
"Hah, loh kok Ibu kenal aku? Ibu siapa?" Tanya Tyas penasaran.
Selama ini memang Tyas tidak pernah tahu siapa Nina juga Satya, dia juga belum pernah berjumpa dengannya karena memang direncanakan oleh Muti juga Bagas agar Tyas tidak mengenali Nina ataupun Satya.
Berbanding terbalik dengan Nina yang sudah mengetahui siapa Tyas.
"Tidak usah dipikirkan, Ibu antar kamu ke rumahmu sekarang."
"Tunggu dulu, Bu. Apa jangan-jangan Ibu mantan istri papaku, ya?"
Nina tidak menjawab, dia segera menstarter motornya kembali dan berniat segera mengantarkan Tyas pulang ke rumahnya.
"Ibu kok ga jawab, berarti benar kan, Bu?"
Nina tetap diam, dia tidak mempedulikan ocehan Tyas yang sedang diboncengnya.
"Bu, aku ga mau pulang. Aku mau ikut Ibu aja. Aku ga mau jumpa mama dan papa."
"Tapi mereka orang tuamu, apapun masalahmu dengan mereka kau harus pulang."
"Tapi aku ga mau pulang, mama dan papa belakangan ribut terus di depanku semenjak meninggalkannya kakakku. Papa selalu saja membandingkan mama dengan mantan istrinya sehingga membuat mama marah. Dan disitu aku baru tahu kalau aku anak seorang pelakor. Aku malu, Bu. Aku benci mamaku, dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali. Aku ga mau pulang, di rumah tidak ada lagi kenyamanan. Aku mau ikut Ibu ya, sehari aja?" Mohon Tyas.
"Terus kalau orang tuamu marah bagaimana? Ibu bisa jadi kena masalah."
"Nanti aku yang bilang sendiri kalau ini mauku."
Nina mendengus dan akhirnya dia luluh dengan keinginan Tyas yang dirasanya kehilangan sandaran.
Nina dapat merasakan kepolosan Tyas yang hanya menjadi korban akibat keegoisan orang tuanya.
Nina putar haluan, hal itu membuat Tyas merasa lega karena ia tak jadi diantar pulang.
Nina sampai di rumah tepat setelah selesai azan isya. Dia mempersilahkan Tyas masuk dan memintanya makan malam bersamanya.
"Jadi, karena itu kamu pulang sampai maghrib?" Selidik Nina.
"Iya, Bu. Tapi laki-laki tadi cuma temanku, dia bukan pacarku."
"Kenapa papamu sampai membandingkan mamamu dengan Ibu?"
__ADS_1
"Itu karena mama yang gagal dengan perannya sebagai ibu. Kakakku yang baru meninggal terlibat geng motor dan mengetuai geng tersebut membuat papa semakin menyalahkan mama."
"Oh, habiskan makanmu."
"Bu, sebenarnya aku ga enak. Tapi beneran deh, aku benci mama. Maafin aku, anak pelakor ini merepotkanmu, dan terima kasih sudah menyelamatkan Tyas dari dua orang begal tadi."
"Jangan pikirkan, kamu tidak bersalah sama sekali, yang terpenting jangan kamu ikuti jejak mamamu, kamu juga seorang wanita, Tyas. Suatu saat kamu akan tahu sakitnya jika ketulusan dibalas pengkhianatan."
Tyas mengangguk, dia melanjutkan makannya. Tampak sekali kalau dirinya sedang kelaparan dengan melahap dengan cepat apa yang sudah dihidangkan untuknya.
Nina melihat Tyas dengan teduh, Tyas gadis yang masih polos dan masih membutuhkan arahan orang tuanya. Apalagi dia sedang menjalani masa puber.
"Memang Muti adalah wanita bodoh, dia mementingkan urusannya sendiri tanpa peduli bagaimana anaknya sekarang. Walaupun Tyas bukan anakku, sungguh aku melihat anak itu mempunyai hati yang baik, tidak seperti mamanya," batin Nina.
"Oh iya, Bu. Kalau ga salah papa pernah bilang kalau Ibu punya anak. Mana anaknya? Anak Ibu juga saudaraku, bukan? Karena kita satu ayah."
Nina terdiam, kini wajahnya terlihat sendu, netranya melukiskan kembali wajah Satya yang sudah berbeda alam dengannya.
"Yah, kamu benar, Tyas. Seharusnya dia juga ada di sini, makan bareng dengan kita."
Tyas mengkerutkan keningnya, dia tidak paham dengan apa yang diucapkan Nina.
"Dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Ya sudah, tidak usah dibahas lagi. Kamu habiskan makananmu. Setelah itu kau bisa istirahat di kamar itu," Nina menunjukkan kamar Satya yang sudah lama kosong.
Sementara itu, Muti dan Bagas tengah kebingungan mencari Tyas.
"Kamu itu makin ga beres ya, sudah tahu anak dari siang ga pulang bukan dicari malah dibiarin. Kebiasaan kamu itu, ngelunjak tidak menentu."
Muti yang dimarahi Bagas hanya bisa diam dan resah. Di sisi lain dia juga merasa jengkel karena Tyas yang pergi entah kemana.
"Mana musim begal lagi," oceh Bagas geram.
Dia sibuk menelepon seseorang juga menanyakan teman-temannya di mana Tyas. Tapi semua menjawab tidak tahu.
"Begini saja, Mas. Besok pagi-pagi sekali kita ke sekolahnya. Terus kita tanyai teman-teman satu kelasnya dan guru di sekolah itu."
"Diam kamu, kenapa baru sekarang kamu bicara, kalau aku tidak menanyakan dimana Tyas kamu juga ga peduli."
Bagas melengos pergi meninggalkan Muti yang terpaku di ruang tengah.
__ADS_1
Sampai hari kembali pagi, Bagas dan Muti memutuskan untuk pergi ke sekolah Tyas.
Mereka sampai di sekolah sebelum bel masuk, saat hendak masuk ke dalam gerbang, Muti melihat Tyas di bonceng oleh seseorang yang tidak disadarinya kalau orang itu adalah Nina.
"Mas, itu Tyas. Berhenti."
Melihat beneran ada Tyas, Bagas meminggirkan mobilnya kemudian ikut turun menyusul Muti.
"Tyas, kamu kemana aja, Mama itu dari semalam cari-cari kamu?"
"Apa sih, Ma. Ga usah teriak-teriak. Aku malu dilihatin orang-orang, aku semakin benci sama Mama."
"Ngomong apa kamu? Hei, kenapa anak saya bisa sama kamu?" Tuding Muti pada Nina.
Nina yang sedari tadi memakai helm membuka helmnya, kini Muti tau pergi dengan siapa Tyas anaknya, dan itu membuatnya terkejut.
"Nina," ucap Bagas yang membuatnya bersi tatap pada mantan istrinya.
"Tyas, kamu urus masalahmu dengan orang tuamu, Ibu sudah tidak ada urusan lagi denganmu."
Nina buru-buru pergi dari gerbang sekolah, dia tidak ingin berlama-lama berjumpa dengan kedua orang yang pernah sukses menghancurkan hatinya.
"Jelasin sama mama, kenapa kamu bisa sama dia?" Pinta Muti memaksa.
"Ya bisa aja, semalam aku hampir mati kena begal. Untung saja ada Ibu itu, aku diselamatkan dia dan minta ke rumahnya aja. Abisnya aku punya mama sibuk sendiri, sedari pulang sekolah aku teleponin Mama tapi Mama terus-terusan ga angkat, iya kan?"
Tyas melengos masuk ke dalam lingkungan sekolah, ia tidak mempedulikan orang tuanya yang masih ada di depan gerbang.
"Sekali lagi kau buat masalah, aku akan benar-benar menceraikanmu dan jangan harap Tyas ikut bersamamu yang tak becus jadi Ibu." ucap Bagas penuh penekanan. Dia kemudian pergi meninggalkan Muti dan segera berangkat kerja.
Lagi-lagi Muti kesal, seperti sampah dia ditinggalkan oleh Bagas begitu saja di depan sekolah anak mereka.
Sedangkan Bagas, hatinya sedikit berbunga-bunga, orang yang belakangan ini di rindukannya hari ini telah menampakkan diri di depannya.
Bagas sudah berniat akan memanfaatkan Tyas untuk bisa berjumpa dengan Nina kembali yang selama ini tidak diketahui lagi di mana tinggalnya.
Brak....
"Aaaaa aduh, sakit."
__ADS_1