
Bella melihat-lihat hasil lukisannya yang ada di beberapa lembar kanvas. Lukisan yang akhir-akhir ini sering membuatnya bergidik ngeri tapi sekarang tidak lagi sebab ia baru saja menemukan sosok lain yang ia yakini lebih seram daripada semua sosok yang terlukis di kanvasnya.
Meski sosok itu berwujud seperti Felix, tapi entah kenapa Bella merasa sangat takut sekarang. Bella terus saja memikirkan sosok yang sempat ia lihat di kampusnya siang tadi.
Bella juga menunggu telepon dari Fredy tetapi pria itu tidak kunjung menghubunginya kembali padahal hari sudah mulai menggelap. Ya, hampir seharian ini tidak ada kabar dari Fredy. Apa yang telah terjadi sebenarnya?
Suara ketukan pintu membuat Bella melotot, siapa yang akan mengunjungi kamarnya di jam seperti ini? Memang belum terlalu malam, tetapi ia tidak merasa membuat janji dengan siapapun.
Saat membuka pintu, Bella melihat security yang biasa menyampaikan pesan kepadanya.
"Neng Bella, ini ada titipan makanan dari Mas ganteng."
"Hah?" Bella tentu saja terkejut, ia menebak jika yang dimaksudkan security ini adalah Fredy. Tapi Fredy sedang tidak ada di sini sekarang? Mereka ada diluar kota, dimana tempat tinggal Tante Neni berada sekarang.
"Si--siapa, pak?" tanya Bella memastikan.
"Itu lho, Neng, yang sering kesini beberapa waktu belakangan."
Deg ...
Jantung Bella rasanya mencelos, melorot sampai ke perut, diiringi dengan detak yang tidak beraturan. Sosok itu. Jelas ini adalah kiriman makanan dari sosok itu. Artinya sosok itu sudah tau dan menyadari siapa Bella.
"Buat Bapak aja," kata Bella ketakutan. Ia langsung menutup pintu secepat kilat.
Dari balik pintu, Bella memegangi dadanya yang berdegup kencang. Nafasnya naik-turun, ia takut dan entah pada siapa ia harus meminta pertolongan.
Saat Bella sedang kalut, rupanya ponselnya berdering dan nama Fredy terpampang di layar.
"Ff-frey ..."
"Bell? Kamu kenapa?"
Entah kenapa sekarang Fredy memanggilnya dengan panggilan 'Bella', dan bukan lagi 'Ara' mungkin takut Neni yang ada disana mencurigai siapa yang tengah Fredy telepon.
"A-aku ngelihat sosok itu, y-yah.. dia ada disini."
"Apa?"
"Segera kembali. Aku sangat takut!" ujar Bella histeris.
"Kamu mungkin salah melihat, Bell."
Bella menggeleng kuat-kuat, meski ia tau Fredy tak akan dapat melihat tindakannya itu.
__ADS_1
"Dia bahkan kirimin aku makanan, barusan." Suara Bella terdengar ngos-ngosan, seolah baru saja melakukan lari jarak jauh. Keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya. Ia tidak main-main, ia sangat takut sekarang.
"Baiklah, kami akan segera kembali kesana besok pagi."
"Thanks."
Bella memutus panggilannya dengan berat hati. Setidaknya mendengar suara Fredy membuatnya sedikit lega sebab itu berarti mereka disana dalam keadaan baik-baik saja.
Bella kembali ke kenyataan dan sekali lagi ia bergidik. Hampir semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Kebiasaan ini sering terjadi disaat ia dilanda ketakutan yang berlebih.
Ditengah malam yang sudah cukup larut, entah kenapa tatapan Bella tertuju pada sebuah lukisan yang sudah tergantung di kamarnya. Ya, itu adalah lukisan dimana sebuah Padang Savana tergambar dan tanpa sadar ia juga pernah masuk ke dalam lukisan itu. Lukisan itu pula yang sempat dikatakan Felix sebagai tempat tinggal sementara baginya.
Bella menatap gambar itu lekat dan seperti dejavu, ia kembali masuk ke dalam lukisan itu. Disana ia menatap sekeliling, suasana nya masih sama seperti dulu. Dalam keadaan senja dengan langit yang menjingga. Padahal Bella ingat jelas jika tadinya ia berada di kamar kos dan waktu menunjukkan pukul 2 pagi.
"Ara?"
"Felix?"
Bella berlarian menuju ke arah Felix yang kali ini ia dapat melihat sosok itu seperti nyata.
"Akhirnya aku berhasil. Aku sangat merindukan kamu."
"Berhasil apa?"
Bella memeluk Felix erat. Ingin menyalurkan rasa ketakutannya yang luar biasa.
"Aku mendengar dari Fredy kalau kamu bertemu dengan sosok itu."
Bella mengangguk dalam dekapan Felix.
"Makanya aku memikirkan bagaimana caranya supaya kita bisa bertemu. Aku teringat dengan tempat ini. Kebetulan lukisannya juga ada dikamar kamu."
"Aku takut, Felix..." adu Bella pada pemuda itu.
"Ya, aku tau ketakutan kamu. Besok kami kembali. Karena di rumah Mama kami juga tidak bertemu dengan sosok itu."
"Iya, dia ternyata ada di sekitarku. Bagaimana ini Felix?"
"Mungkin dia mau mengalihkan pencarian kami di rumah Mama Neni. Mama sudah tau kalau rohku ada disekitar Fredy. Mama mempunyai khodam yang bisa melihatku disana."
"Lalu bagaimana? Kalau kalian kembali ke sini dan sosok itu juga kembali ke rumah Tante Neni maka selamanya kalian tidak akan pernah bertemu."
Setelah Felix pikir, yang dikatakan Bella ada benarnya. Sosok itu ingin menghindari pertemuan dengannya. Sosok itu seperti tidak berani bertemu Felix? Kenapa?
__ADS_1
"Sepertinya Xeor memang sengaja mengalihkan kami. Kamu pasti akan mengadu dan membuat kami kembali ke kota ini. Lalu dia juga akan kembali ke kediaman Mama Neni."
"Xeor?"
"Ya, makhluk jahat itu bernama Xeor."
"Jadi, bagaimana, Felix? Kalian tidak akan bisa menemukan raga itu karena Xeor membawa raga kamu untuk terus menghindar."
"Aku mempunyai sebuah kesimpulan, entah benar atau tidak tapi ku rasa dia takut bertemu dengan roh ku!"
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Ya, buktinya dia selalu menghindar, tidak berani datang ke hadapanku. Mama juga seolah memintanya pergi setelah kedatangan kami kesana. Mama mengatakan pada Fredy bahwa Felix telah meninggal. Agar Fredy tidak menuntut untuk bertemu dengan Felix terus. Padahal Felix adalah aku! Dan yang dikatakan mama telah meninggal mungkin adalah ragaku-- raga yang tidak dia izinkan untuk bertemu dengan Fredy sebab mama tau didekat Fredy ada rohku yang juga sedang mencari raga itu."
"Jadi, bagaimana?" tanya Bella bingung.
"Sepertinya kita harus berkumpul di satu tempat yang sama agar Xeor tidak bisa mengelabui kita lagi. Lagipula aku ingin membuktikan perkiraan ku kalau dia takut untuk bertemu dengan rohku ini."
"Maksud kamu aku juga harus ikut dengan kalian disana? Begitu?"
"Ya, apa kamu keberatan?"
Bella menggeleng. "Aku sudah mengatakan ingin membantumu sejak awal. Meski aku takut, tapi aku sudah terlanjur berjanji. Kita akan melakukannya bersama."
"Tapi orangtua kamu pasti menentang."
"Kita coba dulu. Aku akan bicara sama Mama dan papa besok. Jadi, kalian tetaplah dirumah Tante Neni, tidak usah kembali, aku yang akan segera menyusul kesana. Minta Fredy kirimkan alamatnya kepadaku."
Felix diam, ia masih memikirkan bahaya untuk Bella tapi sepertinya mereka tidak punya pilihan lain.
"Dengar, meski disana akan ada bahaya, tapi jujur aku lebih takut disini sebab disini aku sendirian. Disana ada kamu dan Fredy jadi aku tidak begitu was-was. Bayangkan jika aku sendirian disini dan sosok itu kembali datang menerorku. Aku bisa mati ketakutan."
Felix pun mengangguk. Tampaknya semua ini memang mau tak mau harus dilakukan.
"Aku juga mau membuka lagi mata batinku," kata Bella membuat Felix terkejut.
"Untuk apa?" tanya pemuda itu.
"Aku akan lebih aman jika dapat kemampuan itu. Aku bisa mendeteksi keberadaan Xeor. Jika mata batinku terus ditutup seperti ini maka aku seperti orang buta yang tidak dapat melihat keberadaannya. Itu lebih berbahaya bukan?"
"Memangnya bisa?" Felix mengernyit.
"Ya, aku tau siapa yang dulu menutup mata batinku. Aku mau sebelum aku tiba di rumah Tante Neni nanti, mata batinku sudah kembali terbuka..."
__ADS_1
...TBC .......