
Bagas terkejut, tiba-tiba saja seorang pengendara motor terjatuh setelah menyenggol mobilnya.
Tidak ingin disalahkan banyak orang, Bagas segera turun dan melihat orang itu.
"Mas, ga apa-apa? Bagaimana kamu bisa jatuh?"
"Ya Mas nya juga gimana bawa mobil, aduh kaki saya terkilir nih."
Bagas spontan terbingung, dia merasa sudah sangat benar membawa mobilnya, bahkan dia mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Ya sudah, begini saja, Mas. Saya kasih uang buat Mas nya berobat, kita damai ya Mas."
"Ya sudah, sekalian kamu antar saya ke tukang urut naik motor saya."
"Terus mobil saya gimana?"
"Ya nantikan bisa balik lagi, saya mana bisa bawa motor kalau kaki terkilir begini."
"Ya sudah, iya. Saya mau."
Terpaksa Bagas melayani permintaan orang aneh yang membuatnya lumayan kesal. Baru saja hatinya berbunga-bunga karena berjumpa dengan Nina kini malah harus berurusan dengan orang aneh.
"Daripada aku disalahin orang-orang sekitar. Paling seberapa lah biaya urut kaki terkilir doang, terpaksa aku datang terlambat ke kantor," gerutu Bagas dengan membawa motor milik si Orang aneh menurutnya.
Muti yang pulang dengan taksi tidak menyadari mobil suaminya baru saja dilewatinya yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Sampai di rumah Muti segera menuju mobilnya, dia sedang kesal karena belakangan selalu disalahkan terus menerus.
Kini dia membawa mobilnya pergi dari rumah. Dia mendatangi tempat karaoke yang sebelumnya memang sudah janjian dengan teman-temannya.
"Sudah lah, Mut. Lu kan masih cantik. Tinggalin aja Bagas, bukannya lu ahli dalam dunia pelakoran, hahaha."
"Sekarang susah cari laki-laki tajir, kalau pun ada pasti ujung-ujungnya minta lubang juga, terus minta sering-sering jumpaan. Bisa ketahuan dong aku. Mana anakku marahnya ga siap-siap tahu emaknya pelakor. Nyesel aku punya anak."
"Terus gimana?"
"Ya gimana, mau ga mau ikutin kata Bagas aja lah, sayang juga aku uda nemenin dia sampai punya jabatan tinggi di kantornya,"
"Bukannya Nina yang uda nemenin Bagas?"
"Ya di samping itu juga ada aku, sayangnya masih disembunyikan Bagas mulu."
"Hahaha, santai ajalah Beib, kita masih bisa kumpul di waktu-waktu seperti ini, saat anakmu masih sekolah dan suamimu lagi kerja."
"Iya sih, tapi kemarin aku ada jumpa Ferdi, ya biasalah,dia minta jatah terus aku minta uang, asal kalian tahu, Ferdi malah minta aku tinggalin Bagas, ya aku ga maulah, abisnya si Ferdi kalah tajir dari Bagas. Cuma menang batang doang."
Mira dan Cindy tertawa kekeh mendengar keluh kesah Muti, sebenarnya mereka berdua tidak terlalu antusias mendengar cerita Muti, mereka mau diajak jumpa karena Muti yang traktir.
"Kok kalian ketawa sih, ga asyik banget."
"Lagian salahmu sendiri, ngapain mau nikah, bagus-bagus dulu kita bertiga kerja di club."
Satu jam di tempat karaoke mereka memutuskan pindah ke kafe untuk sekalian makan siang, setelah itu Muti pergi duluan meninggalkan Mira dan Cindy untuk menjemput Tyas.
__ADS_1
"Kasihan banget Muti, dikira Bagas setia sama dia. Padahal laki-laki sekalinya pernah belok bakalan terus belok."
"Bener lu, Cind. Aku ingat banget dia pernah bayar aku buat puasin dia. Tapi aku ga kasih tahu Muti, hahaha mana tau mau langganan lagi."
"Hahaha, bener. Aku juga pernah goda dia dan mudah banget tuh ngerayu Bagas. Muti aja yang bodoh, mau-maunya dinikahin, kayak yakin aja warisannya bakalan untuk dia."
Mira dan Cindy terus menggosipkan Muti, teman yang tidak bisa dibilang teman. Alias bermuka dua.
Sedangkan Muti, kini dia telah sampai di depan gerbang sekolah Tyas dan menunggunya keluar.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Tyas yang ditunggu menampakkan dirinya, Muti segera menghampiri Tyas dan memintanya masuk ke mobil.
"Kamu itu bukannya pulang kemarin malah ke rumah orang, seragammu tidak diganti dan sekarang kamu bau asam."
Tyas diam, dia malas mengomentari Mamanya.
"Pasti pikiranmu telah dirusak oleh perempuan itu kan? Sampai begitu kamu diajak bicara orang tua."
"Seharusnya Mama itu berterima kasih dan meminta maaf pada Bu Nina. Bukan terus-terusan menjelek-jelekkannya."
"Bilang apa kamu, Tyas. Tidak perlu kamu bela-bela dia," geram Muti.
"Memang dia pantas dibela, dan Mama yang patutnya disalahkan. Bu Nina baik, dia bahkan menyuruhku untuk pulang tapi aku ga mau, papa dan Mama bising sekali akhir-akhir ini membuatku tidak nyaman di rumah sendiri. Beda dengan di rumah Bu Nina, dia penuh perhatian dan di sana juga tenang."
"Stop Tyas, apapun ceritanya aku mamamu dan dia bukan siapa-siapamu," ucap Muti emosi. Dia bahkan menghentikan mobilnya dengan mendadak.
Tyas terdiam, dia tidak lagi membuka suara hingga sampai ke rumah.
"Syukurlah, Nak Tyas pulang," ucap salah seorang security yang sempat panik saat mengetahui Tyas menghilang satu malaman.
"Tyas, tunggu. Mama ingatkan padamu jangan pernah lagi kamu bahas Nina di depan Mama, mengerti."
Brak...
Pintu kamar dibanting dengan keras membuat siapa saja terkejut saat mendengarnya.
"Oh, melawan kamu Tyas."
Muti membuka pintu kamar Tyas kembali lalu mengambil kunci pintu yang menggantung di lubang kunci dari dalam.
Kemudian dia menutup dan mengunci pintunya dari luar.
"Mama hukum kamu tidak boleh keluar kamar sampai sore."
"Dasar nenek sihir," umpat Tyas dari dalam kamar dengan suara pelan.
Dia memanyunkan bibirnya, apa yang dilakukan Muti padanya sedari di depan sekolah tadi makin membuatnya benci pada Muti.
"Sudah jadi pelakor, tidak becus jadi ibu, ga merasa bersalah sama sekali. Kenapa aku tidak jadi anak bu Nina saja," batin Tyas meratapi nasibnya.
Kini Tyas mengambil handphonenya, dia berniat menelepon papanya dan mengadukan perbuatan Muti padanya. Dia tidak peduli jika kedua orang tuanya akan bertengkar lagi.
Tuuut... Tuuuut... Tuuuut...
__ADS_1
Panggilan tak kunjung dijawab, membuat Tyas menyerah untuk menelepon papanya kembali.
Dor... Dor... Dor...
"Bukaaaaaa aku lapaaaaaar," teriak Tyas dari luar kamar seraya menggedor-gedor pintu secara berulang-ulang.
"Bising, bising Tyas," bentak Muti dari luar kamar.
Pintu kamar dibuka, kini ibu dan anak itu saling bersi tatap dengan pandangan tak suka.
"Kamu makin nakal lama-lama ya, makin besar makin ngelawan dengan orang tua."
"Salah sendiri ga didik anak dengan baik," ucap Tyas dengan santai sambil melengos ke dapur.
Melihat tingkah putrinya, Muti mengepalkan kedua tangannya gemas, namun dia tak ingin berbuat apapun pada Tyas.
Sore menjelang, waktu sudah menunjukkan jam Bagas pulang kerja dan seharusnya sudah sampai di rumah namun batang hidungnya belum juga kelihatan.
Hal itu dibiarkan saja oleh Muti, karena mungkin suaminya yang masih kesal dengannya.
Hingga jam sudah menunjukkan jam tujuh malam lewat lima belas menit.
"Kemana sih, dia," gumam Muti yang mulai mempertanyakan keberadaan suaminya.
Kini dia berjalan ke kamar Tyas yang sudah tidak dikuncinya lagi.
"Tyas, kamu tahu rumah bu Nina, kan? Di mana rumahnya, Mama mau ke sana."
"Untuk apa Mama ke sana?"
"Papamu sedari tadi belum pulang, jangan-jangan dia malah ke sana."
"Jangan samain Bu Nina dengan Mama."
"Jangan buat Mama marah, kamu jawab saja dimana rumah Nina."
"Desa Bambusa, gang kemuning. Tanya aja sama orang sana rumahnya yang mana."
Pintu langsung di tutup kembali, setelah mendapatkan alamat Nina, Muti gegas meninggalkan rumah dan sekarang menuju rumah Nina.
Akhirnya dia sampai di gang rumah Nina, hanya tinggal mencari saja yang mana rumahnya.
"Permisi, Bu. Saya numpang tanya, rumahnya Nina yang mana ya?"
"Nina tukang jahit?"
"Enggak tahu sih dia di sini kerjanya apa, orangnya tinggi tegap, dan putih."
"Oh, iyalah, dia tukang jahit. Ini rumahnya di sebelah saya. Tapi dari tadi pagi dia belum balik," jawab Wati orang yang ditanyai Muti.
"Belum balik? Oh, eem ya udah makasih ya, Bu. Saya permisi."
Dengan memberikan senyuman Muti putar arah keluar gang. Kini dia semakin curiga jika Bagas dan Nina pergi berdua, mengingat sedari pagi Muti juga ditinggalkan begitu saja oleh Bagas, bisa jadi itu dilakukan untuk mengejar Nina.
__ADS_1
"Bodoh, sial*an kamu, Mas. Tahu begini tadi pagi aku ga mau kamu tinggalin gitu aja."