
"Fredy?"
Seketika itu juga tubuh Fredy yang dikendalikan oleh Felix--berbalik arah, ia ingin melihat siapa yang tengah menyapanya saat ini.
"Ma--ma?" Fredy Dan Felix terkejut bersamaan. Bagaimana bisa, Neni kembali menemukannya saat berada didepan ruangan berpintu emas ini? Padahal tadi mereka sangat yakin jika Neni sedang ada dihalaman dan sibuk mengurusi tanaman hiasnya.
Tidak mungkin Neni bisa menyusul mereka ke lorong ini dengan cepatnya.
"Dia bukan Mama," kata Felix didalam batinnya.
Sementara sosok Neni yang ada dihadapan Fredy juga bergumam kecil.
"Kau bukan Fredy!?" katanya, entah menuding ataupun sedang bertanya.
"Maksud mama apa?"
"Kau bukan Fredy. Tubuh Fredy sedang kau rasuki..." kata Neni seolah tengah bicara pada roh yang ada ditubuh Fredy. Ia yakin jika raga yang ada didepannya saat ini bukanlah Fredy yang sesungguhnya. Ada roh lain yang mengendalikannya tapi kenapa wajahnya serupa?
Felix tersenyum penuh cibiran, tentu saja hal itu terlihat seolah-olah jika Fredy yang melakukannya. "Kau juga bukan mamaku," tukasnya menyeringai.
"Hahaha...." Sosok yang menyerupai Neni itu tertawa kencang. "Siapa kau? Apa kau berniat mengganggu putra majikanku?" tanyanya.
"Tidak. Aku mencari sesuatu disini. Seorang pria."
Srrkkkkkkhhhh
Tiba-tiba saja, sosok yang tadinya menyerupai Mama dari Felix dan Fredy itu---berubah menjadi wujud yang sebenarnya. Rupanya dia adalah seorang jin wanita. Penampilannya bergaun merah dengan rambut yang terjuntai sampai ke mata kaki. Wajahnya cukup cantik dengan iris mata berwarna hitam pekat yang menantang dan berani.
Felix tentu saja tidak takut sama sekali dengan sosok itu. Ia sudah terbiasa menyaksikan wujud semacam ini bahkan yang lebih parah. Berbeda dengan Fredy yang cukup syok, namun didalam dirinya-- Felix dapat merasakan bahwa Fredy mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Felix berpikir, lain kali ia akan merasuki tubuh Fredy jika saudaranya ini sedang tidur saja, sebab ia tak yakin Fredy akan tetap sanggup menyaksikan lebih banyak lagi pemandangan yang menyeramkan.
"Aku Zudh, aku adalah khodam bagi Mamamu," papar sosok itu.
"Khodam?"
"Aku adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh manusia, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Jika sudah tercipta, khodam sepertiku tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diturunkan ke orang lain."
"... aku bertugas untuk membantu, menjaga, dan mendampingi majikanku secara khusus."
Fredy menarik nafas dalam, sebuah fakta yang baru ia ketahui lagi bahwa Neni memiliki khodam seperti yang ada dihadapannya saat ini.
"Kau bilang kau sedang mencari seorang pria, kan?"
"Ya, apa aku bisa menanyakannya padamu, Zudh?"
"Biar ku tebak, apa kau mencari ragamu yang sudah ditumbalkan oleh Neni?"
Felix tidak dapat menjawab. Ia juga tidak bisa membaca pikiran sosok didepannya. Seandainya bisa, ia bisa mudah mencari tau apa niat sosok ini. apakah baik dan mau menolongnya? Atau justru sebaliknya?
__ADS_1
"Tidak perlu bersusah payah mencari raga itu. Aku tau raga itu milik Felix dan dia sudah ditumbalkan. Dia tidak akan bisa kembali. Hanya perlu menunggu sampai waktunya tiba, dimana seonggok raga tanpa jiwa itu akan dimusnahkan saat Xeor sudah bosan."
"Xeor?" Felix dan Fredy bertanya bersamaan. Tentunya dengan satu suara yang menggema di lorong sempit tersebut.
"Ya, sosok hitam yang memaksa Neni untuk terus memujanya. Dia adalah Xeor. Xeor sang penguasa. Tidak berkutik jika berhadapan dengannya!" kata Zudh dengan mata membola.
"Tidak, pasti dia memiliki kelemahan. Semua ini harus diakhiri."
"Sebagai Khodam bagi Neni, aku sudah memperingatkannya berulang kali. Lagipula, seharusnya aku diturunkan Neni kepada keturunannya.... Felix, seharusnya Felix adalah majikanku sekarang, bukan lagi Neni."
Felix terdiam. Ya, khodam memang bisa diwariskan secara turun temurun, begitulah yang ia tahu.
"Apa kau adalah Felix? Wajahmu serupa dengan Fredy?" tanya Zudh lagi.
Felix tak menjawab, ia yakin sosok jin itu dapat mengetahui jawabannya.
"Jika tubuhmu tidak ditumbalkan oleh Neni, maka seharusnya kau sudah menjadi majikanku sekarang, Felix."
Ya, sepertinya Zudh sudah mengetahui siapa yang merasuki Fredy saat ini dan siapa pula yang sekarang menjadi lawan bicaranya.
Felix tetap diam, dari sekian percakapan yang terjadi antara dia dengan Zudh tadi, ia dapat menyimpulkan jika raganya masih dikuasai oleh makhluk bernama Xeor. Itu artinya kematiannya hanyalah kamuflase dari Neni. Raganya masih ada, bukan telah mati dan di kremasi seperti cerita Neni.
"Apa kau tau dimana Xeor?" tanya Felix akhirnya.
Zudh langsung mundur. Wajahnya tampak takut. Tak lama ia menggeleng dengan cepat. "Jangan, jangan mencarinya Felix! Percayalah kau akan menyesal jika berurusan dengannya," paparnya.
Zudh menggeleng. "Tidak, aku tidak tau. Aku hanya ditugaskan oleh Neni untuk menjaga ruangan ini agar tidak ada yang bisa memasukinya."
"Lalu, apa yang ada didalam ruangan ini?"
"Aku tidak tau apapun. Aku hanya menjaga saja. Sesuai permintaan Neni."
Felix menggeram rendah. Kemudian membawa serta tubuh Fredy yang dia kendalikan untuk kembali memasuki kamar yang sudah disediakan untuk menginap dirumah sang Mama.
"Sepertinya aku tidak bisa keluar dari ragamu, Frey...." kata Felix.
"Kenapa?"
"Rupanya Mama memiliki khodam. Biasanya, orang yang memiliki khodam hampir sama seperti anak indigo... dia dapat melihat dan merasakan adanya arwah, roh dan sejenisnya."
"Ya, tapi semua sudah terlanjur. Kita juga sudah bertemu Zudh, yang pasti akan memberi tahu mama mengenai kehadiranmu..."
Mendengar itu, Felix pun mengangguki.
"Kita harus menemukan Xeor."
"Tapi, Zudh saja takut padanya...." kata Fredy.
"Kau takut, huh?" Felix tau Fredy takut bahkan sebelum pria itu menjawabnya.
__ADS_1
"Jika kau takut, kau tidak perlu sadarkan diri, aku akan merasuki mu jika kau sudah tertidur dengan pulas."
Felix pun mencoba keluar dari tubuh Fredy. Awalnya mereka sama-sama takut jika itu tidak berhasil. Nyatanya yang mereka takutkan tidak berimbas apapun. Semuanya kembali seperti sebelumnya. Fredy dengan fisik dan raganya yang nyata dan Felix pun kembali menjadi sosok roh tanpa inang untuk ditempati.
...~~~...
Makan malam pun terjadi. Disana hanya ada dua orang yaitu Neni dan Fredy. Tetapi, sejatinya disana ada 2 sosok lagi yaitu Zudh dan Felix.
Fredy bersikap biasa saja. Ia ingin Neni tidak mencurigai niat awalnya. Sesuai rencananya dengan Felix, ia akan berlagak tak tau menahu. Kehadirannya dirumah Neni pun hanya untuk tau sosok sang ibu.
Meski Fredy yakin sekarang Neni sudah tau soal keberadaan Felix disisinya, tapi Fredy bersikap seolah-olah Felix ada disana karena mengikutinya, bukan karena adanya kerja sama diantara mereka. Fredy juga pura-pura tidak pernah bisa melihat sosok Felix, nyatanya ia bisa berkomunikasi dengan roh saudaranya itu.
"Mama bilang, Felix di kremasi kan?" tanya Fredy ditengah-tengah sesi makan malam mereka.
"Ya, kenapa?"
"Apa Mama menyimpan abu nya?"
Neni langsung terdiam. Felix memperhatikan wanita itu. Sepertinya Neni tidak dapat melihatnya namun Zudh lah yang memberitahukan padanya bahwa roh Felix ada diantara mereka.
"Bisa kita membahas hal lain, Frey?"
"Kenapa? apa salah aku ingin tahu soal saudaraku?"
"Mama cuma sangat sedih jika membicarakan tentang kakakmu... Felix sudah tiada dan itu membuat mama terpukul."
"Boleh aku tau kenapa Felix bisa meninggal?"
"Felix kecelakaan."
Fredy mengernyit. "Kecelakaan?"
"Ya, pada saat itu dia kurang enak badan tapi memaksakan berkendara."
Kebohongan macam apa ini, batin Felix kesal. Bahkan Neni tidak terlihat ragu saat mengucapkan kebohongan itu, seolah memang sudah mempersiapkan alasan ini.
"Kalau begitu, kembali ke pertanyaan awal, Ma. Apa aku boleh melihat sisa abu dari hasil kremasi tubuh saudaraku?" tanya Fredy.
Seketika itu juga Neni meremat sendoknya dengan kuat. Ia memang sudah mempersiapkan jawaban untuk Fredy, tapi abu kremasi yang diminta Fredy tentu saja tak dapat ia tunjukkan.
"Abunya sudah mama tabur di lautan, Frey," katanya pelan tapi menekan kalimat. Lama-lama, kehadiran Fredy membahayakannya, pikirnya.
...TBC .......
Note:
*Khodam sama seperti jin karena dapat berinteraksi dengan sesamanya dan bersedia membantu manusia apabila diminta.
Khodam biasanya diminta oleh manusia untuk dimanfaatkan sebagai alat. Sehingga, mereka yang memiliki khodam dapat melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya.
__ADS_1