Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
7. Kedatangan Mama


__ADS_3

Chapter 7


____________


"Ara.."


Suara panggilan itu menghentikan Bella yang akan mengunci pagar tempat kost nya, Bella menoleh untuk melihat seseorang yang tengah memanggil nama kecilnya.


Wajah gadis itu berubah semringah saat mendapati seorang wanita yang berjalan mendekat kearahnya.


"Mama..." Bella pun menghampiri wanita setengah baya yang ternyata adalah Mamanya sendiri. Ia kembali membuka pagar yang tadinya ingin ia tutup.


"Kok gak bilang-bilang mau main ke Kos nya, Ara?" tanya Bella antusias, mereka saling memeluk satu sama lain untuk melepas kerinduan antara ibu dan Anak.


"Iya, Mama mau buat kejutan. Habisnya kamu gak pulang-pulang. Mama kan juga rindu sama anak gadis Mama," jawab Bu Ika--Mamanya Bella-- seraya mengurai pelukan mereka.


"Sebentar, Mama bayar ongkos Taxi dulu," ucap Bu Ika sambil mengeluarkan dompet lalu ia pun kembali menghampiri Taksi yang tadi mengantarnya ke tempat Kos sang putri.


"Ayo masuk, Ma."


Mereka berdua pun berjalan beriringan untuk menuju kamar Bella yang terletak dipojok.


"Pas banget Ma, Ara baru aja pulang kuliah," lanjut Bella seraya menekan handle pintu.


"Hmm, kamu udah makan, Ra?" tanya sang Mama seraya meletakkan tasnya di meja belajar milik Bella.


"Tadi udah makan di Kantin kampus, Ma," jawab Bella jujur dan sang Mama manggut-manggut.


"Mama mau makan apa? Mau Ara masakin atau mau cobain makanan yang dijual disekitaran sini?"


"Gak usah, tadi Mama udah makan dan masih kenyang. Nanti kalau lapar kita pesan online aja."


"Oke, Ma."


Bella melangkah untuk menuju kamar mandi, ia akan mandi karena merasa lengket sepulang dari kuliah.


Bu Ika pun memutuskan untuk berbaring dikamar kos itu, karena merasa lelah akibat habis menempuh dua jam perjalanan dari rumahnya menuju tempat anaknya tinggal.


Setelah selesai mandi dan bersiap, Bella kembali menuju tempat Mamanya berbaring, Bella pikir Mamanya sedang tertidur tapi ternyata suara sang Mama mengejutkan Bella, terlebih lagi pertanyaan wanita setengah baya itu membuat Bella menghela nafas dengan berat.


"Kamu sekarang melukis gambar-gambar seperti ini, Ra?" tanya Bu Ika seraya memperhatikan satu demi satu kanvas yang telah dilukis Bella.


Bella tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin ia jujur jika lukisan itu tergambar sendiri diluar kesadarannya.

__ADS_1


Bella sendiri sering tidak menyadari apa hal yang dia lukis, tangannya seolah bergerak sendiri dan setelah hasil lukisannya siap barulah Bella terbelalak akibat terkejut karena sama sekali tak pernah mendapat imajinasi seperti hal yang tergambar dilukisannya.


"Ng--itu, Itu Ma. Emm, Ara ada tugas kuliah tentang hal seperti itu," elak Bella. Tentu saja ia terpaksa berbohong.


"Tugas kuliah? Kok aneh, tugas kuliah kamu? Malah melukis gambar-gambar seram kayak gini!" Bu Ika menatap serius ke arah Bella sambil memindai wajah sang anak.


"Iya, Ma. Itu hanya tugas. Gak lebih. Memangnya kenapa sih, Ma?"


"Enggak apa-apa sih. Aneh aja tugas kamu. Terus kamu tahu detail gambar penampakan kayak begini darimana? Memangnya kamu pernah lihat sosok seperti ini?"


Bella menggeleng. "Lihat internet sih, Ma," kilah Bella gugup.


"Yang bener kamu?"


Bella mengangguk cepat. Bu Ika pun seolah mendes-ah lega. Ketakutannya tak berarti, ia hanya tersugesti ketakutan yang menjalari dirinya sendiri.


"Mama kira kamu pernah lihat, soalnya Mama takut--" Mama menghentikan kalimatnya tiba-tiba, wajahnya mengisyaratkan ketakutan yang dalam dan ia terlihat bergidik setelahnya.


"Takut apa, Ma?"


"Ah, enggak. Gak apa-apa kok."


Bella mengangguk seraya membereskan kertas-kertas lukisan yang tadi dibongkar oleh sang Mama.


Bella mulai melancarkan aksinya, ingin bertanya perihal Felix, apa mungkin sang Mama tahu tentang Felix? Karena Felix datang dari masa-lalu Bella yang Bella sendiri tidak ingat.


Bella hanya merasa sang Mama mungkin akan mengetahui, karena Felix memanggilnya dengan sebutan 'Ara' dan itu sama seperti panggilan orang-orang terdekat mereka.


"Tanya apa, Nak?" Bu Ika menyandarkan badannya ke kepala ranjang dan menatap Bella dengan tatapan penuh tanya.


"Apa Ara punya teman kecil seorang laki-laki?" tanya Bella.


"Tidak, teman kecil kamu kan semuanya perempuan."


"Ka-kalau teman yang... yang tidak terlihat?" tanya Bella gugup.


Mama terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan Bella, ia bangkit berdiri untuk menghindari tatapan mata sang anak.


"Maksud kamu apa, Nak?" Bu Ika tampak menghindar. "Ehm, dimana air minum, ya?" tanyanya kemudian, seolah sedang mengalihkan pertanyaan.


"Itu di ujung, Ma. Yang dingin ada di kulkas, biar Ara ambilkan aja."


Bella beranjak kemudian mulai menuangkan air putih dingin kedalam gelas dan Bu Ika langsung meneguknya dengan cepat.

__ADS_1


Bella mengulangi kegiatan menuangkan air minum untuk sang Mama, sembari melanjutkan bertanya hal-hal yang masih membuatnya penasaran.


"Ma, apa Mama mengetahui tentang seseorang bernama Felix?" tanya Bella, dan di detik yang sama Bu Ika menyemburkan air yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Pelan-pelan, Ma," tanggap Bella.


Bella menatap wajah sang Mama yang berubah pias. Mama tetap terdiam tidak menjawab satupun peetanyaan Bella.


"Felix? Kamu bertemu dengan Felix?" Akhirnya Bu Ika buka suara tapi ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang mendadak pucat.


"Jadi Mama tahu tentang dia? Sebenarnya, minggu nanti Ara mau pulang, Ma. Ara rindu Mama dan Papa, tapi Ara juga ingin bertanya soal Felix," ucap Bella menatap sang Mama yang hanya diam mendengarkan.


"Untunglah Mama datang kesini, jadi Ara gak perlu pulang ke rumah, karena sejujurnya Ara takut diperjalanan, Ara takut Felix membahayakan Ara" kata Bella mengakui.


Bu Ika menelan salivanya dengan susah payah, pertanyaan Bella tak satupun yang bisa ia jawab atau tepiskan.


"Jadi Ara benar-benar sudah melihat dan bertemu Felix? Ah ya, sebentar lagi Ara akan berulang tahun ke 20. Pasti Felix ingin menagih janji itu," batin Mama.


Bella menatap wajah sang Mama yang seolah menyembunyikan sesuatu--Bella mengenal Mamanya bukan sehari-duahari, ia ingin menerima jawaban dari sang Mama, sekalipun itu akan mengejutkannya, karena kini Bella yakin jika Mamanya tahu sesuatu tentang Felix dari gelagatnya yang mendadak aneh.


"Ma, Ara ingin tahu ada apa sebenarnya, Ma. Karena Felix menuntut Ara untuk menepati janji," ucap Bella.


"Nak..." Bibir Bu Ika seolah tercekat, ia tak kuasa untuk menjelaskan semuanya.


"Tolong kasih tahu Ara, Ma. Kata Felix sebelum ulang tahun Ara, Ara harus tahu dan ingat semuanya kalau tidak..."


"Kalau tidak kenapa?" Intonasi suara Mama berubah tinggi tapi menyisyaratkan ketakutan yang ditutup-tutupi.


"Katanya akan berakibat buruk," jawab Bella lesu.


"Buruk untuknya, bukan untuk kamu. Sudah biarkan saja. Jangan ingat apapun lagi," titah sang Mama seraya melengos kembali menuju ranjang Bella.


"Tapi Ma..." Bella mengikuti sang Mama sambil membujuk agar Mamanya mau membuka kunci dari semua hal yang dialami oleh Bella.


Mama diam tak bergeming, wanita itu memainkan ponselnya dan tak memperhatikan lagi sang anak yang merengek didekatnya agar ia membuka semua tabir terselubung ini.


"Mama bilang enggak ya enggak!" ucap Bu Ika tegas.


"Berarti benar kan, Mama tahu tentang Felix? Apa benar dia tunangan Ara? Iya, Ma? Apa kami memang pernah bertunangan?"


Bella menatap manik hitam milik wanita setengah baya itu, menuntut jawabannya.


Bu Ika pun tertunduk lesu.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2