Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
20. Mengunjungi rumah Orangtua


__ADS_3

Chapter 20


___________


Mobil Fredy memasuki pekarangan rumah orangtua Bella. Perasaan Bella mendadak cemas, mengingat Mamanya akan marah jika dia masih mengurusi hal yang bersangkut-paut dengan Felix.


Beberapa kali Fredy dan Felix menenangkannya hingga akhirnya Bella pun setuju untukkeluar dari mobil.


Kedatangan mereka disambut oleh seorang asisten rumah tangga yang tentu saja mengenali Bella.


"Non Ara ... sudah lama gak pulang kerumah, Non." sapa ART itu seraya tersenyum simpul. Dia melirik seorang pemuda tampan yang ikut berkunjung ke rumah orangtua Bella.


"Iya, Bik. Mama mana, Bik?" tanya Bella, mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ibu sedang ke supermarket, Non. Belanja kebutuhan rumah. Kalau Bapak sedang ada di ruang kerjanya," jelas ART setengah baya berbadan gempal itu.


"Non, pacarnya yah?" bisik sang ART membuat Bella mengernyit beberapa saat lalu paham jika yang dimaksud oleh Bik Jum adalah Fredy.


"Bukan, Bik. Itu teman aku..." jawab Bella sambil berbisik pula pada Bik Jum.


"Bibik ambilkan minum dulu ya, Non. Sekalian Bibik panggilkan Bapak."


Bella pun menjawab dengan mengacungkan jari jempolnya pada perempuan yang sudah dikenalnya sejak berumur 10 tahun itu.


"Duduk, Frey ..." kata Bella mempersilahkan Fredy duduk, diliriknya Felix yang sudah lebih dulu mengambil posisi nyaman di sofa ruang tamu.


"Mama lagi keluar, kamu gak apa-apa kalau nunggu?"


Fredy mengangguk lalu dia menatap sekeliling rumah orangtua Bella yang nyaman dan sejuk karena diluar rumahnya banyak ditumbuhi pohon buah dan tanaman hias.


"Hai, anak Papa..." Seorang pria setengah baya turun dengan langkah tergesa dari atas tangga. Raut ketampanan masih terlihat di wajahnya yang telah melewati usia kepala empat.


"Papa.." Bella berdiri dan menghambur kedalam pelukan sang Papa. Mereka berpelukan sejenak melepas kerinduan.


"Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Pak Setyo pada putrinya, "Kamu tahu, padahal Papa dan Mama mau ke tempat kamu besok. Makanya Mama belanja dulu untuk dibawa kesana katanya," Pak Setyo terkekeh nyaring dan ditimpali oleh suara kekehan Bella.


Pria itu pun menoleh ke arah lain karena dia merasa ada sesuatu yang janggal. "Ra, dia siapa?" tanya Pak Setyo pada Bella. Wajah Pak Setyo menatap Fredy dengan tatapan menyelidik.


Fredy ikut berdiri lalu menyalami tangan Pak Setyo. "Hallo Om, saya Fredy," sapanya.


Pak Setyo mengangguk lalu mempersilahkan semuanya untuk duduk setelah dia juga duduk di sofa tepat diseberang Felix yang juga sudah terduduk.


Tentunya, Pak Setyo tidak melihat Felix disana, hanya Fredy yang Pak Setyo pandangi sedari tadi. Mungkin dia sedang menerka-nerka siapa lelaki yang ikut pulang bersama putrinya ini.


"Pa, Fredy ini--"


"Biar aku saja yang menjelaskannya, Ra," potong Fredy.


"Ada apa ini?" tanya Papa dengan nada heran. Sepertinya pembicaraan ini sesuatu yang serius, terkanya.

__ADS_1


"Begini Om, sebelumnya saya minta maaf. Apa boleh jika saya menjelaskan ini nanti didepan Tante juga. Jadi nanti tidak akan ada kesalahpahaman," ujar Fredy sopan.


Pak Setyo menatapi Fredy dengan tatapan penuh pertanyaan. Masalah apa yang kiranya akan dijelaskan oleh pemuda ini? Dan kenapa pemuda ini bisa ikut kesini bersama Bella? Apa mereka memiliki hubungan serius? Pak Setyo juga tahu jika putri kecilnya sudah beranjak dewasa sekarang. Tapi, entah kenapa Pak Setyo merasa ada yang tidak beres.


"Oke, tapi sebelumnya bisa kamu beritahu saya.. antara kamu dan Ara ada hubungan apa?" tanya Pak Setyo dengan nada pelan.


"Saya dan Ara berteman, Om."


"Yakin hanya teman?" tukas Pak Setyo.


Bella menginterupsi keduanya. "Ya, Pa. Fredy teman Ara. Nanti biar lebih jelasnya kita tunggu Mama pulang aja."


Pak Setyo pun setuju, dia merasa lega ternyata anak gadisnya belum memiliki hubungan spesial dengan lawan jenis. Jauh didalam hati, Pak Setyo juga mengkhawatirkan hal itu, mengingat jika Bella pernah bertunangan dengan Felix dimasa lalu dan sedikit banyak Pak Setyo tahu perihal kejadian yang menimpa Felix.


Jadi, Pak Setyo takut jika Bella menjalin hubungan dengan orang lain. Takut anaknya tidak bisa di terima oleh orang yang baru karena masa lalu itu.


Mereka memutuskan untuk makan siang sambil menunggu Bu Ika pulang. Pak Setyo menyambut hangat kedatangan Fredy, mereka berbicara ringan tentang keseharian masing-masing, kebetulan Fredy juga mewarisi usaha mendiang Ayahnya dan melanjutkan usaha itu, jadi sedikit banyak obrolan sesama pengusaha itu sangat nyambung dan tidak bentrok. Malah mereka tampak akrab hanya dalam hitungan jam.


"Mama kamu, Ra, kalau udah belanja sukanya lupa waktu. Makanya Papa males ngikut Mama belanja," celetuk Pak Setyo saat melihat wajah Bella yang mulai cemas.


"Iya, Pa. Ara tahu." s


Sesungguhnya Bella mencemaskan hal lain. Dia takut Mama dan Papanya akan marah jika mengetahui siapa Fredy sebenarnya-- karena ini menyangkut Felix-- yang mereka pikir tidak lagi diurusi oleh Bella.


Setelah menunggu kurang lebih satu setengah jam, Bu Ika akhirnya pulang ke rumah.


"Siapa, Ra?" tanya Bu Ika tanpa tedeng aling-aling.


"Simpan dulu belanjaannya, Ma," sahut Pak Setyo dan Bu Ika pun menyengir kuda.


Bu Ika kembali ke ruang tamu setelah meletakkan belanjaannya di dapur dengan dibantu oleh Bik Jum.


Bu Ika duduk disebelah Pak Setyo dan di seberangnya ada Bella, Fredy dan tentu saja Felix yang diam sedari tadi, tapi bisa membaca kegugupan dan ketakutan Bella dari isi pikiran gadis itu.


"Mama kayak pernah lihat kamu," celetuk Bu Ika tiba-tiba, saat ia menatap wajah Fredy.


"Ini Fredy, Ma," sahut Bella memperkenalkan. Dia ragu mau memulai obrolan dari mana didepan kedua orangtuanya.


Melihat keraguan Bella, Felix buka suara pada Fredy agar mengambil alih pembicaraan didepan orangtua Bella.


"Kau saja yang memulainya," kata Felix pada Fredy. Ucapan itu didengar Fredy dan Bella, tapi tidak didengar kedua orangtua Bella.


"Om, Tante.. begini, saya ingin menjelaskan tentang hal yang juga baru saya ketahui seminggu ini," ucap Fredy memulai.


Kedua orangtua Bella menatapnya serius karena pemuda itu berujar dengan pelan dan hati-hati.


"Om dan Tante pasti mengenal Felix..." kata Fredy kemudian.


Kedua orangtua Bella mengernyit dan tampak syok kala Fredy menyebut nama Felix.

__ADS_1


"Mungkin Om dan Tante akan terkejut mengetahui ini, tapi sebenarnya kita sama... Saya juga baru mengetahui hal ini seperti yang tadi saya katakan. Jadi, saya adalah saudara kembar Felix. Kami terpisah lama, saya ikut Papa dan Felix terpaksa ikut Mama karena suatu kejadian," terang Fredy pada akhirnya.


Mendengar itu, Bu Ika dan Pak Setyo tercengang. Bu Ika bahkan menatap Fredy dengan tatapan tidak berkedip, yah.. dia sekarang tahu jika lelaki dihadapannya ini mirip dengan Felix. Walau dia mengenal Felix saat Felix masih kecil, tapi raut wajah Fredy benar-benar mengingatkannya tentang Felix sekarang. Dia sudah mengerti kenapa wajah Fredy tampak familiar di pandangannya.


"Fe-felix, apa Felix menemuimu juga?" tanya Bu Ika mulai bersuara.


"Apa Felix sempat menemui Tante baru-baru ini?" Fredy balik bertanya.


Bu Ika mengangguk. "Yah, waktu itu... saat Tante menginap di Kos Ara. Entah itu mimpi atau nyata. Tapi, lebih seperti nyata memang," jawabnya.


Fredy menatap Felix sekilas dan Felix mengangguki ucapan Bu Ika, lalu Fredy kembali menatap kedua orangtua Bella.


"Lalu, apa keputusan Tante?" tanya Fredy lagi.


"Tante bilang pada Ara agar tidak mencampuri masalah Felix lagi. Kamu pasti mengerti jika tante takut..." kata Bu Ika dengan wajah tertunduk.


Pak Setyo segera menggenggam jemari sang istri untuk menenangkannya.


"Saya paham, Tan. Untuk itulah saya datang kesini meminta bantuan agar Tante memberitahu saya alamat rumah Mama kami- yang dulu dipakai untuk melakukan ritual itu."


Bu Ika dan Pak Setyo saling menatap satu sama lain.


"Saya akan mengurus ini, Om, Tante. Karena saat ini roh saudara saya sedang mencari raganya. Felix tidak bisa kembali menjadi manusia jika raganya belum ditemukan."


"Tapi, apa itu tidak akan membahayakanmu, Frey..." timpal Pak Setyo mulai buka suara.


Fredy menggeleng. "Saya tahu itu pasti akan terjadi, mengingat yang saya hadapi nanti adalah Mama kandung saya sendiri dan tentunya roh jahat yang menguasai tubuh Felix. Tapi, walau bagaimanapun Felix adalah saudara saya dan Mendiang Papa saya sudah meminta saya untuk mencari Felix," jelas Fredy.


"Baiklah, Tante akan memberi alamatnya. Tapi Ara tidak ikut kan?" tanya Bu Ika ragu.


"Aku ikut," ujar Bella mantap.


"Tidak ikut," kata Fredy pula.


Bella dan Fredy saling menatap karena ucapan mereka serentak, tapi berbeda pendapat.


"Jangan ikut, tinggallah dirumah orangtuamu beberapa hari," ucap Fredy pada Bella.


Bella menatap Felix yang tidak bergeming, kemudian Felix tampak mengangguki ucapan saudaranya.


"Tetaplah dirumah ini," kata Felix menimpali, yang tentu saja tidak didengar kedua orangtua Bella.


"Jangan ikut, Ra..." kata Pak Setyo.


"Ya, kamu disini saja sama Mama," timpal Bu Ika.


Bella menghela nafas panjang, akhirnya dia memilih mengalah dan menganggukkan kepalanya.


...TBC ......

__ADS_1


__ADS_2