
Chapter 18
___________
Bella keluar dari kamar kosnya, dia menekan kunci kontak mobil dan alarm mobil terdengar sekilas. Saat akan memasuki mobilnya, perhatian Bella teralihkan karena melihat sebuah mobil hitam mengkilap sudah berada didepan gerbang.
"Siapa itu?" gumam Bella, lebih tepatnya dia bertanya pada Felix yang sudah mengikutinya sejak dari dalam kamar.
Bella melihat ke kiri-kanannya namun dia tak melihat keberadaan Felix, entah kapan Felix menghilang, Bella tidak menyadarinya.
"Felix kamu dimana?" Bella bertanya-tanya sendiri seraya celingukan mencari-cari Felix disekitarnya tapi tetap dia tidak melihatnya.
Bella melihat jam tangan yang dipegangnya, jam itu belum sempat dipakainya. Dia lalu berpikir untuk segera berangkat saja, pasti nanti Felix akan menyusulnya ke kampus.
Bella pun memasuki mobil, tapi baru akan menyalakan mesinnya, kaca mobil Bella diketuk dari luar. Bella membuka jendela mobil untuk melihat siapa yang menghampirinya.
"Ada apa, Pak?" tanya Bella pada Security yang ternyata mengetuk kaca mobilnya tadi.
"Itu Neng, ada yang nunggu Neng Bella didepan. Cowok ganteng yang kemarin malam," goda Security berkepala plontos itu sambil menyeringai.
Bella pun menyadari mobil yang dilihatnya tadi adalah mobil Fredy. Akhirnya Bella keluar dari mobilnya untuk menuju gerbang.
Bella mengetuk kaca mobil Fredy sekilas dan Fredy pun membuka kaca jendelanya sedikit.
"Masuklah," ucap Fredy datar.
Bella masuk ke jok samping pengemudi, dan ternyata didalam mobil itu juga telah ada Felix yang bersandar santai di belakang.
"Aku disini," sapa Felix dan Bella hanya memutar bola mata malas untuk menanggapinya.
"Ada apa?" kini Bella menatap Fredy yang duduk dibelakang kemudi.
"Aku akan mengantarmu ke kampus," kata Fredy singkat.
Entah kenapa Bella merasakan sikap Fredy sekarang tak seramah seperti kemarin. Ada apa dengannya?
Tanpa menunggu persetujuan siapapun, mobil mewah Fredy sudah meninggalkan kawasan kos Bella, Bella hanya diam tanpa berucap sepatah katapun.
"Hari minggu, kita pergi ke rumah orangtuamu," kata Fredy tiba-tiba.
Bella melirik Felix dari kaca spion tengah untuk melihat reaksinya dan Felix mengangguk-angguk setuju atas ucapan saudaranya itu.
"Untuk apa kesana?" tanya Bella.
"Untuk apa lagi? Kita harus mengetahui dimana rumah Mamaku--yang dulu sempat dibuat ritual bersama Felix," jawab Fredy acuh tak acuh.
Bella merasa aneh dengan perubahan sikap Fredy, dia menerka sebelum dia masuk ke mobil tadi pasti ada pembicaraan serius antara Felix dan Fredy, yang membuat keduanya menjadi bersikap aneh. Felix banyak diam sementara Fredy menjadi tak ramah.
"Tapi, Mama pasti gak mau memberitahu," ujar Bella. "Mama gak mau aku berurusan lagi dengan hal ini dan aku sudah berjanji," sambungnya.
Fredy menghela nafas. "Aku yang akan bicara pada Mamamu," imbuhnya.
"Baiklah," jawab Bella pasrah.
Mobil pun membelah jalanan untuk menuju ke kampus Bella.
Sesampainya disana, kedatangan Bella yang diantarkan dengan mobil mewah, langsung disambut oleh mata-mata aneh yang memandangnya dengan tatapan menyelidik, termasuk dengan Arka.
Mata Arka memicing tidak suka saat melihat Bella keluar dari mobil hitam yang baru saja melintas dihadapannya.
__ADS_1
"Bell..." sapa Arka.
Bella hanya tersenyum untuk membalas sapaan Arka. Mereka pun berjalan beriringan di koridor kampus.
"Dianterin siapa?" tanya Arka penasaran karena yang dia tahu--biasanya Bella selalu membawa mobil ataupun bersama Sera.
"Oh itu--" ucapan Bella terpotong kala seseorang memanggil namanya.
"Ara.."
Bella menoleh kebelakang, dan ternyata Fredy berjalan dengan langkah lebarnya menuju ke posisi Bella.
"Ra, ini jam tangannya ketinggalan," selah Fredy tiba-tiba, menginterupsi percakapan antara Bella dan Arka seraya menyodorkan jam tangan milik sang gadis.
Bella pun baru ingat jika jam itu tadi ia genggam dan jadi lupa ia kenakan.
Arka melihat lelaki dihadapannya, lelaki yang menghampiri Bella. Penampilannya rapi seperti eksekutif muda disertai wajah oriental yang pastinya sangat tampan.
Arka yang seorang lelaki pun mengakui jika lelaki ini adalah sosok yang menarik. Dia lalu membanding-bandingkan dengan dirinya sendiri.
"Eh, makasih," jawab Bella sungkan.
Bella hendak meraih jam tangannya tapi tanpa diduga Fredy malah mengambil pergelangan tangan Bella dan memakaikan jam tangan tadi pada gadis itu.
"Punya jam itu dipakai, jangan cuma di pegangin, Ketinggalan kan," omel Fredy seraya sibuk mengaitkan tali jam tangan Bella. Bella terkejut dengan aksi Fredy tapi dia hanya bisa terdiam.
Kejadian itu tentu saja nampak dimata Arka dan membuat hatinya panas.
"Apa lelaki ini tunangan Bella?" batin Arka. Dia tetap diam dalam pikirannya sendiri.
"Makasih, Frey..." kata Bella pada Fredy. Fredy pun mengangguki.
Arka berdehem-dehem, dia ingin dianggap Bella-- bahwa dia juga ada disana. Sayangnya malah Fredy yang menatap Arka sekilas, bukan Bella.
Sementara Bella masih celingukan seperti mencari-cari sesuatu yang Arka tidak mengerti apa?!
Akhirnya, tanpa pandangan ramah pada Arka, Fredy langsung berlalu pergi begitu saja. Dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun bahkan tidak mau berbasa-basi, membuat Arka menatap nyalang pada punggung lelaki yang baru saja berlalu itu.
"Kamu cari siapa, Bell?" tanya Arka karena sedari tadi dia melihat Bella seperti sibuk dengan dirinya sendiri.
"Ng-nggak.. bukan apa-apa," sanggah Bella sambil nyengir kuda.
"Itu tadi siapa kamu?" tanya Arka. "Ah, apa dia tunangan kamu itu?" lanjutnya.
Bella tidak menjawab dan memilih mengalihkan pembicaraan. "Kamu lihat Sera, gak?" tanya Bella.
Arka langsung menggosok tengkuknya sendiri. Dia tahu Bella mengalihkan pertanyaannya.
"Gak lihat," jawab Arka singkat.
Bella mengangguk. "Aku duluan ya," kata Bella segera melangkah cepat tanpa mendengar lagi sahutan dari lelaki itu.
Arka memandang gadis pujaannya dengan nanar, "Kamu sangat menutup diri dariku, Bell. Bahkan sebelum aku mendekati pun kamu sudah membuat jarak dan menghindar," gumam Arka.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Bella memasuki kelasnya dan disana sudah ada Sera. Sera menatap Bella dengan senyum jahil.
"Kenapa?" tanya Bella pada sahabatnya itu, dia menduga Sera pasti akan menggodanya jika sudah bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Kemarin gimana?" tanya Sera sambil menaik-naikkan alisnya.
Mata Bella membulat melihat tingkah Sera. "Apanya yang gimana?" tanyanya.
"Ck, kan kemarin ngobrol berdua sama pria tampan itu," kata Sera seraya terkekeh kecil dengan pertanyaannya sendiri.
"Oh, Fredy..." kata Bella.
Sera terperanjat. "Jadi namanya Fredy?" ujar Sera antusias. "Wah, udah cocok banget itu sama kamu, Bell. Kalau gak mau kasi ke aku aja. Aku pasti tampung deh," lanjutnya seraya bersorak-sorai gembira.
Bella memutar bola mata malas melihat tingkah Sera yang selalu begitu jika menyangkut lelaki good looking.
"Jadi udah ada incaran baru, nih? Bukan Arka atau Jody lagi?" sindir Bella membuat Sera tergelak.
"Hahah, ya enggak gitu juga, Bell. Arka itu cuek dan susah di dekati. Kalau Jody, terlalu mudah karena dia playboy. Walaupun dua-duanya ganteng tapi yang namanya Fredy itu limited edition, Bell." kata Sera masih dengan kekehannya.
"So?"
Sera terkikik. "Ya jadi, kalau sulit dapatkan Arka atau dipermainkan sama si playboy Jody, masih ada cadangannya.. si Fredy itu," kata Sera ngakak.
Bella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah akward sahabatnya ini.
"Dasar kamu!" celetuk Bella.
"Eh tapi, kemarin ngomongin apa, sih? Dia agresif juga ya sampai nyamperin kamu gitu. Apa bicaranya to the point juga kayak kelakuannya?" tanya Sera kembali antusias.
Bella diam seraya mengetuk-ngetuk jari di bibirnya. "Kasi tahu gak, ya??" godanya dan Sera langsung mencebik kesal.
"Orangnya cuek bahkan lebih cuek dari Arka kamu itu," jelas Bella. "Awalnya ramah tapi hari ini dia bersikap dingin. Entahlah," lanjutnya malas seraya mengingat-ingat lagi perubahan sikap Fredy.
Bella kembali teringat Felix, "Hah, Felix kemana sih?" Dia kembali celingukan sendiri mencari keberadaan Felix yang biasanya selalu didekatnya.
"Hello... maksudnya??" pekik Sera membuat Bella kembali menatap. "Jadi hari ini kami ketemu lagi sama Fredy? Jangan bilang kalau dia juga yang anterin ke kampus?" tanya Sera dengan nada syok.
Bella hanya mengangguki pertanyaan Sera yang artinya adalah iya.
"What?? Oh my God, Bell..." Sera berdecak kagum. "Mimpi apa kamu semalam bisa dijemput cowok kayak Fredy? Dia nyaris sempurna Bell."
Bella hanya mendengarkan Sera tanpa berniat menjawabnya, dia sibuk mencari Felix dan memanggil-manggil Felix dalam pikirannya sendiri. Tak lama, Bella melihat sisi kirinya yang terasa dingin. Ternyata Felix sudah ada disana seraya meniup-niup poni rambut Bella.
"Kemana aja sih?" tanya Bella sebal pada Felix.
Tapi perkataan Bella didengar oleh Sera. "Siapa yang kemana, Bell?" sahut Sera seraya menatap bingung pada Bella.
"Eh, uhm.. enggak-enggak. Ini aku cari
Hp aku, kemana ya?" kilah Bella. Bella pun berpura-pura sibuk mencari Hp nya didalam tas.
Felix tersenyum melihat ulah Bella yang mengalihkan perhatian Sera.
"Kamu kenapa jadi pendiam?" tanya Bella pada Felix melalui pikirannya, dia tidak bersuara lagi takut kedengaran Sera.
Felix mendengar itu, tapi dia hanya tersenyum pada Bella tanpa bersuara.
Felix menjawab pertanyaan Bella hanya dalam hatinya saja.
"Aku bukan jadi pendiam, aku hanya membiarkan kamu supaya terbiasa lagi tanpa adanya aku. Karena aku tahu, hidupku yang sebenarnya akan dimulai setelah raga itu benar-benar ditemukan. Apakah aku bisa mendapatkannya lagi atau tidak? Aku gak yakin, Ra, tapi apabila hidupku sebagai manusia gak bisa kembali, setidaknya kamu udah terbiasa tanpa aku. Maafkan aku sudah memasuki hidupmu, Ara," batin Felix.
...TBC .......
__ADS_1