Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
24. Kedatangan


__ADS_3

Seorang wanita setengah baya dengan senyum lebar menyambut kedatangan Fredy di rumah besar tersebut.


"F--Fredy ...." ujarnya dengan suara bergetar.


Untuk beberapa saat, pria pemilik wajah oriental itu tertegun. Inilah Neni. Wanita yang melahirkannya dan Felix. Harus Fredy akui jika wajah sang Mama masih tampak cantik dan muda diusianya yang tak lagi belia.


Kemarin, Fredy tak memperhatikannya secara jelas sebab ia berlindung di balik sebuah pohon bonsai yang rindang demi menguping pembicaraan antara Mama Neni dengan sang Asisten rumah tangganya. Tapi hari ini, barulah Fredy melihatnya dengan seksama.


"Mm...." Ucapan Fredy terhenti sebelum benar-benar terlontarkan. Haruskah ia memanggil wanita dihadapannya dengan sebutan 'mama'?


"Ayo, masuk, nak!" Tanpa canggung, Neni mengambil tangan Fredy dan menuntunnya masuk.


Sesampai di dalam rumah besar itu, kemewahan semakin terpancar jelas. Jadi, inikah salah satu tujuan sang Mama menumbalkan Felix? Demi harta? Bukankah Almarhum Papanya juga orang berada?


Jawabannya tentu bukan hanya karena harta, tetapi juga karena ingin tetap cantik dan awet muda. Iyakah?


"Maaf, saya terpaksa mencari alamat anda dengan cara saya sendiri karena saya tidak bisa menunggu sampai Minggu depan."


Fredy memulai pembicaraannya setelah duduk disebuah kursi jepara dengan warna keemasan.


"Gak apa-apa, Fredy. Hari ini, besok atau Minggu depan, kita tetap akan bertemu, kan?" sahut Neni dengan senyumannya yang menawan. "Kamu mau minum apa, nak?" tanyanya kemudian.


"Gak usah, saya hanya ingin melihat dan memastikan keadaan anda, nyonya."


Neni tersentak dengan panggilan Fredy kepadanya. "Mama bukan Nyonya," katanya mencoba meralat perkataan sang putra.


Fredy tersenyum smirk. "Saya tidak bisa memanggil orang lain dengan sebutan semacam itu karena saya tidak pernah mengenal sosok seorang ibu selama hidup saya. Maaf," kata Fredy datar.


Jawaban Fredy semacam cambukan keras yang memukul dinding hati Neni. Tapi, ia juga tak bisa memaksakan anak lelaki yang sudah ia tinggalkan sejak lama itu untuk terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'Mama'.


"Gak masalah, kamu mau manggil Mama dengan panggilan apa. Yang jelas, kamu adalah putra mama yang mama lahirkan dan mama su-sui sampai umur dua tahun."


Fredy terkekeh hambar, tapi kemudian matanya menatapi ke seluruh penjuru rumah besar itu, tentu ia mau mencari sosok 'Felix yang lain' disana.


Pertemuan dengan Neni, memang sedikit menyentuh dinding hatinya yang terdalam. Akan tetapi, melihat wanita itu hidup dengan baik sampai saat ini serta memiliki kehidupan yang sangat layak seperti yang ia lihat sekarang, sudah lebih dari cukup untuk membuat perasaan Fredy baik-baik saja.


Fredy tidak mau larut dalam keluh kerinduan terhadap sang Mama, bagaimanapun ia masih ingat jika wanita inilah yang telah melupakannya dan mungkin tak pernah terbersit keinginan untuk mencarinya.


"Kamu cari apa, Fredy?"


Suara Neni menyentak keseriusan Fredy yang tengah fokus mencari-cari tujuannya yang lain.

__ADS_1


"Sebenarnya kedatangan saya kesini bukan hanya untuk mengunjungi anda, nyonya. Saya mau bertemu Felix, saudara saya."


Neni terkesiap dengan penuturan Fredy. Jadi, Fredy ada maksud lain hingga menyambangi kediamannya? Seharusnya ia sudah bisa menebak hal ini, kan?


Neni tertunduk. Satu tangannya menggenggam satu tangan yang lain. Tampak gugup dan seperti menahan kesedihan.


"Felix... dia sudah meninggal, Frey."


Tiba-tiba keheningan merajai keadaan diantara mereka berdua.


Sesungguhnya Fredy sedang mencerna apa arti dari jawaban ibunya. Felix sudah meninggal? Yang benar saja, pikirnya.


"Tidak mungkin Felix sudah meninggal," lirih Fredy kemudian.


Apa raga Felix sudah tak dibutuhkan lagi oleh roh jahat itu, sehingga raganya telah dicampakkan? batin Fredy menerka-nerka keadaan.


Jika memang demikian, apa itu artinya Felix akan terus berwujud roh? Atau, sekarang tugasnya adalah menemukan raga Felix yang sudah menjadi jasad?


"Apa kabar dengan Papa?" Suara Neni kembali menanyai Fredy yang membeku seperti batu akibat larut dalam pemikirannya sendiri.


"Papa udah meninggal, beliau mewasiatkan pada saya untuk mencari Felix karena dia adalah satu-satunya saudaraku."


Mata Neni tampak berkaca-kaca. "Benarkah Mas Julian sudah meninggal?" tanyanya kemudian.


Neni seperti menerawang jauh. Ia mengingat sekilas momen-momen kebersamaannya dengan Julian, mantan suaminya dulu. Jadi, Julian telah tiada? Batinnya cukup syok mendengar hal ini. Ada banyak kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki dengan mantan suaminya itu. Sekarang, ia tidak punya kesempatan lagi sebab Julian telah pergi untuk selamanya.


"Jika memang Felix sudah meninggal, saya mau melihat dan mengunjungi makamnya," kata Fredy.


"Makam?" Neni berujar lebih seperti terkejut.


"Ya, makam. Saya mau melihat makam Felix, Nyonya."


"Frey, Felix tidak dimakamkan."


Fredy terkejut. "Lalu?" tanyanya. Jika memang Felix dimakamkan maka ia harus benar-benar menyambangi makam saudaranya itu sekaligus ingin membuktikan pada roh Felix bahwa dia benar-benar telah meninggal.


"Felix di kremasi," jawab Neni sambil membuang pandangan ke arah lain.


"Gak! Itu gak mungkin."


"Begitulah kenyataannya, Frey. Waktu itu Felix meninggal di Luar Negeri, proses pemulangan jenazahnya menempuh prosedur yang sulit dan lama. Hingga akhirnya mama memutuskan untuk melakukan tindak kremasi saja disana."

__ADS_1


Fredy menggelengkan kepalanya dengan keras. "Saya tidak mempercayai Anda, Nyonya!" tukasnya.


Fredy langsung berdiri. Dengan emosional, ia bergerak sigap untuk melihat-lihat lebih jelas bagaimana suasana di kediaman sang Mama.


"Kamu mau apa, Frey?" Neni terkesiap saat melihat Fredy dengan seenaknya menyusuri lorong rumahnya begitu saja.


"Saya mau menginap disini, boleh?" tanya Fredy kemudian, membuat Neni kembali terhenyak akibat permintaan sang putra yang diluar prediksinya.


"Ti--tidak," jawab Neni terbata.


Seulas senyum smirk tersungging di bibir Fredy. "Kenapa?" tanyanya.


"Kamu tidak serius, kan? Kamu tidak boleh menginap disini. Pergilah, Frey...."


Mendengar itu, Fredy malah terbahak sampai air bening diujung matanya keluar begitu saja. Entahlah ia harus bahagia atau sedih sekarang melihat sikap sang Mama yang seperti tak mengharapkannya.


"Usiaku sekarang sudah 25 tahun, Ma. Aku berpisah dengan Mama dan Felix sudah hampir 22 tahun. Apa tidak ada rasa rindu dihati mama buat aku? Bukankah seharusnya Mama yang menawariku dan bukan malah aku yang mengajukan diri untuk menginap disini?" tandas Fredy langsung menohok Neni.


Neni menundukkan kepalanya, membuat Fredy yakin ada yang tengah disembunyikan wanita itu. Dengan sikap Neni yang begini, justru semakin membuat Fredy mencurigainya.


"Tapi, Frey...."


"Aku sudah setuju memanggilmu Mama. Apa kamu tidak setuju aku menginap disini sebagai putramu?" tantang Fredy mantap.


Neni terdiam, seakan penuh pertimbangan, hingga akhirnya wanita itu menganggukkan kepalanya.


"Ba-baiklah, Frey. Kamu bisa menginap disini sampai besok "


Fredy tertawa sumbang. "Besok? Aku dibatasi dirumah ibuku sendiri?" tanyanya.


Padahal jika saja ia tidak berniat mencari raga Felix didalam rumah ini, Fredy pun tak akan berminat untuk menginap dirumah sang Mama-- karena melihat sambutan Neni terhadapnya yang tidak hangat sama sekali.


Ternyata Fredy salah, ia sempat berharap besar untuk pertemuan dengan sang Mama, nyatanya yang ia dapatkan hanyalah kecewa. Mereka berdua layaknya orang asing meski Neni sempat memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'Mama' serta sempat membahas mengenai 'melahirkan dan me-nyu-sui-nya'


"Iya, Frey, Mama cuma bisa nerima kamu disini sampai besok, karena mama mau pergi ke luar negeri."


"It's oke, aku gak akan ganggu kepergian mama. Aku disini sampai besok."


Fredy bertekad untuk menemukan raga itu hanya dalam jangka waktu singkat.


Lalu bagaimana dengan roh Felix yang masih berada di mobilnya sekarang? Ia harus memastikan jika roh jahat itu tidak sedang berada dirumah agar Felix bisa masuk kesini juga tanpa diketahui oleh Neni.

__ADS_1


...TBC .......


__ADS_2