Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
16. Merasa kehilangan


__ADS_3

Chapter 16


_____________


"Tidak, bicaralah padaku!"


Saat Felix mengatakan itu, sebenarnya dia sedang menerka-nerka sosok yang ada dihadapannya dan Bella. Sosok yang tampak mirip dengannya dan sedari tadi ia pandangi dari balik teralis jendela.


Felix mendengar isi kepala Bella yang ketakutan dan Felix tidak menghiraukannya.


Felix lebih takut membahayakan Bella sekarang. Dia memilih untuk menghadapi lawan yang bahkan wajahnya adalah sama dengan dirinya sendiri.


Yang membuat Felix bingung adalah dia juga bisa mendengar isi kepala lelaki dihadapannya. Apa Felix juga bisa membaca isi kepala Roh jahat didepannya?


"Baiklah, kita memang harus bicara." sahut sosok lelaki itu membuat Bella mengernyit.


Bella tampak bingung, karena itu berarti sosok itu bukan hanya bisa melihat roh Felix, melainkan juga mendengar ucapan Felix.


Fix, dia adalah roh jahat itu. Batin Bella ketakutan.


Setelah izin dengan Sera untuk lebih dulu meninggalkan kampus, Bella mulai memacu mobilnya. Dia menurut pada Felix untuk tetap tenang dan jangan takut.


Walaupun Felix tahu, Bella tidak bisa menyembunyikan ketakutannya dari sosok yang baru saja menemui mereka, tapi Felix berjanji akan melindungi Bella apapun yang terjadi.


Mobil Bella berhenti tepat di tempat kos-nya. Diikuti mobil lelaki yang mirip dengan Felix itu--- dibelakangnya.


"Dengar aku, aku akan bicara padanya. Tunggu aku didalam dan jangan kemana-mana," kata Felix mewanti-wanti Bella.


Bella mengernyit, dia memang terlalu takut dengan sosok yang dia yakini sebagai roh jahat yang menguasai raga Felix itu, tapi dia juga tidak yakin membiarkan Felix hanya berdua dengan sosok itu. Bella ingin ikut, Bella tidak mau membiarkan Felix begitu saja. Bukankah Felix sempat mengatakan jika roh jahat itu tidak mungkin mau bernegosiasi?


Bella menggeleng. "Aku akan ikut dengan kamu," kata Bella dengan tatapan harap.


"Jangan, aku takut membahayakanmu. Tunggulah aku didalam."


Bella menggeleng lagi. "Aku sudah berjanji padamu, Felix. Aku akan membantu kamu."


"Aku gak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu sampai kenapa-napa karena aku," kata Felix meyakinkan. "Masuklah sekarang," lanjutnya sembari mengusap pipi Bella, lalu dia pun ingin segera beranjak.


"Felix.. ba-bagaimana kalau kamu gak kembali?" tanya Bella lirih.


Felix menggeleng. "Percaya padaku," katanya.


"Aku takut Felix."


Felix tersenyum. "Kamu takut aku gak kembali? Kamu takut kehilanganku?" goda Felix tapi Bella justru mengangguki.

__ADS_1


Felix pun mengecup dahi gadis itu, kecupan yang sangat hangat dan dalam, sedalam perasaannya selama ini kepada Bella dan hanya dia yang tahu seberapa sayangnya dia pada gadisnya itu.


Felix belum mau mengungkapkan, dia memilih waktu yang tepat yaitu saat dia kembali menjadi manusia seutuhnya, saat raganya sudah kembali.


Tapi, jika memang hari ini dia tidak bisa kembali lagi ke sisi Bella dalam bentuk roh ataupun manusia, Felix akan ikhlas. Setidaknya, Bella sudah menyadari keberadaannya dan Bella sudah menganggapnya ada.


Kebersamaan mereka selama ini sudah cukup untuk Felix. Jalan hidup Bella masih panjang, Felix tidak mau menjanjikan apa-apa sebelum semuanya kembali seperti sebagaimana-mestinya.


"Aku pergi. Doakan aku akan baik-baik saja," kata Felix.


Entah kenapa Bella merasa sedih dan ingin menangis, padahal dia baru mengingat sosok Felix belum lama ini. Dia takut ini menjadi pertemuan terakhir mereka.


"Aku tunggu kamu, Felix. Ingatlah kita sudah berjanji akan membuat banyak kenangan indah untuk kita kenang. Karena kenangan saat kita kecil sudah terlupakan dan tidak ada yang istimewa."


Felix mengangguk sekilas dan bersamaan dengan itu Roh nya menghambur keluar dari mobil Bella. Bella menangis, entah kenapa dia benar-benar merasa sedih.


Bella menatap mobil dibelakangnya yang mulai bergerak kembali. Entah akan menuju kemana sosok pemilik wajah yang serupa dengan Felix itu akan membawa roh Felix.


Bella hanya berharap semuanya akan baik-baik saja, walau itu sesuatu yang tidak mungkin.


Bella terus menatapi kepergian mobil itu dari spion mobilnya sendiri.


"Felix, ku mohon kembalilah segera," gumam Bella seraya menggenggam erat kemudi mobilnya.


Hari beranjak gelap dan Bella duduk dilantai kamar kos nya dengan pikiran yang nyaris kosong. Dia bahkan belum mandi sore dan terlihat acak-acakan.


Sudah hampir dua jam Felix pergi bersama lelaki yang Bella yakini adalah roh jahat, tapi sampai sekarang Felix belum juga kembali.


Bella ketakutan, ia takut terjadi sesuatu dengan Felix. Bella amat menyesal membiarkan Felix pergi begitu saja tanpanya.


Walaupun jika Bella ikut dia tidak tahu juga harus bagaimana dan berbuat apa untuk melawan roh jahat itu. Tapi, setidaknya Bella bisa mengetahui apa yang terjadi pada Felix, bukan menanti tanpa kabar seperti ini.


Bella bangkit dari duduknya, menyeka airmatanya yang mengalir tiada henti laksana anak sungai. Bella juga tidak tahu kenapa dia terus menangisi Felix dan hatinya sangat gusar memikirkan nasib Felix.


"Felix, apa hanya sampai disini kebersamaan kita?" gumamnya seraya terisak lagi.


Bella terus menunggu kedatangan Felix yang belum nampak batang hidungnya. Benar, dia sudah merasa kehilangan sekarang.


Bagaimana jika Felix tak pernah kembali?


Bagaimana jika sosok itu tak mau mengembalikan raga Felix?


Bella menggeleng, dia tidak mau. Sumpah demi apapun, dia tidak mau kehilangan Felix. Tapi kenapa?


Apa aku sudah mulai memiliki perasaan terhadap Felix?

__ADS_1


Bella mengernyit saat pintu kos nya diketuk dari luar. Seorang security nampak berdiri disana.


"Ada apa, Pak?" sapa Bella saat membukakan pintu.


Bella sudah tak mempedulikan lagi penampilannya yang kusut dan matanya yang membengkak, membuat Security setengah baya itu terheran saat menelisik kearahnya.


"Neng-nya gak apa-apa?" tanya Securiy itu.


"Engg.. gak apa-apa, Pak. Ada apa, Pak?" tanya Bella lagi.


"Itu didepan ada cowok ganteng nyariin Neng Bella," kata Security itu lagi.


"Siapa?"


"Katanya namanya Fredy. Saya gak tau Neng, baru sekali ini kesini."


Bella mengangguk, ditempat kos nya memang dilarang masuk untuk laki-laki. Jika ada tamu laki-laki yang ingin menemui salah satu gadis ataupun wanita yang kebetulan tinggal di area kos ini, mereka harus bertemu didepan gerbang, kecuali ada hubungan saudara, itupun harus jelas saudara yang seperti apa dan harus disertai bukti.


Sulit memang, tapi itulah kos yang dipilihkan orangtua Bella, semata-mata untuk menjaga anak gadis yang tinggal jauh dari mereka.


Saat Bella melihat siapa orang yang duduk di pos security, mata Bella membulat sempurna. Lelaki dengan tampang sama dengan Felix itupun tersenyum ke arahnya.


"Aku sudah mengembalikan Felix-mu," katanya ramah.


Bella menaikkan sebelah alisnya, ia heran dengan siapa sekarang dia berbicara. Bukankah ini adalah raga Felix yang dikuasai roh jahat? Kenapa mendadak beramah-tamah begini padanya?


"Felix mungkin sudah ada di kamarmu sekarang. Tapi aku sudah meminta izin padanya agar bisa bicara denganmu," katanya lagi.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bella.


Lelaki itupun mengulurkan tangan kearah Bella. "Kenalkan, Aku Fredy. Aku bukan roh jahat seperti yang kamu pikirkan," jawabnya.


"Hah?" Bella melongo dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Biar Felix yang menjelaskannya padamu. Aku hanya ingin mengonfirmasi padamu, kalau aku ini manusia tulen." Fredy terkekeh kecil. Tawanya mirip sekali dengan Felix, Bella jadi merindukan Felix saat ini juga.


"Kata Felix, kamu mengira aku adalah roh jahat. Aku sudah tahu semuanya walau tadinya sedikit terkejut." Fredy lagi-lagi terkekeh kecil.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bella heran.


"Baiknya, kamu tanyakan saja pada Felix. Aku permisi. Secepatnya aku akan mencari jalan keluar."


Lelaki yang mengaku bernama Fredy itu pun memasuki mobil. Mobilnya pun perlahan menghilang ditelan gelapnya jalanan malam.


...TBC.......

__ADS_1


__ADS_2