Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
30. Keinginan membuka mata batin


__ADS_3

Hari ini, Bella kembali ke rumah orangtuanya. Ia bahkan bolos kuliah. Ia tidak mau tahu bagaimana keadaan di kampusnya sebab ia takut sosok itu kembali menyambangi tempat belajarnya itu.


"Ma... Pa?" Bella mencari-cari sosok kedua orangtuanya.


Tentu saja Pak Setyo tidak ada sebab sedang bekerja. Sementara Bu Ika sibuk memasak di dapur dengan dibantu sang ART.


"Ara? Kamu kesini, nak? Kenapa gak bilang-bilang?" Bu Ika langsung mencuci tangannya di wastafel. Lalu menyambut kedatangan sang putri.


"Ma, Ara mau cerita sesuatu ke Mama."


Bu Ika mengangguk, ia yakin yang kali ini ingin Bella ceritakan pasti mengenai Fredy Dan Felix. Bagaimanapun, Bu Ika juga menanti kabar bagaimana usaha Fredy yang mencari raga milik Felix. Apakah berhasil? Atau justru gagal dan menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi?


"Ma, Makhluk itu bernama Xeor. Sekarang dia yang meneror Ara." Bella langsung menceritakan pokok permasalahannya, membuat Bu Ika ternganga.


Bella pun menceritakan pada Bu Ika terkait kunjungan Felix ke lukisan yang sudah beberapa kali Bella masuki.


"Jadi, Ara mau menyusul Felix dan Fredy ke rumah Tante Neni, ma." Bella mengatakan keinginannya.


Tentu saja Bu Ika langsung menentang hal itu.


"Mama gak setuju, Ra."


"Jadi, Ara harus bagaimana? Ara merasa disekitar Ara udah gak aman lagi. Kalau aja Ara bisa ngelihat dan mendeteksi keberadaan makhluk itu, pasti semuanya jadi mudah."


"Apa?"


"Ma, Ara mau buka mata batin lagi ya...."


"Ara? Mama bener-bener gak bisa nurutin semua kemauan aneh kamu. Mama gak mau, apapun alasannya mama gak mau, Ra!"


"Tapi, ma. Ara akan jauh ngerasa lebih aman jika bisa melihat semua hal itu. Setidaknya Ara bisa berjaga-jaga."


Terjadi perdebatan yang cukup alot antara Bella dengan sang Mama. Sampai Bu Ika harus menghubungi suaminya untuk mengatakan hal ini.


Selang satu jam kemudian, Pak Setyo benar-benar pulang dan mendapati sang putri yang memohon untuk dibukakan mata batinnya.


"Pa, ma... please, Ara mau bisa melihat hal ghaib lagi. Karena jika begini Ara seperti orang buta yang bisa aja terluka tanpa Ara sadari."

__ADS_1


Bu Ika dan Pak Setyo saling memandang. Sebenarnya apa yang Bella katakan ada benarnya, tapi mereka takut Bella semakin nekat jika mata batin itu kembali dibuka.


Bella menangis dan memohon sampai sore menjelang. Akhirnya Pak Setyo tidak sanggup lagi melihat rintihan sang putri.


"Baiklah, papa akan telepon Om Deka yang dulu menutup mata batin kamu. Papa akan tanyakan apa bisa mata batin itu kembali dibuka."


"Tapi, Pa..." Rupanya Bu Ika masih saja tak setuju.


"Udah ma, Ara udah dewasa sekarang. Dia berhak menentukan. tapi dia juga harus menerima resikonya nanti."


Akhirnya Bu Ika hanya bisa pasrah dengan keputusan sang suami.


Pukul 7 malam, seseorang bertampang sangar datang ke kediaman Pak Setyo. Dia adalah Deka. Dia adalah paranormal terkenal yang juga bisa membuka serta menutup mata batin.


Usia nya sudah jauh lebih tua daripada dulu waktu dia menutup mata batin milik Bella.


"Ra, ini om Deka." Pak Setyo mengenalkan pria dengan tatapan dingin itu pada sang putri.


Dengan tampang ragu-ragu akhirnya Bella menyalami pria berkulit pucat itu.


"Katakan apa yang kamu mau, mudah-mudahan saya bisa membantu."


"Ya, benar... belasan tahun yang lalu."


"Sekarang saya sangat menginginkan untuk membuka mata batin saya lagi, Om."


Mendengar itu mata Om Deka langsung membola. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.


Bella mengangguk mantap.


"Boleh saya tau apa alasannya?"


"Saya terlibat dengan hal ghaib. Itu menyangkut tunangan saya di masa kecil."


Om Deka langsung menoleh kepada kedua orangtua Bella. Pak Setyo langsung mengangguk membenarkan.


Mengenai hal ini, sedikit banyak Om Deka juga mengetahuinya. Tapi, pada saat dia menutup mata batin Bella belasan tahun yang lalu--dia hanya fokus menangani soal Bella saja, dia tidak ikut mencampuri urusan Felix yang dia dengar menjadi tumbal mamanya sendiri.

__ADS_1


"Apa Felix masih hidup?" tanya Om Deka spontan.


Bella mengangguk. "Rohnya ada disekitar saya selama ini, Om."


Om Deka langsung mengangguk. Menurut pengamatannya, jika roh Felix masih bisa berinteraksi dengan orang lain baik dari mimpi atau dunia nyata, baik berbentuk manusia maupun abstrak, itu tandanya raga asli Felix masih digunakan. Lain halnya jika roh itu tidak muncul kembali, itu artinya raganya juga telah dimusnahkan.


"Untuk itu, saya mau membuka mata batin saya kembali, Om. Saya mau membantu Felix. Mungkin akan lebih mudah jika saya juga bisa melihat hal ghaib."


Om Deka menggeleng. "Sepertinya kamu harus memikirkan ulang terkait hal ini, Ara."


"Ke-kenapa?"


"Menutup mata batin ada resikonya. Begitu pula membuka mata batin. Masing-masing ada resikonya."


"Apa resikonya, Om?" sahut Bella cepat.


"Dulu, waktu mata batin kamu ditutup, efeknya adalah kamu yang tidak bisa mengingat masa lalu terutama tentang Felix dan hal ghaib. Dan jika sekarang kembali dilakukan ritual pembukaan mata batin kembali, mungkin efeknya bisa sama seperti dulu. Kamu akan melupakan sebagian memori tentang kehidupan kamu sampai pada hari ini. Atau bahkan lebih parah, ingatan kamu bisa hilang semuanya."


Pak Setyo dan Bu Ika langsung bertatap-tatapan cemas.


"Kalau kamu lupa semuanya, terutama tentang Felix, itu sama saja kamu harus mengulang lagi untuk mendengar cerita tentang dia dan kamu belum tentu mempercayai hal itu dari cerita orang lain."


Bella meneguk ludahnya dengan susah payah. Memang setiap tindakan akan ada efek dan resikonya masing-masing. Apakah ia sanggup menerima konsekuensi dari hal yang menjadi pilihannya ini?


"Kalau kamu memang mau membantu Felix, om akan mendampingi kamu untuk pergi kesana."


Bella bingung. Ia tidak mau melibatkan banyak orang akan tetapi jika ia menolak bantuan Om Deka pun ia belum tentu bisa mengatasi semuanya sendiri, apalagi mata batinnya belum bisa dibuka.


"Perlu kami tau, terkadang mata batin itu akan terbuka dengan sendirinya apabila alarm yang ada dalam diri kamu sendiri yang mengaktifkannya. Tanpa kamu sadari. Dalam kata lain, diri kamu sendiri bisa membuka mata batin itu dalam kondisi tertentu. Misal, dalam keadaan genting yang membuat kamu butuh sekali, ada kemungkinan mata batin itu akan terbuka dengan sendirinya."


"Benarkah?" tanya Bella antusias.


"Ya. Jika terbuka sendiri tanpa bantuan orang seperti om, maka kecil kemungkinan kamu akan kehilangan memori ingatan, sebab itu terjadi karena alamiah dari bawaan tubuh kamu sendiri. Tapi, meski begitu, ada juga yang tetap mengalami amnesia. Om cuma berharap kamu tidak mengalaminya."


"Jadi, mata batin Ara bisa terbuka dengan sendirinya tanpa bantuan kamu?" tanya Pak Setyo pula.


"Ya, seperti yang ku katakan tadi. Semoga semuanya bisa berjalan lancar. Jika tidak keberatan aku akan mendampingi Ara pergi, sebab aku juga ingin melihat sosok Xeor." Om Deka menatap kedua orangtua Bella dengan tatapan penuh keyakinan.

__ADS_1


...TBC .......


Dukung karya ini dengan like, vote, dan tinggalkan komentar kalian guys👇👇👇👇💚💚💚


__ADS_2