Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
22. Sebuah rencana


__ADS_3

Chapter 22


___________


Bella mondar-mandir didalam kamar yang dia tempati di rumah orangtuanya. Demi apapun, dia sangat ingin tahu kabar Felix sekarang karena hatinya mulai gelisah mencari keberadaan Felix dan khawatir memikirkan apa yang terjadi setelah Felix dan Fredy datang ke rumah lama Tante Neni.


"Udah malam gini, kenapa belum kembali juga," gumam Bella sambil tetap mondar-mandir seraya menggigiti kukunya sendiri.


Dia bahkan sudah menyelesaikan sesi makan malamnya bersama Mama dan papanya, tapi kenapa Fredy dan Felix belum kembali?


Tidak berapa lama, Bella mendengar ponselnya bergetar dan ternyata itu pesan singkat dari Fredy yang menyatakan bahwa dia dan Felix tidak akan kembali malam ini, mereka menginap disebuah Hotel yang dekat dengan Rumah lama sang Mama.


Fredy :


Aku dan Felix nginap di hotel, gak pulang sekarang. 2 hari kedepan baru pulang. Kalau kamu mau balik ke kos duluan, silahkan aja.


"Kenapa harus sampai 2 hari sih?"


Lagi-lagi Bella hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri karena dia malas berbicara pada Fredy yang terkesan dingin padanya. Fredy juga mengiriminya pesan yang singkat, tepat dan jelas membuat dia enggan untuk membalas pesan itu.


Fredy tidak akan bisa mengerti perasaannya, yang sudah merasa tak enak hati sejak kepergian Fredy dan Felix menuju rumah lama Mama mereka itu.


Semalaman, Bella tak bisa tidur karena memikirkan nasib Felix. Dia baru terlelap menjelang subuh.


...👻👻👻👻👻👻👻...


Setelah mengurus semua pekerjaannya lewat akses email dan smartphone yang ia miliki, Fredy menatap Felix yang sedari tadi hanya diam berdiri di balkon kamar hotel.


Felix terlihat melamun seraya memandangi pemandangan yang terhampar didepan matanya.


"Kau kenapa?" tanya Fredy seraya bersedekap dada.


Felix menoleh kepadanya dan tersenyum kecut. "Tidak ada," jawab Felix datar.


"Pekerjaanku sudah beres, besok kita bisa fokus bertemu dengan Mama. Dan orang-orangku akan tiba disini hari ini. Semoga kita bisa ketemu Mama dan minta penjelasannya," ucap Fredy.


"Apa menurutmu Mama mau membantuku? Dia yang sudah menumbalkanku. Ku rasa tidak semudah itu dia mau membantu? Apalagi selama ini dia sudah terbiasa tanpa aku," kata Felix.


Fredy menyahuti. "Tanpa aku juga," sambungnya.


Mereka saling menatap dan menarik ujung bibir menjadi senyuman miring. Wajah mereka kembar identik, pasti Mama Neni akan terkejut melihat kedatangan Fredy. Apa dia juga akan mengenal Fredy sebagai Felix? Atau justru saat Fredy menemuinya dia sudah tahu jika itu adalah Fredy, anak yang dilupakannya.


"Kau merindukan Mama?" tanya Felix.


Fredy tertawa kecil. "Untuk apa aku merindukan seseorang yang tak pernah ku temui? Kita akan merindukan jika sebelumnya kita pernah bertemu dengannya," jawabnya.


Felix mengangguki, tapi dia sungguh tahu jika Fredy merindukan sosok Mama yang meskipun belum dijumpainya secara langsung tapi Fredy pasti rindu kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah dia dapatkan.


"Frey, jika kau yang jadi aku, apa kau masih bisa merindukan Mama?" tanya Felix pada saudaranya dengan nada sendu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Tapi sejauh ini aku tidak merindukannya."


"Kau pembohong yang amatir," cibir Felix sambil tersenyum menawan.


Fredy hanya diam dan memutuskan menekuri layar ponselnya kembali.


Meski Fredy tidak ingin jujur pada Felix, tapi Felix tahu isi kepala saudaranya itu. Apalagi isi hatinya yang tidak bisa ditutupi dari Felix. Entah kenapa juga Felix bisa mengetahui isi kepala dan hati saudara kembarnya ini.


"Frey, soal kesepakatan kita--" ucapan Felix terhenti diudara karena Fredy langsung memotongnya.


"Aku tidak bisa," jawab Fredy cepat.


"Why?"


"Karena aku tidak memiliki perasaan apapun padanya," jelas Fredy.


Felix menggeleng berulang. "Kau jangan menipuku. Kau sudah tertarik pada Ara sejak pertemuan pertama kalian di kampus. Maka dari itu aku membuat kesepakatan padamu, agar kau menjaganya jika aku tidak bisa menjadi manusia lagi."


Fredy tertawa sumbang. "Apa-apaan kau ini? Jangan membicarakan hal yang tidak jelas," sanggah Fredy.


Felix diam, dia tahu Fredy tidak mau mengakui perasaannya pada Bella. Felix juga tahu Fredy melakukan itu untuk menghargai hubungan Felix dengan Bella yang sudah bertunangan. Hanya saja, Felix benar-benar merelakan Bella untuk Fredy apabila memang takdir tidak bisa berbaik hati padanya untuk membuatnya kembali menjadi manusia biasa.


"Hal yang tidak jelas akan jelas jika kau mau menjelaskannya," kata Felix demi menjawab sanggahan Fredy.


"Darimana kau bisa menyimpulkan aku tertarik padanya?" tanya Fredy, dia tidak tahu jika Felix bisa membaca isi hati dan pikirannya. Felix tidak mau membuka kemampuannya didepan Fredy.


"Berubah bagaimana?" tanyanya seolah tak mengerti.


Felix tertawa hambar. "Kau bersikap dingin padanya. Kau menghindarinya," cibir Felix.


"Tidak, itu memang sikapku."


"Diawal pertemuanmu dengannya tidak begitu. Kau begitu setelah aku menitipkannya padamu."


"Sudahlah Felix, aku yakin kau bisa kembali menjadi manusia. Jika sudah, maka kau jagalah Ara sendiri. Jangan meminta bantuanku," jawab Fredy seraya meneguk air mineral botol yang tersedia diatas meja tamu.


"Jika aku tak bisa menjadi manusia kembali, bagaimana?" tantang Felix.


"Positif thinking saja," kata Fredy kekeuh.


"Berarti kau akan menjaganya kan, jika aku tidak bisa kembali menjadi manusia?" tanya Felix.


Fredy menggeleng.


"Jawab aku!" ucap Felix lagi dengan intonasi meninggi.


Fredy menyugar rambutnya. "Ya, aku akan menjaganya. Tapi aku sangat berharap kau menjadi manusia lagi. Bertahanlah dan kau yang lebih layak menjaganya," ucapnya tulus namun tersirat kesedihan disana.


...👻👻👻👻👻👻👻...

__ADS_1


Felix, Fredy dan orang-orang bawahan Fredy yang berjumlah 6 orang, sudah berkumpul di sebuah Rest Area. Setelah mengetahui tugas masing-masing berdasarkan arahan Fredy, Merekapun meninggalkan tempat itu lalu menuju rumah lama Mama Neni.


Mereka menggunakan dua mobil. Mobil yang pertama adalah mobil yang dinaiki oleh Fredy dan Felix, mobil kedua adalah orang-orang yang ikut serta untuk membantu jikalau Fredy memerlukan bantuan mereka dalam proses pertemuan dengan Mama Neni hari ini.


Pagi-pagi sekali, mereka sudah sampai di depan Rumah itu. Suasana tampak sunyi dan tidak nampak satupun orang lain disana.


Fredy keluar dari mobil, diikuti oleh Felix, sementara orang-orangnya masih menunggu didalam mobil dan akan bertindak jika diperlukan.


Fredy mencari keberadaan seseorang disekitar rumah kosong tak berpenghuni itu, barangkali dia bisa menemukan Tukang kebun yang kemarin atau bahkan Mama Neni sekalian, agar mereka bisa langsung membahas hal mengenai Felix. Itu adalah kuncinya.


Felix menyikut Fredy, sebagai isyarat bahwa dia melihat sesuatu yang Fredy belum melihatnya.


Mata Fredy mengikuti arah mata Felix, maka terlihatlah seorang wanita paruh baya dengan seorang wanita lainnya yang berpenampilan fashionable diusia yang tak muda lagi.


Mereka tampak bercakap-cakap serius di beranda samping rumah.


Fredy bersembunyi dibalik pohon bonsai yang cukup tinggi, dia ingin mencuri dengar pembicaraan kedua wanita itu.


"Kamu tahu yang kemarin kesini itu siapa?" tanya wanita setengah baya yang fashionable pada wanita lain yang menjadi lawan bicaranya.


"Kata suami saya, wajahnya mirip sama Anaknya Nyonya," sahut wanita paruh baya yang mengenakan baju rumahan sederhana.


"Anakku?" tanya wanita fashionable lagi.


"Iya, Mirip Den Felix," jawab wanita sederhana.


Felix dan Fredy saling menatap karena mendengar nama Felix disebut -sebut oleh kedua wanita itu.


"Tapi itu sudah jelas bukan Den Felix, Nyonya. Karena kata suami saya, dia bertanya siapa pemilik rumah ini," jelas wanita sederhana itu lagi.


"Ya, ya... itu pasti bukan Felix, karena Felix sedang banyak urusan dan untuk apa juga dia menanyakan tentang pemilik rumah ini. Dia kan tahu kalau rumah ini milik saya."


Deg...!


Felix dan Fredy kembali bertatapan, Felix bisa membaca isi kepala Fredy seperti biasanya. Menurut analisa mereka berdua, yang sedang dibicarakan oleh kedua wanita ini adalah Felix 'yang lain' alias roh jahat yang memakai raga Felix yang asli. Berarti roh itu hidup dan menggunakan raga Felix bahkan memakai nama Felix juga di dunia manusia.


"Sepertinya aku tahu siapa pemuda yang datang itu, Bik," ucap wanita fashionable itu dengan penuh arti.


"Memangnya siapa Nyonya?" tanya wanita sederhana pemasaran.


"Itu pasti Fredy, dia kembaran Felix. Ternyata dia sudah dewasa dan menemukan keberadaan kami disini," ucap wanita fashionable yang tak lain adalah Mama Neni--mamanya Felix dan Fredy.


Fredy terdiam lama dengan pikirannya, dia masih bersembunyi di balik pohon sambil memikirkan sebuah rencana kecil. Lalu diapun menatap Felix- yang sejatinya sudah tahu isi kepala saudara kembarnya itu.


"Apa rencanamu?" tanya Felix seolah belum mengetahui rencana Fredy, padahal dia sudah tahu pasti apa yang akan Fredy perbuat setelah ini.


"Aku akan berpura-pura tidak tahu soal roh dan raga yang telah terpisah karena ditumbalkan. Aku akan datang menemui Mama sebagai Fredy yang mencari kembaranku. Lalu, Aku akan menjumpai roh itu, seolah aku tidak tahu jika dia adalah roh jahat yang sudah memakai dan memperalat ragamu untuk kepentingannya sendiri. Aku akan berpura-pura menganggapnya adalah Felix yang sebenarnya," jawab Fredy dengan senyum miringnya.


...TBC......

__ADS_1


__ADS_2