Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
15. Sosok yang mirip


__ADS_3

Chapter 15


_____________


Suasana kampus hari itu sangat ramai seperti biasanya. Tapi ada yang membuat Bella merasa antusias hari ini, karena pihak kampus mengadakan pameran lukisan dan bazar di pelataran kampus, semacam acara sosial dan amal.


Berbagai macam lukisan bagus akan dipajang lalu dilelang, hasil uangnya pun akan sepenuhnya disalurkan ke panti asuhan dan panti jompo.


Bella ikut mendaftarkan beberapa lukisannya yang akan turut ia sumbangkan. Begitu juga dengan Sera. Mereka berdua sudah sibuk sejak pagi di Kampus dan hanya akan meninggalkan pelataran Kampus-- jika ada kelas kuliah yang akan mereka ikuti.


Menjelang siang, tamu yang diundang untuk menghadiri pameran amal itu pun mulai berdatangan.


Tamu tidak hanya dikalangan Mahasiswa, tetapi pihak kampus juga sengaja mengundang banyak konglomerat dan pengusaha yang tertarik dibidang lukisan. Semua itu untuk menarik minat dan tentunya menghasilkan pundi-pundi uang yang lebih banyak.


Semua Panitia dan Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi sosial yang diadakan itupun menjadi semakin semangat untuk melakukan kegiatannya siang itu. Tidak hanya di fakultas seni tapi semua fakultas yang tertarik untuk mengikuti pun boleh datang dan barangkali ada yang tertarik untuk membeli lukisan yang dilelangkan.


Bella melihat Felix yang berdiri didepan teralis jendela. Saat ini Bella sedang beristirahat di Aula kampus, kegiatan menjadi panitia pelelangan sangat melelahkan fisiknya.


Bella melirik kiri dan kanannya, saat kondisi mulai sepi, ia pun mulai buka suara.


"Maaf jika aku terlalu sibuk dan belum fokus untuk membantumu. Seharusnya aku memikirkan cara dan mencari tahu keberadaan ragamu." ucap Bella.


Felix mengangguk. "Tak apa, kegiatan ini juga bagus dan bermanfaat," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya, Felix terlihat fokus memperhatikan sesuatu.


Bella menenggak air mineral dari dalam botolnya, ia merasa haus dan kepanasan. Sesekali ia mengibas-ngibaskan tangan kearah dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa gerah.


"Sera mana sih, lama banget ke toiletnya?" gumam Bella.


Bella melihat orang-orang disekelilingnya yang sibuk berlalu-lalang. Lalu peehatiannya kembali lagi pada Felix yang banyak diam hari ini. Bella beranjak dari posisinya dan ia berdiri tepat disamping Felix, Bella ingin tahu apa yang sejak tadi menjadi pusat perhatian Felix dibalik jendela itu.


"Astaga.." Bella terkesiap seraya menutup mulutnya sendiri. Pemandangan yang baru saja ia lihat cukup membuatnya syok. Ia kemudian melihat Felix disampingnya, Felix terlihat tak bergeming sama sekali.


"Jadi dari tadi kamu melihat itu?" bisik Bella.


Felix hanya diam, matanya fokus kedepan sana.


"Aku gak nyangka bakal ketemu disini. Apa itu berarti yang didalam tubuh itu adalah roh jahat?" ucap Bella dengan nada hati-hati.


"Entahlah, apa kamu merasa kami mirip?"


"Sangat..." Bella pun tertular Felix, ia menjadi fokus pada sosok yang tengah mereka perhatikan. Lelaki dengan jas slimfit duduk diantara kursi tamu VIP yang disediakan pihak kampus.

__ADS_1


Bella mencuri pandang ke arah Felix lagi, untuk memastikan kemiripan mereka, dan benar saja lelaki itu sangat mirip dengan Felix.


Itu berarti tubuh Felix sudah ada didekatnya, hanya saja tubuh itu sedang dikendalikan oleh Roh jahat yang selama ini menguasai raga Felix.


"Apa aku harus menemuinya?" Bella bertanya sembari menghadap Felix dan Felix menggeleng.


"Kenapa? Aku harus mengatakan yang sebenarnya dan dia harus mengembalikan tubuhmu."


Felix terkekeh hambar. "Apa kamu pikir roh yang menguasai tubuhku itu mau diajak bernegosiasi?" cibirnya.


Bella berdecak, sesaat kemudian Sera pun tiba dan mengejutkannya.


"Hayo.. ngapain kamu melamun sendirian disini?" tanya Sera.


"Gak ada. Panas aja," kilah Bella.


"Serius? Apaan sih?" Sera pun ikut mengamati kearah luar jendela, ia ingin tahu apa yang Bella lihat sampai menyebabkan Bella berdiri disana.


"Wow... Bell," Sera mengguncang-guncangkan pundak Bella karena merasa antusias dengan apa yang ia lihat diseberang sana.


"Kenapa?" tanya Bella seraya melangkah ke kursi dan duduk lagi ditempatnya semula.


"Pasti tadi kamu lihatin cowok itu, kan? Ah.. lihat pemandangan bagus kok gak bagi-bagi sih?" Sera terus menatap kesana dengan pandangan takjub.


"Itu sih bukan tampan lagi, tapi TOP banget!" kata Sera.


"Dasar genit! Selalu deh gak bisa liat yang bening dikit," ejek Bella.


"No... ini namanya bukan bening dikit, Bell. Ini tuh, beningnya kebangetan. limited edition," jawab Sera, ia pun kembali menghampiri Bella.


"Tapi tunggu.. wait, wait, ini adalah pertama kalinya aku ngelihat kamu merhatiin cowok sampai segitunya. Fix nih, yang ini pasti tipe kamu kan." Sera menaik-naikkan alisnya, menggoda Bella.


Bella mengangkat bahu. "Udah siap kan istirahatnya? Yuk balik ke pameran," ucap Bella mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu, Bell..." kata Sera tak mau kalah.


"Aku gak mau."


"Huh! susah deh. Iya deh iya, pasti tunangan kamu lebih tampan ya daripada cowok itu makanya kamu setia banget," sindir Sera.


"Pastilah." dan jawaban itu bukan dari mulut Bella, melainkan Felix, yang tentu saja tidak didengar oleh Sera tapi Bella mendengarnya, membuat Bella mencebikkan bibir karena sikap kepercayaan diri Felix itu.

__ADS_1


"Tapi ya, Bell. Cowok itu duduk di kursi VIP. Dia pasti pengusaha atau konglomerat yang diundang ke pameran ini." Sera menyatukan jemarinya dengan pandangan mata yang menerawang jauh. "Sudah tampan, kaya dan mapan," sambungnya dengan nada kekaguman yang dilebih-lebihkan.


Bella hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Sera yang mengagumi fisik Felix yang baru dilihatnya secara nyata melalui sosok yang hadir di pameran lukisan kampus mereka itu.


Sera tidak tahu saja jika pemilik wajah yang serupa, setiap hari tinggal bersama Bella. Apa jadinya jika Sera tahu?


"Kalau aja dia tahu bahwa pemilik tubuh itu adalah tunangan kamu. Aku rasa dia bakal pingsan," gumam Felix dan Bella hanya diam seraya menghela nafas berat, karena Bella tahu Felix pasti sudah membaca isi pikiran Sera, sudah pasti pikiran gadis itu benar-benar mengagumi visual sosok yang baru dilihatnya.


...👻👻👻👻👻...


Suara deheman seseorang berhasil membuat kedua sahabat itu menoleh ke belakang. Sera menatap sosok yang menghampiri mereka itu dengan tatapan kagum. Kilatan dimatanya benar-benar menunjukkan bahwa ia sangat terkejut sekaligus berbinar-binar senang.


Begitu pula dengan Bella, ia amat terkejut dengan sosok lelaki yang menghampirinya. Tapi lain dengan Sera yang menatap dengan penuh kekaguman, Bella malah menatap lelaki itu dengan raut ketakutan.


"Ada apa, Kak?" sahut Sera dengan keramahannya yang kadang terkesan genit.


Lelaki itu hanya tersenyum sekilas pada Sera, lalu mengalihkan pandangan kearah Bella.


"Kamu..." kata lelaki itu pada Bella seraya menggendikkan dagu ke arah... Felix?


Tindakannya itu seperti isyarat pada Bella bahwa dia juga melihat keberadaan Felix disisi Bella.


Apa dia melihat Felix? batin Bella.


"Ke-kenapa?" tanya Bella takut-takut, Bella sudah menduga jika lelaki didepannya adalah roh jahat yang menguasai tubuh Felix, makanya dia juga pasti bisa melihat roh Felix yang saat ini tengah berdiri tak jauh dari Bella.


Lelaki yang mirip Felix itu menggosok tengkuknya. "Bisa kita bicara berdua?" katanya pelan.


Bella menoleh ke arah Felix, seolah tengah meminta persetujuan padanya.


Felix menggeleng. Raut wajahnya tidak terbaca. Tiba-tiba dia bersuara. "Tidak, bicaralah padaku!" sahut Felix pada lelaki itu.


Bella menjadi semakin takut akan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan Sera yang tidak mengerti keadaan dan tak mendengar sahutan Felix, mengira jika Bella menyetujui untuk berbicara pada lelaki itu.


Perlahan-lahan, Sera meninggalkan Bella dan lelaki itu, memberi privasi pada keduanya. Sera pun keluar dari Aula yang sebenarnya tidak kosong itu, ada beberapa orang panitia yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


glek...


Bella menatap takut sosok lelaki dihadapannya. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


Apa aku harus lari? Tapi aku berjanji akan membantu Felix 'kan? Sekarang raganya sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku tidak perlu mencarinya dan dia sendiri yang mendatangiku. lalu kenapa sekarang aku takut? Batin Bella.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2