Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
19. Dalam perjalanan


__ADS_3

Chapter 19


___________


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Fredy akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali dia sudah datang untuk menjemput Bella, mereka akan pergi menuju rumah orangtua Bella.


Fredy melihat Bella yang sudah siap dan menunggunya diluar gerbang tempat Kos sang gadis.


Bella tampak mengenakan kaos hitam longgar, celana denim dan sepatu sneakers. Rambut panjangnya dikuncir kuda, lalu dia mengenakan topi serta ransel yang tidak begitu besar. Dia tampak cantik seperti biasanya.


Fredy mengajak Bella untuk masuk ke mobilnya tanpa turun terlebih dahulu, dia hanya menyapa Bella lewat jendela mobil. Sikap dinginnya tetap mendominasi di beberapa hari belakangan.


Bella menurut tanpa membantah, menaiki mobil dan memasang seatbelt-nya. Perlahan-lahan mobil yang dikendarai oleh Fredy pun mulai meninggalkan area Kos.


Bella melirik dari kaca spion, Felix sudah duduk diam di jok belakang. Akhir-akhir ini Felix juga banyak diam dan Bella menyadari itu.


Tapi, Bella tidak mau menuntut Felix untuk mengatakan isi hatinya. Bella lebih memilih diam dan mengikuti keinginan dua saudara kembar ini.


Tidak ada yang mau bersuara diantara ketiganya, sampai mobil Fredy memasuki jalan tol, barulah terdengar suara Felix yang tampak berbicara sendiri.


"Aku bukan sepertimu." Suara Felix mulai terdengar. "Ya, bisa dikatakan begitu, semacam roh yang tersesat," imbuhnya.


Felix kembali bersuara seperti menyahuti pertanyaan seseorang.


"Tidak, tidak. Itu tunanganku." Felix pun terkekeh kecil.


"Ya, dia saudara kembarku," ucapnya lagi sambil tetap terkekeh.


Mendengar itu, Bella pun mengernyit keheranan. Secara otomatis dia menoleh kebelakang untuk melihat apa yang tengah Felix lakukan.


"Lihat kan? Dia bisa melihatku," kata Felix lagi--entah pada siapa--sambil tersenyum saat Bella menatapnya.


Bella benar-benar yakin jika Felix tengah berbincang dengan seseorang yang Bella tidak bisa melihatnya.


Fredy berdehem-dehem karena dia juga mendengar celotehan Felix dibelakang sana, tapi lelaki itu tetap mencoba untuk fokus menyetir mobilnya.


"Ada apa?" tanya Bella pada Felix.


"Bukan apa-apa," sanggah Felix sambil menyengir, tapi Bella tidak puas dengan jawaban itu.


"Kamu bicara dengan siapa?" tanya Bella lagi tapi Felix langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bella berdecak dan dia kembali menatap jalanan.


Fredy memutuskan menyalakan Audio dalam mobilnya. Perasaannya menjadi tidak enak, dia yakin Felix mempunyai lawan bicara sendiri yang dia dan Bella tidak bisa melihatnya.


"Jangan dipikirkan, semuanya baik-baik saja," ucap Felix seolah menjawab isi kepala Bella dan Fredy.


Fredy mulai melirik Bella yang diam, sesungguhnya Fredy tidak tahu harus memulai darimana untuk mengajak Bella berbicara.


"Ra..." Fredy memanggilnya.


"Hemm?" sahut Bella tanpa menoleh, dia tetap menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan, jika nanti aku sudah mengetahui alamat rumah lama Mama, kamu gak usah ikut kesana. Biar aku dan orang-orangku saja," kata Fredy.


Bella menoleh ke arah Fredy. "Jika Felix ikut, maka aku akan ikut," jawab Bella cepat seraya melirik Felix yang diam dibelakang.


"Ra, Felix akan ikut denganku. Tapi kamu gak usah. Dia bisa ikut denganku tanpa adanya kamu. Kalian sudah tidak terikat lagi sejak ada aku," jelas Fredy.


"Sudah tidak terikat lagi? Maksudnya?" Bella menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan penjelasan Fredy.


"Ya, dulu Felix akan ada disekitarmu karena dia mengira kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menolongnya. Tapi sekarang ada aku, kamu bisa bebas dari janji itu. Biar ini menjadi urusanku," kata Fredy dingin.


Bella mencebik. "Aku gak mau."


"Menurutlah, Ra. Felix adalah saudaraku!" tegas Fredy.


Bella mendengus. "Aku tunangannya!" jawab Bella tak mau kalah.


Fredy mencengkram setir mobilnya dengan kuat. Dia tidak mau berdebat dengan gadis keras kepala ini, tapi kenapa Bella harus sekeras ini? Tidak bisakah dia menurut saja? Semua ini juga untuk keselamatannya.


"Ra, yang dikatakan Fredy itu benar," selah Felix tiba-tiba.


Bella memutar tubuhnya agar bisa melihat keberadaan Felix di jok belakang.


"Aku gak mau menjawabnya karena kamu pasti tahu isi kepalaku. Aku gak mau berdebat," kata Bella pada Felix membuat Felix mendesahh panjang.


Fredy menggeleng-gelengkan kepalanya, Bella sendirilah yang mengajak berdebat dengan tidak mau menurut. Sekarang bisa-bisanya gadis itu mengatakan tidak mau berdebat. Ck ck ck!


"Itu akan membahayakan kamu, Ra," kata Felix dengan sangat lembut. "Aku dan Fredy gak mau sesuatu yang buruk terjadi dan menimpa kamu," paparnya mencoba memberi Bella pengertian.


"Tapi aku mau menepati janjiku sebelum ulang tahunku. Itu kan janjiku!" tukas Bella.


"Ya tapi setidaknya aku ada usaha untuk membantu kamu!" ketus Bella.


Fredy mendengkus dan menginterupsi pembicaraan diantara Bella dan Felix.


"Membantu? Kalau mau membantu, kamu cukup di dirumah dan tunggu kabar dari kami," selah Fredy seraya tersenyum miring.


"Kamu kenapa, sih? Kesannya gak suka banget sama aku? Apa kamu ada masalah sama aku?" tanya Bella pada Fredy.


"Gak ada," sahut Fredy tak tertarik.


"Frey, aku perhatikan sejak kamu sering antar jemput aku kuliah, kamu bersikap lain. Aku gak minta kamu melakukan itu kalau kamu memang gak tulus! Kamu tahu, sikap kamu jadi beda! Tidak seramah saat pertama kali kita kenal," senggak Bella.


Bella sudah tidak tahan dengan perubahan sikap Fredy yang berubah dingin dan tak ramah padanya.


"Dan kamu juga, kamu mendadak jadi pendiam beberapa hari ini. Kamu mendiamkan aku!" Bella mendengkus seraya menunjuk Felix dengan telunjuknya.


Fredy diam dengan wajah memerah, sedangkan Felix mengusap wajahnya saat mendengar penuturan Bella.


Felix sudah tahu Bella protes dengan sikapnya, Felix bisa membaca itu di kepala gadis itu. Tapi Felix tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Dia tidak mau menjanjikan apa-apa pada Bella--termasuk soal perasaan--sebelum kasusnya selesai.


Felix ingin memberi waktu pada Bella untuk terbiasa tanpanya.


Dan satu lagi, tidak ada dari keduanya yang mengetahui isi kepala Felix seperti Felix bisa membaca isi kepala kedua orang didepannya ini.

__ADS_1


Ya, layaknya bisa membaca isi pikiran Bella. Felix juga bisa membaca isi kepala Fredy. Bahkan pada Fredy, Felix bisa membaca isi hati saudara kembarnya itu. Namun, tidak ada diantara Bella dan Fredy yang menyadarinya. Mereka pikir Felix hanya bisa membaca isi kepala Bella saja.


Sesungguhnya, Felix tahu kenapa sikap Fredy mendadak berubah pada Bella. Tapi dia memilih diam dan tidak mengutarakannya.


Keadaan dalam mobil hening seketika saat Bella sudah menumpahkan semua isi kepalanya tentang perubahan sikap kedua saudara kembar ini.


Fredy tetap bungkam dan Felix juga diam.


Mobil melesat dengan cepat, Bella yang malas meladeni Fredy dan Felix, memilih untuk memejamkan matanya, lalu tidur.


Fredy fokus mengemudi, sesekali dia mendengar Felix bergumam dibelakang.


Fredy melirik Bella yang tertidur disebelahnya dengan nafas teratur. Dia pun mulai bersuara pada Felix.


"Tolong yakinkan dia agar tidak ikut dalam pencarian raga itu," kata Fredy.


"Kau tahu, aku adalah orang yang paling menentangnya untuk ikut," jawab Felix.


Keduanya sama-sama tidak ingin Bella ikut andil, tapi keduanya juga sama-sama tidak bisa menghancurkan tekad dan kekeras-kepalaan Bella.


"Apa yang ku katakan tempo hari sudah kau pikirkan?" tanya Felix.


Fredy mengangguk. "Aku memikirkannya, tentu saja," jawabnya dengan nada tak acuh.


"Baguslah, ku harap kau bisa memberi jawabannya secepatnya," imbuh Felix.


Fredy menghela nafas panjang, seolah-olah tengah mengemban beban yang sangat berat.


"Tadi di jalan Tol, kau bicara dengan siapa?" tanya Fredy mengalihkan pembicaraan.


Felix terkekeh kecil. "Seorang kuntilanak penunggu jalan. Dia menggodaku," ucapnya geli.


Fredy terkejut dan menginjak rem mobilnya secara mendadak, untungnya jalanan masih lengang dan mereka sudah keluar dari Jalan tol.


Bella terbangun karena mobil yang berhenti tiba-tiba. Dia memegangi dadanya yang terkejut. Dia menatap Fredy yang wajahnya tampak pias. "Ada apa?" tanya Bella seketika.


Fredy menggeleng pelan. Dia menetralkan keterkejutannya lebih dulu atas ucapan Felix soal kuntilanak.


Felix terkekeh dengan sangat kencang saat membaca isi kepala Fredy. "Kau takut?" godanya pada Fredy. "Aku jadi ragu kita akan berhasil menemukan roh jahat itu, jika dengan kuntilanak saja kau ketakutan," cibir Felix.


Bella mengernyit heran mendengar pembicaraan mereka yang absurd, sementara Fredy mendengkus keras mendengar tawa Felix yang memenuhi ruang mobilnya.


"Aku bukan takut, aku terkejut mendengar kuntilanak memasuki mobil yang ku kendarai," elak Fredy.


"Dia menanyakanmu tadi." Felix masih saja terkekeh. "Aku bilang kau kembaranku," sambungnya sambil mengulumm senyum.


"Sial*an!" umpat Fredy.


"Dia tertarik padaku, tapi aku bilang padanya, Ara adalah tunanganku. Jadi dia mengincarmu," lanjut Felix terus menggoda Fredy.


Fredy mulai menginjak pedal gas lagi dan mengemudikan mobilnya kembali. Dia tidak mau menanggapi omong kosong Felix yang mengada-ngada.


"Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan ini?" Bella mulai buka suara "Dan siapa yang tertarik padamu?" sambungnya seraya menatap Felix.

__ADS_1


Felix hanya mengangkat bahu cuek, sementara Fredy memegangi tengkuknya yang mendadak meremang.


...TBC......


__ADS_2