
Hari semakin terik, Nina sedang fokus dengan pekerjaannya sebagai tukang jahit.
Dengan tertangkapnya Dedi, dia akan buka mulut mengenai teman-temannya yang lain.
Deru mesin motor semakin mendekat dan terlihatlah Anto dan Wati baru sampai.
Nina ingin segera menghampiri mereka, namun urung karena merasa tidak enak dikarenakan mereka baru sampai.
"Akhirnya, Bu. Semua selesai, anak itu di penjara. Biar saja orang tuanya tidak suka, biar jadi pelajaran lagi sama mereka biar lebih becus memperhatikan anak," ucap Anto sembari melangkah masuk menuju rumah mereka.
Wati mengikuti Anto, sekilas dia melihat Nina dan tersenyum padanya.
Di penjara Dedi ditangisi oleh Ibunya, dia tak terima anaknya di penjara walau telah terbukti bersalah.
"Gak, Pak. Ibu ga terima. Jangan Dedi saja yang di penjara, anggota geng motor itu kan ga cuma dia,"
"Iya, sabar Bu. Polisi juga lagi menuju ke sana. Kamu juga, buat orang tua kecewa saja. Biar apa kamu ikut-ikut geng motor, sudah hebat kamu? Apa kamu kira Bapak bangga melihatmu ikutan hal yang seperti itu, kamu buat malu saja."
Dedi terdiam, jika Bapaknya sudah marah dia tidak berani menjawab. Hanya Ibunya saja yang masih ada rasa kasihan padanya, batinnya.
Sedangkan beberapa polisi sedang menuju markas Road Devil setelah diketahui alamatnya dari Dedi langsung.
Para warga tampak heboh melihat kedatangan beberapa mobil polisi dan langsung masuk ke sebuah rumah sewa milik orang tua Darma yang belum disewa oleh orang lain sehingga dijadikan olehnya tempat berkumpul.
"Kosong komandan?"
"Kita tanya warga."
Polisi langsung sigap mendekati warga dan menanyai mereka perihal geng motor yang diketuai oleh Darma.
"Owalah, kukira anak-anak itu cuma kumpul biasa aja loh, rupanya anggota geng motor. Kalau rumah Darma saya tahu, Pak. Tidak jauh dari sini, jalan kaki sampai. Mari saya antar."
Warga melihat beberapa rombongan polisi mengikuti salah satu warga menuju rumah Darma, desas-desus gosip mulai terdengar dari warga sekitar.
"Wah, gila ya. Mendiang bapaknya pengadah, ini anaknya ketua geng motor pula."
"Stress banget itu pasti ibunya Darma."
"Yauda yuk, kita ikutin aja. Aku penasaran."
Polisi sampai di rumah Darma, Ibunya Darma keluar dengan kebingungan.
__ADS_1
"Ada apa ini, Pak?"
"Kami dari kepolisian ditugaskan untuk menangkap anak Ibu yang terlibat geng motor dan mengetuainya."
"Hah? Anak saya anak baik-baik, Pak. Gak mungkinlah dia kayak gitu."
"Dia bisa jelaskan di kantor. Dimana dia sekarang?"
Ibunya Darma tidak menjawab, dia terdiam kecewa sehingga dua orang polisi berinisiatif masuk ke dalam rumah.
Darma yang sedari tadi mendengarkan ada polisi di depan rumahnya sedang bersembunyi di lemari pakaiannya.
Tubuhnya gemetar takut ketahuan, dia tidak seperti Dedi. Dia berencana ingin kabur.
Karena rasa takutnya membuatnya tak bisa diam menutup lemari dari dalam lemari dengan tangannya. Tangannya begitu gemetar, sedangkan dia harus sempit-sempitan dengan pakaiannya.
Salah satu polisi melihat pintu lemari pakaian yang tidak rapat sehingga membuatnya perlahan mendekat lalu membukanya.
"Jangan tangkap saya, Pak. Saya ga melakukan apa-apa," ucap Darma merengek dengan tangisnya.
Polisi itu seakan tak mendengar ucapannya, ia kemudian langsung menarik Darma dan memborgol kedua tangannya ke belakang.
Polisi kemudian mengambil handphonenya.
"233435, Pak."
Polisi langsung membuka aplikasi WhatsApp Darma dan melihat grup bertuliskan Road Devil dengan tiga api di sebelah bacaan tersebut.
Polisi melihat jika sebagian diantara mereka sudah tahu markas didatangi aparat kepolisian.
"Bilang sama mereka suruh berkumpul di markas, dan katakan kami telah pergi," titah polisi yang siap-siap menekan tombol rekam suara.
Darma menurut walaupun dengan suara yang sedikit bergetar dia melakukan apa yang diperintahkan polisi.
Ibunya Darma menggeleng, dia menangis kecewa pada anaknya, gosip mengenai suaminya karena menjadi seorang pengadah sebelum meninggal belum hilang kini anaknya pula terlibat geng motor. Dia merasa hidupnya hancur, tidak ada seorang pun yang dapat dibanggakannya.
"Baiklah, kalian bawa dia dulu ke kantor, yang lain akan menyusul."
Dengan sigap kedua polisi itu menuruti perintah komandannya. Mereka menaikkan Darma ke mobil kemudian membawanya ke kantor polisi.
"Yah, ketangkap nangis, saat beraksi sok jagoan," ledek polisi yang tidak mengemudi.
__ADS_1
Darma hanya terdiam, bagaimana mungkin dirinya melawan polisi.
Tidak sampai satu hari, semua anggota Road Devil tertangkap dan sudah dibariskan di halaman kantor polisi dengan tangan yang dirantai saling menyambung satu sama lain.
Beberapa wartawan sudah ramai meliput mereka sehingga dengan cepat berita tertangkapnya mereka telah tersebar.
Nina yang sedang duduk santai menikmati makan malam tersenyum puas melihat berita itu melalui handphonenya.
"Hah, lihat saja, apakah begal atau anak-anak berandalan geng motor itu bakalan semakin merajalela atau menghilang?" Gumam Nina sambil menghabiskan makanannya.
Sedangkan Tyas dan Rudi, meskipun sudah pulang sekolah, mereka masih heboh ditanyai oleh beberapa teman satu sekolah mereka lewat pesan chat, karena mereka yang sempat di jemput polisi kemudian diantar balik lagi ke sekolah saat siang.
Tyas tampak malu, gara-gara dia yang hanya ingin dekat dengan Rudi malah berujung penangkapan segerombolan geng motor.
"Kamu tuh di sekolah jangan aneh-aneh dulu, fokus belajar. Jangan jadi seperti mamamu," protes Bagas karena mengetahui anaknya sempat dipanggil polisi.
"Apa salahnya aku berteman dengan Rudi, daripada dengan Dedi. Sekarang dia sudah di penjara."
"Kalau dibilangi itu jangan ngebantah, lama-lama sama kamu seperti mamamu,"
"Apa sih, Pa. Kenapa nyamain aku sama Mama terus? Kalau ga mau aku di sini lagi ya udah aku mau pergi aja," rajuk Tyas yang tidak menghabiskan makan malamnya.
Bagas menghela nafas, ia merasa jika Tyas semakin lama semakin melawan dan susah untuk dibilangi. Padahal itu buah dari kurangnya perhatian terhadap orang tua padanya ditambah Tyas yang sudah tahu kebusukan kedua orang tuanya.
"Mama, mama, mama. Biarpun dia mamaku, tapi aku ga mau jadi macam dia. Asik disama-samain terus, kayak dirinya sudah paling sempurna saja. Padahal kalian dua sama bejatnya. Jijik aku," tangis Tyas di kamarnya sambil memeluk guling.
"Andai aja bu Nina izinin aku tinggal di rumahnya, pasti enak. Dia baik dan penuh perhatian, jika menasehati juga bahasanya tidak nyelekit seperti papa," sambungnya lagi masih dengan tangisnya.
Pagi menjelang, Tyas sudah siap berangkat ke sekolah, matanya masih terlihat sembab karena terlalu lama menangis meratapi dirinya sendiri. Dia terus mendiamkan Bagas hingga sampai di sekolahnya.
Setelah pulang sekolah Tyas memutuskan untuk ke rumah Nina, kebetulan dia melihat Rudi belum pulang.
"Rud, pulang bareng yuk. Kebetulan aku mau ke rumah bu Nina."
"Aduh, gimana ya. Bukan aku ga mau."
"Jadi?"
"Ga apa-apa, kamu pergi sendiri aja ya. Maaf," ucap Rudi yang sebenarnya sudah trauma didekati wanita. Bagaimana tidak, gara-gara didekati Tyas dia hampir mati terkena panah beracun yang tepat sasaran mengenai dirinya.
Tyas tampak kecewa, namun tak berani memaksa. Akhirnya dia hanya tersenyum simpul pada Rudi dan membiarkannya pergi.
__ADS_1
Walaupun begitu, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk ke rumah Nina. Dia tetap pergi ke rumah Nina dengan angkutan umum, tanpa disadarinya jika Muti sedang mengawasinya sedari Tyas keluar dari gerbang seklolah.