
Chapter 10
_____________
Bella mengantar Mamanya menuju Taksi Online yang sebelumnya sudah sengaja dipesan.
"Ra, Mama pulang dulu. Kamu sehat-sehat dan kuliahnya yang rajin, ya, nak."
Bu Ika dan Bella berpelukan sejenak, lalu melerai pelukan itu seraya tersenyum hangat satu sama lain. Bella pun mengangguki perintah sang Mama.
"Oh, iya, sebelum Mama lupa... ingat pesan Mama kalau kamu jangan campuri urusan Felix lagi. Masalah janji kamu sama dia juga jangan dipikirkan lagi. Itu semua sudah masa lalu," Bu Ika mencoba memperingati Bella untuk yang kesekian kalinya.
"Iya-iya, Ma," jawab Bella dengan nada malas karena sang Mama selalu mengulangi kalimat yang sama--entah sampai berapa kali dalam sehari ini saja.
"Gampang banget Mama minta aku ngelupain janji itu. Felix pasti bakal nguber-nguber aku terus. Belum lagi akibat apa yang bakal aku terima kalo seenaknya ngebatalin janji itu," batin Bella, ia bergidik membayangkan kemarahan Felix.
Setelah memastikan sang Mama duduk dengan nyaman di Taksi, serta semua barang tidak ada yang tertinggal, taksi itu pun perlahan-lahan mulai berjalan--bergerak menjauh dari penglihatan Bella.
Bella melambaikan tangan kearah Taksi yang semakin lama mulai menghilang dari pandangan matanya.
Hari beranjak siang, Bella kembali memasuki kamar kos-nya. Ia merasa hari ini adalah hari minggu yang melelahkan, padahal Bella tidak kemana-mana dan hanya menghabiskan waktu dikamar bersama sang Mama.
Bella menutup pintu kamar dan menguncinya, lalu dia pun berbalik ke arah meja belajar, betapa terkejutnya dia saat menyadari ada sosok lain yang tengah tertidur di ranjangnya. Bella terkesiap dan refleks mundur sambil menggelengkan pelan kepalanya berulang kali.
"K-kamu, siapa?" tanya Bella sambil ketakutan.
Bella ingin menjerit karena dihadapannya kini ada sosok lelaki yang terbaring seraya menatapnya dengan lekat.
Bella tidak mengenal siapa lelaki itu, wajahnya memang sangat tampan dan cukup membuat Bella terkesima, tapi siapa lelaki ini? Kenapa dia masuk kedalam kamar kos Bella tanpa permisi? Belum lagi dia dengan seenaknya tidur di ranjang Bella dengan ber-te-lanjang dada. Apa dia berniat jahat pada Bella?
"Siapa kamu?"
Lagi-lagi suara Bella menanyakan siapa lelaki itu, karena lelaki itu tak kunjung menjawabnya. Walau Bella ingin menjerit sekarang, tapi entah kenapa dia tidak bisa melakukannya.
"Jangan mendekat!" ucap Bella seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat saat lelaki itu bangkit dan mulai menghampiri posisinya.
Lelaki itu tersenyum miring, auranya yang sangat dominan membuat ruangan kamar Bella terasa gerah seketika. Bella mengerutkan dahinya, keringatnya pun mulai terasa membasahi anak-anak rambutnya.
"Kamu udah bisa melihat sosokku yang sesungguhnya sekarang?" tanya lelaki itu pada Bella.
"Hah? Tunggu...." Bella menjulurkan sebelah tangannya sebagai isyarat agar lelaki itu tidak semakin mendekat ke arahnya, Bella ingin berpikir dulu sekarang, karena suara lelaki ini sangat tidak asing di indera pendengarannya.
Lagi, lelaki itu tersenyum miring. Lelaki itu kemudian diam dan tak berjalan lagi ke arah Bella. Sekarang laki-laki itu malah bersedekap dada seakan menunggu Bella yang tampaknya sedang berpikir dan mencerna semua ini.
"Apakah kamu--?" Bella menghentikan ucapannya sendiri tatkala pikirannya sudah mendapatkan jawaban akan siapa sosok lelaki dihadapannya ini.
"Tidak mungkin." Bella menutup mulutnya yang ternganga akibat rasa tidak percayanya.
__ADS_1
Lelaki itu menggaruk tengkuknya sendiri, ia bingung melihat sikap Bella, kemudian dia mengangkat bahunya dengan santai, bersikap cuek dan kembali berbaring di ranjang Bella tanpa rasa bersalah.
"Hei... jangan tidur diranjangku!" hardik Bella, sesungguhnya dia masih syok tapi melihat sikap lelaki itu membuatnya sedikit geram.
"Lalu aku mau tidur dimana lagi? Ranjang disini cuma satu," jawab lelaki itu menggerutu.
"Kamu bisa tidur dilantai atau menyewa di kamar kos yang lain," ucap Bella, sekarang dia sudah menguasai keadaan dan melihat tingkah tengil lelaki dihadapannya ini, dia menjadi hilang kesabaran.
"Mana bisa, aku tidak seperti kamu." Lelaki itu kembali dalam posisi duduk, bibirnya mencebik seolah sedang merajuk. Bella memutar bola matanya melihat tingkah lelaki itu.
"Lalu selama ini kamu tidur dimana? Ya ikuti saja kebiasaan lamamu!" jawab Bella tak mau kalah, Bella mengambil air minum dan menenggak habis air dalam gelasnya.
"Selama ini ya aku tidur disini. Di ranjang yang sama dengan kamu. Tapi, kamu tidak melihatku karena aku tidak menunjukkan diri," jawab lelaki itu membuat Bella menyemburkan air minumnya saat itu juga karena terkejut.
"Sekarang tidak bisa! Kamu harus cari tempat yang lain."
"Kenapa begitu? Aku sudah tidur diluar kemarin, selama Mamamu menginap disini," jawab lelaki itu lagi.
"Lalu bagaimana jika ada yang melihatmu tidur diranjang yang sama denganku, Felix?" Bella melotot kearah lelaki yang ternyata adalah wujud asli seorang Felix.
"Tidak ada yang bisa melihatku kecuali kamu! Sudahlah aku ingin tidur," jawab Felix tak acuh.
"Ku pikir dengan kamu bisa melihat wujudku yang asli, kamu gak akan keberatan berbagi ranjang denganku. Ternyata aku malah diusir!" gumam Felix yang masih bisa didengar oleh Bella.
Bella menghela nafasnya, ia malas menjawab lagi gumaman Felix. Ia duduk di satu-satunya sofa single yang ada disudut kamarnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya disana seraya memijat pangkal hidungnya yang mendadak terasa nyeri.
"Bagaimana jika aku tidak bisa menepati janji untuk membantumu?" tanya Bella, setelah keheningan yang sempat terjadi.
Felix yang baru saja memejamkan matanya itu pun kembali membuka mata.
"Kamu belum mencobanya," jawabnya datar.
"Kalau aku sama sekali tak mau mencobanya?"
"Berarti kamu mengingkari janji," ucap Felix lagi.
"Kalau aku mengingkari janji. Apa yang akan terjadi padaku?"
Felix terdiam dalam pikirannya sendiri, ia mendengkus seolah tak suka dengan pertanyaan yang Bella ajukan.
"Jika kamu mengingkari janji itu, sebenarnya tidak ada untung atau ruginya bagimu."
Bella terkesiap mendengar ucapan Felix. Matanya kini menatap Felix yang baru sekali ini dilihatnya dalam tampang berwujud manusia. Wajah tampan itu terlihat sendu. Alisnya yang tebal bertaut satu sama lain, menunjukkan sikap kebingungannya untuk menjawab semua yang Bella pertanyakan.
"Berarti aku memang tak harus menepati janji itu, kan?"
Felix menggeleng, ia tak mau membalas tatapan Bella, ia menunduk seraya menumpukan kedua siku dilututnya yang tertekuk karena posisi duduk. Lelaki itu tampak sedang berfikir keras.
__ADS_1
"Semua itu terserah padamu. Kamu menepatinya atau tidak, itu adalah hak mu. Aku hanya bisa menunggu, tapi jika sampai sekarang pun kamu tidak mau, aku bisa apa?" Felix tersenyum kecut, disaat yang bersamaan sorot matanya beradu dengan mata lentik milik Bella, membuat Bella gelagapan sendiri karena pandangan mata Felix yang menggetarkan perasaannya.
"Ehm, jika itu tidak berdampak untukku. Lalu apa dampaknya untukmu jika aku tidak menolongmu?" tanya Bella, ia membalas tatapan mata Felix, membuat mereka saling bertatapan satu sama lain dan mengunci tatapan itu.
"Mungkin aku akan menjadi roh gentayangan terus. Tubuh asliku akan terus dikuasai makhluk jahat itu dan lambat laun, jika dia sudah muak dengan tubuh itu, disaat itulah aku benar-benar akan mati dan musnah," ucap Felix yang membuat Bella ikut merasakan ketidak-adilan yang diderita Felix selama ini.
"Ini sudah bertahun-tahun, Ra. Dan pasti sebentar lagi makhluk itu akan bosan dengan tubuh itu." Felix mengusap kasar wajahnya.
Bella mendekat kearahnya dan ikut duduk disamping Felix, Bella merasa tak enak hati sudah mencoba mengecewakan Felix. Pasti selama bertahun-tahun Felix sangat berharap besar pada Bella, sampai dia menunggu saat yang tepat untuk memperlihatkan diri dihadapan Bella yaitu saat ini.
"Kalau kamu memang tidak mau menepati janji itu dan membantuku, itu adalah hakmu. Aku tidak mungkin memaksamu," ucap Felix lembut seraya menatap Bella yang sudah duduk disampingnya.
"A-aku akan mem-membantumu," jawab Bella gugup saat pandangan mata mereka kembali beradu dalam jarak dekat.
Sudut bibir Felix tertarik keatas, lelaki itu tersenyum simpul. "Sejujurnya aku juga tidak mau meminta bantuanmu. Jika saja bisa, aku akan meminta bantuan orang lain. Tapi itu tidak bisa," ucap Felix.
"Kenapa kamu tidak mau menerima bantuanku?"
"Karena aku juga takut semua ini akan menyakiti kamu nanti."
Tiba-tiba tangan Felix terulur, ia membelai lembut pipi Bella. Bella terbuai untuk sesaat karena sikap Felix.
"Kenapa tidak bisa meminta bantuan orang lain? Kenapa harus aku?" tanya Bella lagi.
Felix menggeleng. "Menurut Ki Lanang, orang yang bisa membantuku adalah orang yang memiliki ikatan padaku."
"Ki Lanang?" tanya Bella tak tahu siapa yang dimaksudkan Felix.
"Ya, dia seperti lelembut ataupun penguasa yang dihormati di tempat tinggalku," jawab Felix.
"... Jika saja aku memiliki saudara, mungkin saudaraku yang bisa membantuku, karena kemungkinan dia juga bisa melihatku. Tapi, aku tidak punya saudara. Dan Ibuku, bagaimana mungkin dia mau membantuku sedangkan dia sendiri yang menggadaikan raga ku pada makhluk jahat itu? Satu-satunya yang memiliki ikatan denganku adalah kamu, Ra." lanjut Felix.
"Aku mengerti, aku akan membantu kamu," ucap Bella tulus.
Bella pun refleks menepuk-nepuk punggung tangan Felix, ia berharap dengan begitu Felix akan sedikit lebih tenang.
"Terima kasih."
Felix dengan sengaja menangkap tangan Bella yang tadi menepuk lembut tangannya, Felix menggenggam jemari gadis itu seraya menatap intens pada Bella. Bella menjadi gugup kembali akibat tatapan Felix.
"A-aku mau ke kamar mandi," ucap Bella menghindari Felix. Mau tak mau, Felix pun melerai genggaman tangannya dengan berat hati.
"Ehm, itu... eh pakai bajumu. Jangan berte-lanj-ang dada seperti itu nanti kamu bisa masuk angin," icap Bella seraya berlalu menuju kamar mandi.
Felix terkekeh. "Aku memang tidak punya baju. Ritual yang dilakukan ibuku mengharuskanku seperti ini, membuat penampilanku jadi begini," jawab Felix sambil memekik agar Bella yang sudah berada didalam kamar mandi dapat mendengar suaranya.
...TBC......
__ADS_1