
Pagi begitu cerah membuat alam sekitar terasa sangat gerah di jam sembilan pagi. Nina yang baru selesai menjemur pakaian segera membuka kios jahitnya.
"Permisi, dengan Ibu Nina?"
Nina segera membalik badan dan melihat siapa yang datang.
"Iya, saya sendiri."
Jantung Nina langsung berdebar-debar saat mengetahui yang datang adalah dua orang polisi. Namun sesegera mungkin dia menetralkan perasaannya agar tidak ketara kalau dirinya sedang gugup.
"Jadi begini, Bu. Kedatangan kami ke sini ingin meminta keterangan langsung dari Ibu mengenai kejadian pembunuhan di daerah kebon kosong yang berlokasi tidak jauh dari jalan Wira Bakti. Dari bukti yang kami temukan bahwa salah satu korban sempat merencanakan pembunuhan pada calon korban yang ternyata selamat dan dari hasil CCTV rumah sakit kalau Ibu lah yang menyelamatkan saudara Bagas. Bisa Ibu ceritakan kembali bagaimana Ibu menyelamatkan pak Bagas?"
"Oh, itu. Sebenarnya saya tidak sengaja bertemu mantan suami saya saat baru pulang dari sekolah, Pak. Saya sempat ke SPBU bentar, pas pulang jumpa dia berbelok dengan motor bersama seorang laki-laki ke tempat sepi. Setahu saya mas Bagas tadinya naik mobil. Karena kami sempat berjumpa di sekolah anaknya makanya saya tahu dia tadinya naik mobil. Saya ikutin terus tau-tau dengar suara teriakan. Nah saya turun tuh dari motor dan berlari ke sumber suara, pas sampai di tempat kejadian saya lihat mas Bagas sudah tergeletak pingsan di depan rumah kosong. Cepat-cepat saya tolong dan saat itu saya ga tau apa di dalam rumah itu ada orang atau tidak. Yang saya pikirkan keselamatan mas Bagas dulu. Jadi langsung saya bawa aja dia ke rumah sakit. Masalah pembunuhan itu saya ga tau sama sekali, Pak," jelas Nina berbohong.
"Jadi Ibu sendiri tidak tahu siapa orang yang sebelumnya bersama pak Bagas?"
"Sama sekali tidak, Pak. Saya langsung cepat-cepat pergi dari tempat itu saat tahu mas Bagas sudah tidak sadarkan diri. Saya cuma melihat ada motor matic di depan rumah itu, itu saja, Pak."
"Baik lah, Bu. Terima kasih atas informasinya. Kami permisi."
Tanpa curiga sama sekali kedua polisi itu langsung pergi. Apa yang diceritakan Bagas juga Nina saling berkaitan dan tidak berbelit-belit membuat polisi percaya jika bukan Nina pelaku pembunuhan Ferdi dan Andi.
"Kak Nina, ada apa kok ada polisi?" Tanya Wati yang langsung kepo.
"Cuma dimintai keterangan aja kok, Wat."
"Masalah apa memangnya, Kak?"
"Iya, kemarin aku sempat nolongin papanya Tyas, cuma ditanyai doang gimana ceritanya."
"Papanya Tyas kenapa, Kak?"
"Hampir dibegal kayak nya. Intinya gitu deh."
Mendengar kata begal membuat Wati jadi terus nimbrung di rumah Nina dan menggali informasi lebih dalam tentang Bagas.
Sedangkan Bagas hari ini sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Dia pulang sendiri tanpa di jemput Muti, itu karena Muti tidak diberi tahu kalau Bagas pulang hari ini.
Bagas tidak langsung pulang ke rumah melainkan menjemput mobilnya terlebih dahulu baru dia pulang ke rumahnya.
"Mas, kamu uda balik?"
"Siapa yang suruh kamu masih tinggal di sini, pergi! Kau bukan istriku dan secepatnya akan ku urus perceraian kita."
"Ga, ga bisa. Aku ga mau cerai."
"Kenapa ga bisa, pergi kamu dari rumahku."
Dengan kasar Bagas menarik tangan Muti kemudian meminta sekuritinya mengeluarkan Muti dari rumah.
"Hei, lepas. Kamu apaan sih. Aku majikan kamu," amuk Muti saat dipaksa keluar.
"Maaf, Bu. Tapi yang menggaji kami pak Bagas."
__ADS_1
Kini Muti sudah di luar dan pintu gerbang langsung ditutup kembali, tidak ada apapun yang dibawanya selain handphone yang ada di sakunya.
"Oke, kamu usir aku, Mas? Akan ku balas perbuatanmu. Aku pastikan kau tidak akan pernah melihat Tyas lagi, dan aku Akan menuntut uang nafkah yang banyak agar hartamu tetap abis diaku. Tunggu saja," gerutu Muti kesal.
Dia memesan taksi online dengan sisa saldo digital yang masih lumayan di aplikasi handphonenya kemudian pergi menuju sekolah Tyas.
Ditunggunya Tyas sampai pulang sekolah, tetap bertahan walaupun bosan sampai akhirnya tiba waktu Tyas pulang sekolah.
Muti menunggu Tyas di depan gerbang hingga beberapa menit menunggu, Tyas pun menampakkan dirinya.
Tyas yang melihat mamanya ada di depan gerbang merasa malas, karena rencananya untuk bisa main ke rumah Nina menjadi gagal.
"Tyas, ayo ikut Mama. Kita pulang ke rumah nenek."
"Rumah nenek? Ga mau, nenek cerewet. Aku mau ke rumah papa aja."
"Papa uda ga terima kehadiran kita lagi di sana. Lebih baik kamu ikut Mama. Memangnya siapa yang mau menerima kamu lagi selain Mamamu?"
"Ada, Bu Nina. Dia baik."
"Dia lagi, dia lagi. Dia bukan siapa-siapa kamu. Jangan membantah dan ayo ikut Mama."
Muti asal menarik pergelangan tangan Tyas, tanpa pedulikan Tyas yang menahan sakit akibat tarikan itu.
Tiba-tiba tarikan berhenti saat Bagas ada di depan Muti dan Tyas.
"Jangan harap kamu bisa bawa, Tyas. Dia akan ikut bersamaku."
"Gak, dia anakku. Aku yang melahirkan dia."
"Iya, aku mending ikut Papa saja."
"Tyas, kamu harus ikut Mama."
"Kamu dengar sendiri, Muti. Biar hakim yang akan memutuskan nanti. Tyas bisa memilih akan ikut siapa karena dia bukan anak kecil lagi."
Bagas menepis tangan Muti yang masih memegang Tyas. Pegangan terlepas dari tangan Muti dan beralih ke tangan Bagas.
Tanpa ditarik, Bagas menuntun Tyas masuk ke dalam mobil.
Muti yang marah hanya bisa mendengus kesal dengan nafasnya yang naik turun menahan emosi.
Dia ingin teriak tapi malu karena banyak para siswa maupun guru yang baru keluar dari gedung sekolah.
Bagi Tyas, walaupun baginya sifat Mama dan Papanya sama saja, dia masih ingin ikut Papanya karena tahu jika Papanya pasti tidak akan melarangnya main ke rumah Nina.
Berawal dari rasa bersalahnya karena ulah mamanya kini Tyas malah suka dekat-dekat dengan Nina yang welcome dan dirasanya baik dan Penyayang.
Sampai di rumah, Tyas langsung ganti baju, makan siang, dan istirahat.
Lagi asyik rebahan di kamarnya, tiba-tiba pintu kamar Tyas ada yang mengetuk.
"Tyas, boleh Papa masuk?" Ucap Bagas dari luar kamar.
__ADS_1
"Masuk aja, Pa."
Tyas yang tadinya berbaring langsung ganti menjadi posisi duduk.
"Kenapa, Pa?"
"Kamu tahu rumah bu Nina, kan?"
"Tahu, memangnya kenapa? Papa mau ke sana?"
"Iya, Papa mau ucapkan terima kasih padanya karena pernah menyelamatkan kamu dari begal."
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Tyas yang hari ini merasa gagal main ke rumah Nina merasa senang mendengar Papanya akan ke sana.
"Tahu, tapi aku boleh ikut kan?"
"Boleh sekali, tapi ga sekarang. Tapi nanti saat makan malam. Kita bawakan bu Nina makanan ke rumahnya."
"Wah, ide bagus tuh Pa. Pasti bu Nina senang dibawain sesuatu. Soalnya selama ini dia sudah baik sama aku."
Bagas tersenyum, tidak menyangka kalau Nina dan Tyas sudah sedekat itu. Dia merasa hal ini menjadi kesempatan emas untuknya mendapatkan Nina kembali menjadi istrinya dan dapat melihat Satya kembali. Satya anaknya yang tidak diketahui oleh Bagas jika dia sudah meninggal.
Sore menjelang, Bagas dan Tyas sudah bersiap-siap ke rumah Nina. Sebelum sampai ke rumah Nina mereka sempatkan membeli makanan terenak di restoran favorit para kaum elit.
Mereka berdua sampai di rumah Nina tepat setelah habis maghrib.
Dengan antusias, Tyas turun dari mobil dan segera mengetuk rumah Nina yang tanpa pagar.
"Bu Nina, Bu," panggil Tyas dengan perasaan senang.
Tok... Tok... Tok...
"Bu Nina, Bu. Ini Tyas, Bu," panggil Nina kembali.
Senyap, ditambah kios jahit yang selalu ditutup saat waktu maghrib membuat seakan tidak ada orang di rumah.
"Kok kayaknya ga ada orang ya, Tyas."
"Tyas ga tau, Pa. Coba Papa tunggu sebentar. Tyas mau ke rumah bu Wati dulu, siapa tahu Bu Wati tahu bu Nina kemana."
Bagas mengangguk dan membiarkan anaknya pergi ke sebelah rumah Nina.
"Bu Wati, Bu."
Tanpa menunggu waktu lama, pintu rumah Wati terbuka.
"Eh, Tyas. Ada apa, Nduk"
"Ini Bu, Tyas mau ke rumah bu Nina. Tapi kok kayaknya Bu Nina ga ada di rumah. Soalnya dari tadi dipanggil ga ada sahutan sama sekali. Ibu tahu ga bu Nina kemana?"
"Loh, masa sih dia ga ada di rumah. Tadi sebelum maghrib Ibu masih sempat lihat dia tutup kios. Ibu ga tahu juga dia ada di rumah apa enggak, Tyas. Setelah tadi sebelum maghrib nampak dia setelah itu ga tau lagi sampai sekarang, ke warung kali," jelas Wati jujur.
Tyas mengkerut kan keningnya, bingung. Dia memutuskan segera kembali pada Papanya setelah meminta izin pada Wati.
__ADS_1
Bagas dan Tyas pun menunggu Nina di depan rumahnya, berharap apa yang dikatakan Wati benar. Jika Nina sedang ke warung sebentar.
Padahal, sebenarnya Nina sedang berada di dalam rumah. Dirinya sedang ada di dapur, tetapi bukan untuk memasak ataupun makan malam melainkan sedang di todong pisau oleh seseorang dengan jarak satu meter di depannya.