
Chapter 8
____________
Bella tidak bisa tidur malam ini, padahal ia sudah berusaha untuk tidur, diliriknya sang Mama yang malam ini ikut menginap di kamar Kost-nya, wanita yang masih cantik diusianya yang setengah baya itu tampak tertidur lelap dengan nafas yang teratur.
"Ma, sebenarnya apa yang Mama sembunyikan dari Ara, Ma?" ucap Bella dalam hatinya sendiri, ia bertanya-tanya dalam diam seraya memperhatikan wajah damai sang Mama yang lelap dalam tidurnya.
Bella menghela nafasnya, menatap ke arah langit-langit kamar, ia menyadari suatu hal dan seperti mencari-cari sesuatu.
Ada kejanggalan hari ini, tepatnya sejak Sang Mama datang berkunjung Bella tidak melihat kehadiran Felix dari siang tadi. Padahal, biasanya Felix akan berada didekatnya sekalipun Bella sedang tidur.
Entah kenapa jauh dalam hati Bella merasa sunyi dan kehilangan sosok Felix yang belakangan hari selalu menemaninya.
"Felix, kamu kemana? Kenapa kamu tidak muncul?" batin Bella kembali bertanya-tanya sekaligus mencari-cari keberadaan Felix yang seharian ini belum ia lihat.
Bella mulai sadar, jika sedikit banyak nya Felix sudah menemani dan mengisi hari-harinya yang kosong.
Hingga, Bella pun memutuskan untuk memejamkan matanya dan berusaha tertidur.
Tanpa ia sadari, dari jauh Felix memandangnya dengan guratan sendu.
"Ara, cepat atau lambat kamu harus mengetahui siapa aku dan Mama kamu tidak mungkin menutupi hal ini lebih lama lagi. Aku akan memaksanya untuk membuka mulut agar kamu bisa mengetahui segalanya," gumam Felix dari kejauhan, tentu saja Felix bisa membaca isi kepala Bella saat ini dan dia merasa bahagia karena akhirnya Bella sudah mau menerima kehadirannya dan mulai mencari-carinya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Siapa kamu?" tanya seorang wanita dengan nada kaget.
"Mungkin Anda sudah lupa, tapi saya selalu mengingat Anda, Tante," jawab pemuda itu. Tampangnya yang kurang jelas membuat wanita lawan bicaranya menjadi bingung, dahi wanita itu berkerut sampai akhirnya wanita itu memekik ketakutan.
"Ka-kamu? Apakah, apakah k-kamu Fe-Felix?" tanyanya dan pemuda tadi mengangguk mengiyakan.
"Jadi be-benar? Kamu sudah dewasa sekarang?" ucap wanita itu seraya menghela nafas pendek-pendek.
"Ya, dan aku datang untuk menagih janji anakmu, dia adalah tunanganku," jawab Felix tenang.
"Ja-jangan ganggu Ara, Felix. Tante mohon."
Wanita yang ternyata adalah Mama Bella itu memohon sambil menyatukan kedua tangannya dihadapan Felix. Ia menatap sosok Felix yang menjulang tinggi, namun ia tak kuasa menatap wajah Felix karena tertutupi cahaya yang sangat menyilaukan.
"Tentu Saya bukan mau mengganggunya, Tante. Saya hanya ingin dia menepati janji," ucap Felix lagi.
"Felix, kalian mempunyai dunia yang berbeda. Jangan dipaksakan," ucap Bu Ika dengan suara yang bergetar.
Felix tertawa sampai Bu Ika merinding mendengar suara tawa itu. "Semuanya akan mudah jika Ara sudah menerima Saya, Tante."
"Tapi tetap saja itu tidak mungkin." Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Kalau Tante tidak mau memberitahu Ara yang sebenarnya, Tante akan menyesalinya!" Felix kembali tertawa sinis dan disaat bersamaan Bu Ika terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu. Keringat di pelipisnya membanjiri sampai ke tulang pipinya sendiri. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
Bu Ika langsung melirik pada putrinya yang tertidur pulas disebelahnya dengan posisi meringkuk.
"Ara, Felix benar-benar datang. Dan dia menagih janji itu. Bagaimana ini Ara? Mama harus bagaimana?" tanya wanita itu dalam hatinya.
Bu Ika menjadi kalut dan gelisah, apalagi mengingat ucapan terakhir Felix, jika ia tak memberitahu Bella mengenai apa yang sebenarnya, maka akan ada sebuah penyesalan.
"Semua ini salah Mama, Nak... Maafkan Mama, Nak!" ucap Bu Ika sambil terisak.
Bella perlahan-lahan mengerjapkan matanya, ia mendengar suara isakan itu dan segera menguasai keadaan. Gadis itu segera terbangun dari posisinya yang berbaring, ia pun melihat sang Mama yang menangis, tubuh Mama tampak bergetar hebat dan Bella mulai mengeluarkan suaranya.
"Ma, ada apa?" tanya Bella sambil memegang pundak Mama yang terduduk di ranjang sambil membelakangi posisinya.
"E-eh... Kamu bangun, Ra?" Bu Ika mengusap pipinya yang basah dengan asal.
"Mama kenapa nangis?"
"Ng-nggak, Mama hanya bermimpi buruk," sanggah Bu Ika.
"Mimpi apa? Kok sampai nangis?" Mata Bella memicing, berusaha menafsirkan yang terjadi.
"Bukan apa-apa," elak Mama.
"Ma, Ara tahu Mama sedang menyembunyikan sesuatu, tolong kasi tahu Ara semuanya. Kasi Ara jawaban. Apa ini ada kaitannya dengan Felix?" tanya Bella beruntun.
"Mama haus, Ra."
Bella mengangguk dan menuangkan air yang terletak di atas nakas ke dalam gelas, kemudian dia pun memberikan gelas berisi air itu kepada sang Mama.
Setelah Bella memastikan Mamanya minum dengan puas, Bella kembali bersuara.
"Mama mimpi bertemu Felix?" tebak Bella.
Bu Ika mengangguk, tak bisa lagi menutupi hal yang memang seharusnya Bella ketahui.
"Ma, coba cerita sama Ara. Apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu? Kenapa Bella gak ingat sama sekali?"
"I-itu karena..." Bu Ika tampak ragu-ragu.
"Ma, jujur aja. Ara akan menerima semuanya dan lagi, Ara yakin Felix gak akan melukai Ara. Kami sudah bertemu beberapa kali dan Felix menunjukkan itikad baiknya," jawab Bella jujur.
"Bertemu beberapa kali?" Mama menatap manik mata Bella, ia pikir Bella hanya bertemu sekali dan anaknya itu pasti terkejut lalu ketakutan jika bertemu Felix.
Bella mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang Mama.
"Kamu gak takut ketemu dia?"
__ADS_1
Bella menggeleng. "Awalnya takut, tapi sekarang udah enggak."
"Berarti kalian memang bertemu lebih dari sekali? Kamu bisa melihatnya?" Suara Mama mendadak histeris.
"Ma, tenang Ma. Ara gak apa-apa. Makanya Mama cerita biar Ara tau harus bersikap bagaimana terhadap Felix," jawab Bella.
"Mama gak tahu mau cerita dari mana. Ini semua salah Mama," ucap Bu Ika memulai ceritanya.
"Tenangkan dulu diri Mama, Ma..."
Bu Ika menatap sang anak yang nampak tenang, ia pun kembali mengatur nafasnya yang memburu, ia mencoba bersikap setenang Bella sekarang. Bu Ika memutuskan untuk mulai bercerita.
******
Pada saat Bella masih berumur 3 tahun, Bu Ika mempunyai sahabat dekat bernama Tante Neni. Tante Neni adalah ibu tunggal, dia mempunyai seorang anak laki-laki yang lucu dan usianya terpaut lima tahun dari Bella, saat itu anak Tante Neni berusia 8 tahun.
Bella dan anak tante Neni sering bermain bersama, tak jarang mereka juga sering bertengkar soal memperebutkan mainan dan berakhir dengan kemenangan Bella--yang tak mau berbagi mainannya dengan orang lain.
Anak tante Neni yang tampan dan cerdas, berhasil membuat Bu Ika dan Pak Setyo jatuh hati, Mama dan Papa Bella itu pun sepakat ingin menjodohkan Bella dengan anak laki-laki tampan itu ketika mereka berdua sudah dewasa nanti.
Tante Neni sangat bahagia dengan rencana itu. Tante Neni langsung mengusulkan agar pertunangan itu dimulai sejak Bella dan anaknya masih berusia dini dengan berbagai alasan.
Awalnya, Bu Ika dan Pak Setyo menolak, tapi berkat upaya dan usaha Tante Neni untuk membujuk mereka, akhirnya orangtua Bella pun menyetujuinya.
Berbekal acara kecil-kecilan yang diselenggarakan, Bella dan anak Tante Neni dipertunangkan layaknya pertunangan orang dewasa. Tante Neni juga memberi sebuah kalung liontin sebagai bentuk ikatan pertunangan antara Bella dengan anaknya.
Hari itu semua sangat bahagia, termasuk Bella dan anak Tante Neni yang ikut merasa gembira, karena pada dasarnya mereka tidak mengerti yang terjadi, mereka hanya bahagia bisa ikut merayakan pesta yang banyak dihiasi pernak pernik dan balon khas anak-anak.
Sejak saat itu, keluarga mereka menjadi semakin akrab dan dekat. Bu Ika pun semakin sering terlihat bersama Tante Neni layaknya seperti keluarga sendiri.
Tetapi, lambat laun Bu Ika mulai merasa ada kejanggalan saat semakin tahu tentang seluk-beluk keluarga Tante Neni.
Salah satunya saat Bu Ika berkunjung ke rumah calon besannya itu.
"Neni, kamu dimana? Aku bawa dendeng pedas kesukaan kamu nih," ucap Bu Ika seraya memasuki rumah Tante Neni yang tidak dikunci, itu hal biasa bagi mereka karena Tante Neni pun selalu bersikap begitu dirumah keluarga Bella.
Bu Ika pun semakin masuk kedalam rumah, ia ingin menuju dapur untuk meletakkan makanan yang ia bawa. Tapi sebelum menuju dapur, Bu Ika sempat melewati ruangan tertutup yang memang tidak pernah nampak dibuka sama sekali oleh Tante Neni.
Dahi Bu Ika berkerut saat tak sengaja melihat asap yang mengepul keluar dari celah bawah pintu ruangan yang tertutup itu.
Bu Ika takut terjadi sesuatu seperti kebakaran didalam ruangan itu, sontak saja ia pun langsung membuka pintu ruangan yang ternyata dalam keadaan tidak terkunci.
Namun, betapa terkejutnya Bu Ika saat membuka ruangan itu, nuansa mistis sangat terasa kental disana.
Bu Ika terperangah saat menemukan Tante Neni sedang membakar semacam dupa didalam sana sembari ada seorang anak laki-laki yang terbaring dihadapannya. Anak laki-laki itu tampak sedang tertidur pulas dan anak itu adalah anak Tante Neni sendiri.
"Neni, apa yang kamu lakukan pada Felix?" pekik Bu Ika dengan nada syok.
__ADS_1
...TBC......