya.
Dia langsung ke belakang untuk membersihkan diri di kamar mandi. Namun ia terkejut saat melihat pintu belakang terbuka lebar.
__ADS_1
"Kok terbuka?"
Perlahan dan pasti Nina berjalan ke arah pintu itu dengan hati-hati.