
Chapter 14
_____________
"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Bella pada Felix, gadis itu sedang mengeringkan rambutnya, sedangkan Felix tengah bersandar di headboard tempat tidur.
"Tidak ada," sanggah Felix. Ia memalingkan wajah tanpa ingin menatap Bella yang kini melihatnya.
Bella menghentikan kegiatannya, meletakkan hairdryer ke atas meja rias, kemudian ia duduk dipinggir ranjang.
"Aku serius, apakah kamu sedang memikirkan keadaan ragamu?" tebak Bella.
Felix menoleh dan menatap Bella sekilas tapi dia hanya diam.
"Ayolah, ceritakan padaku apa yang sedang kamu pikirkan," ucap Bella. "Ini terasa tidak adil buatku 'kan?" sambungnya.
Felix mengernyit. "Tidak adil apanya?" katanya.
"Ya tidak adil, kamu bisa membaca pikiranku sementara aku tidak bisa. Bahkan mendengar dari mulutmu pun tidak bisa karena kamu hanya diam." Bella mencebikkan bibirnya seraya menunduk menatap ubin.
Felix terkekeh, ia mendekati Bella dan berputar arah agar bisa duduk disebelah Bella, tangannya terulur lalu ia mengacak gemas rambut Bella yang belum tersisir. "Tidurlah, ini sudah malam," kata Felix seraya tersenyum simpul.
Bella menatap tajam lelaki itu, bisa-bisanya Felix malah menyuruhnya tidur. Padahal Bella meminta penjelasan tentang apa yang sedang Felix pikirkan.
"Kamu pasti memikirkan ragamu yang entah berada dimana 'kan?" Bella menangkup pipi Felix yang berusaha menghindari tatapan matanya.
"Hemm..." Felix mengangguk kecil.
"Aku kan udah janji untuk membantu kamu," ucap Bella tak melepaskan tangannya dari kedua pipi Felix.
Felix tersenyum tipis. "Ya aku tahu, sudahlah.. ayo tidur!" ucap Felix seraya membaringkan tubuhnya di ranjang. Sementara Bella menatapnya dengan keheranan.
"Kemarilah..." Felix menepuk sisi ranjang yang kosong, meminta Bella ikut berbaring disisinya.
Bella menurut dan mengikuti keinginan Felix. Felix meraih tubuh Bella dan ia dekap dadanya. Bella menjadi malu sendiri dengan posisi mereka saat ini. Bella hendak protes, tapi ia juga merasa nyaman berada dalam dekapan Felix, Felix pun membelai rambutnya dengan lembut seolah tengah menidurkan Bella yang mulai merasa mengantuk.
"Jika sudah begini, aku tidak sabar untuk menemukan ragaku," ucap Felix disela-sela kegiatannya yang sibuk dengan rambut Bella.
Bella melihat kearah Felix menggunakan sudut matanya. "Kenapa?" tanyanya.
"Ya, agar aku bisa segera menikahi kamu," jawab Felix seraya terkekeh pelan.
"Issh... ada-ada aja, aku juga masih kuliah," kata Bella.
"Berapa lama lagi kuliahmu?"
"Kurang lebih 2 tahun lagi."
"Lama sekali. Kalau begitu aku akan menikahimu setahun dari sekarang, itu juga sudah terlalu lama." Felix mengecup pucuk kepala Bella, sementara Bella menjadi kehilangan rasa ngantuk akibat ucapan Felix barusan.
"Aku gak akan menikah jika kuliahku belum selesai. Aku juga masih mau meraih cita-citaku," gumam Bella, sementara Felix sudah memejamkan mata--tentu saja Felix mendengar gumaman gadis itu, bahkan sebelum Bella mengucapkannya--pikiran Bella sudah lebih dulu terbaca oleh Felix.
Felix tersenyum tapi matanya tetap terpejam. "Tapi kamu tetap mau ku nikahi 'kan?" tanya Felix menggoda Bella.
"Hem... mau tidak, ya?" Bella mengetuk-ngetuk telunjuknya di dagu.
"Sudah jelas mau," kata Felix sambil terpejam.
__ADS_1
"Kamu yang bertanya, kamu juga yang menjawab." Bella terkikik sementara Felix mendadak diam.
"Kamu sudah tidur?" Bella melepaskan dekapan Felix ditubuhnya, ia ingin melihat keadaan Felix, kenapa Felix diam saja? Pikirnya.
Tapi usaha Bella untuk lepas dari dekapan itu tak berhasil karena Felix tetap mendekapnya erat.
Bella pun kembali pasrah dan ia mulai memejamkan matanya.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" Pertanyaan Felix berhasil membuat Bella kembali membuka matanya.
"Apa?"
Bella jelas kaget mendengar pertanyaan itu, bisakah dia memilih mencintai Felix atau justru tidak?
Sedangkan Bella dan Felix memang sudah bertunangan sejak dulu, walaupun tentu saja Bella masih dalam keadaan yang telah melupakan segalanya mengenai Felix dimasa lalunya.
"Apa kamu mau mencintaiku?" tanya Felix. "Maksudku, apa kamu mau menerimaku? Saat ini aku bukan manusia dan belum bisa menemukan ragaku."
Suara Felix terdengar lirih, bahkan baru sekali ini Bella mendengar Felix seperti ini.
"Mungkin aku belum mengingat masa lalu, tapi kenangan apa sih yang dimiliki oleh anak-anak kecil yang sudah bertunangan?" Bella mengelus tangan Felix yang berada diperutnya. "Aku pikir kenangan masalalu pun tak bisa membuatku langsung jatuh cinta padamu," sambung Bella.
"Ya itu benar," kata Felix, ia membuka matanya yang sedari tadi terpejam. Kantuknya menjadi hilang seketika.
"Jika dimasa anak-anak kita tidak punya kenangan yang berarti, bagaimana jika kita membuat kenangan itu sekarang. Sekarang kita telah dewasa dan bisa menciptakan sesuatu yang mungkin bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Felix menangkup wajah Bella agar Bella melihat keseriusannya dalam berbicara.
"Hemm..." Bella tersenyum seraya mengangguk.
"Kita akan mencobanya, kamu mau kan?"
Bella mengangguk lagi.
"Tapi..." Bella ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa?" Felix mengernyit dan sesaat kemudian ia tahu isi kepala Bella. "Katakan..." pintanya pada Bella.
"Kamu memintaku untuk mencintaimu, apa kamu juga sudah mencin--" ucapan Bella terpotong saat Felix mengecup keningnya.
"Jangan tanyakan itu, sebaiknya kita tidur sekarang," sergah Felix.
Felix menghindari pertanyaan Bella yang ia sudah tahu kemana arahnya. Felix tidak mau mengumbar perasaannya dulu sebelum statusnya jelas. Dia lebih memilih menemukan raga itu dulu barulah dia memikirkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Bella.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Kemarin Arka menanyakan kamu." Sera memulai pembicaraannya pada Bella.
Bella berdecak lidah, masih pagi hari dan Sera sudah mengawalinya dengan membahas tentang Arka. Bella sangat malas membahas Arka saat ini, entah kenapa.
Melihat Bella diam saja, Sera lantas melanjutkan perkataannya.
"Kamu bilang ke dia kalau kamu udah bertunangan?" tanyanya.
Bella pun mengangguk.
"Itu hanya untuk menghindari Arka aja 'kan? Bukan karena kamu mengakui tunangan dalam mimpi kamu itu 'kan?"
"Ser, aku mengatakan itu memang untuk menghindari Arka," ucap Bella.
__ADS_1
Terdengar helaan nafas lega dari Sera.
"Tapi, soal tunangan itu aku memang sudah bertunangan dan Mama juga sudah menjelaskannya padaku," sambung Bella.
Sera terperangah. "Jadi Bella benar-benar sudah bertunangan?" batin Sera.
"Maksudnya Mama kamu bilang kalau kamu benar-benar sudah bertunangan?" tanya Sera syok.
"Huum." Bella mengangguk yakin.
"Apa ini ada kaitannya dengan sosok dalam mimpi kamu?" tanya Sera.
Bella nampak diam sejenak untuk berpikir, sampai akhirnya dia menjawab pertanyaan Sera.
"Soal mimpi itu mungkin hanya bunga tidur saja, belakangan aku juga udah gak pernah mimpi buruk lagi," jawab Bella.
Aneh, sungguh aneh. Bukankah Bella mengatakan sosok itu bahkan hadir di kenyataan dan membantunya melukis? lagi-lagi batin Sera menerka-nerka.
"Lalu yang kamu bilang kalau sosok itu hadir di kehidupan kamu berarti salah?"
"Mungkin aku hanya terbawa perasaan karena selalu mimpi hal buruk membuatku jadi paranoid sehingga terbawa-bawa ke dunia nyata," jelas Bella.
Sera mengangguk-angguk, berarti ketakutannya selama ini tak berarti, hanya perasaan Bella yang terlalu berlebihan, pikirnya.
"Lalu, kenapa kamu gak ingat soal tunangan itu? Memangnya kejadiannya kapan?" Sera terus saja menginterogasinya.
"Mungkin karena pertunangan itu dilakukan waktu aku kecil jadi aku lupa," kata Bella singkat.
"Oh, ya aku paham. Lalu dimana tunangan kamu itu sekarang?" tanya Sera lagi. Ia merasa lega karena penjelasan Bella berarti tunangan yang dimaksudkan adalah manusia sejati, tidak sesuai dengan ketakutannya.
Bella melirik Felix yang berdiri tak jauh darinya, sedari tadi Felix hanya diam tanpa mencampuri pembicaraannya dan Sera.
Bella mengatakan hal ini pada Sera agar sahabatnya itu tidak mengira jika dia semakin aneh. Tentunya juga, agar Sera tak merasa takut dekat dengan Bella yang notabennya memang telah bertunangan dengan Felix yang bukan manusia seperti pada umumnya.
"Felix sekolah di Luar Negeri. Kami tidak pernah bertemu sejak lama tapi pertunangan itu masih berlanjut, begitulah kata Mama," kilah Bella dan Sera sepertinya memahami situasi, Sera tak banyak bertanya lagi setelah argumen yang Bella berikan.
Jawaban Bella membuat Felix geleng-geleng kepala.
Saat Sera dan Bella kembali menuju kelas, Felix berbisik ditelinga Bella.
"Kenapa kamu harus berbohong? Bukankah Sera sahabatmu?"
Bella mengingat ucapan Felix beberapa waktu lalu jika mereka akan komunikasi lewat pikiran Bella, sehingga Bella tak perlu bicara sendiri.
Gadis itu pun memikirkan jawaban untuk Felix.
"Biarkan saja Sera mengira seperti yang aku katakan padanya, aku tidak bermaksud membohonginya tapi biar saja dia berpikir seperti itu karena menjelaskan kenyataan yang tidak logis akan membuatnya takut, serta seperti kata kamu kemarin, Sera akan mengira aku adalah teman yang aneh. Kamu tahu kan, sulit untuk meyakinkan seseorang jika ini semua diluar logika."
Isi kepala Bella itu langsung terdengar di pendengaran Felix.
"Ya, aku mengerti," jawab Felix bersuara.
Bella kembali berkata-kata dalam kepalanya. "Untuk itu, biarkan saja dulu seperti ini. Sampai pada saatnya aku bisa mengenalkan kamu langsung pada Sera sebagai sosok manusia yang sesungguhnya." Bella pun tersenyum.
Felix menyeringai, "Yakin sekali kamu bisa melakukan itu?"
"Kita yang akan bersama-sama melakukannya dan pertama-tama kita harus mengetahui dulu dimana raga kamu berada."
__ADS_1
"Ya, terserah kamu saja mau memulai darimana," kata Felix pasrah.
...TBC......