Tunanganku .... HANTU?

Tunanganku .... HANTU?
12. Mengabulkan isi pikiran


__ADS_3

Chapter 12


_____________


"Bell, semakin hari hasil lukisan kamu semakin bagus, ya!" ucap Sera yang tengah memperhatikan hasil lukisan Bella.


Bella berdecak lidah, sekarang ia mulai tahu kenapa hasil lukisannya menjadi menarik.


"Aku udah cerita belum sama kamu?" Bella berbisik pada Sera disela-sela kesibukan melukis mereka masing-masing--yang diadakan disebuah Aula.


"Soal apa?" tanya Sera, ia merasa sudah lama tak mendengar cerita Bella, itu karena ia sibuk pulang-pergi kerumah yang baru dibeli oleh kakaknya tempo hari. Akibat itu pulalah, sekarang Sera jadi jarang mengunjungi Bella di kos-nya.


"Sosok itu..." bisik Bella seraya melirik Felix yang tersenyum kecil disampingnya, tentunya Sera tak melihat keberadaan Felix.


"Sosok itu masih mengikuti kamu didunia nyata?" tanyanya. Sera memegang tengkuknya yang tiba-tiba mendingin seketika akibat perasaan takut yang didoktrin oleh dirinya sendiri.


"Iya, bahkan sekarang dia ada disini," ucap Bella serius, namun Sera semakin merinding ketakutan dengan ekspresi yang tampak terlalu berlebihan.


"Aku takut, Bell..." kata Sera dengan suara lirih.


Bella menepuk jidat, belum lagi ia menceritakan semuanya tapi Sera sudah ketakutan duluan.


Bella melirik sekilas kearah Felix yang mulai terkikik geli akibat tingkah Sera.


Bella merengut menatap Felix dan Felix mulai bersuara. "Lebih baik kamu gak usah cerita sama dia tentang aku. Takutnya dia malah anggap kamu aneh," ucapnya memberi saran.


Bella kembali berdecak sebagai jawaban tak sukanya atas ucapan Felix. Mana mungkin Sera-- sahabatnya--akan menganggap dirinya aneh.


"Kalau kamu gak percaya, coba aja cerita!" ucap Felix lagi, seolah ia menjawab isi kepala Bella.


"Ser, kamu jangan takut dulu. Aku juga belum cerita," kata Bella. "Aku sekarang udah ngerti kenapa lukisanku belakangan hari semakin bagus dan kadang-kadang malah lukisanku menggambarkan tempat yang sangat menarik," lanjutnya.


"Kenapa?" Sera menatap serius ke arah Bella. Tentu saja ia juga ingin tahu dan penasaran.


"Karena sosok itu yang membantu aku melukis tanpa sepengetahuanku."


"Ah, yang bener kamu? Untuk apa? Aneh banget!" ucap Sera, yang membuat Felix kembali terkekeh.


"Apa aku bilang, pasti dia bakal anggap semua ini aneh. Lambat laun dia juga bakal anggap kamu aneh," gumam Felix yang terdengar ditelinga Bella.


"Apa kamu juga bisa baca pikiran Sera? Makanya kamu bisa menebaknya?" tanya Bella pada Felix, sementara disaat bersamaan Sera juga menoleh pada Bella, karena ia yakin Bella tadi sedang berbicara.


"Kamu bicara sama siapa, Bell?" tanya Sera, kali ini tatapan mata Sera penuh selidik kearah Bella.


Bella mengangkat bahu dan mengadahkan kedua tangannya ke sisi badan, seolah bersikap cuek. Melihat itu, Sera pun kembali melanjutkan sesi melukisnya sambil geleng-geleng kepala akibat tingkah Bella yang ia anggap mulai aneh.


Benar kata Felix, bahwa Sera pasti akan menganggapnya aneh. Apalagi sekarang ia tertangkap basah sudah berbicara sendirian dipandangan mata Sera.

__ADS_1


"Aku bisa baca pikiran orang-orang yang berjarak dekat dengan kamu dan berada disekitarmu, seperti aku juga bisa membaca pikiran kamu," jawab Felix tiba-tiba, membuat Bella terperangah akibat kenyataan yang baru saja Felix lontarkan.


"Aku juga tahu isi kepala si Cakra. Isinya hanya sampah semua." Nada bicara Felix jika menyangkut Arka-- selalu berubah menjadi malas.


"Baiklah, aku acungi jempol untuk kemampuan kami," bisik Bella pada Felix.


"Kamu bilang apa, Bell?" Sera kembali menatap Bella dengan penuh selidik.


"Ah, ng-nggak. Aku cuma gumam-gumam sendiri aja," kilah Bella seraya mengurai senyum pada Sera. Mereka pun melanjutkan kegiatan melukisnya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Lain kali kalau didepan umum, kamu komunikasi sama aku lewat isi pikiran kamu aja," ucap Felix saat Bella memasuki kamar kos-nya. Ia baru saja tiba setelah hampir setengah harian berada dikampus.


"Maksudnya?" dahi gadis itu mengernyit dalam, tak paham akan maksud Felix.


"Kamu lihat kan, tadi Sera udah dengar kalau kamu suka ngomong sendiri. Itu karena dia gak bisa lihat wujud aku," jawabnya.


"Ya aku tahu itu."


"Makanya, kalau gak mau dianggap aneh, kamu bisa pikirkan apa yang mau kamu bicarakan sama aku. Pikirkan saja, tanpa perlu mengucapkan dengan suara, aku bisa menjawab semua ucapan kamu itu. Anggap aja itu bentuk komunikasi kita jika ditempat umum," sarannya.


Bella manggut-manggut sambil ber-oh ria untuk menjawab saran Felix. Itu lebih baik-pikirnya.


"Aku baru lihat gimana tadi kamu bantuin aku melukis. Ternyata selama ini kamu yang secara gak langsung melukis semua gambar-gambar itu?" Bella meletakkan barang-barangnya disebuah meja.


"Tapi aku gak pernah memikirkan hal semacam itu. Seperti lukisan itu," Bella menunjuk sebuah lukisan yang tempo hari membuatnya masuk ke alam lain.


"Itu dia, kamu gak sadar bahwa pikiran kamu kadang memikirkan tempat itu. Aku yang bisa baca pikiran kamu, hanya menuangkan semua yang kamu pikirkan dalam bentuk lukisan."


"Kenapa aku bisa gak sadar?"


"Itu karena..." Felix ragu untuk melanjutkannya.


"Kenapa? Aku ingin tahu segalanya. Apa ada lagi yang sudah aku lewatkan?"


"Aku gak tahu pasti, yang jelas mungkin ini ada kaitannya dengan ritual penutupan mata batin kamu dulu," ucapnya.


Bella berdecak, ia tidak mengingat apapun perihal penutupan mata batin.


Bella pun berjalan menuju kulkas, karena merasa haus mulai menyerangnya. Ia mengambil botol minuman dan menenggak minuman itu langsung dari botolnya.


"Jorok!" celetuk Felix. Bella hanya terkekeh mendengarnya.


Kemudian Bella ikut duduk dilantai, disamping Felix. Bella pun melanjutkan sesi tanya-jawabnya bersama Felix.


"Lalu, apa itu juga ada kaitannya dengan hasil lukisanku yang tiba-tiba bertema horor?" Bella menatap serius kearah Felix, tapi Felix tak menoleh kearahnya. Pandangan lelaki itu lurus kedepan. Entah kenapa Bella merasakan jika Felix mempunyai beban yang berat.

__ADS_1


"Ya, semua lukisan hantu itu adalah hasil pikiranmu. Mungkin dulu kamu pernah bertemu salah satu dari mereka atau bahkan semuanya."


Entah kenapa Bella bergidik mendengar itu. Walaupun Felix juga bukan manusia selayaknya dirinya, tapi setidaknya tampang dan penampilan Felix tidak semenyeramkan semua hasil lukisannya yang menggambarkan sosok-sosok astral.


Membayangkan pernah bertemu semua sosok itu, membuat Bella menjadi ciut dan benar-benar takut.


Tiba-tiba Felix terkekeh nyaring. Sepertinya itu ia lakukan karena dirinya bisa membaca pikiran Bella.


Keadaan hening yang sempat tercipta menjadi absurd akibat suara tawa Felix yang menggema di indera pendengaran Bella.


"Kenapa tertawa? Aku beneran takut!" ucap Bella, ia mengerti sekarang apa yang membuat Felix tertawa.


"Kamu manusia, derajatmu lebih tinggi dari makhluk-makhluk itu." Felix tersenyum, kini ia menatap Bella yang duduk disampingnya. "Kalaupun mereka mengganggu kamu, aku tidak akan membiarkannya," sambungnya, kini mata mereka bertemu dan saling menatap intens satu sama lainnya.


Entah kenapa, Bella merasakan angin sepoi-sepoi mulai menyusup diantara mereka, meresap ke pori-pori tubuhnya, tapi sikap dan pandangan mata Felix justru seolah membuat Bella membeku tak bergerak. Pelipisnya mulai berkeringat saat Felix dengan sengaja memangkas jarak diantara mereka.


Kini, wajah Bella dan Felix sangat dekat, bahkan tak sampai sejengkal tangan. Felix bisa merasakan deruan nafas Bella yang gugup dan itu membuat sudut bibirnya melengkung.


"Kamu mau apa?" tanya Bella dengan ekspresi yang membuat Felix sangat gemas.


Mata Bella tampak berkedip-kedip canggung. Tentunya Felix sudah tahu apa yang dipikirkan Bella saat ini.


"Kamu pikir aku mau mencium kamu?" tanya Felix dengan jarak mereka yang semakin dekat, hanya beberapa senti.


"Eng-enggak." Bella menggeleng cepat. Sementara Felix tersenyum miring mendengar Bella mengelak dari tuduhannya, padahal jelas-jelas Felix sudah tahu isi pikiran gadis itu saat ini.


Tanpa mengurai kedekatan jarak diantara mereka, Felix mulai bersuara lagi.


"Masih berbohong saja," ejek Felix pelan, seraya bibirnya membungkam bibir Bella yang baru saja hendak protes kepadanya.


Mata Bella terbelalak, ia begitu kaget merasakan bibirnya dan bibir Felix telah menyatu. Ia terdiam dengan sejuta rasa terkejutnya. Padahal tadi Felix bersikap seolah-olah tak akan melakukannya dengan mencoba menebak isi kepala Bella. Tapi sekarang, apa ini?


Sementara disisi lain, Felix menikmati kekagetan Bella itu. Tidak adanya penolakan dari Bella membuatnya merasa diatas angin. Dirasakannya bagaimana lembut bibir Bella, dari bagian atas beralih ke bibir bagian bawah yang kenyal dan terasa sangat manis.


Bella mengerjap-ngerjap, merasakan bibir Felix menyapu rata seluruh permukaan bibirnya. Saat lidah Felix membuai pertahanannya dan ingin menelusup masuk diantara bibirnya, saat itu pulalah Bella tersadar dengan keadaan. Ia mendorong pelan dada Felix.


"Kamu benar-benar menciumku!" gumam Bella. Ia memegang bibirnya yang basah akibat ulah Felix seraya menundukkan pandangannya kearah lantai.


"Aku hanya mengabulkan isi pikiranmu," jawab Felix sambil tersenyum miring.


"Aku tidak memikirkan itu!" Sanggah Bella, ia berdiri dari duduknya dan memalingkan wajah ke arah lain. Ia benar-benar malu pada keadaan ini, mungkin sekarang wajahnya sudah merah seperti buah tomat.


"Bukan tomat tapi apel," ralat Felix yang bisa membaca pikiran Bella.


"Ah... menyebalkan! Kenapa harus bisa membaca isi pikiran aku!" Bella menggerutu seraya melarikan diri kearah kamar mandi.


Sementara Felix terkekeh ditempatnya melihat tingkah Bella yang ia anggap sangat menggemaskan.

__ADS_1


...TBC......


__ADS_2