
Chapter 17
_______________
Bella pun kembali ke kamarnya, dia memasang wajah cuek saat melihat Felix sudah duduk didalam sana dengan santainya.
Felix menyeringai, ia mencuri-curi isi kepala Bella yang terdengar di indera pendengarannya.
"Hiss. bisa-bisanya dia duduk santai disana seperti tidak ada kejadian."
"Pakai acara senyum lagi!"
"Nggak tahu apa aku sudah menangis sejadi-jadinya karena memikirkan dia yang gak kunjung kembali."
Felix terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Bella yang hanya berani memarahinya didalam pikiran saja, tidak berani mengutarakan langsung melalui suara.
Bella memutar bola matanya, bersikap jengah melihat tingkah Felix yang terus mengulumm senyum.
"Beraninya cuma baca isi kepala orang!" celetuk Bella sarkas, ia menghentakkan langkah kakinya untuk menuju ke sudut ruangan.
Bella sudah tahu jika tingkah Felix seperti itu berarti dia tengah mendengarkan isi kepala Bella. Felix selalu senyum-senyum tidak jelas.
Mendengar celetukan Bella, Felix pun terkekeh nyaring.
"Aku menepati janjiku, bukan? Aku sudah kembali," kata Felix.
Bella hanya berdecak lidah dan mengambil handuknya.
"Mau kemana?" tanya Felix heran.
"Mau mandi lah," sahut Bella malas.
"Ini udah malam, kenapa baru mandi?"
Bella hanya diam seraya melengos menuju kamar mandi, tak lupa dia membawa baju gantinya kedalam sana. Tapi, tentu saja Felix bisa mendengar jawaban Bella melalui isi kepala gadis itu.
"Ya kali... aku bilang kalau aku belum mandi karena nungguin dia pulang."
Felix kembali mengulumm senyum, kegiatan membaca fikiran Bella terkadang adalah hiburan tersendiri baginya.
Sambil menunggu Bella mandi, Felix kembali memikirkan pertemuannya dengan Fredy tadi. Felix sedikit terkejut dengan kenyataan yang baru diketahuinya.
Fredy adalah saudara kembar Felix. Mereka telah terpisah sedari umur dua tahun. Itu semua karena perceraian kedua orangtuanya. Felix ikut dengan sang Mama sedangkan Fredy ikut dengan Papanya.
Mama Felix tidak pernah mengatakan jika Felix memiliki saudara kembar. Sehingga selama ini Felix merasa hidup tanpa memiliki saudara.
__ADS_1
Lain halnya dengan Fredy, dia diceritakan oleh sang Papa bahwa dia memiliki Adik yang kembar identik dengannya. Papa memintanya mencari Felix suatu saat nanti, itulah permintaan terakhir Papa sebelum meninggal.
Saat tahu kenyataan ini, Felix sempat marah karena kedua orangtuanya memisahkannya dengan Fredy, dan Papanya tidak pernah mencari atau menemuinya. Tapi, Fredy punya penjelasan sendiri untuk hal itu.
"Mama dan Papa berpisah karena Papa sudah mengetahui bahwa Mama mengikuti sekte sesat. Papa meminta agar Mama menghentikan kegiatan itu, tapi Mama tidak mau," jelas Fredy beberapa saat lalu.
Papa ingin membawa pergi Fredy dan Felix saat itu dan meninggalkan sang istri. Tapi sayang, Mama menahannya dan berbagai upaya Mama lakukan untuk menahan kedua anaknya.
Sampai pada akhirnya, Papa sudah tidak sanggup melihat sikap Mama beserta kelakuannya yang sesat. Papa pun menggugat cerai Mama.
Papa menggunakan kekuasaannya dan juga sedikit nepotisme, hingga akhirnya Papa lah yang mendapat hak asuh kedua anaknya.
Namun sayang, tindakan Papa sangat membuat Mama membencinya, Mama marah dan tidak terima. Mama nekat dan sengaja membakar rumah yang mereka tempati.
Papa syok dan hanya bisa menyelamatkan Fredy. Tapi Papa tidak pernah menemukan dimana jasad Felix--anaknya yang saat itu belum genap berusia dua tahun.
Setelah kejadian itu, Papa membawa Fredy tinggal jauh dari Indonesia. Mereka tinggal di Texas, Amerika.
Papa melakukan itu semata-mata untuk menjaga Fredy dari Mama. Papa juga mengerahkan orang untuk tetap mencari keberadaan Felix, karena Papa belum yakin jika Felix meninggal dalam kebakaran itu.
Tapi beberapa tahun berlalu, Papa belum menemukan titik terang tentang keberadaan Felix. Hingga akhirnya Papa meninggal dunia diusia Fredy yang menginjak 12 tahun.
"Papa mengalami sakit-sakitan. Papa terus memikirkanmu karena Papa yakin jika kamu masih hidup," jelas Fredy.
Felix mengerti dan Felix tahu jika Papanya tidak pernah berniat meninggalkannya dengan sang Mama yang salah jalan.
Felix sama sekali tidak mengetahui tentang Fredy ataupun Papanya. Semua aksesnya ditutup.
Felix malah mengira jika selama ini dia adalah anak diluar nikah karena setahunya Mamanya sudah hidup sendiri sejak dia kecil.
Bella keluar kamar mandi dan mendapati Felix yang lagi-lagi tengah melamun. Bella tahu jika Felix sedang memikirkan sesuatu, Bella mengingat pertemuan Felix sebelumnya dengan Fredy.
"Lalu, siapa Fredy?" tiba-tiba Bella bersuara membuat Felix menoleh.
"Fredy, dia adalah Kakakku," jawab Felix seraya tersenyum kecut.
"Jadi benar dia itu manusia bukan roh jahat?"
Felix mengangguk. "Sepertinya Roh jahat itu bersembunyi entah dimana, membawa serta ragaku," celetuk Felix.
"Kenapa kamu yakin begitu? Bukankah dia berkeliaran dengan memanfaatkan ragamu?" tanya Bella tidak habis fikir.
"Fredy bilang, Almarhum Papa bahkan lebih dulu mencariku, meminta bantuan orang-orangnya, tapi mereka tidak pernah menemukan keberadaanku."
".... itu berarti mereka tak berhasil menemukan tubuhku yang dikuasai oleh roh jahat itu," jelas Felix.
__ADS_1
Bella mengangguk paham.
"Ya bisa saja, bukankah dia memiliki ilmu hitam? Mungkin saja kan, dia sengaja menutup akses pandangan orang lain agar tidak bisa melihat atau menemukannya," terka Bella.
Felix terkekeh mendengar intuisi Bella, ternyata Bella bisa berpikir sejauh itu.
"Kenapa?" Bella mengernyit saat mendengar Felix terkekeh.
"Aku hargai pemikiran kamu kali ini," kelakar Felix.
Bella pun mencebik.
"Fredy bisa melihatku. Seperti yang pernah ku katakan, jika aku memiliki saudara maka mungkin dialah yang bisa membantuku."
Bella hanya ber-oh ria, mengingat ucapan Felix tempo hari.
"Kamu tidak perlu ikut terlalu jauh. Fredy yang akan mencari jalan keluar terbaik." Felix menggenggam tangan Bella seraya menghela nafas lega.
Bella kembali mengingat ucapan terakhir Fredy tadi, yang mengatakan akan mencari jalan keluar. Itu maksudnya Fredy pun sudah mengetahui semuanya.
"Ra, aku sangat lega. Walau belum sepenuhnya tapi aku bersyukur bisa bertemu Fredy lagi." Felix mengusap wajah Bella. "Dia akan membantuku, otomatis kamu gak akan dalam bahaya. Aku bisa merasa sedikit tenang sekarang," sambungnya.
"Sempat-sempatnya kamu masih mikirin aku," gumam Bella yang masih terdengar sampai ke telinga Felix. Felix pun tersenyum kemudian.
"Ra, aku terpisah sangat lama dengan Fredy, aku juga sudah kehilangan sosok seorang Ayah yang bahkan sama sekali tak ku kenali. Jadi, aku gak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi," ucap Felix.
"Aku percaya Fredy bisa menjaga diri, tapi aku gak yakin dengan kamu." sambungnya.
Bella bisa merasakan saat ini Felix menggenggam tangannya dengan sangat erat. Bella menoleh kesamping untuk melihat wajah Felix yang mengembun sendu.
"Kamu takut aku gak kembali 'kan, Ra?" tanyanya seraya menatap balik manik mata Bella.
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Rasa takut itu sama sepertiku. Aku juga takut kehilangan kamu, juga takut membahayakan kamu," tandasnya.
Bella terdiam lagi, mulutnya tak mampu berkata-kata.
Saat sepersekian detik berikutnya, Felix sudah memangkas jarak mereka. Felix merengkuh tubuh Bella dan menghidu aroma gadisnya dalam-dalam.
"Aku takut kehilangan kamu, Ra. Berjanjilah untuk baik-baik saja. Saat Fredy sudah menemukan jalan keluar, maka saat itulah semuanya baru dimulai," ucap Felix. Entah kenapa suaranya bergetar dan dia semakin mendekap Bella dalam pelukannya.
"Aku janji, aku akan baik-baik saja. Kita akan melewati ini," kata Bella menyemangati namun airmatanya kembali menetes.
...TBC......
__ADS_1
Yang suka cerita ini, bantu promo dong🙏 view sama pop nya masih sedikit banget.... 🤠takutnya gak bisa lanjut karena ditolak kontrak🙄🙄🙄