Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
13. Rival


__ADS_3

Chapter 13


_____________


"Sera!!"


Suara seorang lelaki tengah meneriaki nama Sera, sontak Sera langsung menoleh untuk menatap sosok yang memanggil namanya dengan cukup keras.


"Arka?"


Sera terperangah menatap lelaki itu yang perlahan mulai berjalan mendekat ke arahnya. Ah, mimpi apa dia semalam disapa oleh Arka dan dihampiri seperti ini.


"Sibuk gak, Ser?" tanya Arka memulai basa-basinya.


Sera menggeleng cepat. Jam kuliahnya sudah berakhir dan ia akan menuju kediaman kakaknya. Ya, Sera sekarang sudah tinggal dirumah baru kakaknya dan tidak lagi tinggal ditempat kosnya yang lama.


"Kamu keberatan gak kalau kita bicara di kantin? Ada sedikit hal yang mau aku tanyakan?"


Arka tersenyum, membuat Sera berdebar-debar melihat pesona lelaki yang sejak lama ia kagumi itu.


"Bo-boleh," jawab Sera gugup seraya mengikuti Arka yang sudah berjalan menuju kantin.


Sesampainya di kantin, Arka meminta Sera memesan dan dia yang akan membayarnya. Sera pun hanya memesan es jeruk kesukaannya.


"Gak sekalian makanannya?" tawar Arka dan Sera menggeleng gugup.


"Ehm, apa sekarang aku sudah boleh bertanya?"


"Boleh," jawab Sera cepat.


"Begini, mengenai Bella..." Arka menatap Sera yang tiba-tiba berubah sendu.


"Jadi, dia ingin menanyakan tentang Bella? Ah, aku terlalu percaya diri jika dia ingin dekat denganku?" batin Sera.


"Kenapa dengan Bella?" tanya Sera akhirnya.


"Kemarin aku sempat mengajak Bella untuk nonton. Tapi, dia menolakku."


"Omaygat Bella, kenapa dia menolak Arka? benar-benar anak itu..." Sera membatin lagi. Ia kesal kenapa Bella justru menolak Arka, padahal dia saja begitu ingin diajak Arka jalan bersama.


"Lalu?" Sera menyeruput es jeruknya karena mendadak haus mendengar Bella yang menolak ajakan Arka.


"Bella mengatakan dia sudah ada janji dengan pacar, ehm.. tunangannya. Apa benar dia sudah bertunangan?"


Sera terkejut dan dia tersedak minumannya sendiri.


"Kamu gak apa-apa?" Arka menyodorkan kotak berisi tissue yang ada diatas meja kearah Sera.


Sera menerima itu dan me-lap es jeruk yang membasahi sekitar bibirnya. Jelas saja ia kaget dengan ucapan Arka, ia mengingat jika Bella memang punya tunangan. Maksudnya, tunangan yang mengaku-ngaku didalam mimpi Bella dan mengejar-ngejar Bella didunia nyata.


"Tapi tunangan Bella itu kan bukan manusia? Lalu apa maksudnya Bella memiliki janji dengan tunangannya?" batin Sera menerka-nerka. Ia menelan saliva nya dengan susah-payah.

__ADS_1


"Bella... ehm... Bella..." Sera ragu untuk mengatakan yang berkecamuk dihatinya pada Arka. Bagaimanapun itu adalah cerita Bella yang hanya boleh Sera saja yang mengetahuinya, Sera tak sampai hati jika harus membocorkan cerita itu kepada orang lain.


"Kenapa, Ser? Apa iya Bella memang sudah bertunangan?"


Sera mengangguk cepat. Mulutnya serasa tercekat. Bahkan untuk mengatakan iya atau tidakpun dia tidak bisa.


"Apa maksudnya? Jadi Bella benar-benar sudah bertunangan?" Arka menaikkan sebelah alisnya, ia benar-benar terkejut walau kemarin Bella sendiri sudah mengatakan jika dia memiliki tunangan, tapi Arka pikir itu hanya alasan Bella untuk menolak ajakannya saja.


"Bell-Bella, y-ya di-dia sudah bertunangan dan tunangannya itu..."


"Tunangannya kenapa?"


"Tunangannya sangat posesif," jawab Sera langsung. "Jangan mendekatinya lagi, aku takut terjadi hal berbahaya sama kamu," ujar Sera lagi dengan raut serius. Ia benar-benar takut Arka akan celaka jika terus mendekati Bella, bagaimanapun Bella memiliki seseorang yang mengaku sebagai tunangan dan tunangannya itu bukanlah manusia seperti mereka, walaupun Sera tak yakin jika semua ini nyata.


Arka tertawa mendengar ucapan Sera, seumur hidupnya dia paling pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia selalu mendapatkan hal apapun yang menjadi tujuannya. Dan sekarang dia menginginkan Bella dan Bella lah tujuannya.


"Aku gak peduli, ini justru terasa menyenangkan. Bahkan aku baru maju selangkah dan sudah memiliki rival. Wow," batin Arka.


Arka adalah orang yang dominan, ia juga memiliki jiwa kompetisi yang akan memperjuangkan sesuatu yang menantang. Jelas saja ia menyukai hal ini, terlebih Bella jelas-jelas gadis yang ia mau. mengetahui Bella sudah bertunangan, membuat adrenalinnya semakin berkobar.


"Kenapa malah tertawa? Aku serius, aku hanya memperingatkan kamu!" celetuk Sera yang ditanggapi Arka dengan senyuman miring.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Bella mengerjapkan matanya, ia melihat jam di dinding dan ternyata hari sudah beranjak sore. Tadi ia tidur di siang hari karena merasa amat lelah. Bella mengusap wajahnya dan menoleh ke samping.


"Astaga..." Bella terperanjat saat melihat wajah Felix yang menyeringai kearahnya.


"Kenapa?" tanya Felix seraya mengulumm senyum.


"Tentu saja aku kaget!" Bella mengusap-usap dadanya yang merasa terkejut.


"Kamu belum terbiasa dengan kehadiranku, ya?" Felix menaik-naikkan kedua alisnya, menggoda Bella.


Bella mengabaikannya dan bangkit dari posisinya yang berbaring. Ia menarik handuk dari gantungan dan menuju kamar mandi dengan melenggang santai.


"Kamu mengabaikanku?" Felix mendengkus seraya menatap punggung Bella yang menjauh dan memasuki kamar mandi diujung kamar.


Felix menggerutu karena Bella tak menggubrisnya, ia diam dan pikirannya mulai berkelana memikirkan nasib roh dan raganya yang terpisah entah seberapa jauh sekarang.


Felix benar-benar ingin menemukan raganya tapi apa daya dia tidak bisa bergerak jauh, tubuhnya seakan terikat dengan Bella dan kemanapun Bella melangkah, disitulah ia berada.


Jika Felix memang harus pergi mencari raga itu berarti Bella pun harus ikut pergi mencarinya, agar dia pun bisa mengikuti Bella.


Secara tak langsung, Bella memang akan terlibat dalam urusannya. Padahal Felix benar-benar tak mau menyangkut-pautkan Bella, jauh didalam hatinya dia sangat mengkhawatirkan Bella dan itu karena dia menyayangi Bella sudah sejak lama. Walau Bella melupakannya sejak peristiwa penutupan mata batin itu.


Felix melamunkan tentang nasibnya, entah berapa lama dia merenung sampai suara isi kepala Bella terdengar di indera pendengarannya. Felix terkekeh kecil menyadari masalah apa yang kini menimpa Bella yang sedang mandi di kamar mandi.


"Itu akibat mengabaikanku," gumam Felix seraya terus mendengarkan gerutuan Bella.


Bella jelas tak tahu jika saat ini Felix tengah mendengarkan isi kepalanya, makanya Bella terus menggerutu dikamar mandi.

__ADS_1


Nampaknya gadis itu memang pelupa. Bahkan Felix sudah mengatakannya berkali-kali jika dia bisa menangkap isi pikiran Bella karena saat ini mereka masih dalam lingkup yang dekat--yang masih bisa dijangkau oleh pendengaran Felix.


Tiba-tiba suara pintu kamar mandi terbuka dan kepala Bella muncul, menyembull disela-sela pintu yang tak terbuka sepenuhnya. Bella tak memunculkan badannya, hanya kepalanya yang menyelinap keluar.


"Felix, tolong ambilkan bajuku di lemari," pinta Bella dengan cengengesan. Felix diam tak beranjak dan hanya menatap Bella dengan tatapan datar.


"Felix... ayolah!"


Felix tetap diam padahal ia ingin terkekeh sekarang melihat Bella yang lupa membawa baju ganti ke kamar mandi. Sebenarnya bisa saja Bella keluar dan mengambil bajunya sendiri di lemari, tapi itu berarti Felix akan melihatnya hanya memakai selembar handuk dan Felix mengetahui masalah Bella itu sedari tadi karena ia bisa membaca pikiran Bella.


"Keluar saja dan ambil sendiri," kata Felix sok acuh.


"Felix, aku hanya membawa handuk." Suara Bella terdengar lirih.


"Lalu? Apa urusannya denganku?"


"Aku tidak mungkin keluar dengan kondisi hanya memakai handuk." Kemarin Bella sempat melakukan itu dan dia sangat malu didepan Felix, jadi sekarang ia tak mau melakukannya lagi.


"Aku bahkan seringkali melihat tubuh polos kamu. Lalu apa yang kamu takutkan?" kata Felix datar. Ia senang sekali menggoda Bella, melihat wajah kesal Bella terkadang membuatnya gemas.


Bella memutar bola matanya, jelas saja ia tahu sekarang jika selama ini Felix sudah melihat tubuh te-lan-jangnya, hanya saja dulu Felix tak terlihat dimata Bella. Sedangkan sekarang? Bella bisa melihat Felix berada disana dan ia merasa risih jika matanya menangkap Felix sedang memperhatikan tubuh polosnya.


Bella menghela nafas kasar, mencoba meredam gejolak amarah yang hampir meledak melihat sikap Felix, jelas Felix sengaja mempermainkannya sekarang-pikirnya.


"Oke, aku minta maaf karena mengabaikan kamu tadi. Aku melihat hari sudah mulai gelap dan aku ingin segera mandi. Tadi aku tertidur cukup lama," ucap Bella mencoba bernegosiasi dengan Felix.


"Lalu?" Felix terus saja bersikap cuek dan tak mau mengerti.


"Ah, sudahlah! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" pekik Bella, rupanya ia sudah tak bisa meredam amarahnya.


Felix menyeringai, "Minta tolonglah dengan baik, dengan lembut dan dengan mesra." Felix mengerlingkan matanya, menggoda Bella.


Bella mendengkus, lalu mau tak mau ia pun mencoba menuruti permintaan Felix, toh hanya mengucapkan kalimat yang lembut dan dengan nada yang dilebih-lebihkan-pikir Bella.


"Felix, tolong ambilkan bajuku, ya.. please..." ucap Bella masih pada posisinya yang mengintip dibalik pintu kamar mandi.


"Sudah baik dan lumayan lembut.." Felix mengangguk-angguk. "Tapi kurang mesra." Felix tersenyum penuh arti.


Bella mendengkus lagi, padahal ia sudah menurunkan intonasi suara dan membuat suaranya terkesan semanja mungkin.


"Aku gak bisa," ucap Bella menyerah.


"Pasti bisa." Felix tak mau kalah sebelum ia mencapai maksud dan tujuannya. "Ayo coba lagi," katanya.


"Felix--"


"Jangan begitu," potong Felix.


"Lalu bagaimana?" kesal Bella.


"Panggil aku dengan sebutan 'Sayang'.." Felix pun menyeringai.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2