Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
34. Perantara


__ADS_3

Di tempat lain, Sera datang mengunjungi Kos Bella sebab sahabatnya itu tidak datang ke Kampus hari ini. Apa Bella masih sakit? Begitulah pemikiran Sera.


Tapi, saat Sera tiba ditempat tinggal Bella itu, dia mendapat pemberitahuan bahwa Bella tidak berada di kos.


Sera sudah terbiasa disana, dia mengenal beberapa tetangga termasuk Security berkepala plontos yang menjaga tempat itu.


"Padahal aku mau ambil lukisanku yang kebawa sama Bella, soalnya mau ada event lanjutan di kampus. Siapa tau lukisan itu laku di lelang, buat biaya amal."


Begitulah perkataan lesu Sera pada tetangga kamar yang berada tepat disebelah kamar Bella. Dia adalah Niki.


Karena Niki tidak tega pada Sera yang merupakan adik tingkatnya di kampus dan juga sahabat dari Bella, akhirnya mereka meminta izin pada Security untuk memasuki kamar Bella dengan kunci serap.


"Aku udah telepon sama kirim pesan ke Bella tapi gak dibaca, telepon juga enggak tersambung."


Sebenarnya ada perasaan khawatir terhadap Bella. Dimanakah dia sekarang? Tidak kuliah dan tidak juga berada di kos?


Kemarin Bella sangat terburu-buru pulang dan diantarkan oleh Arka karena merasa sakit. Jika Bella memang sakit, lantas kemana dia sekarang? Apa di opname di Rumah Sakit?


Begitulah pemikiran Sera yang memikirkan tentang Bella. Tapi, dia harus fokus pada tujuannya dulu. Nanti dia akan menelepon Mama Bella untuk menanyakan kabar sahabatnya itu.


Security itu dapat melihat jika Sera tidak berbohong, dia bisa saja mempercayai dan memberi akses untuk Sera dapat memasuki kamar Bella, tapi dia juga takut disalahkan nantinya.


"Neng, masuk ke kamar Neng Bella itu pamali. Itu kan privasi." Security itu berujar.


"Tapi Bella pasti gak marah kalau aku masuk. Ini urgent banget, aku mau jual lukisan itu, udah niat tapi malah gak sengaja kebawa sama Bella kemarin."


"Ya udah, saya sama Neng Niki temenin. Masuk kesana pakai kunci serap tapi abis itu langsung keluar ya."


Bersamaan dengan itu, ponsel Sera juga berdering ternyata itu panggilan dari Bella.


"Nah, pak. Ini pas banget, Bella yang nelepon." Sera menunjukkan ponselnya pada sang security.


"Hallo, Bell?"


"Sera, kamu jadi ke kos aku?" Bella tau, mungkin dia sudah membaca pesan yang dikirim Sera.


"Jadi, kenapa gak balas pesanku sih, Bell??"


"Sekarang kamu dimana?" Bukan menjawab pertanyaan Sera, Bella malah menanyakan keberadaan sahabatnya dari seberang panggilan.


"Ya ini di kos kamu sama mbak Niki, mau minta kunci serap sama pak Botak." Sera sedikit berbisik diujung kalimat, takut security itu mendengar julukan yang dia berikan.


"Bagus, sekarang masuk kesana. Kamu tolong sekalian ambilkan liontin aku."


"Liontin?" Sera mengernyit heran di posisinya.


"Iya, liontin yang aku pasangin di leher Cimo. Boneka Teddy Bear aku."

__ADS_1


"Oh, boneka yang besar itu?"


"Iya, ambilkan liontinnya, terus tolong kamu anterin ke rumahku."


"Rumah kamu? Maksudnya rumah papa kamu?"


"Ya, ya. Bisa?"


"Yang bener aja, Bell, rumah papa kamu tuh jauh dari kos ini. 2 jam, Bella...." keluh Sera.


"Ya udah, kalau gitu aku kirimkan lokasi aku sekarang. Ini lebih dekat dari kos. Sekitar 1 jam kamu udah bisa kesini."


"Emang kamu lagi dimana?"


"Dirumah Mamanya Felix. Please, Ser. Bantuin aku ini urgent aku butuh liontinnya sekarang juga."


Sebenarnya Sera cukup aneh dengan desakan Bella tapi dia akan menanyakannya nanti jika mereka bertemu disana.


"Ya udah, kamu kirim lokasinya sama aku. Tapi aku mampir sebentar ke kampus buat anterin lukisan yang mau di lelang. Oke?"


"Oke, aku tunggu, jangan lama-lama."


...~~~~...


Hampir satu jam setengah, akhirnya Sera tiba di sebuah rumah besar yang megah dan tampak kokoh. Berpilar besar dengan warna keemasan. Dari jauh saja, Sera sudah merasa amat kerdil jika berdiri sendiri didepan gerbang rumah itu. Dia merasa menjadi kurcaci yang mendatangi istana kerajaan yang sangat luar biasa.


"Wah, ternyata tunangan Bella bener-bener orang kaya ya? Pantas aja dia bilang kalau Felix kuliah di luar negeri."


Sera ingin memencet bel, tapi dia ragu. Apakah nanti dia diterima masuk ke rumah itu.


Akhirnya Sera menelpon Bella lebih dulu untuk mengatakan bahwa dia telah sampai.


Namun, belum juga Sera mengutarakan hal itu pada Bella. Pundaknya terasa ditepuk. Dia menoleh dan tidak dapat melihat siapapun disana. Sera mendadak pingsan.


Zudh tertawa sinis, dia tau wanita ini adalah utusan untuk mengantarkan Liontin pembuka pintu.


Saat ini Zudh tengah merasuki tubuh salah satu pelayan di rumah itu hingga dia dapat menyeret Sera kedalam ruangan yang tersembunyi.


Sementara disisi lain, tepatnya di lorong yang menghubungkan dengan ruangan berpintu emas, Bella dan yang lain hanya bisa menunggu kedatangan Sera dengan harap-harap cemas.


Awalnya, Bella sudah mencoba menekan handle pintu itu untuk membukanya, meski dia tidak merasakan apapun dan bisa menekan handle tersebut tapi tetap saja pintu itu harus dibuka menggunakan kunci yang Bella yakini jika kunci itu adalah Liontin kepunyaannya.


Sampai Sera mengiriminya pesan yang mengatakan bahwa gadis itu tengah berada di kos nya sekarang.


Sebenarnya Bella tidak ingin melibatkan sahabatnya, tapi dia tidak punya pilihan. Dia harus membuat Sera terlibat dan menjadi perantara untuk mengantarkan Liontin itu.


Sebab jika dia pulang ke Kos, itu sangat tidak mungkin karena waktu menuju kesana bisa saja terjadi sesuatu di rumah besar ini dan Bella tak mau mengambil resiko itu.

__ADS_1


"Gimana? Sera udah tiba?" Felix bertanya dengan lesu. Dia tidak tau harus bagaimana sebab roh nya tertahan didepan pintu dan tak dapat bergerak kemanapun.


"Belum. Dia belum ngabarin aku," sahut Bella.


"Ada baiknya salah satu dari kita menunggu Sera di gerbang depan," timpal Fredy dan diangguki oleh Om Deka.


"Ya, bisa saja seseorang dirumah ini mengetahui niat Sera atau justru mengusirnya karena dia bukan tamu."


Menyadari itu, Fredy langsung sigap bergerak untuk menuju gerbang depan. Maka tinggal Bella, roh Felix dan Om Deka yang berada dalam lorong temaram itu.


Bersamaan dengan Fredy yang keluar dari lorong, disaat itu pula tubuh pelayan yang dirasuki oleh Zudh melewati koridor yang lain. Fredy tidak dapat melihat keadaan itu, dimana tubuh Sera yang pingsan telah diseret keruangan tersembunyi.


Fredy menunggu di depan gerbang sesuai dengan rencananya, namun sayang dia tidak mendapati Sera disana hingga memutuskan untuk kembali ke depan pintu emas dimana semuanya masih berada disana.


"Sepertinya Sera tidak datang," kata Fredy lesu.


"Gak mungkin, Sera udah janji mau bantuin aku tadi," jawab Bella.


"Ya buktinya dia gak ada. Dua puluh menit aku nungguin dia di gerbang depan."


Bella menggeleng tak percaya. Dia yakin Sera adalah seseorang yang dapat dipegang ucapannya. Mendadak, entah perasaan dari mana--feeling Bella mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Aku aja yang kedepan."


"Om ikut," timpal Om Deka.


Bella menuju kedepan, menggantikan Fredy yang tadinya sudah mengecek keadaan disana.


"Sera udah disini, Om."


Om Deka mengernyit. Bagaimana Bella bisa mengetahui hal itu?


"Aroma parfumnya, aku hafal ini aroma parfum Sera dan ini masih keciuman."


Om Deka pun menjadi paham jika Bella dapat mengetahui itu sebab disana memang tercium aroma wangi yang semerbak.


Mendadak pupil mata gadis itu membola. "Kalau Sera beneran udah disini, sekarang dia dimana, Om? Dan siapa yang tadi bukain pintu buat dia?"


Perasaan Bella semakin semrawut. Apalagi Sera kesini atas permintaannya. Seharusnya sejak tadi Bella menungguinya, ada rasa sesal teramat sangat dalam benak Bella sekarang. Rasanya dia ingin menangis jika sampai masalahnya ini mengorbankan Sera juga.


...TBC ......


Maaf up nya lama. Tapi ini bakal terus berlanjut kalau masih banyak yang stay baca🙏🙏🙏


Mampir juga yuk ke novel satunya. Dengan judul EX (Belenggu Cinta Pertama) update setiap hari.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2