Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
11. Sudah bertunangan


__ADS_3

Chapter 11


_____________


Bella terbangun dari tidurnya, ia menggeliat dan meregangkan otot-otot tubuhnya sebelum benar-benar beranjak dari posisinya yang masih berbaring.


Bella terkesiap saat merasakan sesuatu yang janggal melingkari perut rampingnya. Hah!! Ada sebuah tangan sedang memeluknya dengan posesif dan tidak ada kecanggungan disana. Apa-apaan ini?


Bella ingin meneriaki sosok yang ternyata tidur disebelahnya, di ranjang yang sama dengannya. Ternyata, Felix tidak mengindahkan persyaratan Bella malam tadi. Padahal Bella sudah mewanti-wantinya untuk tidur di lantai dengan membentangkan karpet tipis.


Bella menguncang pelan bahu Felix yang berada tepat didepan matanya. Berharap dengan begitu Felix akan terbangun dan membebaskan Bella dari posisi yang absurd ini.


Bukannya bangun, Felix hanya bergerak sedikit untuk membenarkan posisi tidurnya dan malah semakin mengeratkan pelukan di perut Bella.


Bella mengernyit, wajahnya menoleh kesamping untuk membangunkan Felix. Tapi belum lagi Bella mengeluarkan suara, ia malah terkesima dengan pemilik wajah tampan itu.


Deg...


Tanpa sadar Bella memejamkan matanya dan mengatur irama jantungnya yang mendadak beritme cepat.


"Astaga, kenapa dia sangat tampan?" batin Bella.


Bella kembali membuka matanya dan memperhatikan sosok Felix yang tertidur lelap. Dengan menarik nafas perlahan Bella mulai menikmati nyamannya dalam posisi ini. Bella mulai terhanyut dalam pesona Felix.


"Sudah berapa lama dia memelukku seperti ini? Apa sejak aku terlelap malam tadi?" Bella kembali membatin.


Bella menahan nafas, takut jika deruan nafasnya malah akan membangunkan Felix dan menyudahi semua yang sedang berlangsung saat ini.


"Atau dia udah ngelakuin ini setiap hari? Selama bertahun-tahun dan aku gak tahu karena selama ini aku belum bisa lihat sosok aslinya?" Bella kembali menerka-nerka dalam hatinya.


Tiba-tiba pemilik mata yang terpejam itu membuka matanya.


Deg...


Sekali lagi, jantung Bella seakan mencelos bahkan rasanya alat pemompa jantung itu sudah merosot turun ke perutnya sendiri.


Mata elang milik Felix menatapnya lekat, dan yang paling memalukan adalah Bella tertangkap basah sedang memperhatikan wajah Felix yang tengah tertidur.


"Kamu membangunkan tidurku," ucapnya lembut seraya tetap menatap Bella yang sudah salah tingkah sekarang.


"Ehm, a-aku gak..." Bella menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat bahwa dia tidak pernah membangunkan Felix.


"Kamu melakukannya." Felix tetap memandang Bella dengan tatapan intens seolah sedang menantang Bella, tapi ia tak melepaskan Bella dari pelukannya, ia sudah nyaman dengan posisi ini.


"Gak, aku hanya melihatmu tidur," jawab Bella berkilah.


"Pikirannya yang dari tadi berkata-kata sambil mengagumiku, terdengar sangat berisik di pendengaranku. Jelas itu mengganggu tidurku. Apa dia lupa jika aku bisa mengetahui apa yang dia pikirkan?" batin Felix.


"Kamu memandangiku tidur, kan?" ralat Felix.


"Y-ya begitulah," jawab Bella akhirnya, ia memalingkan wajah kearah lain, ia tak mau lagi melihat wajah menawan milik Felix.


"Kamu mengagumi ketampananku, kan?" goda Felix, wajah Bella semakin memerah karena tudingan lelaki itu.

__ADS_1


"Da-darimana kamu tahu?"


"Kamu lupa jika aku bisa baca isi kepalamu?"


"Astaga, apa dia juga mendengar jika tadi aku sempat menebak mengenai sejak kapan dia tidur disampingku?" Kembali Bella menerka-nerka dalam pikirannya sendiri.


"Tentu saja aku tidur disampingmu sudah sejak lama," ucap Felix seolah menjawab isi kepala Bella.


"Berhenti menebak isi pikiranku!" Bella mulai panik.


Felix terkekeh. "Aku bukan menebak, tapi itu terdengar dengan sendirinya di telingaku. Aku juga tidak tahu kenapa." Felix menaik-naikkan kedua alisnya, menggoda Bella.


Bella langsung menutup wajahnya dengan bantal akibat malu.


"Kamu gak kuliah?" tanya Felix.


"Kuliah." Bella menjawab singkat tanpa mau menatap Felix, kini ia menatap langit-langit kamar.


"Kalau begitu, bersiaplah!" ucapnya, tapi malah mempererat kembali pelukannya pada Bella.


"Ba-bagaimana aku mau-mau bersiap kalau kamu--" Bella gugup seraya memandangi arah dimana tangan Felix berada sekarang, yaitu kembali melingkari perutnya.


Felix terkekeh kecil dengan sangat manis. "Aku akan melepas pelukannya jika kamu mengizinkan," ucapnya kembali menggoda Bella, membuat mata Bella membola seketika.


"Tentu saja aku mengizinkan. Minggir!" sentak Bella dan gadis itu segera duduk dan berlalu dari hadapan Felix.


Bella begitu malu pada Felix, padahal awalnya dia ingin memarahi Felix karena tidur diranjangnya, tapi kenapa sekarang dia yang gugup sendiri akibat ulah lelaki itu.


Bella keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk. Sekarang ia bingung mau berpakaian dimana karena sekarang ia dapat melihat Felix yang masih berbaring santai di atas ranjangnya.


"Aku?" Felix menunjuk dirinya dengan jarinya sendiri.


"Ya tentu saja kamu! Siapa lagi?" hardik Bella.


Felix menggeleng pelan. "Kenapa? Kamu malu? Ganti baju saja disini! Biasanya juga begitu!" jawab Felix enteng seraya bangkit menuju meja belajar dan memilih-milih majalah disana.


"Kamu gila? Memintaku berpakaian dihadapanmu?"


"Biasanya juga begitu! Aku juga sudah lihat semuanya!" ucap Felix tak acuh, ia malah memperhatikan majalah yang kini berada ditangannya sambil membolak-balikkan lembarannya.


Bella mencebik, sulit dipercaya ternyata selama ini tubuh polosnya bahkan sudah dilihat oleh seorang lelaki.


Mau marah tapi bagaimana?


Bella memutuskan mengalah dan enggan mendebat Felix lagi. Diambilnya pakaian yang ingin ia kenakan, lalu ia masuk kembali kedalam kamar mandi untuk berpakaian disana. Sepertinya kegiatan ini akan terus berlangsung selama Felix masih mengikuti kemanapun ia pergi.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Kedatangan Bella ke kampus pagi ini menarik perhatian Arka, ia melambai pada Bella dan Bella hanya tersenyum simpul kearahnya. Bella masih bingung atas kejadian beberapa waktu lalu, mengapa Arka sempat tampak begitu pucat sehabis melihatnya waktu itu.


"Jangan terlalu dekat padanya, atau dia akan kembali pulang ke rumah dengan wajah pucat lagi," ucap Felix tiba-tiba yang sedari tadi mengikuti langkah Bella. Bella hanya berdehem untuk menjawab ucapan Felix. Dia semakin yakin Arka bersikap demikian tempo hari karena ulah Felix.


"Hai Bell..." sapa Arka yang sekarang mendekat kearah Bella.

__ADS_1


"Hai.." jawab Bella singkat.


"Bell, nanti pulang kuliah kita nonton, yuk!"


Bella menatap Arka dengan tatapan yang tak percaya, bagaimana mungkin Arka begitu to the point seperti ini tanpa menanyakan dulu kesibukan apa yang akan Bella lakukan sepulang kuliah. Bella melirik sekilas kearah Felix yang sudah merengut tak suka akibat ulah Arka.


"Aku gak bisa," jawabnya.


Bibir Felix pun melengkung akibat penolakan Bella pada Arka.


"Kenapa? Ada kesibukan?"


"Begitulah," ucapnya.


"Aku udah tahu kalau nomor yang kamu kasi itu nomornya teman kamu kan yang namanya Sera?"


Bella menelan berat salivanya, kemudian mengangguk ragu. Arka tersenyum melihat wajah Bella. Sementara Felix berdecak lidah melihat sikap keduanya.


Arka yang tak bisa melihat wujud Felix hanya bisa tersenyum membalas senyuman Bella-- yang sebenarnya amat dipaksakan karena merasa tak enak hati akibat nomor ponsel yang ia berikan tempo hari. "Aku minta maaf ya," ucapnya.


Bella melihat Arka yang kembali tersenyum simpul seolah penuh maksud terselubung.


"Aku maafin, tapi--" Lelaki itu sengaja menghentikan kalimatnya sendiri.


"Tapi apa?"


"Tapi kamu mau ya nonton bareng aku nanti," lanjutnya.


Bella menghela nafasnya, ia benar-benar merasa tak enak hati pada Arka dan tulus meminta maaf pada lelaki itu. Tapi jika begini ia harus bagaimana? Ia memang tak menaruh perasaan terhadap Arka, belum lagi ia tak mau membuat lelaki itu berharap lebih padanya.


Bella juga tak mau mengecewakan Sera terutama mengecewakan Felix.


Apa sekarang Bella sudah memikirkan perasaan Felix?


"Aku benar-benar minta maaf soal nomor ponsel itu, Arka. Tapi soal nonton aku juga gak bisa untuk ikut karena--" Bella memikirkan sejenak alasan apa yang akan ia buat pada Arka. Tapi suara Felix yang menginterupsinya membuatnya mengikuti ucapan Felix tanpa memfilternya lebih dulu.


"Aku sudah ada janji sama pacar." Bella menutup mulutnya sendiri karena terkejut. Ternyata ucapan yang keluar dari mulutnya benar-benar mengikuti saran dari bisikan Felix.


Felix terkekeh geli melihat tingkah Bella dan lebih terkekeh melihat wajah Arka yang terperangah akan jawaban Bella barusan.


"Ka-kamu sudah punya pa...car?" tanya Arka gugup.


"Ehm, ya."


"Tunangan." Kembali Felix berbisik pada Bella.


"Lebih tepatnya tunangan," ucap Bella kembali mengikuti ucapan Felix di telinganya.


Arka kembali terkejut, ia memalingkan wajah akibat ucapan Bella. "Kamu udah bertunangan?" tanyanya dengan nada syok.


Bella mengangguk cepat, sementara Felix terkekeh melihat tingkah tunangannya itu.


"Kamu terlalu polos, Sayang. Kalau saja kamu tahu isi kepala laki-laki bernama Cakra ini, pasti kamu akan menghajarnya!" batin Felix.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2