
Fredy mengetuk-ngetukkan jari di kap mobil. Ia tengah berpikir, bagaimana caranya membawa Felix masuk ke rumah besar sang Mama sekarang? Sebab, tidak mungkin Felix terus menungguinya disini tanpa kepastian. Ia juga membutuhkan Felix untuk mendeteksi keberadaan makhluk itu.
"Sebenarnya aku punya cara," celetuk Felix tiba-tiba.
"Apa?" sergap Fredy penasaran.
"Tapi aku takut kau tidak bersedia."
"Kenapa aku harus tidak bersedia?"
"Karena ini ada resikonya, aku takut kau keberatan. Resikonya terlalu fatal."
"Kita akan mencobanya. Coba katakan apa itu? Siapa tau itu adalah peluang untuk kita bisa masuk ke rumah Mama bersama-sama."
Felix tampak sangat tenang, Fredy tidak bisa menebak apa rencana Felix kali ini, tapi jujur ia sangat penasaran apa hal yang berisiko itu.
"Kau tau, aku punya tempat yang menjadi tempat tinggal sementara-- semenjak roh ku tidak tentu arah selama belasan tahun ini."
"Ya, tempat yang pernah Ara kunjungi juga, kan? Tempat itu sangat mirip dengan yang ada di lukisan milik Ara."
"Ternyata kau masih mengingatnya." Felix memang sempat menceritakan hal ini pada Fredy beberapa waktu lalu.
"Tapi, aku belum pernah menceritakan padamu siapa saja yang aku temui disana, kan?"
Fredy menggeleng. Ia hanya mendengar cerita itu setengahnya saja, mengenai tempat tinggal sementara Felix--dimana ia memang ditampung bersama dengan roh-roh lain yang terkatung-katung didunia. Kebanyakan dari mereka berada ditempat itu karena tidak diterima lagi di bumi dan tidak pula diterima untuk memasuki alam setelah kematian.
Tempat itu dihuni oleh roh yang mati bunuh diri, adapula roh yang belum menyelesaikan urusannya selama didunia, baik itu masalah dendam ataupun karena faktor lain.
"Disana aku mengenal seorang lelembut, dia penguasa tempat itu dan cukup disegani."
"Lalu, maksudmu dia yang mau membantumu?" tebak Fredy.
Felix menggeleng. "Dia tidak bisa membantuku, dia tidak bisa mencampuri urusan yang bukan urusannya. Dalam arti lain, dia hanya bisa mengerjakan yang menjadi permasalahannya saja dan aku tentu harus menyelesaikan masalahku sendiri."
"Jadi??? Ku pikir kau mau mengatakan bahwa ada makhluk lain yang mau membantu kita."
Felix menyunggingkan senyum kecil melihat keantusiasan Fredy kali ini.
"Bukan, aku hanya mengingat pesan dari Ki Lanang, dialah lelembut yang ku maksud."
"Pesan?"
"Ya, pesan itu yang mengingatkanku bahwa ada cara untuk kita masuk ke sana dengan tidak dicurigai."
"Ayo, katakan apa pesan lelembut itu?"
"Kau harus meminjamkan ragamu padaku, Frey... dalam arti lain aku akan merasuki tubuhmu."
"Apa?" Fredy terbelalak. Tentu saja ia terkejut.
__ADS_1
"Ya, kau keberatan kan? Aku bisa menebaknya, apalagi resikonya juga besar. Kemungkinannya kau tidak akan sadar lagi setelah ragamu ku masuki."
Glek....
Fredy menelan saliva dengan sulit. Ternyata resikonya memang tidak main-main. Ini bahkan menyangkut nyawanya sendiri.
"Kalau aku tidak bisa sadar lagi setelah dimasuki oleh roh mu, berarti kau yang akan menempati tempatku?" tanya Fredy memastikan.
Felix menggeleng samar. "Tidak. Kita sama-sama akan mati sebab ragamu juga bukan milikku yang asli. Tapi, ku harap semuanya bisa kembali lagi seperti semula."
"Jika tidak berhasil?"
"Kita akan menanggung resikonya bersama-sama, Frey."
Cukup lama hening, tentu pilihan ini bukanlah hal yang mudah untuk Fredy iyakan. Tapi, sepertinya ia memang tidak memiliki pilihan lain.
Sejak awal, sejak ia memutuskan untuk membantu Felix, seharusnya ia sudah harus siap menerima segala konsekuensi berikut resikonya.
Jiwa sosial dalam diri Fredy juga seakan tertantang untuk menaklukkan ini apalagi yang ia bantu saat ini adalah saudaranya sendiri.
"Baiklah, aku akan mengizinkanmu merasukiku," kata Fredy.
"Benarkah?"
Fredy mengangguk mantap. Ia sudah cukup berpikir mengenai ini, jika tidak berani maka usahanya hanya akan berhenti sampai disini.
Felix mencoba memasuki tubuh Fredy, sayangnya ia belum cukup ahli untuk hal itu, menyebabkan usaha itu gagal untuk pertama kali.
"Sudah?" Fredy menelisik ke dirinya sendiri, ternyata ia masih sadar sepenuhnya dan Felix gagal merasukinya.
"Aku akan mencobanya lagi. Usahakan untuk tidak memikirkan apapun, jika pikiranmu kosong maka aku akan lebih mudah masuk."
Fredy mengangguk dan ternyata usaha kedua Felix berhasil.
Sekarang Felix sudah berada didalam tubuh Fredy, ia dapat menggerakkan tangan bahkan mengendalikan semua panca indera milik saudaranya.
Felix mencoba untuk membaca pikiran Fredy dalam keadaan ini, ternyata hal itu masih bisa ia lakukan.
"Frey..." Menggunakan raga Fredy, Felix mulai memanggil nama saudaranya.
"Aku juga disini, ku pikir rohku akan keluar, begitu kau masuk ke ragaku. Dan aku akan berwujud roh seperti kau yang sebelumnya," kata Fredy yang juga berada dalam tubuh yang sama.
Jika dilihat dengan mata biasa, maka yang menangkap gelagat tubuh Fredy saat ini pasti mengira ada seorang pria tampan yang sedang berbicara sendiri seperti orang gila, Fredy seperti tengah bertanya tapi dia pula yang menjadi penjawabnya, padahal itu adalah Fredy Dan Felix dengan dua roh yang berbeda.
"Bagus seperti ini, kita bisa berkomunikasi dalam satu tubuh," kata Felix terkekeh. Ia pun mulai membiasakan diri dengan raga Fredy.
"Ya, tapi jangan terlalu bahagia. Tidak ada sejarahnya satu tubuh ada dua jiwa. Jadi, kita harus segera menyelesaikan masalah ini sebelum kehabisan waktu. Aku takut kita akan musnah bersama-sama sebelum raga aslimu ditemukan," papar Fredy masuk akal.
Hingga akhirnya, dengan satu tubuh yang sama, dan kini dikendalikan oleh Felix, mereka pun berjalan menuju kediaman Neni, sang Mama.
__ADS_1
"Fredy? Ngambil barang apa di mobil?" tanya Neni begitu melihat Fredy kembali.
Bagus, dia mengetahui bahwa ini adalah Fredy, batin Felix.
"Ngambil Flashdisk," jawab Felix sembari menunjukkan benda kecil yang kini ia keluarkan dari saku celana yang Fredy kenakan.
"Oh, nanti malam kita makan sama-sama ya."
"Hmm..." Felix lebih irit bicara ketimbang Fredy. Ini semua karena ia malas melihat wajah wanita yang pernah menumbalkannya.
Bahkan jika bisa, Felix tidak mau melihat wajah wanita itu lagi. Wajah itu terlihat masih sama mudanya seperti belasan tahun yang lalu.
"Kau kecewa padanya?" tanya Fredy pada Felix dalam satu tubuh yang sama. Percakapan itu tentu hanya bisa didengar oleh mereka berdua sebab keduanya hanya berbisik-bisik pelan.
"Tentu saja, apa kau tidak kecewa padanya?" Felix balik menanyakan Fredy.
"Entahlah, tapi aku lebih penasaran padanya sekarang," kata Fredy.
"Apa ada yang mencurigakan di rumah ini?"
"Ya, aku menemukan satu pintu aneh. Itu terlihat berbeda dengan yang lainnya, tapi aku belum mengetahui ada apa dibaliknya," papar Fredy.
"Kita akan mencaritahunya."
Dengan gerak pelan, Fredy mengarahkan tubuh yang dikendalikan oleh Felix itu untuk menuju pintu yang ia maksudkan. Berhubung Neni juga terlihat sibuk dengan bunga-bunga dihalamannya tadi, jadi mereka akan mencari tahunya sesegera mungkin.
"Pintu yang itu maksudmu?"
"Ya, itu... yang berwarna emas."
Felix mengangguki keterangan dari Fredy. Ia membawa tubuh itu untuk bergerak mendekat ke arah pintu, namun secara tiba-tiba Felix merasakan sesuatu yang berbeda.
"Udara dari ruangan ini terasa berbeda, aku bisa merasakannya," gumam Felix.
"Jadi, menurutmu ada apa didalam ruangan yang ada dibalik pintu itu?" tanya Fredy.
"Sepertinya mama masih melakukan ritual itu, dan aku yakin ruangan ini adalah tempat ritualnya."
Felix ingin menekan kenop pintu saat itu juga tapi seperti tersengat listrik ia langsung terjingkat kaget.
Sebuah senyuman miring langsung tersungging diujung bibirnya.
"Aku yakin ada sesuatu disini," kata Felix mantap.
"Itulah yang ku maksudkan. Kita harus segera masuk kesana. Apa kau ada melihat sesuatu yang aneh? Apa kau dapat merasakan ada atau tidaknya makhluk jahat itu disini?"
"Belum, sepertinya dia tidak berada disini, tapi ruangan ini memang diberikan mantra agar kita tidak bisa masuk kesana."
...TBC .......
__ADS_1