Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
31. Kedatangan Bella


__ADS_3

Bella menatap bangunan yang megah di seberang tempatnya berpijak saat ini. Ia menoleh pada Om Deka dan sang papa, seolah menanyakan apakah benar ini adalah alamat rumah Tante Neni yang baru?


"Ini kediaman Neni yang baru?" gumam Pak Setyo yang juga seakan tak percaya bahwa sekarang Neni benar-benar sangat kaya. Dulu wanita itu terlihat biasa saja, tidak menonjolkan kekayaannya meski Pak Setyo pernah mendengar cerita dari istrinya bahwa mantan suami Neni adalah pemilik perusahaan besar. Tapi, Neni juga pernah mengatakan bahwa dia tidak lagi berada sejak bercerai dari Julian--suaminya.


"Kalau dilihat dari alamat yang diberikan Fredy, sepertinya memang ini rumahnya, Pa."


"Ya sudah, ayo kita kemana." Pak Setyo tampak bersemangat, ia tidak sabar untuk mengakhiri semua permainan Neni yang tidak tanggung-tanggung ini, bahkan sampai melibatkan putrinya.


"Tidak bisa Setyo." Om Deka yang menjawab. "Jika kau menunjukkan wajahmu disana, Neni bisa mencurigai kita. Aku dan Ara yang akan menyamar. Neni tidak mengenali kami. Kami akan datang seolah-olah sebagai kerabat Fredy yang sedang mencarinya."


"Tapi..." jelas Pak Setyo tidak setuju dengan saran dari Om Deka. Tapi dia juga mengingat rencana yang ingin dijalankan disini jadi mau tak mau ia menyetujui saja.


"Baiklah, aku menitipkan Ara padamu Deka. Semoga semuanya berjalan lancar, aku sangat berharap semuanya baik-baik saja. Sebenarnya aku sangat ingin mendampingi putriku tapi mengingat rencana kalian aku tidak ingin merusaknya. Aku percaya padamu."


Om Deka tersenyum tipis. "Ya, kau bisa mempercayaiku," ujarnya tenang.


Bella dan Om Deka pun turun,berbekal ilmu pria baya itu serta rencana mereka yang sudah tersusun rapi, keduanya mulai mendekati kediaman Neni setelah memastikan mobil yang dikendarai Setyo benar-benar telah berlalu pergi.


"Ayo, kamu tidak perlu ragu. Neni tidak tau siapa kita. Kita bisa memainkan peran seperti Fredy yang tidak tau apapun."


"Baiklah, om." Bella menekan bel didepan gerbang yang panjangnya tiga kali lipat gerbang rumah Bella.


Seseorang tampak membukakan pintu. Wanita kurus dengan seragam khas pelayan.


"Siapa?" tanya wanita itu.


"Saya Deka, ini putri saya Bella. Kami kesini untuk menemui Fredy. Dia sedang disini, kan?"


"Oh, tamu tuan Fredy? Ya, dia sedang disini tapi...."


"Kenapa?" Om Deka mengernyit heran.


"Saya harus menanyakan kesediaan Tuan Fredy dulu untuk menemui anda Tuan."


"Oh, baiklah,. Kami akan menunggu disini."


Tak menunggu lama, Fredy tampak keluar menyusul mereka di depan gerbang. Bella tidak melihat adanya Felix didekat Fredy, ia mencari-cari sosok itu, ia rindu, tapi entah dimana roh Felix sekarang.


"Om Deka?" Sebenarnya Fredy tidak mengenal deka sebelumnya, bahkan ini pertemuan pertama mereka, tapi sebelumnya Bella sudah mengirimkan misi mereka melalui pesan singkat kepada Fredy hingga pria itu berlagak mengenal akrab Om Deka dan Bella.


"Ayo, masuk!" ajak Fredy tenang. Sementara pelayan yang tadi ikut memanggilkan Fredy tampak menunduk dalam-dalam, ia takut majikannya yang sesungguhnya akan marah jika ada keberadaan orang lain lagi dirumah ini.


"Tuan Fredy...."


"Ya?" Fredy menoleh pada pelayan itu.

__ADS_1


"Nyonya Neni melarang orang lain masuk kesini. Lagipula, bukankah hari ini anda akan keluar dari rumah ini sebab perjanjian anda hanya menginap satu malam disini, kan?"


Oh, lancang sekali pelayan ini, batin Fredy. Ia merasa sang pelayan sedang mengusirnya secara tak langsung. Tetapi, apa mungkin ini yang Neni sengaja ajarkan pada para pembantu dirumahnya?


"Mereka tidak akan lama. Lagipula mereka bukan orang lain. Bella adalah calon istriku dan ini om Deka adalah ayahnya. Mereka tidak akan membuat keributan, hanya ada hal penting yang ingin kami bicarakan."


"Nyonya akan berangkat ke luar negeri beberapa jam dari sekarang. Kami ditugaskan memastikan Anda harus keluar dari rumah ini hari ini juga."


"Astaga... kau ini," kata Fredy ingin sekali mengumpat sang pelayan. Tapi, ia pun hanya pendatang meski sejatinya ia adalah putra dari pemilik rumah tersebut.


"Aku yang akan bicara pada mamaku. Bisakah mereka diberikan akses masuk?" ucap Fredy kemudian.


Sang pelayan akhirnya mengangguk meski ragu-ragu.


Fredy meminta Bella dan Om Deka duduk di beranda rumah. Untuk beberapa saat tidak ada percakapan diantara mereka.


Bella sibuk mencari sosok Felix,sementara Om Deka memantau keadaan rumah dengan terawangannya mengenai aura rumah itu sendiri.


"Felix mana?" Bella tidak kuat lagi, akhirnya ia berbisik pada Fredy.


"Aku disini." Terdengar sebuah jawaban yang ternyata itu adalah Felix.


Bella tersenyum semringah mendapati roh Felix yang kini sudah ada dihadapannya. Ia ingin mengobrol, tetapi ia ingat bahwa ia tak boleh bertindak gegabah. Lagipula Bella ingin memastikan sesuatu. Apakah Felix masih bisa membaca pikirannya?


"Aku juga rindu padamu, sangat," jawab Felix diseberang sana, seolah tengah menjawab isi kepala Bella yang memang menyatakan hal serupa berupa rasa rindu yang cukup mengganggu. Ya, sepertinya Bella mulai merasakan bahwa ia memiliki rasa terhadap tunangannya itu, tapi bagaimana jika Felix tidak bisa menemukan raganya lagi?


Sekarang Felix sadar, bahwa disini bukan hanya Bella ya g dapat melihatnya tetapi ada Fredy dan seorang bapak tua yang bernama Deka yang juga dapat mengetahui dan mendengar apapun yang ia katakan. Tapi, mereka tentu tak bisa mendengar isi kepala Bella seperti Felix melakukannya.


"Jangan terlalu mencolok, kau bicara dengan Ara seperti itu, itu akan membuat Zudh mengetahui bahwa Ara dapat melihatmu," kata Fredy memberi peringatan pada Felix.


Ah ya, Felix jadi menyadarinya, ia berterimakasih karena Fredy mengingatkannya soal Zudh.


"Zudh?" Om Deka bergumam.


"Dia adalah khodam ibuku," kata Fredy dengan berbisik-bisik.


Disinilah Om Deka dapat menyimpulkan sesuatu. Ada yang lain dirumah itu selain sosok Xeor yang mereka cari.


"Xeor, aku tidak menemukannya, dan Ara malah mengatakan bahwa Xeor ada dikampusnya kemarin. Dia seperti tau dan bisa mendeteksi kedatanganku kesini, hingga dia menghindariku. Pertanyaannya adalah, kenapa dia seolah takut bertemu denganku?" Felix bertanya pada Om Deka, mungkin pria itu tau sebuah kesimpulan atau mungkin jawaban atas teka-teki ini.


"Ada dua kemungkinan, yang pertama adalah---" Ucapan Om Deka terputus, sebab ia merasakan aura lain disekitar mereka. Tepat saat ia menghentikan pembicaraan, ia dapat melihat sosok Zudh yang menguping di tengah-tengah mereka.


Om Deka menyeringai. Ia langsung mengganti topik pembicaraan.


"Kapan kalian menikah? Bella sudah hamil sekarang," kata pria itu membuat Fredy terheran-heran apalagi Bella. Gadis itu sampai melotot dengan pembahasan yang tidak ada di skenario mereka ini.

__ADS_1


"Apa?"Fredy sempat terkejut,sampai Felix memberinya tepukan pelan sebagai kode bahwa ada Zudh disekitar mereka.


Untungnya Fredy memiliki nalar dan intuisi yang tanggap, ia langsung membiasakan dengan topik absurd ini.


"Aku akan segera menikahi Bella, Om. Aku hanya perlu restu dari mamaku," ujarnya berakting.


Tak berapa lama, seolah mengetahui semua ini, sosok yang sedang mereka bicarakan itu pun datang. Neni menghampiri ketiganya setelah Zudh memanggilnya dengan kode diantara mereka berdua.


"Aku mendengar namaku disebut," kata Neni yang tersenyum kecil disana.


Om Deka langsung bangkit, ia berdiri dan menatap Neni.


"Apa anda adalah ibu kandung Fredy?" tanyanya.


"Ya? Kau siapa?" balas Neni.


Zudh berbisik di telinga Neni, sedang mengadukan pembahasan yang tadi ia dengarkan. Seketika wajah Neni berubah keruh.


"Dia putrimu? Dan dia sedang hamil anak Fredy?" ujar Neni dengan ekspresi terperangah.


"Ya, begitulah. Mereka sudah menjalin hubungan yang cukup lama. Aku meminta Fredy untuk menikahi Bella secepatnya, kandungannya sudah empat bulan," tipu Om Deka.


Fredy menunduk, apa-apaan ini, dia terlihat seperti pria breng sek dengan tuduhan semacam ini, tapi biarlah, ini semua demi menahan dirinya agar tetap bisa tinggal dirumah Neni dalam kurun waktu yang lebih lama. Setidaknya sampai sosok Xeor muncul atau mereka tau sedikit kenapa Xeor menghindar dengan kedatangan Felix.


"Jangan berani menipuku. Putrimu tidak mungkin mengandung anak Fredy!" kata Neni lantang.


"Kenapa kau meragukannya? Kau bisa menanyakan hal itu pada putramu, dia ada berbuat atau tidak?" tantang Om Deka.


Fredy memejamkan mata sejenak, tak lama ia kembali bersuara sebelum Neni menanyakannya.


"Iya, Ma. Aku yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Bella. Aku akan menikahinya dan beri kami restu. Biarkan Bella ada didekatku sementara waktu sebab aku mau menjaganya. Berhubung aku ada disini, jadi biarkan dia juga tinggal disini bersamaku."


"Apa? Tidak! Kalian semua harus pergi dari kediamanku!" usir Neni tak tanggung-tanggung.


"Termasuk aku?" tanya Fredy memastikan pada wanita yang berstatus ibunya itu.


"Ya, kau juga!" kata Neni.


"Kenapa? Aku masih akan disini, Ma!"


Neni tidak bisa membiarkan itu, apalagi ada sosok wanita hamil didekat mereka. Ia tidak mau bayi yang katanya adalah anak Fredy itu-- menjadi tumbal selanjutnya. Sebenarnya ia juga mengkhawatirkan keberadaan Fredy disini, bukan hanya karena takut sosok Xeor ditemukan oleh putranya.


"Pergilah demi kebaikan kalian semua." Neni berlalu setelah mengucapkan kalimat misterius itu.


...TBC .......

__ADS_1


Tolong berikan dukungan untuk Novel ini. Supaya othor semangat dan rajin up. Terima kasih Readers💚


__ADS_2