Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
23. Melacak


__ADS_3

Chapter 23


___________


Fredy benar-benar datang kembali ke rumah lama Mama Neni setengah jam kemudian, tentu tetap bersama Felix.


Untungnya, wanita setengah baya yang tadi pagi tengah berbincang dengan Mama Neni masih berada disana.


"Selamat pagi, Bu..." sapa Fredy bersikap ramah-tamah.


"Ya..." jawab wanita paruh baya itu dengan senyuman merekah, sepertinya dia sudah diwanti-wanti oleh Mama Neni perihal kedatangan Fredy kerumah ini.


"Dengan Den Fredy, ya?" tanya wanita itu memulai pembicaraan, dan semakin menguatkan keyakinan Fredy jika wanita ini sudah diberitahu oleh Mama Neni perihal siapa Fredy sebenarnya.


"Kok tahu?" tanya Fredy berlagak bodoh.


"Iya, soalnya wajahnya mirip Den Felix."


"Felix itu... kembaran saya ya, Bu?" tanya Fredy kembali bersikap tak mengetahui apapun, jadi kalaupun nanti wanita paruh baya ini melaporkan sesuatu pada majikannya alias Mama Neni, wanita ini tidak akan mengadukan hal yang dapat membuat Mama Neni menjadi curiga dengan kedatangannya.


"I-iya, Den. Kata Nyonya sih begitu... Aden mau ketemu sama Nyonya Neni ya?" tanya wanita itu.


Fredy mengangguk mantap, sementara Felix yang berada disana hanya bersedekap dada seraya menyaksikan akting Fredy didepan wanita ini.


Oke, kita lanjutkan rencana sesuai rencana awal.-Felix


"Bisa saya minta alamat Mama yang baru? Karena katanya rumah ini sudah lama tidak ditempati, ya?" tanya Fredy.


"Pesan Nyonya Neni, kalau Aden mau menemui beliau, maka Aden harus membuat janji dulu."


Fredy mengernyit dengan alis tertaut, apakah menjumpai Mamanya pun harus seperti menjumpai presiden? Fredy menghela nafas perlahan-lahan, mencoba mengontrol emosi padahal dia ingin sekali marah saat ini.


Mama, bisa-bisanya seperti ini? Padahal Mama sudah tahu kedatanganku. Apa Mama tidak mau bertemu dengan anak yang sudah lama terpisah? Apa tidak ada kerinduan dihati Mama untukku?


Lagi-lagi Felix tahu isi kepala Fredy yang penuh harapan itu.


"Baiklah, kapan kira-kira saya bisa bertemu dengan Mama?" tanya Fredy serius.


"Minggu depan, Den."


"Lama sekali..." gerutu Fredy sambil mengacak rambutnya.


Si wanita setengah baya hanya bisa tersenyum kecil tanpa menjawab.


"Bagaimana kalau nomor ponsel? Bisakah saya minta nomor ponsel Mama?" tanya Fredy dengan tatapan penuh harap membuat wanita setengah baya itu sedikit tersentuh hatinya.

__ADS_1


"Sebenarnya Nyonya gak ada pesan soal ini sih. Tapi berhubung Aden memang adalah anaknya Nyonya, saya rasa itu tidak masalah jika Aden tahu nomor ponselnya. Sebentar ya, Den. Saya ambil HP saya dulu," kata wanita itu.


Fredy dan Felix saling menatap penuh arti, kemudian satu senyuman miring tersungging dari sudut bibir keduanya.


Tak berapa lama, nomor ponsel itupun sudah disimpan dengan baik di phonebook milik Fredy.


Setelah mengucapkan salam dan rasa terima kasih pada si wanita, Fredy segera bergerak meninggalkan kawasan rumah lama sang Mama.


"Apa lagi sekarang?" tanya Felix menatapi Fredy yang mulai fokus menyetir.


Fredy tersenyum miring, rencananya sudah diubun-ubun sekarang dan sebenarnya Felix sudah tahu rencana Fredy itu tapi Felix tetap berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan saudara kembar identiknya itu.


"Kita lacak keberadaan Mama lewat nomor ponselnya ini," kata Fredy pelan namun terdengar antusias.


"Briliant idea..." gumam Felix.


...👻👻👻👻👻👻👻...


Sekarang, tibalah Fredy dan Felix disebuah rumah yang asri namun tak terlalu besar, ini adalah rumah kenalan Fredy yang sebelumnya telah dia hubungi untuk meminta bantuan.


Fredy turun dari mobilnya, begitupupa dengan Felix yang diam mengikuti rencana Fredy. Selama rencana Fredy tak melenceng dan lari jalur maka Felix akan selalu mendukung saudaranya itu.


Mereka bertemu dengan seorang wanita cantik berkulit eksotis, namanya Nayra. Nayra adalah seorang hacker. Dia memiliki keahlian dalam bidang menyadap semua yang berhubungan dengan CCTV, nomor ponsel dan alat-alat telekomunikasi lainnya. Dia bahkan bisa menyadap sinyal dan informasi penting di dalam Negara.


Fredy tanpa basa-basi langsung menyapa Nayra dan gadis itu menyambut kedatangan Fredy dengan senyum hangat yang semringah.


"Thank you, Nayra.." Kata Fredy mengakhiri sesi pertemuannya dengan gadis manis itu.


Felix melihat interaksi keduanya, dan Felix menyimpulkan jika Nayra memiliki kertarikan sendiri pada saudara kembarnya itu, sementara Fredy sendiri hanya menganggap Nayra selayaknya teman biasa.


"Sama-sama, Frey...seringlah berkunjung ke rumahku," kata Nayra ramah.


Fredy hanya tersenyum tipis, dia tidak tertarik sama sekali. Berbanding terbalik dengan sikapnya pada Bella yang Felix tahu pasti bahwa saudaranya ini memiliki perasaan lebih pada Bella.


Tidak perlu melihat ke isi hati Fredy, tapi dari sorot matanya saja pun Felix sudah tahu jika Fredy memiliki rasa pada tunangannya itu.


"Dapat?" tanya Felix mencoba berbicara biasa pada Fredy.


Fredy mengangguk. "Tidak sulit," kata Fredy percaya diri sembari menunjukkan sebuah lipatan kertas yang berisi alamat utama sang Mama.


"Lalu, kemana kita sekarang?" tanya Felix.


"Langsung kesana... kita gak punya banyak waktu."


Fredy langsung melajukan lagi mobilnya menuju alamat yang sudah dia ketahui.

__ADS_1


"Kau antusias sekali. Sepertinya kau sangat merindukan wanita itu?" cibir Felix.


"Wanita itu?" tanya Fredy mengernyit.


"Mamamu..."


Fredy menggeleng. "Mamamu juga kan?" katanya.


"Dia sudah ku lupakan sejak lama," akui Felix.


Dan Fredy hanya tersenyum kecut tanpa menyahuti lagi ucapan saudaranya.


Mereka melanjutkan perjalanan sampai-sampai Fredy melewatkan makan siangnya. Dia sudah tak berselera sama sekali. Tujuannya hanya satu, menemukan dan bertemu dengan sang Mama. Kalaupun dia beruntung hari ini, mungkin dia bisa bertemu dengan roh jahat yang kini tengah bermain-main dengan raga milik Felix.


Mereka tiba disebuah rumah yang besar dan mewah, dengan desain klasik dan terdapat pilar yang sangat mencolok. Itu adalah rumah yang ditempati oleh Mama Neni sekarang. Sepertinya Mama benar-benar kaya raya.


"Kau tidak usah turun, aku takut kau akan bertemu dengan roh itu. Kita tidak tahu pasti dia ada dirumah atau tidak, tapi jika dia dirumah, pasti dia bisa melihatmu juga," kata Fredy mengingatkan Felix.


"Ya, aku disini saja. Aku tidak mau bertemu Mama dan aku juga tidak mau melihat kalian yang saling melepas kerinduan," kelakar Felix membuat Fredy terkekeh kecil.


"Aku turun... nanti aku akan menyampaikan semuanya padamu tentang apa yang terjadi didalam sana," kata Fredy berjanji dan Felix tahu isi hati Fredy yang berkata jujur.


Felix melepas kepergian Fredy yang menuruni mobil dan mulai berjalan sedikit untuk menekan bel didepan gerbang, karena Fredy sengaja tak memarkirkan mobil dipekarangan rumah Mama, dia menghentikan mobil didekat jalan lapang yang berada diluar kawasan rumah Mama--hanya untuk berjaga-jaga, takut jika Mama dan roh jahat itu bisa melihat keberadaan Felix di dalam mobil.


"Cari siapa, Pak?" sapa seorang satpam penjaga rumah pada Fredy yang sudah berdiri disana.


"Saya ingin bertemu Ibu Neni. Ada?"


Satpam mengangguk, "Sebentar saya beri tahukan dulu pada nyonya jika ada tamu yang mencari," kata Satpam itu.


Kini Fredy yang mengangguk dan satpam mulai menekan intercom yang menyambungkan ke saluran telepon dalam rumah.


"....ingin bertemu Nyonya, namanya...? sayup-sayup suara satpam yang tengah bertelepon pun terdengar.


Satpam melihat kearah Fredy. "Mas namanya siapa ya?" tanyanya.


"Fredy," jawab Fredy singkat.


Satpam itu kembali fokus pada teleponnya. "Namanya Fredy, Nyonya..." kembali Fredy mendengar sayup suara satpam yang berbicara pada telepon dari dalam pos-nya.


"Pak, Nyonya akan menemui anda didalam. Silahkan masuk," kata Satpam itu dengan nada sopan.


Mendengar itu, Fredy tersengum kecil, dengan langkah mantap dan percaya diri, dia melangkah untuk memasuki rumah besar yang adalah rumah kepunyaan Mamanya.


Mama hebat juga bisa memiliki harta begini, apa karena hal ini dia menumbalkan Felix? Batin Fredy berkata lirih sembari terus melangkah menuju puntu utama rumah.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2