
Neni keluar dari kamar dengan tergesa-gesa, ia menyeret kopernya dan menatap tiga orang yang masih duduk di beranda rumah.
Tanpa basa-basi, Neni langsung mengusir ketiganya yang tak lain adalah Fredy, Bella dan Om Deka.
"Maaf, saya mau berangkat ke Luar Negeri hari ini juga. Silahkan kalian pulang ke kediaman masing-masing."
Fredy sampai mengumpat dalam hatinya. Usaha mereka tak berhasil menghentikan Neni dari niat kepergiannya.
"Ma, kita masih ada tamu. Apa Mama tidak bisa menghargai Om Deka dan Bella yang datang kesini?"
"Tidak, mama sudah pesan tiket jauh-jauh hari dan ini sangat urgent. Mama tidak bisa untuk mengabaikan hal ini begitu saja."
"Tapi, apa Mama harus mengabaikan aku? Lagi?" tekan Fredy.
Neni tak menjawab. Ia kembali bergerak untuk menarik koper, sayangnya tindakan Fredy justru di luar kendali, dia menarik pergelangan tangan Neni.
Zudh tiba-tiba muncul, dia mau mencegah Fredy demi melindungi Neni.
"Frey! Lepaskan, apa yang kau lakukan!"
Fredy tak berniat melepaskan Neni, bukan dia mau menyakiti wanita itu, tetapi dia ingin mencegah kepergian sang Mama agar dia masih bisa tinggal di kediaman Neni beberapa saat lagi, setidaknya sampai mereka menemukan jalan keluar atau titik terang yang bisa membuat Xeor hadir ditengah-tengah mereka.
Neni berteriak, sialnya hal itu membuat pot bunga yang ada disana berjatuhan. Sangat tidak masuk akal. Secara otomatis, Fredy refleks melepas pergelangan tangan sang Mama.
"Kamu menyakiti mama, Frey!" protes Neni sambil mengaduh dengan tidak sadar.
Om Deka tampak langsung berdiri sesaat melihat kejadian aneh barusan. Bella sendiri melotot tak percaya saat beberapa pot bunga itu jatuh sebab teriakan Neni.
Felix yang juga ada disana, turut merasakan sesuatu. Jiwanya seperti tertarik. Ibarat magnet, ada yang membuat Felix ingin beranjak tapi entah kemana--diapun tak tau.
"Dia disini," gumam Om Deka yang tentu saja didengar Felix dan Bella.
Zudh segera membentengi Neni, seolah memberinya peringatan. Disaat itulah Neni terdiam dan tidak mengeluh lagi perihal sakit ditangannya akibat ulah Fredy.
Satu yang membuat Fredy menyadari sesuatu. Dia menatap Om Deka dan pria baya itu memberi anggukan sebagai isyarat kepada Fredy.
"Kau ceroboh, Neni. Mereka akan tau," bisik Zudh ditelinga Neni.
Disaat itulah, Fredy kembali menarik tangan Neni lagi.
Angin semilir berubah menjadi kencang, semakin kuat dan tiba-tiba Fredy melihat sesosok orang yang mirip dirinya tengah melintas cepat menuju ruang berpintu emas.
Bagai terhipnotis, Fredy melepas tangannya yang mencengkram Neni. Tiba-tiba senyap melanda. Mereka semua saling menatap dengan bingung.
__ADS_1
"Pergi kalian. Tinggalkan rumahku!" pekik Neni tiba-tiba.
Neni yang awalnya ingin keluar rumah, berbalik masuk kembali dan menutup pintu dengan keras, diikuti sosok Zudh dibelakangnya.
"Felix?" Bella mencari keberadaan Felix tapi tidak menemukannya. Felix sudah terombang-ambing mengikuti aliran magnet yang seakan menariknya entah kemana.
"Om, kemana Felix om?" tanya Bella panik pada Om Deka.
Om Deka menatap Fredy. Sejak tadi mereka punya sebuah kesimpulan.
"Kita harus menyelesaikan ini hari ini juga. Xeor hadir ketika Neni merasa tersakiti."
Bella terperangah mendengar kesimpulan yang baru saja dikatakan oleh Om Deka itu.
Fredy mengangguk, seolah ia setuju dengan ucapan Om Deka. Itulah yang mereka yakini beberapa saat lalu.
"Lalu Felix?"
"Dari semua yang terjadi, om punya sebuah pemikiran tentang Xeor."
"Apa?" tanya Fredy dan Bella kompak.
"Dia bersembunyi dari Felix karena Felix adalah pemilik raga yang sesungguhnya. Raga dan roh yang asli akan saling tarik menarik dan berkaitan, maka dari itu Xeor tidak berani muncul disaat Felix ada. Dia menjauh, karena takut raga itu kembali dikuasi roh Felix yang sudah seharusnya memiliki raga itu."
"Ada kemungkinan dia masih berada disini tepatnya didalam rumah ini. Tapi Xeor tak mungkin membiarkan semua ini dengan mudah."
Fredy memahami itu, dia pun teringat pada ruang berpintu emas dimana mereka tak bisa memasukinya termasuk Felix.
Mungkin itu adalah ruangan yang dibuat menjadi benteng pertahanan Xeor. Tapi ruangan itu diberi mantra agar Felix tak dapat memasukinya, begitulah pemikiran Fredy.
"Sepertinya aku tau dimana Xeor sekarang," ungkap Fredy.
"Dimana?" Bella menyahut, dia cukup khawatir mengenai keberadaan Felix sekarang.
"Kita harus masuk. Ruangan itu ada didalam rumah Mama."
Fredy pun beranjak, sialnya Neni telah mengunci pintu rumah itu. Dia tak peduli, dia menatap Om Deka seolah memiliki pemikiran yang sama.
"Kita akan menerobos masuk, kalau perlu dobrak pintunya."
...~~~...
Fredy, Om Deka dan Bella tiba didepan ruang berpintu emas. Tapi mereka tidak menemukan Neni, Zudh maupun Xeor disana. Mereka hanya mendapati roh Felix yang terduduk di depan pintu seolah tak bisa bergerak kemanapun.
__ADS_1
"Felix?" Bella merasa sangat khawatir pada pemuda itu. Wajah Felix menunjukkan raut kesedihan.
Felix menoleh dan menyadari kehadiran ketiga orang itu, dia menggeleng lemah.
"Aku tidak bisa masuk ke dalam. Bahkan sekarang aku tidak bisa kemanapun. Aku akan musnah disini," katanya lesu.
Bella dan Fredy terkejut mendengar itu.
"Darimana kau bisa menyimpulkan hal itu? Kita masih bisa berusaha, Xeor sudah disini."
"Kalian mungkin bisa menerobos pintu rumah Mama, tapi kalian tidak bisa menerobos pintu ini." Felix merujuk pada pintu emas yang ada dibelakang tubuhnya.
Om Deka ingin ambil peran, dia mencoba membuka handle pintu setelah membaca semacam mantra yang ia miliki, sayangnya itu tidak berhasil seperti perkiraan Felix.
"Xeor ada didalam. Om meyakini hal itu."
"Kenapa dia bersembunyi?"
"Dia takut padamu," kata Fredy pada Felix.
Felix menatap Bella lama, gadis itu seperti memikirkan sesuatu yang tentu saja dapat Felix baca sesuatu yang ada dikepalanya.
"Dimana liontinnya?" tanya Felix tiba-tiba sambil menatap Bella.
Tentu saja Fredy dan Om Deka mengernyit tak paham. Sementara Bella langsung mengerti jika Felix sudah dapat membaca apa yang tengah ia pikirkan.
Ya, sejak tadi Bella memang memperhatikan pintu yang di belakangi oleh Felix, gadis itu merasa jika warna pintu serta reliefnya mengingatkan pada sebuah liontin yang Bella miliki. Liontin itu pula yang dulu diberikan Neni padanya ketika dia bertunangan dengan Felix di masa kecil.
"Liontinnya ada di boneka aku. Aku pakaian di boneka itu," jawab Bella polos.
"Kemungkinan liontin itu bisa membuka pintunya." Om Deka bersuara.
Bella diam, dia mendekat pada pintu itu dan menekan handlenya. Berbeda dengan Fredy dan Om Deka yang sama sekali tak bisa membuka pintu bahkan gagal menekan handle-nya. Bella merasa berbeda.
Bella merasa tangannya begitu pas disana. Ia menatap Felix bersamaan dengan pemuda itu yang juga menatapnya. Mereka seakan sepemikiran.
Pemilik liontin itu adalah Bella dan Bella mungkin memang bisa membuka pintunya. Tapi ini masih pemikiran mereka dan Bella belum mencobanya.
"Coba bukalah," pinta Felix dengan suara yang sangat tenang.
TBC ....
Maaf ya up novel ini agak lama, soalnya lagi fokus ke Novel EX. Tapi aku usahain tetap update dan bakal aku tamatin disini kok 🙏 terima kasih buat yg udah dukung novel ini dan masih setia membaca❤️❤️❤️❤️ semoga kita sehat selalu ya
__ADS_1